
(Bagian Flashback)
“Ham... Ilham..” Kataku memanggil Ilham yg berada di parkiran kampus khusus untuk mobil.
Ilham yg baru saja turun dari mobil melihat ke arahku, setelah menutup dan memastikan pintu mobil sudah rapat dan terkunci diapun berlari ke arahku. "hari ini kita belajar apa sih?” tanya Ilham.
“lupa aku.” Jawabku.
“ya elah Man.”
" oh iya ngomong-ngomong kamu udah bicara sama Gina?” kataku sembari mengingatkan dia tentang masalah gelang.
“bicara? Bicara apaan?” tanya Ilham bingung.
“ya ampun Ham. Itu.. Gelang.” Kataku memlertegas.
“oh iya yah.. Belum.”
“terus kapan kamu mau mastiin?”
“gak tau gua Man, gua bingung sumpah...”
Bukan aku yg punya masalah tapi entah kenapa aku greget dengan masalah ilham tentang gelang itu. Terus saja kami berbicara tentang hal itu sampai akhirnya kami sampai di kelas.
Di kelas tampak kosong, tidak ada Dosen maupun teman-teman yg lain. Ternyata jadwal kali ini di tiadakan dan seluruh peserta mata kuliah harus mengikuti seminar yg di adakan oleh Jurusan di Auditorium Fakultas lantai 3 gedung Utama FISIP.
Kabar ini berasal dari grup kelas di WA, di informasikan oleh Wawan salah satu teman angkatan di kampus. Di saat seperti ini biasanya ada dua pilihan, untuk mahasiswa yg haus akan ilmu pasti akan mengikuti seminar itu, sedangkan untuk mahasiswa yg kuliah mengejar nilai akademik biasanya malas untuk ikut hal-hal seperti ini jika tidak terlalu urgent. “gimana nih? Ikut gak ya?” kata Ilham tidak yakin.
“ya udah ayo.” Balasku.
“males bro, ke kantin aja deh.”
"nah itu maksudku... Ayo.”
__ADS_1
“hahaha.. Kirain ngajakin ke seminar tadi.”
“ngak ah.. Lagi males.”
Sekali-kali bolos juga tidak apa-apa yg penting tidak berkali-kali. Tidak ada salahnya sebab rasa bosan kadang hadir dan tak terbendung. Hanya saja kalau bisa tolong jangan di tiru tindakan ini, sebab dari apapun alasannya bolos tetap salah.
Aku dan Ilham memutuskan untuk nongkrong di kantin sembari menunggu jadwal kuliah selanjutnya siang nanti. Saat sampai di kantin sepertinya bukan cuma kami berdua saja yg bolos seminar kali ini, sampai di kantin kami bertemu dengan Gina dan Ica. Sepertinya Gina juga bolos, sedangkan Ica sedang tidak ada jadwal kuliah karena Ica tidak sekelas dengan kami bertiga.
Kami pun bergabung dengan mereka berdua meskipun aku tau Ilham akan sangat canggung bertemu dengan Ica apa lagi Gina, setelah apa yg di katakan oleh Adi tentang gelang yg sama di miliki oleh Gina.
Aku sebenarnya juga penasaran tentang gelang yg di maksud Adi, jika bisa ku ingin mengkonfirmasi langsung ke Gina tentang itu, tapi aku takut Ilham akan marah padaku jika ku lakukan tanpa persetujuannya. Kode demi kode ku lakukan kepada Ilham agar dia mencoba menyinggung soal gelang itu kepada Gina agar semua itu jelas. “kalian berdua tau gak kalau Gina tuh dekat dengan Adi sekarang?” kata Ica tiba-tiba.
“heh... Iyaa tau. Hehe.” Jawabku canggung.
“paan sih... Orang cuna temenan doang. Sama kan seperti kalian ini.” Ujar Gina.
“hi sayang.” Kata Irwan mendekat.
“hi sayang, dari mana aja?” balas Ica.
