Kamu & Senja

Kamu & Senja
Nasehat Ibu


__ADS_3

Malam ini aku gelisah, bagaimana tidak. Besok adalah hari reuniku bersama dengan Riyal, Ana, Sahidah dan yg pasti Alfy. Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku mumet, apa lagi jika harus datang bertemu dengan mereka semua.


Yg membuatku pusing adalah hubunganku dengan Alfy. Bagaimana aku harus bersikap di depannya jika pertemuan terakhir saja dia benar-benar masih tidak mengingatku. Apa lagi teman-temanku yg lain tidak mengetahui apa-apa tentang hubunganku dengan Alfy selama ini.


Aku bingung harus pergi atau tidak, di sisi lain Sahidah sangat mengharapkan kedatanganku. Meski begitu berat rasanya harus bersikap seperti tidak terjadi apa-apa di depan Alfy. Aku harap Riyal tidak menceritakan apa-apa tentangku dan Alfy kepada Ana dan Sahidah.


Aku terus saja merenung di depan teras rumahku. Mungkin karena khawatir, Ibuku mendekat dan mengajak aku untuk berbagi cerita. "Arman.." sapa Ibu yg duduk di dekatku.


"Iya Ma'.. Ada apa?" tanyaku.


"justru Mama yg harus tanya sama kamu, lagi mikir apa nak?" tanya Ibu.


"gak Ma' gak mikir apa-apa kok."


"kamu itu persis banget sama Bapakmu, suka nyembunyiin sesuatu dari Mama."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Ibuku yg menyinggung Ayahku.


"oh iya, bagaimana keadaan Fina?" tanya Ibu tiba-tiba.


Ibuku memang tau semua masalah tentang apa yg terjadi denganku dan Alfy. Ibu tau kondisinya dan Ibu juga tau kalau aku pernah melamar Alfy karena memang sebelum melamarnya aku izin dulu kepada Ibuku.


Aku menjelaskan alasan kenapa aku melamar Alfy waktu itu, panjang lebar aku jelaskan. Terlebih aku masih Mahasiswa yg masih berada di awal semester 6 ketika aku melamar Alfy.


Dari penjelasanku, ternyata tanpa di duga Ibuku mendukung karena sepertinya dia menyukai Alfy dari awal.bIbuku juga tau tentang hal yg membuat Alfy hilang ingatan, bahkan tau kenapa aku bersikap buruk pada Alfy ketika aku tau kebenaran yg menyakitkan itu.


"alhamdulillah dia baik kok Ma'." jawabku.


"apa dia belum ingat sama kamu?" tanyanya kembali.


"sepertinya belum Ma'. Aku ketemu dia minggu lalu dan.. Ya.. Dia belum mengingatku." Ujarku.

__ADS_1


"ya sudah, yg penting sekarang kondisinya sudah membaik. Kamu jangan terlalu merasa bersalah." nasehat Ibuku.


"andai saja waktu itu Arman tidak kehilangan kendali Ma', mungkin Alfy tidak akan seperti saat ini."


"penyesalan memang selalu di belakang nak. Dari pada kamu merenungi masa lalu lebih baik mengukir masa depan. Belum tentu kan nak Fina lupain kamu terus. InsyaAllah ingatannya akan kembali. Yakinlah nak." Ujar Ibu.


"iya Ma' tapi justru aku takut kalau ingatannya kembali. Aku takut jika dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yg terjadi dengan kita." balasku.


"Jika seperti itu, kamu harus jadi orang pertama yg memaafkan dia nak. Berikan pengertian kalau kamu, Ibu dan Raihan sudah ikhlas dan sudah berdamai dengan masa lalu." jelas Ibuku.


"iya Ma', Arman ngerti." balas ku sambil memeluk Ibuku.


Ibu memang selalu punya cara membuatku nyaman dan kembali berpikir jernih jika sedang mengalami masalah. Berkat Ibu, akhirnya aku membulatkan tekad untuk datang ke reuni bersama besok.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2