Kamu & Senja

Kamu & Senja
Tegar


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Sepertinya berat badan tidak bisa di ajak kompromi, sebaiknya di minggu pagi ini aku meluangkan waktu untuk olahraga. Karena tidak ingin berolahraga sendiri aku mencoba mencari teman untuk di ajak, aku menghubungi Ilham tapi dia tidak bisa, aku coba Adi sepertinya juga tidak. Tanpa menduga Gina merespon pesanku, akhirnya kami janjian untuk bertemu di Lapangan alun-alun Kota.


Sampai di alun-alun, ku lihat Gina yg melakukan gerakan pemanasan akupun menghampirinya. "oi Gin.. Udah lama." kataku berlari pelan ke arahnya.


"Arman.. Baru aja kok." Balasnya.


"ya udah.. Aku pemanasan sebentar terus kita lari yah." Kataku.


"okay." Balasnya.


Akupun mulai peregangan agar otorku tidak cedera saat aku berlari. Sambil beregangan tak sengaja aku melihat Alfy dan seorang perempuan yg tidak aku kenal tengah duduk di taman yg kebetulan berada di lapangan alun-alun ini.


Aku mulai berfikir jika dia melihat ke arahku sementara aku bersama dengan Gina dia mungkin akan salah paham tapi saat aku melihat sekali lagi ke arah dia, ternyata dia tidak hanya bersama perempuan yg tidak ku kenal tapi di sisinya juga ada Riyal.


Melihat hal itu rasanya aku sudah bisa menyimpulkan bahwa mereka sedang menjalin hubungan. Artinya Alfy sekarang benar-benar milik Riyal dan aku tidak bisa apa-apa. Kini niat untuk berolahraga menjadi hilang, aku malah merasa runtuh melihat pemandangan itu.


Tak sadar aku melamun, tadinya semangat untuk berolahraga akhirnya aku lesu, hatiku seperti memerintahkan otot tubuhku untuk tidak bergerak saat ini. "Arman.. Man.. Oi.. Man... Ayo." Kata Gina yg sudah siap untuk berlari.


"Gin.. Iya ayo." Balasku sambil berusaha tegar dan mulai berlari.


Setelah 30 menit berlari kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil mendinginkan otot."gak nyangka aku Gin, cepat juga larimu." Kataku memuji.


"ya elah gini doang mah.." Balasnya sedikit sombong.


Sedang istirahat tiba-tiba Gina melihat Ica.


"eh Man.. Lihat tuh. Itu Ica kan?" kata Gina sambil menunjuk ke arah Cafe tepat di seberang jalan tempat kami sedang istirahat.

__ADS_1


"oh iyaa.. Bener.. Dia lagi sama Irwan." Kataku membenarkan.


"kayaknya Ica senang banget yah dekat sama Irwan." ujar Gina.


Aku hanya bisa melihat Ica dari jauh, sejak kajadian itu, aku sudah berjanji agar aku tidak mengatakan tentang masalahnya ke teman - temanbyg lain.


*sementara itu di tempat mereka berdua.


Ica dan Irwan sedang berada di Cafe dan mereka duduk di kursi depan dekat dengan trotoar jalan sehingga terlihat oleh Arman dan Gina.


Ica dan Irwan terlihat terlibat bembicaraan yg sesekali membuat Ica tersenyum lepas. Sesekali Irwan memegang kepala Ica dan Ica pun tersipu malu. "oh iya Ca'.. Tugas yg dari Prof Armin udah belum?" kata Irwan.


"iya udah.." balas Ica.


"gue nyontek dong.. Soalnya gak ada waktu nih buat ngerjain." ucapnya.


"kamu tuh ya.. Kerja sendiri dasar.." Kata Ica geram


"jangan malu tau di lihat orang."


"ah bodo amat.. Nih rasain." Katanya sekali lagi sambil menggelitik pinggang Ica.


Ica pun tertawa, selain tertawa karena geli jelas nampak di wajahnya kalau dia juga terlihat bahagia.


Tak lama momen indah itu berlangsung, datang seorang perempuan menghampiri mereka berdua dan menyiramkan Ice coklat yg ada di meja ke arah muka Ica.


"eh.. Pelac** dasar ya.. Jangan deket-deket cowok orang." Kata perempuan itu.


Spontan Ica kaget dan dia tak tau harus berbuat apa, sementara Irwan hanya melihat kejadian itu tanpa mencoba membela Ica. "lu juga.. Ngapain sih berdua-duaan sama cewek murahan ini." Kata perempuan itu sambil memaki Irwan.

__ADS_1


Terlihat Ica masih syok dan tak tau harus berbuat apa sementara orang-orang sudah memperhatikan mereka bertiga. "maaf Yang.. Dia cuma temen kampus." Kata Immang kepada perempuan itu.


"ya udah ayo pergi.. Ngapain juga di sini." Kata perempuan itu sembari menarik tangan Irwan.


Perempuan itu dan Irwan lalu pergi meninggalkan Ica yg dari tadi bingung dengan keadaan, lagi matanya mulai berkaca-kaca seperti sedang menahan tangis. Dengan tegar dia membersihkan tumpahan ice coklat di muka dan di bajunya dengan tisu.


*di sisi lain


Aku dan Gina yg melihat kejadian itu dari sisi jalan tempat kami beristirahat tentu terkejut dan langsung bergegas berlari arah Ica. "ya ampun Ca'..." Kata Gina. menghampiri Ica dan memeluknya.


"Gin.. *suara isak tangis.." Kata Ica melihat Gina sembari menangis.


"Ca' kamu gak papa?" Kataku lembut kepada Ica.


"duhh Ica kenapa sih kamu jadi kayak gini. Tadi itu siapa?" kata Gina sambil membersihkan sisa-sisa Ice coklat yg masih melekat di pakaian Ica.


Ica hanya bisa menangis di pelukan Gina tanpa tau dia kehabisan kata untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.


Kami pun membantu Ica berdiri dan pergi dari Cafe tersebut, Gina lalu mengantar Ica untuk kembali ke tempat tinggalnya. Kami berpisah di sini, sambil mengatakan pada Gina agar menemani Ica sampai dia tenang.


Sementara aku menuju parkiran lapangan tempatku joging bersama dengan Gina bermaksud untuk mengambil motor lalu kembali ke rumah, belum sampai di parkiran yg ku maksud ternyata tanpa sengaja tepat di depanku.


Aku melihat Riyal yg sedang berlutut memberikan bunga kepada Alfy. Dari samping ku lihat Alfy tersipu malu sementara teman perempuan Alfy yg berada di belakangnya terus menggoda Alfy, agar Alfy menerima bunga itu.


Melihat pemandangan itu aku seperti patung, aku tak beranjak dari tempatku karena kakiku tak mau bergerak. Seakan hatiku telah siap untuk patah.


Alfy mulai mengulurkan tangan tampak seperti ingin mengambil bunga dari tangan Riyal yg sedang berlutut di hadapannya.


Aku menyaksikan setiap detiknya, sampai Alfy berbalik ke kiri, dia berbalik ke arah tepat dimana aku berdiri menyaksikan pemandangan perih itu.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2