Kamu & Senja

Kamu & Senja
Bingung


__ADS_3

(Flashback)


7 Bulan yg lalu.


Senja.. Indah tapi sementara. Seperti dia, keindahan yg tidak bisa ku capai dan hanya bisa menatap setelah itu langit malam datang menenggelamkan harapan. Sekarang aku sudah tau dan semua sudah jelas. Alfy ternyata punya perasaan yg sama denganku, tapi aku bingung harus senang atau sedih.


Sore ini, dia jelas mengakuinya. Aku pun telah mengakuinya tapi aku seperti sedang di tolak. Dia pergi begitu saja seusai mengatakan perasaan dan tak menoleh sedikitpun.


Aku tau dia perempuan yg baik dan sholehah, tapi apa salahnya jika aku mengajak dia untuk jadian denganku. Bukankah dia juga suka padaku? Lagian aku bukan laki-laki brengsek yg suka mempermainkan perempuan.


Aku terus bergumam sambil menatap langit yg mulai menghitam. Sementara aku berbaring di atas bangku memikirkan hal yg baru saja terjadi.


Aku masih berpikir keras, Apa benar agamaku melarang pacaran? Aku bertanya pada diriku seolah tak tau padahal aku sudah tau. Yg aku heran adalah faktanya masih banyak orang yg seagama denganku melakukan itu.


Bukan kah tidak apa-apa pacaran yg penting positif dan memegang teguh komitmen untuk menikah nantinya. Bukankah lebih baik saling mengenal dahulu sebelum melangkah ke hal yg lebih serius?


Aku bingung, terlebih ketika Alfy mengatakan agar sebaiknya aku menemui Ayahnya. Apakah dia ingin aku melamarnya? Mustahil.


"ahhhhh.." gumamku kesal.


Suara Adzan terdengar, untuk menengkan kebingunganku aku pun melangkah menuju mesjid terdekat. Seusai shalat entah mengapa aku ingin berlama-lama di mesjid ini. Terlebih lagi sedang ada mejelis ilmu dengan topik yg menarik perhatianku.


Ku lihat tidak sedikit anak muda yg sebaya denganku berada dalam majelis ilmu ini. Jika di lihat dari pakaian mereka, mungkin mereka sudah rutin mengikuti majelis ilmu di mesjid ini.

__ADS_1


Jika melihat mereka, aku jadi iri sekaligus malu. Selama aku hidup, aku belum pernah duduk dalam kajian mendengarkan ceramah seperti saat ini.


Walau aku sudah tertarik untuk belajar agama sejak aku berdiskusi dengan Sabri tapi berada dalam kajian seperti ini rasanya lebih nyaman dan menenangkan.


Waktu berlalu dan aku dengan tenang mendengarkan materi yg di sampaikan oleh Uztads tersebut. Hingga Isya pun masuk dan kajian selesai. Setelah Shalat Isya, aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


Di parkiran mesjid aku melihat seorang pemuda yg terlihat sebaya denganku. Bahkan aku yakin usia kami tidak beda jauh dari perawakannya. Dia berjalan menuju motor yg sudah teihat tua di temani seorang wanita dengan jilbab panjangnya dan terlihat sedang menggendong bayi.


Mereka terlihat bahagia, bahkan sesekali mereka bercanda satu sama lain. Dan yg paling membuatku baper ketika tali sepatu wanita itu terlepas, dengan sigap pemuda yg merupakan suaminya itu pun menunduk dan mengikatkan tali sepatu istrinya.


Itu pemandangan yg manis, sampai-sampai aku berkhayal jika saja aku adalah pemuda itu dan wanita itu adalah Alfy.


"ah.. Bahagianya.." gumamku dalam hati.


"assalamualaikum."


"Arman.. Masyaallah. Antum ngapain di sini?" tanya Sabri yg tiba-tiba muncul di hadapanku.


"loh.. Bro. Kebetulan."


"iya, tadi habis shalat di sini yah?" tanya Sabri.


"iya nih, sekaligus tadi gak sengaja ikut kajian. Kamu di sini ikut kajian yah?"

__ADS_1


"masyaallah... Iya, kan saya tinggal di sekitar sini jadi seringlah ke mesjid ini." balasnya.


"oh gitu..,."


"oh iya, temen Antum yg itu, Ivan.. Masyaallah dia cepat sekali belajarnya. Sekarang udah hafal Qur'an lima juz."


"oh Ivan. Alhamdulillah."


"itu juga berkat Antum, sekarang sampai Antum seterusnya Ivan melakukan perbuatan baik insyaallah Antum juga akan kebagian pahala. Sebab Antumlah yg jadi penyebab dia masuk Islam." Ujar Sabri.


"oh, gitu yah?"


Aku terkejut tapi sepertinya bukan aku yg akan dapat pahala tapi perempuan yg di temui oleh Ivanlah yg akan dapat pahala. Sebab karena perempuan itu makanya Ivan belajar tentang islam.


"iya, insyaallah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yg artinya.


'Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya' (HR. Muslim no. 1893), nah apa yg Antum lakukan itu sudah termasuk di dalamnya. " jelas Sabri.


"iya bro iya. Hehe." ucapku canggung karena sebenarnya bukan aku yg membuat Ivan tertarik dengan Islam.


"ya udah kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum." ucap Sabri sembari menjauh.


"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." balasku.

__ADS_1


Entah menagapa setelah mendengar soal Ivan dari Sabri, rasanya aku ingin bertemu dengannya. Akupun coba untuk menghubunginya sebelum memutuskan untuk ke rumahnya.


-Bersambung-


__ADS_2