Kamu & Senja

Kamu & Senja
Fana Merah Jambu


__ADS_3

Aku tak habis pikir semua terjadi begitu saja, sekarang jarak mereka berdua semakin jauh. Apa yg terjadi di tahun terakhir masa sekolahku kembali terulang di tahun terakhir perkuliahanku. Sudah 2 bulan sejak saat itu, saat Ilham menceritakan kesalahanpahaman fatal yg terjadi antara dirinya, Gina dan Adi.


Kini jarak mereka semakin melebar, bukan hanya Adi tapi Gina sejak saat itu tidak lagi pernah muncul di hadapanku. Bahkan bertemu secara tidak sengajapun dia malah menghindar. Bukan hanya menghindari Ilham tapi juga malah menghindari aku dan sahabatnya Ica.


Ilham dan Ica akhirnya jadian, aku tak tahu itu berita bahagia atau malah sebaliknya. Sepertinya Ilham benar-benar telah salah dalam menilai, tapi nyatanya dia mengikuti kesalahan itu dan tetap bertahan hingga akhirnya berhasil mendapatkan orang yang ia cinta. Sejak mereka resmi pacaran, Ica tak pernah lagi bertemu dengan Gina.


Awalnya berat.. Iya, itu yang di rasakan oleh Ica, harus memilih antara cinta dan sahabat. Tapi Ica benar-benar telah merasakan ketulusan dari Ilham, terlebih sejak Ilham menyelamatkan dirinya dalam kobaran api.


Beda dengan Gina yg menghindari kami semua, sepertinya Adi masih sudi untuk menyapa dan sekedar ngobrol bersamaku. Hanya saja jika aku sedikit mengulik tentang masalah Ilham, maka dia akan langsung kesal dan menghindari pembahasan itu walaupun aku sudah menjelaskan tentang kesalahanpahaman yg terjadi.


Adi memang keras kepala, jika dia sudah meyakini satu hal maka sangat sulit untuk meruntuhkan tembok egonya. Wahid yg juga mengetahui hal ini sebisa mungkin bersikap netral dengan masih menjaga hubungan baik dengan mereka semua. Walaupun Wahid sempat kesal dengan pertengkaran yg terjadi tapi tetap saja dia tak bisa melakukan apa-apa sama seperti diriku.


Selama 2 bulan ini, banyak hal yg terjadi. Misalnya Ica yg sudah menyelesaikan ujian skripsinya dan sekarang tinggal menunggu waktu wisudanya. Setelah Ica beberapa teman angkatan yg lain juga telah menyelesaikan Ujian skripsinya, tak terkecuali Adi dan Gina. Mereka telah ujian dan tinggal menunggu wisuda yg akan di laksanakan 2 bulan dari sekarang.


Sementara aku masih berkutat dengan revisi hasil dan masih dalam bimbingan Pak Adnan salah satu Doen pembimbing skripsiku. Ilham juga masih sibuk menyelesaikan penelitiannya, meski hari-harinya kini lebih berwarna karena Ica senantiasa berada di sampingnya.


Bahkan Ilham sudah mengantongi restu dariĀ  orang tua Ica, sepertinya Ilham berhasil menarik hati orang tua Ica berkat dedikasinya menyelamatkan dan terus berada di dekat Ica selama masa pengobatan dan pemulihan mental.


Hari-hariku terasa berat, aku pusing dengan skripsi, pusing dengan hubungan pertemanan yg rusak dan pusing karena perempuan yg aku cinta belum juga mengingat tentang diriku. Apa lagi dalam 2 bulan ini aku tidak pernah bertemu dengan dirinya sama sekali.


Sementara Ivan saat ini berada di Jepang, dia juga telah Ujian skripsi dan tinggal menunggu waktu wisuda yg akan dilaksanakan 2 bulan kedepan. Ivan sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk lanjut studi di Amerika, selain itu dia juga mempersiapkan diri untuk melamar perempuan pujaannya tepat pada saat setelah wisuda. Walaupun mereka tidak langsung menikah karena kata Ivan, Yana belum bisa menyelesaikan studi karena dia sempat cuti semester jadi dia harus mengganti semester tersebut dan baru bisa selesai tahun depan.


Setelah melamar perempuan pujaannya, diapun akan langsung terbang ke Amerika melanjutkan studi dan satu tahun setelahnya barulah dia kembali ke Indonesia untuk menikah dengan Yana.


Sepertinya Ivan telah merencanakan masa depannya matang-matang. Begitupun dengan temanku yg lain, sedangkan aku tidak tahu harus berbuat apa setelah kuliah, mungkin sekedar mencari pekerjaan dan.. Menikahinya.


Memikirkannya saja membuatku galau, rasanya aku ingin memutar waktu. Aku tidak pernah berpikir bahwa orang yg menghancurkan hidupku adalah Kakak kandung Alfy. Aku sudah coba melupakan luka tapi rasanya sulit, jika ingatan itu kembali rasanya membuat amarahku naik, tapi aku tak tahu harus marah pada siapa.


