
(Bagian Flashback)
Di suatu taman dekat perkiran Fakultas Sastra, duduk seorang perempuan terlihat sedang menunggu seseorang yg lain. Sambil menunggu dia terlihat risih, pikirannya terganggu akan satu hal yg baru saja terjadi.
Seseorang yg selama ini memanggilnya Alfy, tiba-tiba pagi Ini memanggilnya Fina. Sebuah nama yg selalu di ucapkan teman-temannya ketika memanggil dirinya.
Memang hanya sebuah nama tapi bermakna dalam. Baginya panggilan Alfy sangat berarti karena itu adalah panggilan Kakaknya yg telah meninggal. sejak dia kecil kakaknya sudah memanggil dia dengan sebutan itu, hingga ketika kakaknya meninggal panggilan itu tidak lagi terdengar. Sampai datang seorang laki-laki lain yg memanggilnya persis seperti kakaknya dahulu. Laki-laki yg pernah monolongnya di masa lalu.
Sekarang setelah setahun laki-laki itu memanggilnya Alfy, kini yg terdengar dari suara laki-laki itu adalah nama panggilan sehari-harinya.
Dan karena itu dia kemudian jadi gundah dan bingung. Apa yg membuat laki-laki itu berubah, mungkin karena perempuan yg bersamanya beberapa waktu yg lalu. Pikirnya, berarti jika iya mungkin itu adalah jawaban dari doanya yg selama ini dia panjatkan agar di dekatkan jika jodoh dan di jauhkan jika tidak.
"Fin, maaf udah lama nunggunya." Kata seorang perempuan yg menghampiri.
"Citra.. Gak lama kok."
"ya udah, ayo balik."
Hari ini Alfy tidak membawa kendaraan, jadinya dia di antar oleh teman dekatnya di jurusan yg sama bernama Citra karena kebetulan arah rumah mereka sama.
Setelah sampai di rumahnya, Alfy menawarkan agar Citra mampir sebentar tapi karena ada urusan Cita langsung pamit pergi. Alfy berjalan masuk ke dalam rumahnya, dengan pikiran yg terus membebani batinya.
"Assalamualaikum." ucapnya masuk ke dalam rumah.
"waalaikumsalam." balas Ibunya.
"Umi." Kata Alfy sambil mencium tangan Ibunya.
"Abi mana?" sambungnya.
"baru aja keluar Nak." balas Ibunya.
Dia masuk ke dalam kamar dan berbaring karena kelelahan. Dia menghadap atap rumahnya, memandang dinding atap dengan pikiran yg masih saja mengganggu.
Tiba-tiba dia di kagetkan oleh sepupunya yg masuk tiba-tiba ke dalam kamarnya. "ayoloh, kenapa?" Ujar sepupunya.
"Kak Puput." Kata Alfy sedikit terkejut.
"kamu kenapa Na'? lemes amat."
"gak papa Kak, capek habis kuliah."
"alahh kuliah aja capek." Kata Puput dengan nada meledek.
Alfy tak merespon, dia hanya diam.
__ADS_1
"hmm pasti Arman nih." Kata Puput.
"astagfirullah, bukan Kak. Aku lagi capek aja." jelasnya.
"oh gitu, ya udah. Istirahat gih tapi kalau ada apa-apa cerita sama kakak ya." balas Puput.
"iya Kak."
Di tempat lain, Karena hari sudah mulai sore, Aku yg dari tadi berada di kampus memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang karena Adzan shalat ashar telah berkumandang akhirnya Aku memutuskan untuk singgah di mesjid yg ada di sekitar jalan yg ku lalui.
Ku ambil air wudhu dengan perlahan membasahi setiap anggota tubuh yg harus terkena air mulai dari tangan, wajah sampai kakinya.
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam mesjid dengan mengharap petunjuk dari Tuhanku. Seusai shalat Aku keluar dan duduk di teras mesjid sambil memakai sepatu. Ketika ingin berdiri, aku melihat seseorang yg keluar dari mesjid tampak tak asing bagiku.
Ketika ku ingat lagi, ternyata orang ini adalah Uztad gaul yg sempat aku temui di depan rumah sakit. Aku pun mendekat mencoba menyapa, mungkin saja dia masih ingat padaku.
"Assalamualaikum Uztad." sapaku.
"waalaikumsalam." balasnya.
"apa kabar Uztad?"
"baik alhamdulillah. Maaf siapa kamu ini?" tanyanya.
"masa Uztad lupa sama saya."
"Arman Uztad."
"Masyaallah. Sehat kamu?"
"alhamdulillah, sehat."
"udah shalat?" tanyanya.
"udah, kan tadi Uztad yg jadi Imamnya."
"oh iya bagus. Saya suka anak muda yg rajin ibadah seperti kamu."
"Uztad saya belum tau namanya?" tanyaku dengan santun.
"nama saya Mansur. Panggil saja bro Mansur." balasnya bercanda.
