
(Bagian Flashback)
Sungguh segar udara di tempat ini, asri lagi hijau bergelut dengan warna-warni bunga serta warna bintik sayap kupu-kupu yg terbang kesana kemari. memanjakan pandangan mata, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa terlihat menikmati suasana alam di tempat ini
Seperti rencana awal kami kemarin, kami berempat di tambah dengan Sahidah Salah satu teman kami di kampus yg merupakan warga lokal. Karena kami tidak tau tempat Kuala Lumpur Butterfly Park makanya kami minta tolong kepada Sahidah untuk menemani kami sebagai orang yg tau letak tempatnya.
Sahidah seorang yg ramah, dengan logat melayu yg lucu dia sangat peduli dengan kami berempat. Parasnya yg imut sering kali membuatku malu memandang apa lagi ketika dia membalas pandanganku.
Pemampilan hijab yg kekinian selalu membuatku kagum ketika aku bertemu dengannya. Di antara teman yg lain mungkin hanya dia yg cukup dekat dengan kami berempat.
Mungkin alasan yg lain kenapa dia bisa dekat dengan kami karena Sahidah merupakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Ya ternyata di kampus yg kami tempati untuk studi banding memiliki jurusan Sastra Indonesia, tentu itu sesuatu yg sangat membanggakan bagiku sebagai salah satu warga negara Indonesia. "bagaimana taman ini? Bagus tak?" tanya Sahidah kepada kami.
"bagus.. Udaranya nyaman, bikin ngantuk." Balas Alfy sambil melihat sekeliling.
"terima kasih Sahidah sudah mau menemani kami ke sini." Kata Riyal.
"wahh keren tuh.. Lihat di sana ada jembatan gantung." Ujar Ana sembari menunjuk jembatan gantung yg di bawahnya terlihat seperti danau buatan yg kecil.
"oke guys.. Enjoy." Kata Sahidah.
Ana yg dari tadi kagum dengan tempat ini mengajak Alfy ke atas jembatan gantung tersebut, tentu saja untuk berfoto dan mencari-cari spot keren untuk koleksi instagramnya. Sementara Riyal sibuk memotret bunga dan berbagai macam kupu-kupu dengan kamera analognya.
Aku dan Sahidah berjalan bersama, kami berbicara sambil menyusuri taman bunga yg ada di tempat ini. Sepertinya Sahidah banyak bertanya tentang Indonesia, sesekali kami berdebat tentang budaya karena kesamaan budaya. Seperti halnya wayang, batik dan lain-lain, sampai pada makanan khas.
Bisa di katakan apa yg ada di Indonesia ternyata ada juga di Malaysia, seperti makanan misalnya nasi uduk, di Malaysia bernama nasi lemak. Meski berbeda nama namun jika di rasakan makanan ini sama hanya beda lauknya saja.
Contoh lain misalnya batik, ternyata di Malaysia batik juga ada tentu dengan motif yg berbeda. Dan masih banyak hal lagi, kalau aku tidak terlalu heran karena memang pada dasarnya Indonesia dan Malaysia di masa lalu tergabung dalam wilayah Kerajaan Majapahit yg berpusat di Jawa timur. Waktu itu Kerajaan Majapahit menjadi penguasa tunggal yg hampir memimpin seluruh kawasan nusantara termasuk di dalamnya wilayah yg kita kenal sekarang sebagai Malaysia.
Jadi wajar saja kalau budaya kita hampir sama dengan Malaysia, meskipun kenyataannya kedua negara sering bertikai dan saling mengklaim budaya masing-masing.
Cukup lama kami berdiskusi tentang masalah itu, sesekali aku bercanda agar suasana tidak terasa membosankan baginya, hanya saja ketika aku mengatakan sebuah lelucon Sahidah sering kali bingung atau malah menganggap bahwa aku mengatakan hal serius. Aku pun tak mengerti bagaimana orang-orang Malaysia bercanda. Hanya saja situasi ini bukannya mencair malah jadi makin canggung. "hei kalian berdua.. Sepertinya kalian cocok." Kata Riyal yg memotret kami berdua dari belakang.
Sahidah tersenyum mendengar perkataan Riyal, aku melihat sekilas dan tersipu malu. "bisa aja kamu." Balasku sok cool.
__ADS_1
"menurut saya juga begitu." Kata Sahidah. Mendengarnya aku tambah malu, meskipun apa yg dia katakan hanya candaan belaka.
"Riyal.. Arman.. Idah.." teriak Ana yg memanggil kami.
Mendengar Ana berteriak memanggil kami langsung menuju ke arahnya. Sampai di sana aku melihat Alfy seperti sedang khawatir."eh kalian lihat deh." Kata Ana sembari memberikan hp Alfy padaku.
Ketika ku lihat ternyata sebuah pesan di WA, aku pun mulai membaca, ternyata pesan itu dari Fijay. Laki-laki keturunan India yg kemarin menggoda Alfy, pesan berbahasa Inggris itu jika di baca sekilas di awal paragraf hanya berisi puji-pujian dan sajak cinta yg mungkin menurutku terlalu lebay jika di baca oleh seorang perempuan. Sampai di paragraf bawah bahasanya mulai agak aneh sampai akhirnya sedikit mengancam.
