Kamu & Senja

Kamu & Senja
Ego


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Aku berbaring menatap langit-langit atap kamarku, pikiranku masih kacau setelah apa yg terjadi tadi sore. Bukan hanya Alfy yg tidak menginginkanku, ternyata Evelyn juga demikian.


Pikirnya dia mungkin akan sedikit menghiburku dan mengatakan bahwa dia juga menyukaiku, lalu menolak pengakuanku. Tapi itu malah menyakitiku lebih, untuk apa dia mengatakan hal itu lalu merangkai alasan dengan bibir manisnya hanya untuk menolak perasaanku.


Kini aku tau, andai aku tidak senaif yg di katakan Wahid karena terlalu terburu-buru dalam mengakui. Andaikan aku lebih peka dengan keadaan aku tidak akan sekecewa ini.


Tapi setelah di pikir alasan pertama Evelyn menolak ku ada benarnya. Kami berbeda keyakinan dan itu adalah hal yg sangat tidak mudah dalam suatu hubungan.


Benar kata Evelyn saat bertanya kesanggupan ku untuk pindah agama demi dirinya dan aku bilang tidak bisa. Mungkin dia juga akan seperti itu ketika aku memintanya.


Tapi apa benar cinta tidak bisa bersatu hanya karena persoalan keyakinan? Pikirku.


Apakah jika dia muslim, maka dia akan menerima pengakuanku? Tapi setelah ku ingit kembali, Evelyn punya dua alasan ketika menolakku.


Alasan kedua yg tidak aku mengerti, aku berbohong? Bagaimana mungkin aku memohongi perasaanku? Bisa saja itu adalah alasan yg di buat-buat oleh Evelyn.


"assalamualaikum." pintu kamar terbuka bersamaan dengan masuknya Ivan.


"waalaikumsalam. Ivan, dari mana?"


"Habis shalat isya di mesjid. Kamu udah shalat?"


"udah barusan." baasku.


"kok gak shalat di mesjid Man?"


"yang penting kan shalat Van."


"bedalah. Pahalanya lebih banyak shalat di mesjid untuk laki-laki. Nih yah.. Rasulullah bersabda..


'Shalat berjama’ah itu lebih utama 27 (dua puluh tujuh) derajat daripada shalat sendirian.' (HR Bukhari, Muslim)


"Coba bayangin Man, bedanya jauh kan." sambungnya.


"iya Ivan.. iya. Lain kali deh." balasku.


Sejak menjadi mualaf, Ivan malah sering menasehatiku. Ilmu agamanya tiap hari di upgrade dengan mengikuti kajian bersama dengan Sabri. "Ivan, niat kamu untuk menikahi perempuan yg kamu temui itu masih ada?" tanyaku.


Ivan yg sedari tadi membaca buku Tafsir Qur’an langsung menoleh ke arahku. "insyaallah Man. Doain aja."


"sekarang aku belum pantas untuk perempuan itu, aku harus memantaskan diri terlebih dahulu lalu menemuinya lagi." sambungnya.


Aku heran, Ivan jadi mualaf mungkin belum sebulan tapi tutur kata dan perilakunya benar-benar berubah drastis. Dia sekarang sudah seperti Uztad dimataku.


"memantaskan diri." gumamku.


"kenapa Man?" tanyanya.


"e gak papa Van, aku bicara sendiri."


"ohh.. Kebetulan beberapa waktu lalu aku ketemu dia. di Mesjid Kampus. Masyaallah dia tampak cantik, rasanya ingin segera ku halalkan saja." katanya tertawa.


"siapa Van? Perempuan yg buat kamu masuk Islam." kataku.

__ADS_1


"iya.. dan tau gak, kebetulannya lagi aku ketemu dia di jalan. Bukan di jalan sih, tapi di mesjid Habis shalat magrib."


"terus terus.." kataku yg mulai penasaran.


"aku deketin terus nyapa dia. Aku langsung bilang kalau saat ini aku lagi belajar. Trus aku bilang lagi kalau aku sudah merasa pantas aku akan ke rumahnya bertemu dengan Ayahnya." Ujar Ivan.


"terus dia bilang apa ke kamu?" tanyaku.


"dia tidak bilang apa-apa, dia hanya tersenyum padaku lalu pergi."


"hm.. Aku doain deh. semoga perempuan itu jodoh kamu." kataku.


"makasih bro." balasnya sambil terus tersenyum.


Ivan berhasil menghilangkan rasa perih saat di khianati oleh Dian, kalau Ivan bisa kenapa aku tidak bisa? Aku harus melupakan Alfy dan Evelyn. Dua perempuan yg sudah merusak suasana hatiku hari ini.


Selain kisah cintanya yg menarik, hubungan Ivan dan Ibunya sudah mulai membaik. Walaupun Ivan belum meninggalkan rumahku dan kembali ke tempat tinggalnya.


Ivan sering mencoba menelepon Ibunya walaupun beberapa kali tidak di angkat, bahkan jika di angkat hanya cacian dan maki yg di terima Ivan tapi dengan kesabaran dan perubahan ke arah positif yg di tunjukkan Ivan ke Ibunya membuat hati Ibunyapun luluh.


Minggu depan Ibunya akan berkunjung untuk bertemu Ivan guna membicarakan masalah mereka berdua baik-baik.


Ivan paham betul, setelah dia mengikuti kajian dan belajar Islam lebih dalam bahwa kedudukan seorang Ibu dalam Islam adalah fatal. Seorang muslim harus berbakti kepada Ibunya, walaupun Ibunya itu berbuat jahat kepadanya. Karena surga akan sangat jauh tanpa ridho orang tua, terlebih Ibu.


