
(Bagian Flashback)
Sudah dua minggu sejak Ivan menyatakan keinginannya untuk memeluk agama Islam. Tapi aku tidak bisa mengabulkan begitu saja ketika dia memintaku untuk membimbingnya mengucapkan syahadat. Aku bukannya menghambat hidayah, hanya saja aku tidak mau Ivan bermain-main karena alasan hanya seorang perempuan.
Dengan sedikit ilmu aku mencoba menjelaskan tentang agamaku, walaupun pada akhirnya aku tersadar betapa minimnya pengetahuan agamaku.
Aku menyuruh Ivan untuk memikirkannya terlebih dahulu apa lagi ini bukan sesuatu yg kecil, bukan hal sepele jika dia berniat mengubah agama itu sama saja dia akan mengubah arah hidupnya.
Dan sejak hari itu ternyata dia belajar, benar-benar belajar tentang islam bahkan mengalahkan belajarnya orang yg sudah memeluk Islam sejak lahir.
Dalam dua minggu ini dia sudah mengetahui apa itu tauhid, syirik, shalat dll. Segitu besar kah pengaruh perempuan yg di temuinya? Sampai dia bisa belajar secepat itu hanya dalam waktu dua seminggu saja.
Hingga dalam waktu tersebut dia langsung mengatakan keinginan itu kepada orang tuanya. Ayahnya sendiri tidak ada masalah, tapi Ibunya dengan keras menantang keputusan itu.
Akhirnya anak dan Ibu ini pun cekcok dan terjadi adu argumen. Puncaknya sang Ibu mengancam tidak akan mengirimkan uang lagi jika benar Ivan tetap melakukan niatnya itu.
Dan yg membuatku heran, Ivan tetap kekeh dengan niatnya dan di sinilah dia sekarang. Berada di rumahku meninggalkan rumah mewah, mobil, dan segala fasilitas yg di berikan oleh Ibunya.
Ivan dengan serius meninggalkan itu semua demi memeluk Islam, itu mustahil. Di pikiranku mungkin Ivan melakukan itu untuk perempuan yg dia temui. Tapi kenapa? Pertemuan mereka baru berulangsung dua bulan dan mereka baru bertemu dua kali.
Pertemuan pertama secara tidak sengaja dan mereka tidak ngobrol sama sekali sedangkan pertemuan kedua mereka baru berkenalan secara resmi dan sekarang Ivan segitu inginnya masuk Islam karena perempuan itu.
Di pikiranku sekarang adalah Ivan sedang depresi. Dia masih belum melupakan Dian dan sekarang malah mencari pelampiasan untuk perasaan terlukanya itu.
Tapi kenapa? Kenapa dia begitu serius dengan niatnya. Apa hanya karena depresi seperti yg kupikirkan itu? Bagaimana bisa? Dia yg sekarang berada di depanku sedang membaca buku tentang shalat itu bisakah aku katakan dia depresi.
Kini Ivan tinggal di rumahku, ketika dia di usir oleh Ibunya. Ivan tidak punya tempat untuk di tinggali, saat itu dia kerumahku dan berbicara dengan Ibuku. Tentu, karena Ibuku sudah mengenalnya dari kecil bahkan sudah di anggap sebagai anak sendiri. Dengan senang Ibu menerima Ivan untuk tinggal sementara di rumahku.
Sedangkan aku yg tak tau apa-apa ketika pulang ke rumah tau-tau dia sudah berada di kamarku. Disaat itulah dia menjelaskan semuanya padaku.
Tapi aku masih tidak percaya, sulit rasanya mempercayai perubahan yg terjadi dalam diri Ivan. "Ivan, kamu serius?" tanyaku.
"menurutmu Man, dengan semua yg ku lakukan ini?" balasnya tanya balik.
"aku.. Aku gak tau Van. Aku masih tidak percaya. Ivan coba pikirkan lagi? Apa karena cuma perempuan itu sampai kamu meninggalkan rumahmu?" tanyaku mencoba meyakinkan lagi niatnya.
"iya.. Awalnya iya. Tapi karena kamu Menyuruhku belajar maka aku belajar agar aku bisa masuk Islam di tanganmu supaya kamu memberi tahu aku caranya masuk islam dan jika aku sudah Islam aku bisa mendekati perempuan itu, Itu niat awalku Man. Tapi..."
