
(Flashback)
6 Bulan yg lalu.
Hari ini adalah hari minggu, hari yg tepat untuk berkunjung ke rumahnya. Aku malu, nafasku berat dan keringat yg keluar terus menerus menjadi tanda betapa aku sangat gugup hari ini untuk bertemu dengan Ayahnya.
Sudah sebulan berlalu sejak aku di buat bingung oleh pernyataan Alfy dan sebulan ini aku mencoba mencari jawaban atas kebingungan itu melalui agama. Hasilnya jelas, bahwa jika aku mencintainya maka aku harus bertindak.
Selama sebulan itu aku tidak pernah sekalipun bertemu dengan Alfy, apa lagi mengatakan padanya bahwa hari ini aku akan ke rumahnya. Alamat rumahnyapun aku tau dari Naya Sahabatnya.
Karena hari ini hari libur, maka aku berharap Ayahnya sedang tidak kemana-mana. Memikirkannya saja aku tidak kuat apa lagi bertemu langsung dengan beliau.
Apa yg akan aku katakan dengan Ayahnya, bagaimana jika dia menolakku atau bagaimana jika... Aku terus berprasangka buruk hingga membuatku ingin mengurungkan niat. Pikiranku terus memikirkan hal-hal buruk hingga aku sampai tepat di depan rumah Alfy.
Masih sempat bingung apakah sebaiknya aku masuk atau tidak. "nanggung, udah sampai depan rumah." gumamku dalam hati.
Dengan mengucapkan bismillah, akupun turun dari motor dan masuk ke pekarangan rumah Alfy. Ku lihat pintu sedang tertutup walaupun pagar rumah terbuka.Sampai di beranda rumah akupun mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Ku ketuk sampai tiga kali tapi aku belum mendengar jawaban dari pemilik rumah. Apa mungkin mereka sedang keluar, pikirku.
Tak lama berselang, pintu terbuka. Bersamaan dengan di bukanya pintu. Jantungkupun berirama aneh. Aku gugup, Sangat gugup.
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." ucap seorang perempuan paruh baya.
Perempuan itu menatapku, ku lihat dia sedang berpikir karena belum pernah melihatku sebelumnya.
"permisi Bu, apa benar ini rumahnya Fina?" tanyaku.
"Fina? Oh iya Mas. Itu anak saya. Ada urusan apa ya?" balasnya.
"gini Bu, perkenalkan nama saya Arman. Saya teman kampusnya Fina, kebetulan ada hal yg mau saya bicarakan sama Ibu dan Bapaknya Fina." jelasku.
"ada siapa Umi?" tanya seorang Pria paruh baya dari dalam rumah.
"ini Abi, katanya temannya anak kita." balas Ibu Alfy.
Pria itupun keluar menghampiriku. Seketika rasa gugup yg membuat tangan dan kakiku gemetar hilang begitu melihat ayah Alfy.
"loh.. Kamu kan.." ujarnya menunjukku.
"Pak Uztads.." ucapku cukup terkejut melihat Beliau.
"ada urusan apa bro, masyaallah." ucapnya sambil memegang pundakku.
Ayah Alfy tidak lain dan tidak bukan adalah Uztads Mansur yg tak sengaja aku temui di jalan. Pertama kali bertemu ketika ban motornya sedang bocor , kedua kalinya saat di supermarket depan rumah sakit dan yg ketiga kalinya kami bertemu adalah di sebuah mesjid dan aku sempat bertanya dengannya tentang cinta beda agama waktu itu.Aku tidak tau harus senang atau bingung dengan situasi yg ku hadapi saat ini.
Akupun di persilahkan masuk oleh Beliau. Dengan gaya bicara dan karakter lucunya membuatku tenang dan tidak tertekan. "jadi gimana gimana.. Ada apa ini bro, kok tiba-tiba main ke rumah?" ucapnya.
"iya Uztads, jujur saya gak tau ini rumahnya Uztads. Gak nyangka saya." ucapku masih tidak percaya.
"saya juga gak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu, di rumah saya lagi." ucapnya sedikit tertawa.
Di sela perbincangan kami, Ibu Alfy yg tadi masuk ke dapur, kembali ke ruang tamu membawa minuman dan beberapa cemilan.
"silahkan nak." ucapnya.
"makasih Bu."
"jadi bro.. Kamu ini temannya Fina toh?" tanya Pak Uztads.
"iya Uztads. Kebetulan sata teman kampusnya."
