
(Bagian Flashback)
Hari ini aku berencana ke toko buku, karena aku tak menemukan buku yg aku cari di toko buku langgananku maka aku minta tolong kepada Wahid untuk menunjukkan toko buku langganan biasa dia membeli buku materi kuliah.
Kami pun janjian untuk bertemu di kampus sebab aku baru saja menghadiri rapat koordinasi untuk event yg akan di laksanakan oleh UKM Penalaran Ilmiah. Eventnya akan berulang dua minggu dari sekarang, olehnya pertemuan rapat koordinasi semakin sering di lakukan. Tapi sudah dua kali rasanya rapat terlaksana tapi aku tak melihat Alfy.
Kata Roid selaku ketua panitia, Alfy izin karena ada urusan yg tidak bisa di tinggalkan. Aku pun penasaran karena benar-benar seminggu ini aku jarang melihat bahkan mendengar kabar darinya.
Setelah rapat aku pun menunggu Wahid di depan sekretariat Himpunan Jurusanku karena saat ini dia berada di dalam sekretariat bersama senior dan teman-teman yg lain sedang membahas tentang program organisasi Himpunan Jurusan.
Aku menunggu tak terlalu lama, baru 10 menit aku bercengkrama dengan senior yg juga berada di depan Sekretariat Himpunan Jurusan, Wahid pun keluar dan kami langsung berangkat menuju toko buku yg di maksud olehnya.
Setelah sampai, ternyata kata Wahid toko buku itu berada di dalam MALL pusat perbelanjaan. Kami pun masuk dan naik di lantai 3 MALL tersebut. Setelah sampai di depan toko buku itu, kami masuk dan berpencar karena sepertinya Wahid juga sedang mencari sebuah buku.
Aku lalu berjalan menyusuri rak-rak buku dan mulai membaca satu persatu sampul Buku berharap menemukan buku yg ku maksud. Mencari buku adalah salah satu rutinitas mahasiswa, meski pada awalnya kau tidak menyukai membaca atau kau malas membaca percayalah kau tetap harus membaca. Sebab jika tidak kau tidak akan berkembang dalam dunia kampus.
Sebagai seorang terpelajar, seorang mahasiswa harus paham betul minimal disiplin ilmu yg dia pelajari saat di kampus karena jika kau hanya mengandalkan materi dari dosen maka kau hanya dapat 20% materi yg di butuhkan.
Dengan membaca kita bisa mencerna setidaknya 80% materi, karena buku adalah jendela dunia maka budayakanlah membaca. Meski seiring perkembangan waktu, sekarang buku sudah tersedia dalam versi digital dan bisa di akses melalui smartphone. Tatap saja bagiku membaca buku manual yg langsung tercetak di kertas lebih menarik dan membuatku lebih fokus ketimbang harus membuka buku digital di smartphone karena bagiku lebih senang membuka sosial media ketimbang buku digital.
Di tengah pencarianku, tanpa sengaja aku melihat Rian tepat di depanku.“Rian.” Kataku mencoba menyapa.
“Arman.” Balasnya sambil menunjuk dan mendekat ke arahku.
“ya.. Apa kabar?” Kataku canggung.
“baik. Lu sendiri?” balasnya.
“alhamdulillah baik.”
“sendiri aja lu?”
“ngak, bareng sama teman kampus.”
“ohh.. Coba tebak gue sama siapa di sini?” katanya.
__ADS_1
“sama temen? Pacar mungkin?” balasku mencoba menebak.
“lu bener.. gue lagi sama Auliah, cewek gue.”
Mendengar nama itu, aku jadi teringat kembali masa SMAku dulu. Rian adalah salah satu temanku waktu masih SMA, sekarang dia sedang kuliah di kampus yg berbeda denganku. Sebenarnya bukan cuma sekedar teman tapi bisa di bilang aku dan Rian sangat dekat bahkan aku menganggap dia sebagai sahabatku.
