Kamu & Senja

Kamu & Senja
Uztads Sabri


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Di suatu sore,.. sepertinya sudah lama sejak aku pergi ke pantai tempat biasanya aku menikmati senja. Tidak ada salahnya sore ini aku menyempatkan diri ke tempat itu, lagian aku sedang tidak sibuk.


Sampai di sana ku lihat langit sore masih membiru, memang jika melihat waktu sepertinya senja masih terlalu awal untuk muncul. Akupun bersantai sembari menikmati hembusan angin laut, melihat keramaian dengan berbagai aktivitas.


Dari jauh aku melihat banyak orang-orang dengan pakaian busana muslim sedang memegang poster, karena penasaran aku mendekat. Setelah melihat sepertinya mereka adalah pemuda-pemudi yg menggalang dana untuk korban terorisme sekaligus kampanye anti terorisme.


Lagi.. Aksi teror terjadi di negeri ini, kali ini sebuah gereja jadi sasaran mereka yg mengatakan jihad tanpa akal sehat. Gereja yg berada disalah satu kota itu mengalami rusak parah, 2 orang dinyatakan meninggal dan puluhan orang luka-luka.


Sampai berita ini di keluarkan, pelaku teror masih buron dan masih dalam pengejaran oleh tim densus 88 anti teror Polri.


Aku melihat pemuda-pemudi ini melakun eksperimen, di poster yg mereka pegang bertuliskan "peluk aku, jika kau percaya muslim bukan *******" sepertinya tulisan itu di rujukan untuk orang-orang non muslim. Dan setelah ku perhatikan cukup banyak dari orang-orang yg melihat aksi ini kemudian memeluk orang yg memegang tulisan itu.


Indonesia memang negara besar, berdiri tidak hanya satu tapi ada banyak suku dan budaya. Sedangkan untuk keyakinan, Indonesia mengakui ada setidaknya 6 keyakinan yg di akui. Islam tentu saja, Katolik, protestan, Hindu, Budha dan Konghucu.


Salah satu Dosenku pernah mengatakan bahwa keberagaman di negeri ini ibarat bom waktu, yg bisa meledak kapan saja. Awalnya aku tak begitu mengerti tapi setelah melihat beberapa kali aksi teror ini. Membuatku berfikir bahwa ada oknum yg mencoba mengadu domba orang-orang negeri ini. Agar saling mencurigai, saling tidak percaya bahkan saling membenci hingga akhirnya bertikai antar agama, suku dan budaya.


Dan oknum tidak bertanggung jawab itu mencoreng nama Islam, semua kalimat-kalimat suci seenaknya saja mereka ucapkan saat melakukan hal keji. Aku hanya berdoa semoga mereka mendapatkan ganjaran yg pantas atas apa yg mereka perbuat, karena aku tau Islam tidak mengajarkan hal seperti itu, walaupun ilmuku tentang agama dangkal hanya saja setauku Islam adalah agama yg damai.

__ADS_1


Saat aku ingin berbalik meninggalkan kerumunan orang-orang pundak ku di pegang. "assalamualaikum Man." Kata orang itu dari belakang.


"waalaikumsalam." Kataku sambil berbalik.


Ketika aku melihat kebelakang ternyata itu salah satu teman angkatan ku di kampus.


"Sabri.." Kataku sambil menjabat tangannya.


"udah lama ya di sini." Balasnya.


"lumayan sih, kamu sendiri di sini ngapain?"


"kebetulan aku salah satu aktivis di kegiatan ini dan kebetulan juga ini sebenarnya gerakan yg di lakukan oleh teman-teman LKD (lembaga dakwah kampus) untuk merespon aksi terorisme yg terjadi kemarin." Kata Sabri menjelaskan.


Seperti halnya hasil diskusiku dengannya hari ini, dia banyak menyebutkan ayat Qur'an dan Hadist sahih terkait pandangan Islam yg sebenarnya tentang aksi ******* ini. Dia mengajariku banyak hal, jujur aku sedikit malu karena dengan umur yg sama dia jauh lebih tau tentang agama di banding denganku.


