
(Bagian Flashback)
Aku masih tak percaya, pengalaman spiritual yg di alami Ivan selama dua minggu membuatnya yakin dengan apa yg harus dia lakukan saat ini.
Mungkin perempuan itu hanya pemicu bagi Ivan untuk tertarik belajar agama Islam, saat akhirnya dia mulai belajar. Dia menemukan apa yg dia sebut kebenaran dunia dan saat ini dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut terlibat dalam kebenaran yg telah merasuk ke dalam batinnya.
Keesokan harinya setelah dia menjelaskan padaku panjang lebar tentang hasil belajarnya. Di kampus, setelah jam kuliah, aku menghubungi Sabri. Sabri adalah temanku yg mungkin bisa membantu Ivan agar keinginannya tersalurkan.
Sabri adalah salah satu teman angkatanku yg saat ini tergabung dalam LDK atau lembaga dakwah kampus. Bisa di katakan dia adalah Uztads di dalam angkatanku. Sabri saat ini sedang berada di Mesjid Kampus, tempat dimana semua anggota Lembaga Dakwah Kampus biasa berada. Tentu hal yg pas mengingat Ivan juga bisa belajar banyak kepada mereka.
"aduh.. Minggu depan udah ujian mid semester aja." gumam Adi yg keluar dari kelas.
"paling di kasih tugas doang." sambung Wahid.
"makan yuk, laper." Kata Gina.
"aku jemput Ica dulu yah." Ujar Ilham.
"wis.. Siyap. Kayaknya ada yg kasmaran nih." ucap Adi.
__ADS_1
"ya udah, di tempat biasa yah." Kata Wahid memberi tanda bahwa mereka akan ke kantin langganan.
"sekarang jadi kamu jadi tambah deket yah sama Ica ." Kata Gina yg terlihat lesu kepada Ilham.
"Kenapa Gin, kok gitu amat?" tanya Ilham.
"gak papa, udah sana jempu Ica." balas Gina.
"yg penting dia sekarang sudah tidak galau lagi. Udah jemput sana kasian entar nunggu." sambung Wahid.
"oklah." sahut Ilham pergi menjauh.
"e guys.. aku juga ada urusan bentar." kataku.
"ada urusan sama Ivan. Entar aku nyusul."
Aku pun pergi ke Fakultas Ekonomi menemui Ivan dan setelahnya kami pergi ke Mesjid Kampus. Karena jarak antara Fakultas kami ke mesjid kampus cukup jauh, akhirnya aku mengendarai motorku.
Setelah sampai di sekitar halaman mesjid aku menghubungi Sabri. Tak lama pun dia keluar dari Mesjid.
__ADS_1
Aku memperkenalkan Ivan kepadanya dan sedikit menjelaskan maksud Ivan yg ingin menjadi mualaf. Dengan senang Sabri menerima dan di ajaknya Ivan masuk ke dalam Mesjid.
Sementara aku karena tidak ingin mengganggu memilih pamit dan aku serahkan semua kepada Sabri. Ivan mencegahku tapi aku beralasan bahwa sedang ada urusan penting akhirnya dia membiarkan aku pergi.
Mereka berdua terlihat berjalan sambil berbincang dan akhirnya masuk ke dalam Mesjid. Aku pun memutuskan untuk kembali kepada teman-temanku yg lain. Saat berbalik aku bertemu dengannya. "Arman." sapanya.
"e, Al e, sorry Fina, iya Fina." kataku menyebut namanya sedikit gagu.
"Fina?" Kata Naya yg berada di dekatnya.
"Nay." Alfy terlihat memberi tanda kepada Naya yg tiba-tiba kesal tanpa alasan.
"sedang apa kamu di sini?" tanya Alfy.
"ada sedikit urusan tapi sudah selesai. Maaf aku buru-buru. Assalamualaikum." ucapku meninggalkan mereka berdua.
"waalaikumsalam." balasnya.
Saat menjauh aku berhenti sejenak dan menoleh. Ku lihat Alfy berjalan masuk ke dalam mesjid. Untuk pertama kalinya aku menghindari kontak mata dengannya, sama sekali aku tidak mengangkat wajah ketika berbicara dengannya.
__ADS_1
Aku putuskan, ini adalah langkah awal agar aku bisa melupakan harapanku bersamanya, Aku tidak pantas untuk perempuan sholeha seperti Alfy.
-Bersambung-