
"tembak? Enggak? Tembak? Enggak? Tembak? Enggak?" terus saja Ilham berusaha meyakinkan dirinya.
Di pinggir jalan, dalam sebuah mobil. Ilham dengan wajah kaku berusaha membuat dirinya berani mengakui perasaan kepada Ica. Tidak dengan candaan seperti biasa yg berakhir dengan penolakan. Tapi kali ini dia ingin mengutarakan perasaan yg telah lama dia pendam dan dia yakini bahwa Ica adalah pemegang gelang manik-manik warna putih yg selama ini dia cari.
Ica yg sedang membeli air putih dan beberapa snack lalu kembali masuk dalam mobil. "yuk Ham." Ujar Ica.
Ilham gugup dan bingung harus mulai dari mana. Terus saja dia mencuri pandang ke arah Ica sambil sesekali mencoba berucap.
"Kenapa Ham? Aneh banget kamu hari ini."
"ngak papa. Hehe."
"oh iya, nih minuman kopi yg kamu minta."
"iya, makasih Ca'."
Sudah beberapa bulan ini Ilham sering sekali menjadi supir pribadi Ica. Dan kedekatan mereka semakin hari semakin menjadi hanya saja Ilham tak tau harus mulai dari mana untuk memulai pembicaraan serius ini.
"e Ca'."
"iya Ham."
"e.. Anu.. Skripsi lo gimana?"
"dah kelar, kamu kan udah tau. Kok nanya gitu?"
"oh iya yah.. Hehe. Lupa." ucap Ilham linglung.
"eh Ilham, gimana penelitian kamu?"
"iya ini lagi sementara di urus kok."
"iya yah.. Awas loh jangan ke banyakan main dulu. Aku tuh pengennya kita bisa wisuda bareng-bareng."
"hah? Yg bener Ca',segitu pengennya lo wisuda bereng ama gua." ucap Ilham.
"eh jangan ge'er. Hahaha maksud aku barengan sama temen-temen yg lain. Jawab Ica tertawa.
" ya elah.. Kirain. Udah semangat juga."
__ADS_1
"alah..dasar.."
"gimana gak ge'er. Lo tau sendiri kan gua suka sama lo." ucap Ilham tanpa sadar.
Meskipun Ilham sudah berkali-kali mengakui dan mengucapkan kata itu tapi Ica menganggap bahwa Ilham hanya bercanda dan merespon hal tersebut dengan candaan pula. Dan Ilham mengetahui hal itu, tapi untuk mengucapkan kata suka dengan serius Ilham pun tak sanggup.
Sebuah lingkaran tak berujung yg di bangun oleh ego masing-masing. Entah mengapa, Ica pun sebenarnya nyaman dekat dengan Ilham tapi dia seolah tuli akan pengakuan setengah-setengah dari Ilham. Dia benar-benar menunggu Ilham mengeluarkan semua isi hatinya dengan tatapan serius di hadapan Ica.
Sampai di kampus, mereka berdua yg sedari tadi terjebak dalam lingkaran egopun turun dari mobil.
"ngapain di kampus Ca'?"
"mau ketemu Prof Armin bentar. Kamu tungguin aku yah."
"ok bosku."
Ica pun meninggalkan Ilham sendiri menuju ruang Dosen. Sementara Ilham berjalan menuju kantin kampus tempat favoritnya menghabiskan waktu jika tidak sedang kuliah.
Di kantin tak sengaja Ilham bertemu dengan Gina. "lah.. Gin. Sendiri aja."
"Ilham. Iya nih. Lagi nungguin Ibu Ariana selesai ngajar soalnya mau bimbingan skripsi." jawab Gina
"oh.. Pacar lo mana?"
"hm.. Dari cara jawabnya.. Lo lagi berantem sama Adi?" tanya Ilham.
"tau ah.."
"ok, gua anggap iya."
Perempuan kalau lagi berantem dengan pacarnya pasti gampang ketahuan, apa lagi kalau pacarnya sering jadi tukang ojek dan tiba-tiba satu waktu gak ngenterin ceweknya pasti lagi ada masalah.
"oh iya.. Gua bareng ama Ica."
"oh yah.. Terus mana dia?"
"katanya sih mau ketemu sama Prof Armin."
"oh gitu. Kamu udah jadian yah sama Ica?"
__ADS_1
"boro-boro jadian, ngomong suka aja di sangkain becanda." ucap Ilham.
"muka mu sih kayak pelawak. Haha." gurau Gina.
"buset dah.. malah ngatain."
"eh tapi serius. Apa sih yg kamu suka dari Ica?" tanya Gina.
"apa ya, mungkin karena gua ***** kali yah. Gua udah suka sama Ica sejak masih kecil."
"cuma itu?"
"iya.. Entah kenapa janji yg pernah gua buat sama Ica waktu gua kecil terus tumbuh sampai sekarang. Meskipun Ica gak inget sih sama gua."
"gimana caranya kamu yakin kalau Ica gadis kecil yg kamu cari."
"hm.. Eh bentar-bentar.. Kok lo bisa tau sih soal cerita ini?"
"Arman yg cerita."
"wah.. Arman.. Ember juga yah mulutnya."
"udah gak usah salahin Arman. Dia cerita soalnya anak-anak yg lain waktu itu seudzon sama kamu yg terus aja ngejar-ngejar Ica." Jelas Gina.
"baguslah, kalau lu udah tau ceritanya."
"Ilham, gimana kalau gadis kecil yg kamu cari itu bukan Ica?" tanya Gina serius.
"gua yakin.. Soalnya gua pernah lihat dia pakai gelang warna putih, modelnya sama kayak yg gua pake." Kata Ilham menunjukkan gelang yg di gunakannya di tangan kiri.
Sejak jalan berdua dengan Ica, Ilham selalu saja memakai gelang manik-manik hitam yg di berikan Ica ketika kecil. Meski begitu Ica tak pernah mengingat atau mengatakan hal tentang gelang atau bahkan menggunakan gelang manik-manik yg sama dengan Ilham dimanapun mereka pergi.
Tapi hal itu tidak memupuskan keyakinan Ilham bahwa gadis cilik yg berucap janji dengannya ketika kanak-kanak adalah Ica.
"yah.. Walaupun gua salah Gin, tapi kayaknya gua udah terlanjur cinta sama Ica." ucap Ilham.
"baguslah kalau gitu. Aku bisa tenang. Ya udah aku ke ruangan Ibu Ariana dulu. Kayaknya dia udah selesai ngajar."
"ok.. Hati-hati."
__ADS_1
Gina berjalan menjauhi Ilham, dengan sedikit gelisah dia terus berjalan melangkah. Ibu Ariana tepat di depannya tapi entah mengapa dia terus saja berjalan.. Tak lama air mata menetes di pipinya.
-Bersambung-