__ADS_1
"terus kata Umi tadi, kamu mau ketemu sama saya. Ada apa?"
"iya Uztads.. Saya datang ke sini dengan maksud dan tujuan yg sangat baik." ucapku.
"aduhh.. Perasaan saya gak enak ini." guyon pak Uztads.
"jadi... e saya.. ke sini mau me.. Me.. Mela."
"melamar." sambung Pak Uztads.
"iya itu maksudnya. Hehe."
Suasana yg tadi baik-baik saja menjadi cukup tegang, Pak Uztads yg terlihat santaipun menatapku dengan tatapan tajam. Membalas tatapan mata Beliau akupun mencoba tegar agar Beliau yakin bahwa aku serius. Keringat mengucur deras dan aku gugup minta ampun di depan Ayah Alfy.
"Abi.." ucap Ibu Alfy.
Ayah Alfy memegang tangan Istrinya yg terlihat cemas akan pengakuanku di hadapan mereka berdua.
"tenang Umi, kita dengar dulu anak muda ini. Kata Pak Uztads.
"jadi anak muda, seberapa serius kamu dengan ucapan itu." sambung Pak Uztads.
Perbedaan ucapannya cukup terlihat, sekarang aku sudah tidak bisa terlihat santai dihadapan Beliau.
Aku coba menekan rasa gugup dengan menarik napas dalam-dalam dan mulai berbicara panjang lebar atas keseriusanku meminang anak Beliau.
Aku jelaskan satu persatu alasanku meminangnya. Ku jelaskan pada Beliau rasa kagumku pada anak perempuannya. Dan bahwa anak perempuannya membuatku mulai mengenal lebih dalam agamaku dan merubah hidupku selama sebulan ini.
Beliau terlihat serius mendengarkan alasanku meminang anaknya. Bahkan sesekali beliau tertawa ringan mendengar rasa kagumku pada anaknya. "Kamu ini ada-ada saja anak muda. Memangnya sekarang kamu ada kerjaan? Enak aja main lamar-lamar anak orang." guyon Pak Uztads.
"saya yakin Pak Uztads, selalu ada jalan jika jalan yg di tempuh itu baik. InsyaAllah." ucapku sangat yakin.
"nak.. Kenapa kamu seyakin itu? Kamu kan masih sangat muda, kamu juga masih kuliah?" Kata Ibu Alfy.
Di tengah perbincangan serius kami, terdengar suara langkah dari luar ruang tamu rumah ini. "assalamualaikum." katanya sambil masuk ke dalam rumah.
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." balas Ibu Alfy.
Begitu dia masuk ke dalam rumah dan melihatku duduk di ruang tamu rumahnya, dia terkejut. "loh.. kok.." ucapnya.
Yg datang tentu siapa lagi kalau bukan perempuan yg saat ini ingin aku pinang. Sepertinya Alfy baru kembali dari pasar melihat barang belanjaan yg dia pegang bersama dengan Puput sepupunya.
"hai Fy." sapaku canggung.
"Arman, kamu ngapain di rumahku?" tanyanya sambil mendekat ke arah Ayah dan ibunya.
"jadi teman kamu ini, datang ke rumah pagi-pagi katanya mau melamar kamu." Kata Pak Uztads.
"hah?"
"cie.. Ada yg di kabulin nih doanya" gurau Puput.
Sepertinya Alfy memerlukan waktu untuk mencerna apa yg sedang terjadi sekarang. Karena ku lihat dia bingung dan masih tidak percaya atas apa yg dia dengar dari ayahnya.
"iya Fy.. Benar apa kata Ayahmu. Seperti katamu waktu itu, jika aku sungguh cinta, kamu bilang agar aku menemui Ayahmu. Dan sekarang aku buktikan itu." kataku tegas.
Mendengar aku mengatakan hal itu, tiba-tiba ekspresinya berubah. Dia berbalik ke arah Puput seakan tak percaya atas apa yg ku katakan padanya. Matanya mulai berbinar dan menampakkan aura bahagia. Karena tak tahan, akhirnya dia memeluk Ibunya sambil menyembunyikan wajah malunya padaku.
"jangan senang dulu kamu.. Abi kan belum tentu terima." guyon Ayahnya.
Meski terdengar bercanda tapi suasana haru sesaat berubah kembali menjadi tegang. "sepertinya saya tidak usah bertanya sama anak saya, di lihat saja sudah ketahuan." ucap Ayah Alfy.
