Kamu & Senja

Kamu & Senja
Pahlawan


__ADS_3

(Bagian Flashback)


Waktu kami berada di Malaysia sudah sebulan, dan seminggu lagi kami akan kembali ke Indonesia. Tentu sebulan bukan waktu yg singkat tapi terasa singkat jika mengingat kenangan yg di lalui. Rasanya tak ada kata yg bisa mewakili perasaanku selama aku berada di sini.


Sore ini aku dan beberapa teman sedang berdiskusi mengenai kuliah umum yg tadi kami terima. Tentu dengan Alfy, Riyal dan Ana serta mahasiswa lokal siapa lagi kalau bukan Sahidah dan beberapa teman yg lain.


Terlihat Riyal yg beberapa kali mengeluarkan argumen-argumen logis menyanggah argumen teman-teman yg lain. Sementara aku hanya menyimak dan sesekali mellirik curi-curi pandang ke arah Alfy


Cukup lama diskusi ini berlangsung hingga langit mulai menggelap. Senja pun hadir.. selalu saja hadir dan memanjakan mata, mengobati penyakit yg bernama kesibukan dunia. Senja mengingatkan kita untuk bersyukur, bersyukur menyembah Sang Pencipta dengan pertanda Adzan yg menggema mengiringi senja yg mulai menghilang.


Kemudian kami bubar dan karena sudah masuk waktu, sebelum pulang kami shalat magrib terlebih dahulu di mesjid kampus ini. Dan setelahnya kamipun kembali ke apartemen.


Karena jarak apartemen yg tidak terlalu jauh, kami sehari-hari jika ke kampus hanya berjalan kaki. Hitung-hitung menghemat pengeluaran agar bisa membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman.


Meskipun berbeda gedung, pada dasarnya apartemenku dan apartemen Alfy masih satu tempat. Jadi kami berempat jalan kaki bersama menuju apartemen. Untuk menghemat waktu, biasanya kami memotong jalan melewati sebuah taman yg cukup besar di kota ini. Karena jika harus mengikuti alur jalan pejalan kaki itu akan memakan waktu dua kali lebih lama.


Tidak seperti di troroar pinggir jalan yg ramai, jalan di taman ini cukup sepi dan pencahayaan juga tidak terlalu terang karena sepertinya ada beberapa lampu taman yg rusak. "gak kerasa udah mau pulang aja ke Indo." Kata Ana.


"jangan lupa laporan..." balas Alfy mengingatkan tugas dan kewajiban kami.


"haduh.. Laporan." Kataku lesuh. Bukan tanpa alasan, kami semua harus membuat laporan perjalanan selama kami berada di sini sebagai tugas dari Dosen Pembina.

__ADS_1


Saat asyik terlibat percakapan. "eh.. Siapa tuh." Kata Ana sembari menunjuk seseorang yg berada di depan kami.


Terlihat seseorang yg mencoba menghadang kami saat berjalan. Saat mulai mendekat ternyata dia adalah Fijay, laki-laki keturunan India yg beberapa waktu lalu sering menggoda dan mengganggu Alfy. "hei.. Fina.. Follow me, I want to date with you." Kata Fijay sambil tersenyum menyeramkan.


"No, please don't disturb me." Balas Alfy yg bersembunyi di pundak Ana karena takut.


Alih-alih pergi, Fijay malah mengancam akan berlaku kasar kepada Alfy jika keinginannya tidak dipenuhi. Mendengar hal itu tentu jiwa kepahlawananku meronta-ronta. Dengan berani aku mengancam balik Fijay agar dia pergi dari sini segara sebelum aku memukulnya.


Ku lihat Alfy mulai panik begitu pun dengan Ana. Ku fikir situasi ini menguntungkan karena aku berdua dengan Riyal sedangkan Fijay Cuma sendiri meski otot-ototnya itu sedikit menonjol tapi 2 lawan 1 sepertinya akan membuat nyali Fijay ciut. Itulah harapanku, pada akhirnya Fijay tidak pergi dia malah mengeluarkan pisau di dalam sakunya.


Melihat hal itu aku terkejut, begitu pun Alfy dan Ana yg mulai ketakutan. Dengan teliti aku kemudian melihat sekitar taman, siapa tau ada orang di sekitar dan bisa di mintai pertolongan tapi sayang situasi saat ini benar-benar sepi.


Ku lihat Riyal raut wajahnya mulai serius dan mengeluarkan cukup banyak keringat, fikirku mungkin dia juga sedang ketakutan. Aku tidak terlalu berharap dengan Riyal yg notabenenya adalah mahasiswa kedokteran, setahuku anak kedokteran lebih banyak berkutat dengan buku dari pada hal-hal ekstrim seperti perkelahian.