"gue Pinjam Ica dulu yah.” Kata Irwan hendak membawa Ica pergi dari tempat kami nongkrong.
“iyaa tentu. Hati-hati ya Ca’.” Balas Gina.
Sementara aku hanya pura-pura tersenyum karena aku tidak mau Ica melihat raut wajahku yg tidak suka jika dia bersama dengan Irwan, beda dengan Ilham yg sedari tadi raut wajahnya memerah seperti menahan ledakan amarah. “aku gak habis pikir sih, kenapa tiba-tiba Ica kayak gitu.” Kata Gina.
“cinta itu penyakit Gin, hanya orang-orang hebat yg bisa membuat vaksinnya.”
“maksudnya Man?” tanya Gina bingung.
“cinta itu ada karena perasaan, perasaan yg kuat akan mengaburkan logika sehingga kau tidak akan membedakan bahwa sebenarnya kau terjebak di cinta yg baik atau buruk. Vaksinnya tentu rasa sakit yg teramat pedih, tapi butuh waktu untuk vaksin itu bekerja. Semakin sakit maka semakin cepat vaksin itu akan bekerja, setelah vaksin bekerja maka logika kembali normal dan kau pun akan sadar betapa bodohnya dirimu mencintai orang seperti dia yg hanya mempermainkan perasaanmu.” Jelasku panjang lebar.
“hm.. Masih gak ngerti Man.”
__ADS_1
“bodoh amatlah Gin, intinya jangan jatuh cinta sebeb hakekat dari jatuh adalah sakit.” Lanjutku sok bijak.
“terus apa dong.”
"bangunlah cinta agar kau bisa mengerti tentang cinta, seperti Ilham dan gelang tuanya.” Kata ku mencoba memberikan kode.
“hah.. Ilham? Gelang?” kata Gina.
“Man... Apaan sih?” kata Ilham.
“Kenapa Ham?" Tanya Gina mulai penasaran.
“ngak Gin, kebetulan gelang gua hilang. Kata Adi gelang gua yg hilang mirip sama punya elu.” Jelas Ilham memutar balikan fakta.
“gelang.. Kata Adi? Yg ini." balas Gina menunjukkan gelang yg di pakai olehnya di lengan sebelah kiranya.
" hm.. Kayaknya bukan Gin. Hehe maaf ya.” Kata Ilham setelah melihat gelang itu.
Seperti kata Ilham sebelumnya, gelang yg di pegang gadis cilik di masa lalu itu berwarna putih sedangkan gelang yg di miliki Gina berwarna merah maroon. Ilham sepertinya merasa lega karena sudah mengetahui bahwa Gina bukanlah gadis cilik yg dia temui dulu. Sekarang kandidat utamanha hanya Ica seorang. “kalau kamu suka Ham ambil aja. Kebetulan kan Ibu aku suka bikin aksesori kayak gina apa lagi sekarang di kembangin jadi bisnis online.” Kata Gina promosi.
“Gak usah Gina makasih.” Balas Ilham.
“wih.. Hebat juga Ibu kamu Gin.” Kataku.
“kamu mau gak Man?”
“yang bener nih?"
“tentu saja. Nih ambil aja.” Kata Gina yg memberikan gelang itu padaku.
Sebenarnya aku masih ragu tentang pendirian Ilham yg menaruh harapan terhadap masa lalunya itu, bagaimana mungkin dia masih memegang kata-kata seorang anak umur 5 tahun yg sekarang tidak di ketahui keberadaannya. Maksudku mungkin bisa jadi itu Ica menurut Ilham tapi Ilham sendiri masih belum membuktikannya, bagaimana jika dia bukan Ica.
Artinya kemungkinan-kemungkinan itu tetap ada, bisa saja perempuan lain yg jauh bisa juga dia dekat. Semua hanya butuh pembuktian dan sikap Ilham yg sekarang membuatku takut dia tidak akan bisa menemukan jawaban jika dia tidak mau bertindak.
__ADS_1
-Bersambung-