__ADS_1
"saya sih tidak ada masalah, apa lagi kamu sudah berbicara panjang lebar tadi. Kita juga sudah pernah bertemu dan tentu saja Pertemuan itu membawa kesan positif." sambung Ayahnya.
"Abi.." ucap Alfy melirik Ayahnya.
"tentu saya akan terima niat baik kamu." ucap Ayah Alfy.
Mendengar hal itu tentu aku senang, rasa gugup yg sedari tadi membuat telapak tanganku dingin kembali normal ke suhu aslinya. Alfy pun terlihat senang mendengar perkataan Ayahnya, Puput yg sedari tadi ikut menyimak mendekat ke arah Alfy dan memeluk sambil mengucapkan selamat padanya.
Hari ini.. Hari yg indah, aku berpikir hal yg pernah ku anggap tak mungkin akan menjadi kenyataan.
"ets ets.. Tunggu dulu. Sebelum itu, ada syaratnya." ucap Ayah Alfy.
Belum selesai, sepertinya Ayah Alfy belum sepenuhnya memberikan lampu hijau untukku mempersunting anaknya.
"saya tentu mau yg terbaik untuk anak saya, saya tidak terlalu mempermasalahkan pekerjaan atau latar belakang keluargamu. Tapi yg saya permasalahan sekarang adalah agamamu." tegas Ayah Alfy.
Mendengar hal itu, tentu aku tidak terkejut. Mengingat latar belakang keluarga Alfy yang ayahnya seorang Uztads pasti ingin anaknya mendapatkan pasangan hidup yg berilmu.
"sekarang saya tanya, hafal Qur'an berapa Juz?" tanya Ayahnya.
Sempat ragu untuk menjawab, tapi lebih baik jujur sekarang. "saya hanya hafal beberapa surah di Juz 30 Uztads." kataku.
"gitu.. Ok lah. Saya tidak akan kasih restu sebelum kamu bisa hafal Qur'an 10 Juz. Gimana menurut kamu?"
"kalau itu syarat yg di berikan, InsyaAllah saya siap Uztads. Apapun akan saya lakukan, demi Alfy." jawabku lugas.
Mendengar hal itu Alfy tersipu malu dan Puput tak henti merayu Alfy karena sikapnya yg terlihat salah tingkah.
"saya kasih kamu waktu sebulan? Gimana? Sanggup gak?" tanya Ayah Alfy mempertegas.
"Abi.. Tidak semua orang bisa dengan mudah hafal Qur'an. Bisa saja Arman butuh waktu lebih." Ujar Alfy membelaku.
"Fy.. InsyaAllah aku siap. Ayah kamu mau yg terbaik untuk kamu, aku sadar kalau sekarang aku belum pantas. Tapi aku yakinkan kamu sekarang, kamu adalah perempuan yg layak untuk di perjuangkan. Aku akan berjuang untuk itu, apa lagi syarat yg di berikan Bapak kamu juga baik untukku." kataku.
Sekali lagi, ku lihat wajah Alfy merona karena malu dan tatapannya tajam ke arahku seolah menerima keseriusan untuk melamar dirinya.
"baiklah.. Saya akan tunggu kamu di rumah ini bulan depan." ucap Ayahnya.
"InsyaAllah Uztads."
Sepertinya aku masih harus berjuang mendapatkan restu, tapi tak apa karena yg penting Ayahnya sudah mengetahui niat baikku dan Alfy sudah tau bahwa aku benar serius mencintai dirinya.
Setelah berbincang, akupun pamit pulang kepada mereka. Aku keluar dari rumah Alfy dengan perasaan lega bercampur senang. Mungkin hari ini adalah hari terbaik yg pernah aku lalui. Ketika melewati pagar rumah Alfy, tiba-tiba dia keluar dari rumah dan menghampiriku.
"Arman.."
Aku berbalik dan melihat Alfy yg mendekat. "iya Fy."
"terima kasih." ucapnya.
"terima kasih untuk apa?" tanyaku heran.
"terima kasih sudah mau bertemu dengan Abiku." ucapnya tertunduk malu.
"oh.. Ucapkan terima kasih setelah kita sudah sah menikah." kataku merayu.
Lagi.. Dia salah tingkah. Tepat di depanku, rasanya aku sudah tak tahan ingin di dekatnya. Melihat dia bertingkah seperti itu membuatku termotivasi. Jangankan 10 Juz, 30 Juz pun akan ku hafal untuknya.
"kalau begitu saya pamit ya. Assalamualaikum.."
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Balasnya.
__ADS_1
-Bersambung-