Kamu & Senja

Kamu & Senja
Makam


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Kita hidup di masa percepatan, akses informasi salah satu yg terpengaruh oleh perubahan. Sekarang hanya tinggal sekali klik maka informasi yg kamu butuhkan akan langsung muncul melalui alat yg di sebut smartphone.


Bahkan untuk hal-hal kecil seperti kita ingin melihat wajah seseorang. Sepertiku yg saat ini merindu, rindu dengan senyumnya. Sering aku mencoba untuk setidaknya meredam rindu dengan stalker akun Instagram miliknya tapi sayang, di akun itu dia tidak memasang foto wajahnya sama sekali. Yg ku dapati hanya quote-quote, pesan agama dan video-video inspirasi.


Mungkin dia bukan tipe perempuan yg suka berselfie atau bukan tipe yg aktif di depan kamera. Hanya saja tidak adil jika dia tidak berbagi senyum itu kepada dunia, itu menurutku.


Entah kenapa seminggu ini aku tidak bertemu dengan Alfy di kampus, bahkan ketika aku pergi ke sekretariat UKM Penalaran Ilmiah. Sampai pada aku berpura-pura jalan ke kelas memutar lewat koridor Jurusan Sastra Inggris hanya untuk bertemu dengannya. Tapi dia benar-benar tidak aku temukan dimana pun ketika di kampus.


Aku sudah seperti orang aneh saat ini, merindu tapi tak di rindu. Ada satu hal kebodohan yg biasa ku lakukan, aku sering melakukan itu. Aku membuat insta story, apapun kontennya semata-mata agar dia melihat insta storyku.


Terkadang ada yg membalas insta story tersebut, aku membuka dengan harapan yg membalas adalah dia tentu agar aku punya alasan untuk ngobrol dengannya via chat. Tapi sangat jarang itu terjadi, biasanya yg membalas cuma teman-temanku yg lain, yg membalas mereka yg tak aku harapkan.


Aku pembohong yg ulung di Instagram, andai saja aku tidak sepengecut ini untuk mengatakan padanya, mungkin saat ini aku tidak akan repot dengan perasanku.


Saat fikiranku terus berkutat di hal itu, suara smartphoneku berdering. “iya hallo.” Kataku mengangkat telfon dari Ivan.


“hallo Man, lagi dimana?” tanya Ivan.


“di rumah aja Van, kenapa?”

__ADS_1


“eh gimana, kamu mau kan bantuin aku?”


“bantuin apa Van?”


“itu.. Nyiapin surprise buat Dian pacarku.”


“ohh iya iya.” Kataku sedikit gelisah. Aku gelisah bukan karena tidak mau membantu, tapi aku mengetahui bahwa Dian sering jalan berdua dengan Irwan tapi Ivan tidak tau kelakuan Dian yg seperti itu.


Meski aku tau tapi aku benar-benar bingung apakah aku harus merusak hubungan Ivan dengan Dian dengan mengatakan yg sebenarnya. Apakah itu hal benar jika aku mengatakannya? Atau itu salah? Aku sekarang tidak tau mana yg benar dan mana yg salah. Tolong beritau padaku, apa yg harus ku lakukan?. Gumamku bingung.


“jadi Van kapan tepatnya kamu ngasih surprise itu?” aku bertanya.


“minggu depan Man, bisa kan ya?”


Ivan pun mematikan telfonnya. Aku kembali berfikir, kenapa cinta bisa serumit ini? Saat kita merasa semua sudah sempurna, saat kita merasa bahwa kekasih yg saat ini bersama demgan kita adalah yg terbaik, saat kita merasa bahwa kisah cinta yg di jalani saat ini sesuai dengan yg di harapkan. Tapi pada akhirnya, entah sekarang, esok atau nanti kita akan tau. Bahwa semua harapan-harapan itu palsu dan pada akhirnya kita akan kecewa.


*sementara itu, di waktu yg sama.


“Umi aku pamit dulu, aku mau jenguk Kak Imam.” Kata Alfy kepada Ibunya.


“iya nak, hati-hati di jalan.” Balas Ibunya.

__ADS_1


Alfy pun berangkat menggunakan motor bersama dengan Puput yg merupakan sepupunya.


Tak lama mereka sampai di sebuah tempat, terlihat tidak asing dengan batu nisan berdiri dimana-mana. Ya.. Mereka berdua sampai di sebuah pemakaman umum. Alfy dan Puput pun masuk berjalan melewati beberapa makam hingga akhirnya sampailah pada satu makam. Di batu nisan tertulis Imam Ahmad Mansur yang merupakan kakak dari Alfy.


Saat sampai Alfy lalu mendekatkan tangannya ke batu nisan, diapun tak bisa menahan air matanya. Sementara Puput yg berada di belakangnyanya memegang punggung Alfy juga ikut menangis.


Imam kakak kandung dari Alfy telah meninggal dua tahun yg lalu. Alfy sangat menyayangi kakaknya, mungkin karena hanya Imamlah saudara Alfy satu-satunya. Terlebih kakaknya itulah yg sering membela Alfy ketika waktu kecil dia sering di ganggu oleh anak-anak nakal yg lain. Bahkan ketika Alfy beranjak remaja di SMA, Imam tetap menjaga adiknya dari remaja laki-laki modus yg sering mengganggu dan mendekati Alfy.


Kakaknya itu sering membimbing Alfy agar menjadi mandiri, agar tidak gampang terbuai dengan gombalan laki-laki di luar sana. Pesan-pesan moral dan agama sering dan sudah di tanamkan kepada Alfy oleh kakaknya dan kematian kakaknya dua tahun yg lalu sangat membuatnya terpukul.


Sampai saat ini jika dia merindukan kakaknya, dia akan datang ke pemakaman dan akan curhat kepada kakaknya tentang apapun yg dia hadapi. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak kakaknya pertama kali di kuburkan di TPU ini sampai sekarang.


Bagi Alfy, bercerita di depan makam kakaknya walaupun kakaknya tak bisa mendengarnya, tak bisa menjawab ucapannya dan tak bisa melihatnya, tapi jika sudah meluapkan cerita hidupnya di depan makam kakaknya itu sudah cukup membuatnya lega. “Na.. Udah mulai sore, kita juga belum shalat ashar. Ayo pulang.” Kata Puput memegang pundak Alfy.


“iya Kak.” Kata Alfy.


Alfy lalu berdiri dan sekali lagi memegang batu nisan kakaknya.“Kak, aku pulang dulu yah. Semoga Allah mengampuni kesalahan Kakak di alam sana.” Doa Alfy.


“amiin.” Ujar Puput.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan makam tersebut.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2