
Sering kali kisah yg lalu kembali membawa kenangan lama, kenangan menyenangkan atau bahkan kenangan membawa luka. Sudah hampir sejam sejak aku datang dan selama itu pula teman-teman yg lain asyik bercerita kisah kami waktu berada di Malaysia.
Sesekali aku pun berbicara jika di minta, tapi tak banyak karena aku takut apa yg ku ucapkan akan membuat luka lama Alfy kambuh. Ana yg banyak bicara terus saja bercerita hal lucu dan menyenangkan kepada kami semua.
Ku lihat Alfy begitu menyukai cerita Ana, terlebih jika Ana memperlihatkan beberapa momen foto kami bersama selama di Malaysia. Sahidah pun demikian, dengan semangat dia terus mencoba menggali ingatan Alfy tentangnya di masa lalu.
Meski cukup sulit jika aku lihat wajah Alfy yg mengkerut, bisa saja tanda bahwa memang dia belum mengingat satupun cerita di kala itu. Sementara Puput terus saja mengawasi gerak gerikku, rasanya seperti sedang di belenggu. Mungkin ini rasanya dekat tapi jauh, bagaikan langit di sore hari berwarna biru yg terlihat dekat tapi tak bisa ku raih.
Di tengah candaan mereka, tak sengaja Alfy melihat sebuah foto di smartphone Ana. Foto yg menggambarkan momen ketika aku terbaring di rumah sakit. "ini kan Arman?" ujarnya sambil melihat ke arahku.
"iya betul. Itu Arman. Nak jadi pahlawan waktu tu." sambung Sahidah.
"pahlawan?" tanya Alfy penasaran.
"iya Fin.. Dia itu rela ngelawan orang jahat demi..."
Belum selesai Ana berbicara, aku langsung memotong perkataannya."ENGGAK.. e waktu itu ada jambret. Iya. Copet.. Hehe." ujapku.
"hah.. Paan sih Arman? Copet apaan? Orang waktu itu kamu nolongin Fi.."
"Fifin.." sambung Riyal memotong ucapan Ana.
"Fifin?" tanya Ana.
"iya Fifin. Yg matanya sipit itu. Mungkin kamu gak ingat Fin." lanjut Riyal.
Ana dan Sahidah bingung karena tiba-tiba aku dan Riyal menyembunyikan kebenaran dari ceritaku yg terluka dan masuk ke rumah sakit.
"mana ade Fifin?" Sahidah spontan
"kayaknya kamu juga lupa yah Idah?" Ujar Riyal sambil memberi kode mata kepada Sahidah dan Ana agar membenarkan apa yg dia katakan.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka mengerti."oh iya iya.. Fifin. Iya." ucap Ana terlihat kesal.
"Fifin? Hm.. Gimana ceritanya?" tanya Alfy.
"Arman waktu itu suka sama Fifin, tapi dia di tolak mentah-mentah. Terus waktu itu ternyata ada copet yg lari ngambil tas Fifin, dengan semangat Arman tiba-tiba mengejar tapi karena ceroboh Arman kena tusuk pisau di perutnya." Kata Riyal ngarang cerita.
"kampr**." gumamku dalam hati.
"wah.. Hebat ya Arman." Ujar Alfy.
"iya gitu. Hehe." Kata Ana lagi-lagi dengan ekspresi tidak terima.
"hebat sih, tapi bodoh." ucap Puput.
"ih kak Puput. Itu hebat, kalau yg jadi perempuan itu aku, pasti seneng banget bisa di tolongin." ucap Alfy.
Mendengarnya mengatakan hal itu, sedikit membuatku senang. Andai dia tau bahwa yg aku tolong adalah dia.
"Iya kan udah lama."
tatapan matanya menusuk hatiku. Rasanya ingin mengakhiri sandiwari dan berkata yg sejujurnya tapi.. Tak bisa sekarang.
"alhamdulillah.." ucapnya.
Sementara itu Sahidah yg tidak terima dengan cerita bohong itu mengeluh kepada Riyal sambil berbisik.
"ada ape ni? Kenapa harus bohong?" tanya Sahidah kepada Riyal.
"biar Arman yg klarifikasi sama kamu."
"ish.."
__ADS_1
Waktu berlalu cepat, kamipun menghentikan perbincangan dan keluar dari restoran tersebut.
"aku sama Ana mau nganterin Sahidah ke hotel, kalian gimana?" tanya Riyal.
"kami langsung pulang saha." Ujar Alfy.
"Gak mau bareng aja?" Kata Ana.
"gak papa, aku pakai motor." Kata Puput.
"Kamu Man?" ke sini tadi naik apa?" tanya Ana.
"tadi sih di anterin temen." jawabku.
"ya udah bareng aja, naik mobilnya Riyal."
Singkat cerita kami berpisah dengan Alfy dan Puput. Karena tak ada tumpangan, akupun ikut dengan Riyal dan yg lain. Baru aku naik ke dalam mobil Ana dan Sahidah sudah melihatku dengan tatapan kesal.
"e.... Ada apa ini? Hehe." ucapku.
"Kamu tuh yg ada apa?" pakai bohong segala." ucap Sahidah.
"sekarang ceritain ada apa kamu sama Fina? Dan kenapa kita harus bohongi dia." tanya Ana.
"Riyal.. Tolongin dong." ucapku.
"dahlah.. Selesaikan sendiri." balasnya.
Karena terus di desak oleh mereka berdua, akhirnya aku sedikit cerita kepada mereka tentang alasan kenapa aku berbohong.
-Bersambung-
__ADS_1