Sebeb Ibu sangat spesial di mata Islam. Kedudukan mereka lebih tinggi dari seorang Ayah sebagaimana hadist yg di Ucapkan oleh Rasulullah Shalallahu Allaihi Wassalam ketika salah satu sahabatnya bertanya.


“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).


Ivan sangat-sangat paham, ketika Rasulullah menyebutkan Ibu tiga kali berturut-turut. Setelah Ivan mengetahui hadist tersebut diapun selalu aktif menghubungi Ibunya.


Dia berjalan keluar di depan Fakultas Kedokteran. Sepertinya dia mengerjakan sesuatu di LAB dengan beberapa temannya hingga lupa dengan waktu.


Sampai di luar, dia lalu menunggu angkutan umum yg memang beroperasi di sekitar kampus. Karena cukup lelah berdiri diapun memutuskan untuk berjalan ke seberang jalan karena di seberang ada halte untuk duduk.


Sebelum dia menyeberang, tiba-tiba bunyi clakson mobil dari arah kirinya yg terdapat sebuah parkiran terdengar. Mobil itu pun mengarah padanya, kaca jendela mobil turun dan di lihatnya dalam mobil adalah Riyal seniornya."Evelyn.. Kamu pulang sendiri?" tanya Riyal.


"eh Kak. Iya pulang sendiri naik angkot."


"bareng aku aja, mau?"


"gak usah kak, gek enak."


"gak papa, aku anter kamu pulang." Kata Riyal membuka pintu samping mobilnya.


Tak punya cukup keberanian untuk menolak seniornya akhirnya Evelyn masuk ke delam mobil. "tumben pulang sendiri?" tanya Riyal sambil menyetir.


"iya kak."


"Arman mana?"


"ehh. Gak tau kak." jawab Evelyn.


"aku pernah lihat dia jemput kamu, hari ini gak di jemputnya?" tanya Riyal.


Evelyn semakin tertekan dengan pertanyaan Riyal tentang Arman karena kejadian tadi sore antara dirinya dan Arman.

__ADS_1


"Kak.. Sebenarnya tadi sore Kak Arman nembak aku." Ujar Evelyn.


"oh, jadi kalian udah resmi jadian nih." ucap Riyal yg tak mengetahui apa-apa.


"aku nolak dia kak." jelas Evelyn.


"hah? Nolak? Kenapa emang?"


Mendengar hal itu Riyal pun penasaran. "aku suka sama Kak Arman." Ujar Evelyn dengan nada berat.


"terus kenapa kamu nolak?"


"Kak Arman bohong sama perasannya sendiri. Dia tidak menyukaiku, dia menyukai perempuan lain. Di matanya.. Aku lihat jelas di matanya.. Tatapannya saat menatap perempuan yg dia sukai ketimbang menatapku, tatapannya jauh lebih tulus dengan perempuan itu." jelas Evelyn yg mulai terisak.


"hm.. Emang seyakin itu kamu?"


"iya kak, aku yakin. Kak Arman sangat menyukai perempuan itu. Kak Arman hanya tidak mau jujur dengan perasaannya sendiri." lanjut Evelyn.


"apakah kamu tau siapa perempuan itu?" tanya Riyal.


"perempuan itu mungkin Kak Fina." tuturnya.


"Fina? Hm..." Kata Riyal mengangguk


"Maaf kak, kok aku malah curhat." Kata Evelyn memaksa tertawa.


"gak papa, emang Arman itu gak peka sih. Kamu sabar aja, masih banyak laki-laki lain kok." Kata Riyal mencoba menasihati.


"hm lucu yah.." Sambung Riyal.


"lucu kenapa kak?"


"Kamu tau, aku pernah suka sama Fina, aku bahkan sempat nembak dia." Kata Riyal.


Lanjutnya bahwa Riyal benar, menyukai Alfy dan rasa itu tumbuh seiring interaksi ketika mereka sama-sama menjadi Mahasiswa Studi Banding di Malaysia.


Hingga kembali ke Indonesia akhirnya Riyal mengakui perasaan itu pada Alfy di sebuah taman alun-alun kota. Tapi Riyal di tolak, Alfy tidak memberikan alasan kenapa dia bisa di tolak hanya saja saat Riyal melihat Alfy berbalik ke kiri dan di situ terlihat Arman sedang berdiri.


Riyal sadar, bahwa tatapan Alfy kearah Arman waktu itu adalah alasan atas pertanyaan hatinya kenapa dia di tolak. Riyal berasumsi bahwa Alfy menyukai laki-laki lain dan laki-laki itu adalah Arman.


Sejak saat itulah dia berhenti mendekati Alfy, karena dia tau bahwa Arman juga menyukai Alfy dan begitupun sebaliknya. Mereka berdua saling menyukai tapi tidak ingin jujur satu sama lain.


"jadi Kak Fina juga suka sama Kak Arman?" Evelyn masih tidak percaya dengan hal yg baru saja di dengarnya.


"andai saja ego mereka tidak tinggi, mungkin saat ini mereka sudah bersama." Kata Riyal.


Evelyn tertawa, tapi kali ini dia tertawa karena sesuatu yg mengelitik Perutnya.


"kenapa tertawa?" tanya Riyal.


"ngak Kak, aku hanya memikirkan apakah Kak Arman dan Kak Fina akan bersama nantinya." Ujar Evelyn tertawa kecil


"semoga saja, takdir yg akan menjawab kisah mereka." lanjut Riyal.


Sampai saat ini sepertinya takdir belum memihak mereka berdua. Layaknya sebuah magnet, mereka ibarat kutub Utara dan Selatan yg belum menemukan jalan untuk bersama. Dua orang insan manusia dengan rasa yg sama, tak sadar dan malah menjauh. Apakah ada cukup keajaiban untuk mereka bersama?

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2