
Hari ini rasanya aku hanya ingin diam di rumah, terlepas bahwa hari ini Sahidah ingin bertemu denganku dan teman-teman yg lain. Rasanya resah jika aku tidak datang sementara Sahidah sudah jauh-jauh datang dari Malaysia ke Indonesia hanya untuk bertemu dengan kami, tapi di satu sisi rasanya berat untuk bertemu Alfy.
Sedang bingung dengan pikiran-pikiranku, aku melihat panggilan dari Ivan. "halo, assalamualaikum." ucapku mengangkat telpon.
"Waalaikumsalam Arman. Sorry ganggu nih. Aku mau tanya sesuatu sama kamu?" Kata Ivan.
"iya bro, tanya apa?"
"gini Man, Hari ini aku di undang ke rumah Yana sama Ayahnya. Terus aku mau nanya sama kamu tentang bunga itu... Bunga Matahari yg kamu kasih sama aku waktu itu. Sepertinya Ibunya Yana sama Yana suka sama bunga itu."
"oh gitu.. Aku belinya di toko bunga dekat kampus kok."
"hm.. Bisa temenin aku gak buat beli bunga itu."
"Sekarang?"
"Kalau bisa sih."
Tanpa pikir panjang, aku pun mengiyakan keinginan Ivan, aku sengaja tidak menolak meskipun telah ada janji sebelumnya untuk bertemu dengan Riyal dkk.
Setidaknya aku ada alasan untuk tidak datang ke acara reuni kecil tersebut. Mungkin aku akan membuat Sahidah kecewa tapi tetap saja, berat rasanya berada di dekat seseorang yg di cinta tapi dia tak mengenal siapa aku.
Tak lama, dengan sebuah mobil Ivan menjemputku di rumah. Setelah masuk ke dalam mobil, aku pun terdiam dan terus menerus hanya bisa memikirkan tentang reuni kecil bersama dengan mereka berempat.
"jadi kita kemana nih?" tanya Ivan sambil menyetir mobil.
"ke arah kampus aja Van."
"ok.. Eh ngomong-ngomong kenapa belakangan ini kamu jarang aku lihat ikut pengajian rutin di kampus?" tanya Ivan.
"aduh.. Aku lagi agak sibuk, jadwalnya bentrok dengan jadwal kajian."
"oh gitu yah.. Soalnya aku tanya Sabri katanya gak pernah lihat kamu di kampus."
"maklum lah, Mahasiswa tua kan.. Udah jarang ketemu sama teman angkatan sendiri." ucapku sambil bergurau.
"bisa aja Mahasiswa tua."
"bisa aja calon suami orang. Haha".
Dalam perjalanan kami sedikit bersenda gurau, hal yg mungkin membuatku lupa tentang keresahan hari ini.
"Arman, aku penasaran tentang itu." ucap Ivan tiba-tiba.
"tentang apa Van?" tanyaku.
"sejak kapan kamu suka bunga matahari? Setahu aku, kamu bukan orang yg suka bunga." ucap Ivan tiba-tiba.
"heh.. Kirain nanya apa."
"hm yaudah lah Man kalau kamu gak mau jawab."
"bukan suka sih.. Kamu tau filosofi bunga matahari?"
"gak tau, apa tuh?"
"bunga matahari bisa bermakna kesetiaan karena faktanya bunga matahari di sebut bunga 'matahari" karena arahnya selalu mengikuti arah matahari. Jika pagi maka bunga matahari akan mengarah ke timur tempat matahari terbit dan begitupun saat matahari terbenam maka akan condong ke barat. Selain itu bunga ini juga kerap kali dikaitkan dengan simbol kehangatan. Warnanya yang cerah menyala seperti sinar matahari ini diharapkan mampu membawa energi positif bagi penderita sakit. Bunga matahari juga membawa suasana yang ceria ketika sedang menjenguk orang sakit."
__ADS_1
"oh gitu.. Gak nyangka Man, kamu mau bisnis bunga yah?" tanya Ivan nyeleneh.
"sepertinya sih.. Haha.."
"bisa aja. Terus kalau kamu suka bunga matahari, tapi di rumah kamu gak pernah ada aku lihat."
Aku tak tau kenapa Ivan bisa sekepo ini sekarang karena biasanya dia tidak terlalu suka mengorek informasi tidak penting dari orang lain. Karena Ivan sudah ku anggap sebagai keluarga dan dia juga bisa di percaya, akupun menceritakan sedikit insiden di balik bunga matahari yg sering aku beli setiap sabtu pagi dalam seminggu bahkan sampai sekarang.