Semasa SMA Aku dan Rian beserta seorang lagi sahabatku sering nongkrong bersama. Bermain bersama di sekolah waktu itu, sering sekali sampai aku bosan terus-terusan dengan mereka bertiga.
Ya.. Cerita masa SMA seperti yg banyak orang bilang. Masa-masa indah yg tidak akan kembali lagi, masa transisi dari anak-anak menjadi remaja dari remaja menjadi dewasa.
Sedangkan Auliah, dia adalah cinta pertamaku. Dialah perempuan pertama yg menarik perhatianku, meskipun waktu itu kami tidak sekelas tapi cukup sering aku melihatnya hingga aku jatuh hati padanya. Aku pun mencoba mendekatinya dan ternyata di respon baik oleh Auliah.
Di pertengahan semester satu pun kami akhirnya berpacaran dan masa SMAku terlihat sempurna hingga aku berada di kelas tiga waktu itu. Aku harus menerima kenyataan bahwa Auliah perempuan yg ku kira sangat mengerti tentang perasaanku, yg ku kira dia terbaik untukku, yg ku kira segalanya.. Ternyata menjalin hubungan dengan laki-laki lain saat aku masih terikat hubungan dengannya.
Tambah perih rasanya ketika mengetahui dia menjalin hubungan dengan sahabatku sendiri, ya.. dia Rian.
Aku yg waktu itu tidak bisa menerima kenyataan dan tak bisa berfikir rasional langsung mengambil tindakan. Tindakan bodoh yg saat ini aku sesali, aku memukul sahabatku. Pukulanku tepat mendarat di pipi kanannya hingga ku lihat mulutnya mengeluarkan darah. Tanpa mendengar penjelasannya aku terus saja mendaratkan pukulan di wajahnya sampai salah satu sahabatku datang dan memisahkan kami.
Saat itu aku berfikir Rian tidak membalas pukulanku karena merasa bersalah sudah melakukan itu padaku. Hingga akhirnya dia tak pernah lagi berbicara denganku dan akupun menghabiskan masa SMAku dengan kebencianku padanya.
Persahabatan kami hancur karena cinta, benar cinta bisa sejahat itu. Aku dan Rian tidak pernah berbicara lagi semenjak saat itu, hingga akhirnya aku bertemu di toko buku ini.
Tanpa menoleh pun aku sudah kenal dengan suaranya.“Auliah.” Kataku menyapa.
“kebetulan kita bertemu di sini.” Katanya canggung.
“iya kebetulan. Jadi kalian masih pacaran yah?” Tanyaku tiba-tiba.
Aku pun tak tau kenapa tiba tiba aku bertanya seperti itu. “iya Man.” Jawab Rian.
“oh syukurlah.” Balasku.
Aku lihat ekspresi wajah Auliah, sepertinya suasana benar-benar canggung. Tampak dari wajah Auliah bahwa dia sedang gelisah dan merasa tak ingin memandangku lama-lama. Persis seperti ekspresi yg ku lihat dulu ketika aku mengetahui dia telah mengkhianatiku. Ekspresi yg waktu itu membuat aku muak dan membencinya. Entah kenapa sekarang dia mengeluarkan ekspresi seperti itu lagi di hadapanku walaupun sekarang aku sudah tidak merasakan apa-apa.
“oh iya sorry.. Aku ke sana dulu hehe. Soalnya belum nemu buku yg ku cari.” Kataku mencoba lari dari suasana tidak menyenangkan ini.
__ADS_1
“iya Man. Senang gue bisa lihat lu baik-baik aja.” Kata Rian.
“....” aku hanya diam.
“kalau gitu gue duluan, kebetulan tadi udah nemu buku yg gue cari.” Katanya sambil memegang pundakku.