Angin sore membantu mendingankan pikiranku setelah panas memikirkan hal yg telah berubah menjadi buruk bahkan bisa lebih buruk lagi. Aku terus menatap langit sore di tempat favoritku, di suatu pantai dalam dermaga kayu menanti senja.


Hanya senja saat ini yg bisa menghiburku dari banyaknya masalah yg ku alami. Cinta.. Satu kata sederhana ini dapat membuat berbagai masalah sekaligus. Membuat hati kacau bahkan menghancurkan hubungan pertemanan.


Cinta.. Satu kata yang menghadirkan bahagia juga benci dan sedih. Sayang aku tidak seberuntung orang-orang yang mendapatkan bahagia dari cinta, yang ku dapat justru sebaliknya.


Aku masih menatap langit.. Langit kemudian mulai berubah, ada yg beda dengan senja hari ini. Warnanya tidak jingga seperti biasa, lebih terlihat merah muda, apa mungkin aku salah lihat tapi terlihat sangat cantik.

__ADS_1


"apa ada hal yg lebih indah dari ini." gumamku ketika melihat senja.


"Assalamualaikum.."


Aku mendengar seseorang mengatakan sesuatu, ketika aku menoleh ke sumber suara itu. Kini jawaban atas pertanyaanku terjawab.


"Fina.." ucapku melihatnya.


"Arman." balasnya tersenyum tipis.


"sedang apa kamu di sini?"


"saya suka berada di sini, tentu saja untuk melihat itu." ucapnya menunjuk langit.


"hah, senja."


"kalau Arman di sini ngapain?"


"e.. Tidak, cuma kebetulan aja aku di sini." balasku tertawa ringan.


Dia kemudian berdiri di sampingku sambil memandangi langit merah muda.


"Fina.."


Aku pikir sudah saatnya aku mengatakan ini. Siapa tahu saja dia bisa mengingat aku kembali, mengingat apa yg terjadi antara kami dan mengingat perasaannya padaku.


"apa kamu belum mengingat masa lalumu?" tanyaku ragu.


Dia berbalik melihatku, lalu kembali melihat langit.


"tidak.. Saat aku berusaha untuk mengingat apa yg terjadi, seperti ada sesuatu yg menghalangiku. Kadang ingatanku muncul samar-samar dan di situ aku melihat teman-temanku dan aku juga melihat Arman."


"hah.. Melihatku?"


"iya, tapi aku tidak yakin... Apakah.. Kita berdua terlibat dalam sesuatu hubungan?" tanya Alfy tiba-tiba.

__ADS_1


Aku terkejut dengan pertanyaan, bibirku kaku tak bisa menjawab.


"e.. Maaf.. Maaf.. Lupakan saja." ucapnya terlihat malu.


"eh, tidak.. E.. Dulu.. Kita.."


Belum selesai aku bicara.


"aku berharap di ingatanku yg hilang kita hanya.. berteman. Teman yg baik." ucapnya tersenyum manis.


Aku kembali terdiam, apakah itu berarti dia berharap kami hanya berteman biasa saja. Setelah apa yg ku alami, apakah dia hanya mengharapkan itu. Sebenarnya dia lupa atau pura-pura lupa?


"Arman suka dengan senja?" tanyanya tiba-tiba.


"eh.. Senja.."


"kalau aku sangat suka.. Entah sejak kapan, hanya saja jika aku melihat senja aku merasa bahagia. Meski sesaat tapi hangatnya membuatku rindu akan sesuatu."


Sepertinya Alfy benar-benar lupa ingatan karena Alfy yg ku kenal menyukai matahari terbit, bukan matahari terbenam.


"masyaallah.. cantiknya.." ucapnya melihat senja.


"senja itu candu, seperti kamu. Sayang indahnya cuma sebentar, setelah terbenam maka semuanya hilang. Seperti kamu.." gumamku.


"Kenapa?"


"eh, tidak.. Tidak.. Aku bicara sendiri."


"kalau begitu aku pulang duluan." ucapnya.


"tapi.. Matahari belum terbenam sepenuhnya." balasku.


"iya.. Tapi sudah cukup. Lagian ngak enak berdua sampai maghrib seperti ini. Kalau begitu aku pamit. Assalamualaikum.." ujarnya melangkah pergi.


"Alfy.. Apakah aku bisa menggapaimu? Kenapa? Kenapa takdir sangat kejam mempertemukan kita seperti ini." gumamku melihatnya menjauh.

__ADS_1


Aku masih melihat punggungnya.. Semakin jauh dia berjalan rasanya semakin mustahil pula aku menggapainya. Aku jatuh cinta padanya.. Aku.. Mencintainya.


-Bersambung-


__ADS_2