Setelah membaca pesan ini aku jadi mengerti kenapa Alfy terlihat khawatir. "jangan khawatir Fin.. Kalau dia muncul nanti aku usir." Kata Riyal mencoba menenangkan.
"lapor polis saja. Ini bahaya kalau mengancam." Kata Sahidah.
"jangan.. Nanti repot lagi." Balas Alfy.
"tenang aja Fy.. Ada aku di sini." Gumamku DALAM Hati. Aku tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan itu langsung di depan Alfy. Hanya saja jika laki-laki bernama Fijay itu muncul aku benar-benar akan bertindak.
"ya udah kalau gitu kita pulang aja ke apartemen." Kata Ana.
"ya sudah kalau gitu, kita shalat dulu habis itu makan siang. Kebetulan sudah masuk waktu." ucap Riyal menenagkan kekhawatiran Alfy.
Seusai shalat kami lalu pergi ke restoran terdekat, di restoran itu kami bertemu dengan Haikal dan Sofia Seorang teman di kampus dan juga sepasang kekasih.
Kami pun makan di meja makan yg sama dengan mereka. Bercerita banyak hal sembari tertawa, sengaja aku terlihat bodoh agar semua tertawa, agar Alfy tertawa dan melupakan hal yg membuatnya khawatir.
Hal ini lumrah di lakukan banyak laki-laki, iya.. Pura-pura bodoh agar perempuan yg di sukainya tertawa bahkan jika dia harus dikatakan bodoh sekalipun yg penting sekali lagi perempuan yg di sukainya tertawa karena tingkah bodohnya. Sebab malu bukan apa-apa di hadapan cinta.
Setelah makan siang kami berpisah dengan Haikal dan Sofia, kami berlima lalu ke toko suvenir untuk melihat apakah ada barang yg mungkin menarik untuk di beli.
Aku masuk ke sebuah toko yg menjual aksesoris, setelah aku lewati pintu toko tersebut aku tersadar hanya ada aku dan Alfy. Momen yg tidak pernah aku dapatkan setelah sampai di Malaysia dua minggu lalu.
Ternyata Ana dan Sahidah berada di toko sebelah yg menjual pakaian sedangkan Riyal pergi ke sebuah museum fosil kupu-kupu yg letaknya tidak jauh dari toko ini. "tadi saya lihat kamu senang banget jalan berdua sama sahidah." Kata Alfy tiba-tiba dari belakang sambil memilah-milah aksesoris.
"ahh.. Ehh. He he.. Bisa aja kamu." Balasku canggung.
__ADS_1
Lalu ku lihat dia hanya tersenyum tak membalas ucapanku."oh iya ngomong-ngomong emang kamu kasih ya nomor Wa ke Fijay itu?" tanyaku untuk mencairkan suasana canggung ini.
"tidak.. Makanya itu aku khawatir, kok bisa tiba-tiba dia bisa tau nomor WA ku." Balas Alfy.
"kurang ajar tuh.. Gak punya sopan santun. Ketemu langsung aku hajar." Kataku sok jago.
"hajar apanya?" tanya Alfy.
"hajar matematika." balasku dengan sedikit bercanda, untuk menghilangkan kekhawatiran Alfy tentang hal itu.
"itu ajar.. Ajar.. Haha." Ujar Alfy sembari tertawa ringan.
Senang rasanya bisa menggambarkan tawa untuk seorang yg kita suka. Kami lalu berbincang banyak sambil mencari-cari aksesori yg cocok.
Lama mencari sepertinya aku tidak menemukan apa yg membuatku tertarik. Ku lihat Alfy memegang sebuah gelang, sepertinya cocok jika dia yg memakai. Karena sudah menemukan yg di cari Alfy lalu ke kasir dan aku menemaninya.
Terlihat Alfy membuka dompet dan seperti panik, dia memeriksa tas dan tambah panik. "kenapa Fy?" tanyaku.
"sepertinya uangku habis deh. Belum sempat narik dari atm." Jawabnya.
"ya udah pakai uangku dulu." Kataku menawarkan uang.
"gak usah, gak enak." Balasnya.
"nanti kamu ganti kalau sudah punya uang." Kataku.
Aku mengatakan itu agar dia mau menerima uang yg ku berikan, padahal tidak di gantipun aku rela. Di hadapan cinta materi tidak akan jadi masalah, apa lagi jika kasmaran sedang hangat-hangatnya.
Akhirnya setelah sedikit memaksa, dia mengambil uang yg ku berikan dan membayar gelang yg di belinya. Setelah itu kami keluar dari toko aksesori tersebut.
Saat keluar ternyata di depan Riyal sedang berdiri memotret orang-orang yg sedang lalu lalang dengan kamera analognya. Setelah Riyak sadar akan keberadaanku dan Alfy, dka berbalik dan memotret kami berdua secara tidak sengaja.
-Bersambung-
__ADS_1