"bisa aja Uztad." kataku sambil sedikit tertawa.
Aku bertemu dengan Uztad Mansur mungkin bukan sebuah kebetulan. Sebaiknya aku bertanya tentang masalahku siapa tau dia bisa membariku jawaban memuaskan.
__ADS_1
Aku pun bertanya padanya tentang menjalin hubungan dengan seseorang yg berbeda keyakinan denganku. Iya, aku ingin mengetahui hukum dalam Islam tentang itu.
Mendengar hal itu, Uztad Mansur langsung merespon. Tapi jawaban darinya jauh dari kata memuaskan malah semakin membuatku bimbang untuk mengatakan perasaan pada Evelyn.
Uztad Mansur menjelaskan bahwa pertanyaan tentang cinta sudah banyak dia dengarkan dari anak-anak muda. Pertama sekali, sesuai dugaanku bahwa menjalin hubungan di luar pernikahan itu jelas di larang oleh agama.
Beliau lanjut menjelaskan bahwa Islam tidak melarang seseorang jatuh cinta. Cinta adalah fitrah manusia, tapi Islam datang untuk mengatur cinta itu agar tersalurkan sebagaimana mestinya.
Islam datang sebagai solusi untuk dua orang yg saling mencintai, solusi kongkritnya dengan menikah. Sesuai perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadist.
"Kami tidak mengetahui adanya solusi bagi orang yang saling mencintai selain menikah.” (HR. Ibnu Majah)
Beliau juga mengatakan bahwa cinta itu tidak dapat di tandai dengan kata-kata melainkan dengan pembuktian. Bukti nyata tentu dengan melamar pujaan hati, mengajaknya hidup berdua satu atap dalam mahligai rumah tangga.
Selanjutnya Uztad Mansur menjelaskan bahwa hubungan dengan seseorang yg berbeda agama haram hukumnya untuk perempuan muslim menikah dengan laki-laki non muslim. Mutlak di larang, karena pada jaman Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika sahabiat perempuan yg masuk Islam sedangkan suami mereka masih dalam keadaan tidak menerima Islam, maka Nabi menyuruh mereka pisah dan hubungan mereka terputus sampai suami mereka masuk Islam.
Sedangkan untuk kasus kedua dimana laki-laki muslim menjalin atau menikah dengan perempuan non muslim itu boleh, dengan syarat bahwa perempuan itu ahli kitab dari agama nasrani atau Yahudi.
Hanya kedua agama itu yg boleh, selain agama itu misal hindu, budha atau konghucu maka itu jelas dilarang.
Kedua agama di bolehkan karena pada dasarnya agama nasrani dan Yahudi merupakan agama samawi atau agama wahyu.
Tapi harus di tekanan bahwa hanya boleh dengan perempuan AHLI KITAB dari kalangan kedua agama itu. Misalnya biarawati atau semisalnya, bukan perempuan biasa yg beragama nasrani atau yahudi.
Hukumnya terdapat dalam Qur'an yg berbunyi.
“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu” [al-Maidah/5: 5]
Jumhur Ulama perbendapat demikian melalui ayat ini, walaupun ada sebagian Ulama yg mengharamkannya.
Intinya boleh, tapi tetap lebih baik menikah dengan perempuan yg beriman agar rumah tangga menjadi tenteram dan damai.
Jawaban yg aku dapatkan dari Uztad Mansur tidak sesuai dengan yg ku harapkan. Lagi pula kenapa aku bertanya kepada seorang Uztad? Tentu dia akan menjawab demikian.
Aku akhirnya pura-pura serius mendengarkan ucapan Uztad Mansur dan pura-pura mengerti untuk menghormatinya karena sudah menjelaskan panjang lebar tentang hukum menikah walaupun bukan itu jawaban yg ku inginkan.
Tentu ada ilmu yg aku terima tapi ilmu itu malah semakin membuatku ragu untuk mengutarakan perasaanku pada Evelyn. Setelah mendengar penjelasan itu, aku pun pamit dan meninggalkan Uztad Mansur.
Dengan perasaan galau aku kembali naik ke atas motor. Di perjalanan aku terus memikirkan hal itu. Padahal aku sudah nyaman, padahal tekadku sudah bulat untuk menyatakan tapi malah timbul lagi keraguan.
Apa akhirnya aku tidak bisa mengakui apa-apa? Tidak pada Alfy ataupun Evelyn. Kenapa aku selalu jatuh cinta kepada orang yg salah?
Tidak, ini tidak boleh terjadi. Niatku sudah jelas dari awal. Aku harus mengutarakan perasaanku pada Evelyn. Aku tidak ingin lagi melepaskan begitu saja.
Meski aku tau konsekuensi yg akan ku terima, akhirnya aku menutup akal dan logika demi perasaan yg menggebu-gebu. Tak ingin lagi aku memendam rasa, kali ini perasaanku harus sampai pada Evelyn.
__ADS_1
-Bersambung-