Iya, dugaanku benar. Perempuan itulah yg jadi pemicu, semua yg di lakukan Ivan mulai dari menantang orang tua hingga meninggalkan rumah dan fasilitas yg di berikan orang tua untuknya karena perempuan itu.
Seharusnya itu yg jadi masalahnya sampai aku tau keseriusan Ivan ketika aku mengatakan padanya untuk berpikir ulang dan sebaiknya belajar.
Diapun belajar seperti yg dia katakan, belajar agar aku bisa mengabulkan keinginannya membimbing dia masuk Islam dan agar dia bisa mendekati perempuan yg memberinya isyarat bahwa jika ingin mendekat maka dia harus menjadi muslim.
__ADS_1
Dia belajar, sungguh belajar. Awal cerita ketika dia membeli sebuah Al Qur'an di toko buku dengan terjemahan. Awalnya dia hanya membeli dan ingin memperlihatkannya padaku bahwa dia benar-benar belajar. Tapi saat dia mulai membaca surah pertama, dia gemetar.
Ivan merasakan hal berbeda saat membaca terjemahan surah Al Fatihah. Dia merinding membaca setiap kalimat sampai dia tak ingin berhenti membaca.
Lembar demi lembar dia buka, surah demi surah dia baca. Matanya fokus membaca sampai lupa akan waktu dan keadaan sekitar. Segala hal tentang hidup yg menjadi pertanyaan kini terjawab dengan buku yg di sebut Qur’an ini, seperti itu menurutnya.
Dia terkejut pada saat sampai di satu surah yg bertuliskan 'surah Maryam' yg menceritakan kisah Nabi Isa Alaihisalam. Kisahnya sama persis dengan apa yg di ceritakan oleh kitab agamanya sendiri, hanya saja dalam Qur'an Isa Alaihisalam bukanlah Tuhan melainkan hanya Utusan Tuhan.
Dia lanjut membaca, dia mulai mendapatkan berbagai jawaban-jawaban ilmiah atas fenomena dunia. Matanya terbuka hingga akhirnya dia sadar bahwa buku ini tidak mungkin ciptaan manusia.
Buku yg sangat kompleks ini, yg merangkum semua fenomena dunia tidak mungkin bisa di tulis oleh manusia. Kesimpulannya adalah buku ini pasti tulisan Tuhan.
Hatinya terbuka, Kini dia belajar bukan untuk perempuan itu. Ivan belajar untuk kebenaran yg datang menyinarinya dari bacaan yg dia baca dalam semalam.
Pertanyaan-pertanyaan di kepalanya mulai muncul satu persatu. Karena tak tau harus bertanya kepada siapa akhirnya dia membuka Internet dan mencoba mencari informasi tentang islam. Tapi yg dia temukan kebanyakan artikel yg memuat tentang ******* dan artikel yg menyatakan bahwa agama Islam adalah agama intoleran.
Itu sangat berbeda dari buku yg baru saja dia baca. Ivan mengalihkan pencarian dan kini membuka youtube. Mencoba mencari ceramah atau dialog antar agama.
Setelah dia menemukan dia menonton semua tayangan yg memuat konten itu. Saat muncul pertanyaan lagi di kepalanya dia mencari lagi dan menonton lagi penjelasan dari Uztad atau bahkan ulama dari Saudi dengan tayangan subtitile Indonesia agar dia mengerti.
Satu per satu jawaban di temukan dan kebenaran semakin nampak di hatinya. Tapi masih ada setitik keraguan katanya, hingga di salah satu beranda youtube tertulis 'kisah mualaf dunia'. Dengan penasaran diapun membuka video itu.
Video itu berisi cerita-cerita dari berbagai mualaf dunia yg masuk Islam karena suatu peristiwa. Dengan serius dia memperhatikan setiap cerita dan yg membuatnya tertarik adalah cerita seorang pemuda di Amerika.
Singkat cerita pemuda itu masuk dan duduk serta berbincang dengan teman muslimnya itu. Di tengah-tengah perbincangan mereka, muslim itu menyalakan tvnya kemudian mencari channel yg menayangkan masjidil Haram Makkah secara live.
Karena saat itu sedang musim haji tentu terlihat di tv sangat ramai dan padat manusia yg berada di masjidil Haram. Muslim ini sangat menyukai tilawah Qur’an dan kebiasaannya adalah menonton tayangan itu untuk mendengar tilawah Qur’an dari Imam Masjidil Haram karena saat ini telah masuk waktu isya.
