
(Bagian Flashback)
Setelah hari yg sangat menegangkan itu, tentu aku isi hari-hariku dengan sedikit demi sedikit menghafal Qur'an dimanapun dan kapanpun. Baik itu di rumah maupun di kampus.
Ibuku tentu sudah tau apa yg terjadi, diapun memberikan dukungan padaku karena apa yg terjadi setelah itu membuatku semakin taat dengan agama.
Teman-temanku di kampus cukup heran melihat perubahanku. Terutama Ilham yg sering mengejek perilaku alim yg sering di lihatnya ketika aku sedang menghafal Qur'an di depan mereka.
Tentu aku tidak mengatakan pada mereka apa yg terjadi, termasuk aku yg berniat melamar seseorang. Kini selain bersama Ilham, Adi, Wahid, Gina dan Ica. Di kampus aku juga sering bareng dengan Sabri dan juga cukup sering mendapatkan nasehat darinya.
Ivan juga cukup senang melihatku sering membuka Qur'an. Walaupun tidak ada satupun dari mereka yg tau tentang hal yg sebenarnya terjadi.
Sementara itu, di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya.
"hah? Yg bener Fin. Jadi kamu dah mau nikah dong." ucap Citra.
"husss.. Jangan berisik Cit, ini perpus." balas Fina.
"oh iya lupa. Hehe. Terus teruss.. Gimana? Arman yg kamu ceritain ke aku itu jadi ngelamar kamu."
__ADS_1
Citra adalah teman dekat Alfy, berbeda dengan Naya. Citra sejurusan dengan Alfy dan mereka baru kenal setelah kuliah sedangkan Naya merupakan satu-satunya teman Alfy sejak di bangku SMA sampai sekarang.
Citra dan Alfy sangat dekat, keduanya sering curhat satu sama lain. Tak terkecuali tentang hal yg terjadi baru-baru ini di rumah Alfy. Citrapun sebenarnya juga tau tentang Arman, sama seperti Alfy yg sempat curhat tentang Arman kepada Puput.
"ya ampun.. Fin.. Aku doain kalian jadi yah." ucap Citra
"makasih Cit.."
"mendengar cerita kamu, rasanya aku juga pengen di lamar dong. Haha.."
Masih dengan waktu yg sama, di tempat lain. Perempuan ini menatap dalam Ilham, tapi sayang Ilham malah melirik perempuan lain. Tak sengaja dia tau bahwa bocah cilik yg sempat menghiburnya waktu kecil sudah tumbuh menjadi pribadi yg hancur seperti Ilham. Tapi itu tidak menghalangi perasaan yg pernah tumbuh dan masih dia simpan sejak kecil.
Mungkin sebagian orang bilang itu hanya guyonan anak kecil tapi bagi mereka berdua itu adaha janji yg mengikat perasaan mereka. Hanya saja, Gina.. Tidak paham mengapa malah Ilham mengira bahwa gadis cilik di masa lalu yg bersama dengannya adalah Ica.
Gina bimbang, terlebih setelah Ica terluka atas perlakuan Irwan. Ica mulai menaruh hati terhadap Ilham, seperti yg di katakan Ica padanya di kala sedang bersama. Ica adalah sahabatnya, dia tak mau melihat Ica kembali terpuruk seperti waktu itu. Sedangkan janji yg masih di pegang oleh Gina begitupun Ilham belum terpenuhi. Janji mereka untuk bersama kelak suatu saat nanti.
"Gina.." Kata Adi.
"iya.."
__ADS_1
"dari tadi nyeruput mulu, itukan minuman kamu sudah habis." Kata Adi.
"oh.. Iya, saking hausnya."
"nih minum punya aku aja." Kata Ica.
"gak usah Ca'.. Becanda kok."
"alah.. Gina jaim aja lo." ledek Ilham.
Dengan berat hati Gina selalu menahan perasaan jika harus berbicara dengan Ilham. Sebab jika dia mengatakan yg sebenarnya entah akan seperti apa pertemanan mereka.
"si Arman mana yah?" tanya Wahid.
"gak tau tuh anak, belakangan ini dia sering bareng Sabri. Mungkin sudah Insyaf kali." Ujar Ilham.
"ih kamu tuh yah.. Bukannya doain temen malah di ledekin." Kata Ica sambil menjambak rambut Ilham.
"aduh duh.. Sakit Ca'.. Aduh."
__ADS_1
Gina melihat kedekatan Ilham dan Ica, semakin membuat dia harus menyembunyikan fakta tentang dirinya. Baginya, kebersamaan mereka sebagai teman lebih berarti ketimbang harapan masa kecilnya.
-Bersambung-