Sabri mengatakan bahwa tindakan terorisme ini sama saja dengan membunuh dan membunuh tanpa alasan yg di benarkah oleh agama adalah dosa besar. Bahkan dia juga menuturkan bahwa kafir dalam pandangan Islam itu ada dua yaitu kafir Harbi dan kafir dzimmah.


Bahwa seorang muslim wajib melindungi dan menghormati hak-hak non muslim apabila terikat perjanjian dengan pemerintah maka ini adalah Kafir dzimmah, contohnya tentu rakyat Indonesia yg beragama non islam dan contoh lain non muslim yg datang berkunjung ke Indonesia berlibur dengan jalur legal sesuai hukum imigrasi. Maka mereka sama dengan kafir dzimmah yg memiliki perjanjian dengan pemerintah dan tidak boleh di ganggu ketenramannya saat berada di Indonesia.

__ADS_1


Maka dari itu jika kita mengganggu apa lagi sampai membunuh mereka itu sama saja dengan membunuh tanpa alasan yg di benarkah agama, artinya si pembunuh akan mendapatkan dosa besar, bukan pahala seperti yg di yakini oleh mereka para *******.


Berbeda lagi dengan kafir Harbi, mereka adalah orang-orang non muslim yg dengan gamblang menantang berperang dan menindas kaum muslimin, contohnya yg sedang terjadi di Palestina.


Mendengar penjelasan Sabri aku jadi mengerti dan tambah membenci ******* yg di butakan oleh ambisi palsu mereka, jika mereka memang mau jihad seharusnya mereka berangkat dan membela Palestina dari penjajahan Israel bukan malah menjadi pengganggu di negeri yg aman seperti Indonesia.


Sabri menambahkan bahwa Islam adalah agama yg toleran, terbukti di jaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dimana para sahabat waktu itu memiliki tetangga yg berbeda agama dengan mereka. Namun mereka tidak pernah mengganggu ibadah orang-orang tersebut, bahkan mereka juga menjalin kerja sama bisnis agar saling menguntungkankan.


Sabripun melanjutkan bahwa akar dari masalah terorisme adalah menyebarnya pemahaman khawarij. Khawarij adalah pemahaman yg salah, sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Kaum Khawarij akan gamblang mengatakan bahwa pemerintah Indonesia adalah pemerintah yg dzalim dan wajib untuk di perangi. Bahkan jika ada muslim yg tidak sependapat dengan mereka maka mereka akan membunuh muslim itu. Itulah akar dari pemahaman ******* dan biasanya yg termakan oleh pemahaman itu adalah mereka yg tak mau mengikuti Qur'an dan hadist Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.


Mendengar penjelasan Sabri akhirnya aku sedikit mengerti bahwa mereka yg menebar teror hanya orang-orang dungu yg buta dan tak bisa melihat kebenaran karena hawa hafsu.


Tanpa sadar aku pun menceritakan kejadian yg menimpa ayahku pada Sabri, ya.. Ayahku terbunuh karena serangan *******. Tentu cukup panjang diskusi kami berdua hingga tak sadar senja dengan warna jingganya menyilaukan mataku.


Aku pamit kepada Sabri mungkin aku akan mengajak untuk melanjutkan diskusi di hari yg lain dan untuk momen yg indah seperti ini sebaiknya aku ke tempat yg bisa melihat matahari dengan jelas.


Karena matahari kali ini tampak besar dari biasanya, aku memutuskan untuk ke dermaga kayu yg membentang di pinggir pantai.


Sembari berjalan aku sesekali memandang langit.. Dan langit senja memang punya cara untuk selalu membuatku kagum, seperti senyumnya.. Siapa lagi kalau bukan Alfy.

__ADS_1


Saat aku sampai di dermaga kayu, aku melihat Ica. Dia tampak tersenyum dan dari belakang Irwan sedang memeluknya. Iyaa.. Mereka berdua berpelukan di bawah senja.


-Bersambung-


__ADS_2