Itu terjadi sekitar hari libur semester 5 yg akan berganti ke semester 6. Secara tidak sadar aku mencelakainya, tepat di depanku dia tertabrak sebuah mobil mini bus. Kecepatan mobil tidak seberapa tapi tetap saja membuat tubuhnya terpental ke aspal.
Dan yg terparah, kepalanya berdarah. Darahnya cukup untuk membuatku panik walau saat itu dia tidak pingsan dan masih setengah sadar.
Segera setelah ambulans datang, diapun di larikan ke rumah sakit. Di dalam ambulans itu ada ibu dan ayahnya, sementara aku menuju ke rumah sakit dengan manaiki motor.
Kejadian tabrakan itu terjadi tidak jauh dari rumahnya. Bersamaan dengan terjadinya kecelakaan itu akupun di benci oleh sepupunya. Dan akupun menjadi dalang yg membuat dia celaka.
Kecelakaan yg di alaminya tidak terlalu parah dan tidak membuat dia harus di operasi bedah yg besar, tapi benturan yg terjadi cukup untuk menaruh trauma dan membuat dia melupakan semua tentang diriku.
Saat itu aku tak tau harus berbuat apa, aku benar-benar menyesal. Aku datang berkali-kali tapi dia hanya kesakitan ketika aku menjelaskan tentang diriku padanya.
Keluarganya sangat baik padaku dengan hanya masih mengizinkan aku bertemu dengan dia. Tapi tetap saja, dia tidak mengingat apapun tentangku. Dengan penyesalan yg dalam, aku ingin menghiburnya. Akupun mengirimi dia bunga dan sepucuk surat permintaan maaf dan penyesalan.
Bunga itulah yg aku kirim terus menerus kepadanya sampai sekarang. Bunga itu, bunga matahari.. Bunga yg di rekomendadikan oleh pemilik toko bunga.
Sepertinya bunga itu cukup menghibur, walaupun semua surat yg aku kirim kepadanya tidak terbalas dan tidak membuat dia ingat sedikitpun padaku sampai detik ini.
Aku menyisipkan sedikit cerita tentang diriku yg mengaguminya dalam catatan kecil yg aku kirim bersama dengan bunga matahari itu. Tapi sepertinya dia benar-benar tidak mengingat apapun. Bahkan tak ada respon darinya, aku pikir dia tidak membaca surat itu.
Bagiku tidak apa-apa.. Yg penting seperti kata kurir toko bunga yg mengirim bunga itu padanya. Dia terlihat senang dengan bunga yg aku kirim rutin kepadanya.
"ya begitulah.." ucapku mengakhiri penjelasanku tentangnya.
"yahh.. mau bagaimana lagi. Susah dapat perempuan seperti dia. Limited edition." gurauku.
"masyaallah.. Arman.. Haha. Gak nyangka ternyata kamu bisa suka juga sama perempuan. Jadi gimana ceritanya tuh."
"ah nantilh aku ceritain lengkapnya Van."
"jadi si dia ini masih belum ingat siapa kamu sampai sekarang?".
"iya.. Eh itu Van toko bunganya." ucapku sambil menunjuk sebuah etalase toko dengan berbagai macam bunga dan tanaman lain.
Setelah turun dari mobil kami berdua lalu masuk ke dalam toko bunga. Seperti biasa pemilik toko terlihat sedang menatabbunga di bantu oleh 2 orang karyawannya.
"assalamualaikum.. Mas Lukman." ucapku.
"waalaikumsalam.. Mas Arman. Tumben datang ke sini hari ini." balasnya sambil berbalik.
Baru saja aku ingin memperkenalkan Ivan kepada Mas Lukman dan ternyata mereka berdua sudah saling kenal.
"loh.. Kak. Masyaallah bisa ketemu disini." ucap Ivan menjabat tangan mas Lukman.
"loh.. Ivan." jawab Mas Lukman.
"eh.. Jadi kalian sudah saling kenal." Ujarku.
Mereka berdua sudah kenal jauh-jauh hari sebelumnya. Hanya saja Ivan tidak tau kalau Mas Lukman menjalankan bisnis toko bunga. Ivan dan Mas Lukman bertemu di suatu pengajian yg kebetulan ketika itu Ivan di undang oleh Ayah calon istrinya yaitu Yana.