Terlihat di tv Imam sudah masuk dan sudah terdengar Iqamah untuk memulai shalat Isya. Tanpa sadar si muslim iseng mengajak taruhan temannya si pemuda non muslim itu.
Si muslim pun mengatakan. "Kamu lihat tayangan ini."
"iya, banyak sekali manusia di tempat itu." balas pemuda non muslim itu.
"menurutmu berapa jumlah manusia saat itu di sana?"
"hm mungkin ribuan."
"salah, ada jutaan bahkan puluhan juta." Ujar si muslim.
"Wow itu jumlah yg sangat banyak." respon pemuda non muslim.
"kira-kira kamu percaya gak, manusia sebanyak itu yg jumlahnya jutaan sampai puluhan juta, yg sedang berjalan, yg sedang duduk, yg sedang minum dan makan di area itu bisa berhenti seketika hanya dengan SATU KOMANDO."
__ADS_1
"itu mustahil. Orang sebanyak itu bisa di atur hanya dengan satu ucapan saja." Kata Pemuda non muslim.
"baiklah, tunggu saja sebentar lagi semua manusia yg ada di tempat itu akan diam dan berbaris rapi dengan satu ucapan saja." Kata si muslim.
Tak lama setelah Iqamah, Imam Masjidil Haram pun tiba di tempatnya. Dengan mengatakan aba-aba dalam bahasa Arab yg jika di artikan 'lurus dan raparkan shaf'.
Dan hal itu terjadi, jutaan manusia yg terlihat jalan, duduk, berbicara satu sama lain, bahkan yg makan dan minum lalu berdiri dan berbaris rapi, diam dan hening saat itu juga. Imam pun bertakbir.
"Allahu Akbar."
Semua manusia mengikuti instruksi itu dan mulai mengangkat tangan, sangat tenang dan tertib. Tak ada manusia yg bergerak sedetikpun kecuali dengan aba-aba sang Imam.
Semua gerakan dari mulai takbir, rukuk hingga sujud yg di lakukan olah jutaan manusia itu di atur hanya dengan satu ucapan Imam sampai selesai shalat.
Setelah selesai shalat akhirnya manusia yg sedari tadi diam dan hanya mengikuti instruksi Imam kembali terlihat bergerak bebas.
Dan tanpa sadar pemuda non muslim yg terlihat takjub dengan tenang memperhatikan tayangan shalat live dari Masjidil Haram.
Si muslim pun mengatakan. "Maaf kawan aku tidak memperhatikanmu, karena aku tadi terlalu fokus mendengarkan bacaan shalat Imam."
"ini tidak mungkin dari manusia, tolong perkenalkan aku dengan agamamu karena hal seperti itu tidak mungkin di lakukan oleh manusia." Kata pemuda non muslim tersebut.
Singkat cerita pemuda non muslim itupun menjadi mualaf hanya karena gerakan shalat. Hal yg bahkan tidak tak pernah terpikirkan oleh kebanyakan muslim di dunia.
Dan hal itupun membuat Ivan takjub. Saat itulah dia membulatkan tekad bahwa dia harus masuk Islam. Bukan lagi karena perempuan yg dia temui tapi atas dasar iman dan kebenaran yg dia temukan.
Aku menatap Ivan yg dari tadi dengan keyakinan besarnya bercerita panjang lebar.
"..." aku terdiam.
"aku menemukan kebenaran, aku tau kekhawatiranmu jika aku melakukan ini hanya karena perempuan itu. Tapi percayalah, perempuan itu hanya pemicu untukku mengenal dan mendapatkan hidayah ini." Ujar Ivan.
"hidayah." gumamku.
"dan Arman terima kasih juga karena kamu yg menyarankan agar aku belajar terlebih dulu. Hampir saja aku masuk Islam dengan niat yg salah. Sekarang niatku benar-benar karena aku ingin kembali ke tempat dimana seharusnya aku berada." ujarnya meyakinkanku.
Kini akupun tersadar, Ivan benar. Semua yg dia tinggalkan karena kebenaran yg dia temukan.
"baiklah. Jujur aku tidak tau harus berbuat apa. Besok di kampus aku akan kenalkan kamu kepada temanku yg lebih faham tentang masalah ini." kataku.
"makasih Arman. Aku sangat menghargai itu." ucapnya.
-Bersambung-
__ADS_1