Aku cukup pede dengan keahlianku, karena aku tergabung dalam UKM karate jadi mungkin aku bisa mengeluarkan beberapa jurus yg aku pelajari saat latihan. Dalam hati aku mulai memberanikan diri, kekuatan cinta pun memberikan aku keberanian. Lelaki mana yg tidak berani ketika melihat perempuan yg di sukai akan di lukai oleh orang jahat.


Selain aku memikirkan jurus-jurus ketika aku latihan karate di kampus, akupun teringat situasi yg sama seperti saat ini dalam beberapa adegan sinetron yg sering di tonton oleh ibuku. Gerakan-gerakan perkelahian yg mungkin saja bisa aku tiru.


Selama aku terjebak dalam fantasiku sebagai pahlawan, ku lihat Riyal mencoba untuk berbicara dengan Fijay agar dia tidak melakukan hal yg bodoh. Tapi semua itu percuma, dia tetap pada keinginannya.


Sebenarnya aku bingun apa yg membuat Fijay begitu terobsesi dengan Alfy, jika dilihat dari segi pakaian Alfy telah menutup auratnya secara sempurna bahkan tidak menggunakan pakaian yg ketat seperti kebanyakan muslimah yg lain. Apa karena Fijay ini memang seorang penjahat atau sikopat.

__ADS_1


Situasi semakin tegang karena Fijay tampak tak mau pergi, kembali aku mengatakan dengan suara keras agar Fijay berhenti dengan aksi konyolnya tapi saat itu juga dia berlari ke arah kami sambil memegang pisau.


Saat dia mulai berlari, aku mulai mendengar suara histeris dari Alfy dan Ana. Aku melihat Fijar berlari mendekat dan ku lihat lagi pandangannya tertuju pada Alfy, spontan aku pun berlari sambil memikirkan gerakan-gerakan yg bisa aku lakukan untuk menjatuhkan dia.


Saat dia mulai mendekat, aku refleks menutup jalur larinya yg mengarah ke arah Alfy dan memberanikan diri untuk menghadangnya. "Arman... Arman.. jangan gegabah." Kata Riyal berteriak kepadaku.


Aku juga mendengar Alfy dan Ana berteriak atas tindakan yg aku lakukan, ternyata aku dan Fijay sudah berhadapan cukup dekat. Ku lihat di depanku Fijay mengayunkan tangan kanannya yg memegang pisau mencoba menusuk perutku daei bawah. Aku berfikir untuk menahan serangannya itu dengan tangan kiri sambil mengayunkan badanku ke arah kanannya. Setelah itu aku kan mencoba meraih tangan kanannnya dan menarik tangan kanannya ke belakang sambil mengunci agar tidak bisa bergerak dan menjatuhkan pisau yg dia pegang seperti di adegan-adegan film.


Ya.. Sebentar lagi aku akan berhasil.


Tapi....


"Ada apa ini?" benakku. Pandanganku mulai pudar, aku sepertinya sedikit pusing. Rasanya perih tapi aku tak tau bagian mana yg perih, sesaat aku mendengar suara Riyal yg memanggilku begitu pun Alfy dan Ana.


Suara itupun menyadarkan aku dari khayalan liar yg tadi mengganggu kenyataan yg ada di depanku. Setelah sempat bingung beberapa saat aku tersadar kembali tapi sudah terlambat, ternyata Fijay tepat berada di depanku.


Ku lihat aku memegang pundak kirinya dengan tangan kiri dan tangan kananku.. Dan.. Aku melihat tangan kananku berdarah.. saat aku tertunduk melihat tangannya, ternyata pisau yg di pegang Fijay menancap di perutku. Melihat darah dan aku pun terkejut. "hah.. Haaaaaahhhh."


"ARMAN... ARMAN MENYINGKIR DARI SITU." Teriak Riyal sambil berlari ke arahku.


Wajahku mulai pucat serta rasa sakit dan perih di perutku mulai terasa, Fijay lalu mencabut pisau yg menancap di perutku dan darah mulai mengalir sampai membuat kemeja putih yg ku gunakan saat ini menjadi merah.

__ADS_1


Aku pun perlahan terjatuh ke tanah sambil memegang perutku yg berdarah. Aku mendengar suara Alfy berteriak terus menerus memanggil namaku. Tak lama setelah aku terjatuh ke tanah akupun kehilangan kesadaran.


-Bersambung -


__ADS_2