__ADS_1
Dari situ mereka saling mengenal satu sama lain. Mas Lukman sendiri sudah menganggap Yana sebagai adiknya karena dia bersahabat dekat dengan kakaknya. Bahkan semua keluarga Yana sudah mengenal Mas Lukman.
Dari pertemuan itu juga Mas Lukman tau bahwa Ivan adalah calon suami Yana dan menurutnya Ivan adalah orang yg cocok untuk Yana.
Ivan pun menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke sini. Karena mereka berdua cukup dekat, alhasil secara cuma-cuma Ivan mendapatkan apa yg dia mau dan Mas Lukman pun mengatakan bahwa memang benar, Yana menyukai bunga matahari.
Sementara itu, di tempat lain. Di bandara Indonesia Soekarna-Hatta, tepatnya di tempat penjemputan bandara. Terlihat Ana yg sedari tadi sibuk memperhatikan orang-orang yg keluar dari pintu penjemputan.
Sementara itu, Riyal lagi asyik membaca buku di dalam sebuah mobil, di parkiran bandara, menunggu telfon dari Ana yg saat ini menunggu Sahidah di pintu keluar. Tepat setengah satu ba'da duhur, Sahidah terlihat keluar mendorong koper miliknya.
Dan saat melihat Sahidah berjalan, Ana pun berteriak memanggil dengan suara yg melengking. Keduanya pun bertemu, saling peluk dan bertegur sapa. Raut wajah senang terlihat di wajah mereka berdua. Tanpa berlama-lama Ana lalu menghubungi Riyal yg menunggu di parkiran untuk menjemput mereka berdua di area penjemputan mobil.
Tak lama Riyal muncul dan mereka bertigapun bertemu. Tak seheboh Ana ketika melihat Sahidah, dengan santai Riyal mengangkat koper Sahidah ke mobil.
Di perjalan, mereka bertiga bertegur dan saling bertanya keadaan. Pembicaraan tentang kisah-kisah lucu yg terjadi ketika di Malaysia dan lain sebagainya. "macam mana nih Arman tak jemput aku." Kata Sahidah.
"nomor teleponnya gak aktif, dari tadi aku telpon." ucap Ana.
"ishh.. Arman awas nanti kalo bertemu." umpat Sahidah.
"dia bakal datang kok, tenang saja." Kata Riyal.
"bagaimana dengan kondisi Fina sekarang? Baik-baik aje kan?" tanya Sahidah.
"sekarang sudah membaik." jawab Riyal
Riyal menceritakan kondisi Alfy kepada Sahidah dan juga Ana yg tidak tau apapun. Tapi Riyal tidak menceritakan tentang aku yg melamar Alfy, dia hanya bercerita kalau Alfy mengalami kecelakaan dan hilang ingatan.
"jadi nak kemana kita?" tanya Sahidah.
"kita langsung aja ke restoran, soalnya Fina sudah nunggu di sana. Setelah itu baru aku antar ke hotel."
"okelah."
"aku juga gak sabar ketemu sama Fina. Duhh. Udah lama banget gak ketemu." ucap Ana.
"bagaimana nih, kalian satu kampus tapi tak pernah ketemu." balas Sahidah.
"maklum lah.. Sibuk Idah.. Sibuk." sambung Ana.
"Arman? Ada kabar tak?"
"belum nih.. Si Arman. Jangan-jangan dia gak dateng lagi."
"pasti dia datang." ucap Riyal.
Setelah 20 menit berlalu, sampailah mereka berdua di sebuah restoran Indonesia. Ketika masuk ke dalam, ternyata Alfy sudah menunggu mereka bertiga. Dan tanpa basa basi Sahidah berlari ringan mendekat lalu memeluk Alfy.
"Fina.. Lama tak jumpa. Duh.. Alhamdulillah bagaimana kabar kamu?"
"alhamdulillah.. Baik." jawab Fina canggung.
Ana pun ikut memeluk Fina yg masih menyesuaikan diri dengan keadaan karena pada dasarnya dia tak mengenal Ana dan Sahidah sekarang.
Akhirnya mereka bertempatpun berbincang dan Sahidah memperlihatkan beberapa foto momen kebersamaan mereka ketika masih berada di Malaysia. Lama kelamaan Alfy mulai terlihat santai dan tak canggung lagi. Mereka bersantap siang sambil sesekali mengenang masa lalu singkat di negeri jiran.
Lama mereka berbincang.. Tiba-tiba.
__ADS_1
"assalamualaikum.. Sorry aku telat." ucapku berjalan ke meja mereka berempat.
-Bersambung-