Rian pun berjalan ke kasir bersama dengan Auliah. Jika harus jujur aku sudah tidak punya dendam atau benci lagi dengan mereka berdua, mereka sudah jadi bagian dari masa laluku. Hanya saja aku tak tau lagi harus bersikap apa kepada mereka setelah sekian lama tak menyapa satu sama lain dan tiba-tiba harus bertemu dan bertegur sapa, Tentu aku bingung dan sangat canggung.
Cukup lama aku mencari buku yg ku maksud tapi pencarian ku tidak sia-sia, aku menemukan dua buku yg berhubungan dengan bahan yg ku cari. Akhirnya setelah membayar buku-buku itu aku pun keluar dan berpisah dengan Wahid karena dia harus kembali ke kampus meskipun sudah sore.
Karena tidak ada rencana hari ini aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Dengan mengendarai motor akupun menyusuri jalan yg terlihat tidak normal. Aku katakan tidak normal karena kondisi jalanan saat ini tidak padat seperti biasa, seharusnya jika berpacu pada jadwal saat ini adalah jadwal pulang kantor maka seharusnya jalan di padati oleh mereka yg mengendarai kendaraan untuk kembali ke rumah masing-masing. Nyatanya saat ini jalan lancar normal dan tidak tersendak.
Di tengah jalan aku melihat seorang pria paruh baya sedang mendorong motor bebeknya. Awalnya aku tidak ingin terlibat dengannya, tapi semakin di lihat kasian juga membiarkan dia terus seperti itu. Akhirnya aku menghampiri dan menawarkan bantuan kepadanya.
Setelah aku mendekat sepertinya ban motor bebeknya itu mengalami bocor. Sehingga tidak normal jika harus berkendara dengan ban bocor. Aku pun menawarkan dia untuk memakai motorku dan aku akan mendorong motornya sampai menemukan bengkel yg dapat menambah ban bocornya.
Aku sendiri tidak yakin kenapa aku bisa menawarkan diri seperti itu padanya. Padahal jika ku fikir kembali dia bisa saja membawa kabur motorku dan meninggalkan aku dengan motor bebeknya ini. Tapi jika aku terus termakan oleh fikiran was-was seperti itu aku tidak akan pernah bisa ikhlas menolong orang.
“Uztad maaf.. Mungkin aku bisa bantu dorong motornya. Biar Uztad naik motor saya saja.” Kataku kepada pria paruh baya itu.
Aku memanggilnya Uztad karena penampilannya seperti seorang tokoh agama dan diapun tidak menyangga saat aku memanggilnya seperti itu.“tentu.. Kalau kamu tidak keberatan.” Balasnya.
“iya Uztad tidak apa-apa. Biar saya yg dorong ke bengkel.”
“baiklah.” Akhirnya aku pun mendorong motor bebek itu, sejauh 2 km aku mendorong barulah aku menemukan bengkel yg bisa menambal ban motornya yg bocor. Memang cukup melelahkan tapi rasanya bisa berguna untuk orang lain itu bisa semenyenangkan ini. Terlebih Pak Uztad yg aku tolong ini orangnya humoris. Sepenjang jalan dia terus berada di samping mencoba menahan gas motor agar berjalan lambat sambil membicarakan hal-hal menarik dan tentu sesekali dia bercanda.
Andai orang-orang kota bisa seperti ini, saling tolong menong tanpa curiga, tanpa ada niat menipu maka kehidupan akan jadi mudah.
Setelah sampai di bengkel aku langsung pamit kepada Pria paruh bayah itu. “kalau begitu Pak Uztad saya pamit dulu.”
“oh iya bro.. Hati-hati di jalan yah.” katanya dengan nada bercanda.
“assalamualaikum Uztad.” Kataku.
“waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Balas Uztad itu.
__ADS_1
Aku meninggalkan dia dan melanjutkan perjalananku pulang ke rumah. Karena mendorong cukup mengambil waktu, ternyata saat ku tatap langit, warnanya sudah berubah jadi warna yg aku suka. Senja kembali hadir menutup hariku, aku berharap semoga besok bisa lebih baik.
-Bersambung-