Kamu & Senja

Kamu & Senja
Rencana Bag. 3


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Sedang berusaha meraih mimpi, tiba-tiba aku di kejutkan dengan smartphone yg terus berdering membangunkanku dari tidur. "aduh siapa sih nih? orang masih ngantuk juga.” Kata Arman yg terbangun dari tidur karena mendengar smartphonenya berdering.


“heh... Alfy..” matanya membelalak melihat panggilan dari Alfy.


“halo assalamualaikum Man.” Kata Alfy.


“waalaikumsalam Fy, iya ada apa?”


Alfy menelepon untuk mengkonfirmasi uang panitia yg di ambil olehku kemarin, setelah membeli paku karena lelah aku langsung pulang untuk istirahat dan lupa memberikan sisa uang serta struk pembelian kepada Alfy. “uufff.. Kirain ada apa.” Kataku dalam hati menutup telfon.


Saat ini jam sudah menunjuk angka 10. Jika saja Alfy tidak menelfon mungkin aku akan tertidur sampai siang dan melupakan janjiku kepada Ivan. Sejam lagi Ivan akan menjemput di rumah untuk membantu dia mempersiapkankan kejutan ulang tahun untuk Dian. Sejam telah berlalu dan aku telah bersiap-siap, Ivan pun sudah berada di depan rumah mengendarai mobil. “sorry, gak lamakan nunggunya?” Kataku sembari naik ke mobil.


“gak Man. Baru juga sampai kamu udah keluar.” Balasnya.


“jadi gimana nih konsep kejutannya?”


“sepertinya lebih romantis kalau cuma aku berdua. Jadi aku gak ngundang siapa-siapa Man. Sekaligus aku mau minta tolong sekali lagi bantuin aku buat dekorasi tempatnya biar lebih romantis.” Jelas Ivan.


“oh.. Iya gak papa. Lagian aku juga udah janji sama kamu Van.”


"makasih Man. Aku boleh kan nganggap kamu sahabatku.” ucapnya.

__ADS_1


Entah kenapa hari ini aku merasa bahwa Ivan sedang bersandiwara, aku tak tau tapi kadang firasatku berkata benar.


Jika dia memang ingin bersahabat denganku itu tidak masalah. Karena memang sudah lama aku berteman dengan Ivan, bahkan sudah seperti saudara karena kami sudah bersama sejak kecil tapi jika harus di katakan sahabat aku merasa berat mungkin karena aku telah di khianati oleh sahabat sejak aku masih duduk di bangku SMA. Sebaiknya aku move on dari kejadian itu dan mulai membuka hati untuk bersahabat dengan seseorang. Apa lagi Ivan memang cukup dekat denganku dan kami sudah saling mengenal karakter masing-masing. Ya.. Aku memutuskan untuk kembali bersahabat dengan Ivan.


Sampai di lokasi, aku melihat banyak kebutuhan dekorasi yg mungkin sudah di persiapkan oleh Ivan sebelumnya. Banyak bunga mawar merah dan balon serta kebutuhan yg lain.


Tanpa banyak bertanya aku mulai mengerjakan sesuai dengan kebutuhan dan ide Ivan. Mulai dari menata jalan menuju meja makan yg berada di belakang vila pribadinya sampai menata balon warna-warni.


“oh iya Van.. Konsepnyakan makan malam berdua, tapi dari tadi aku perhatiin di sini cuma ada kita berdua.” Kataku sambil menata balon.


“iya Man. Supaya suasananya lebih dapet aja.”


“terus yg masak buat kalian siapa?”


Melihat antusiasnya yg seperti itu, aku jadi terharu. Entah ekspresi apa yg akan di perlihatkan oleh Dian jika melihat semua yg di lakukan oleh Ivan untuk dirinya seperti ini. Aku tau Ivan orang yg berkecukupan karena Ayahnya adalah salah satu eksekutif di perusahaan tempatnya bekerja, jadi uang bukan masalah untuknya karena sudah ku katakan sebelumnya. Materi tidak berarti di hadapan cinta.


Cukup lama untuk membuat dekorasi yg di inginkan oleh Ivan. Efektif memang jika ada cukup banyak orang yg mengerjakannya, mungkin hanya butuh waktu sejam atau 2 jam. Akan tetapi karena cuma kami berdua alhasil kami butuh waktu 4 jam agar semua dekorasi rampung.


Jam 4 sore, bersamaan dengan selesainya kami mendekor terlihat seorang koki dan pelayan yg telah di sewa oleh Ivan datang dengan sebuah mobil membawa alat masak dan bahan-bahan yg di perlukan. Mereka berdua langsung di perlihatkan dapur oleh Ivan, sedangkan aku berada di kamar untuk melaksanakan shalat Ashar.


Setelah semua urusan selesai, Ivan mengantarku ke kampus. Karena perubahan rencana aku jadi bisa kembali ke kampus untuk membantu teman-teman panitia mempersiapkan evant yg akan kami laksanakan 2 hari lagi.


Sebenarnya aku sudah bersiap untuk berada di vila sampai malam karena memang awalnya dia mengatakan bahwa akan melaksanakan semacam pesta bersama dengan semua teman-temannya. Tapi aku tak tau apa yg mendasari Ivan berubah fikiran dan memilih untuk makan malam romantis bersama dengan Dian hanya berdua.

__ADS_1


Di dalam mobil karena aku penasaran akupun bertanya tentang itu. “ngomong-ngomong Van, kenapa kamu bisa berubah fikiran?”


“berubah fikiran tentang apa?”


“tentang konsep kejutan untuk pacarmu?"


oh iya. Aku hanya tidak ingin terlihat murung di depan teman-teman yg lain.” Jawabnya tertawa.


“aku gak ngerti Van.”


“nanti juga kamu akan ngerti Man. Kamu orang pertama yang akan aku kabari nanti tentang kejutan ini.”


“oklah Van. Sukses kejutannya.”Ivan melihat ke arahku dan tersenyum.


Sekitar setengah 6 menjelang maghrib aku sampai ke kampus, setelah turun dari mobil kemudian Ivan pamit dan berterima kasih untuk bantuan mendekorasi di vila miliknya. Dia kemudian pulang untuk mempersiapkan diri lalu menjemput kekasihnya.


Aku yg saat ini berada di lapangan sepak bola kampus bergegas ke sekretariat UKM Penalaran Ilmiah. Setalah sampai ternyata teman-teman panitia sedang berada di Gor utama memperispkan panggung dan keperluan yg lain untuk kegiatan kami.


Setelah berada di sana aku bertemu dengan Alfy lalu memberikan sisa uang yg kemarin dia berikan kepadaku beserta struk belanjanya.


Aku lihat dia sedang serius mengelola keuangan panitia, satu lagi hal yg aku ketahui tentang Alfy. Dia sangat berdedikasi dengan tanggung jawab yg di berikan padanya dan karena itu aku semakin menyukainya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2