
Seminggu telah berlalu..
Sejak saat itu.. Saat hari dimana aku harus mengetahui fakta bahwa Alfy atau Yana telah dilamar oleh laki-laki lain.
Aku ingat wajah bahagianya..
Senyumnya..
Tawanya..
Dan kehangatan dirinya..
Semua yg merangkai hal itu adalah laki-laki hebat.. Laki-laki itu adalah Ivan.
Aku bahkan bertindak bodoh dengan pergi dari rumah itu sebelum acara benar-benar berakhir. Tentu kebodohanku membuat Ivan bertanya-tanya, tapi dengan dusta aku hanya mengatakan bahwa tiba-tiba Ibuku butuh bantuan mendesak.
Aku minta maaf pada Ivan.. Minta maaf pada keluarganya, tapi di sisi lain aku marah. Marah pada diriku sendiri, bodohnya aku hanya menyalahkan takdir tanpa bertindak apa-apa.
Bertindak? Aku harus bertindak seperti apa? Apakah aku harus mengatakan pada Ivan bahwa gadis yg gelah dilamar olehnya adalah perempuan yg aku cintai selama ini.. Atau, aku harus meyakinkan Alfy tentang diriku.. Tentang siapa aku dahulu untuknya.
Aku harus bertindak seperti apa? Belum lagi Ayah Alfy sudah meminta agar aku tak merusak hubungan Ivan dan anaknya.. Belum lagi aku sudah mengatakan hal jahat pada ayah Alfy? Aku harus bertindak seperti apa sekarang?
Di tengah kegalauanku.. Di sekitar taman kampus, di bawah pohon beringin yg cukup tua dan penuh dengan akar raksasa.. Seseorang mendekat.
Saat ku lihat, orang itu adalah Riyal.
"Arman. " Sapanya.
Aku hanya melihat ke arahnya tanpa berkata apa-apa dengan tatapan kosong.
"Ngapain ke kampus? Bukannya udah alumni?" Ucapnya.
__ADS_1
Aku tak menjawab.. Mungkin orang yg pernah patah hati akan mengerti keadaanku sekarang. Rasanya.. Ingin menyendiri saja.
"Kenapa Man?" Tanya Riyal sekali lagi.
"Aku gak tau kamu lagi kenapa, tapi.. Huhh.. Man.. Waktu di bandara saat itu.. Saat kita lagi nganterin Sahidah.. Fina bilang bahwa dia tahun depan akan menikah.. Dan katanya.. Saat wisuda seminggu yg lalu, dia akan dilamar oleh laki-laki. Mungkin terlambat, tapi sepertinya kau harus tau hal ini. " Lanjut Riyal.
"Iya aku tau." Ucapku.
Riyal tidak terkejut, melihat keadaanku sekarang seolah dari awal ia sadar bahwa alasanku terlihat murung saat ini adalah karena hal yg dikatakan olehnya. "Begitu rupanya.. Maaf sepertinya aku benar-benar terlambat memberi tahukan tentang hal ini."
"Aku dan Ana sebenarnya bingung, apakah saat itu aku harus memberi tahukan padamu atau tidak tentang hal ini.." Lanjut Riyal menjelaskan.
Aku melihat ke arah Riyal.. Sedikit sesak rasanya saat Riyal mengatakan bahwa dari awal dia sudah mengetahui hal ini, tapi aku tak peduli.. Toh akhirnya aku juga mengetahuinya.. Iya, seminggu yg lalu.. Aku mengetahui kenyataan yg sangat pahit ini.
"Mungkin ini sudah sering kau dengar tapi.. Arman.. Masih banyak perempuan di luar sana." Ucapnya sambil menepuk punggungku dan pergi meninggal aku sendiri di taman kampus yg letaknya berada di depan gedung rektorat universitas.
Aku bahkan tak tau kenapa aku berada di tempat ini.. Begitu saja aku hanya ingin pergi ke suatu tempat tapi malah aku berada di taman ini.. Di taman yg tidak terlalu ramai ini.
Iya, benar... Aku menghindari Ivan sejak seminggu yg lalu. Aku tidak lagi bertatap muka dengan Ivan. Dia terus saja menelfonku, kadang aku tidak menerima telfon darinya.. Kadang karena merasa tidak enak aku tetap menerima panggilan darinya dengan alasan sedang melakukan sesuatu.. Alasan agar aku tidak berbicara banyak dengannya dan tidak bertemu dengannya.
Hari ini... Ivan sudah mengatakannya padaku bahwa ia akan datang ke rumah bersama dengan kedua orang tuanya untuk pamit.. Iya, hari ini dia akan kembali ke jepang bersama dengan orang tuanya dan.. Setelah itu dia akan ke Amerika melanjutkan studinya.
Itu adalah alasan aku berada di bawah pohon beringin ini,.. Karena aku tak ingin bertemu dengan Ivan..
"Halo.. Assalamualaikum.." Ucapnya melalui telfon.
"Waalaikumsalam.." Aku membalas dengan nada yg agak datar.
"Arman kamu dimana? Kata Mama kamu, kamunya lagi keluar? Dimana sekarang?"
"Maaf.. Hehe, aku lagi ngurus berkas penting di kampus. Gak bisa di tunda." Ucapku sedang berpura-pura.
__ADS_1
"Oh.. Ya udah, kalau gitu.. Aku pamit ya. Hari ini soalnya udah mau berangkat ke bandara."
"Iya."
"Kamu baik-baik yah Man!! Sampai ketemu lagi tahun depan di acara nikahanku." Ucapnya bergurau.
"Iya."
"Kamu kenapa!? kok lesu amat?"
"Gak papa.. Hehe, hati-hati Van."
"Iya.. Kalau gitu udahan ya."
"Iya"
"Dan.. Kalau bisa, aku nitip.. Tolong kamu jagain Yana.. Jangan sampai di deketin sama laki-laki lain. Hahaha." Kata Ivan tertawa.
Aku hanya diam mendengar gurauannya. Setelah basa basi menyebalkan itu.. Ivan menutup telfonnya. Kata terakhirnya adalah.. "terima kasih saudaraku, semoga Allah membalas kebaikanmu yg telah mengenalkan aku lebih jauh dengan islam."
Mendengar hal itu.. Seketika rasanya aku ditampar sangat keras. Bagaimana tidak? Aku jadi ingat kesalahan besarku.. Kesalahanku adalah memutuskan hijrah mengikuti jejak Ivan.. Tapi bukan karena Allah.. Aku hijrah karena aku ingin pantas di hadapan Alfy.
Tentu saja.. Niat busuk seperti itu mana bisa berakhir bahagia. Aku lupa.. Bahwa Allah lah yg memiliki hati dan Allah pula lah yg bisa Membolakbalikkan hati, tapi aku terlambat menyadari kesalahanku.. Kesalahan besarku.
Aku menunduk ke bawah.. Mengingat diriku. Aku memang belajar agama tapi aku belajar karena ingin bersama Alfy.. Aku memantaskan diri karena Alfy, aku menghafal Qur’an waktu itu karena Alfy.. Bukan karena Tuhanku.. Bukan karen Allah Subhanahu Wa Ta'ala..
Iyaa.. Rasanya memang pantas aku tidak memiliki Alfy, aku dari awal memang tidak pantas bersama perempuan seperti Alfy.. Sedangkan Ivan.. Iyaa.. Allah memang baik.. Dia menjodohkan kedua hambanya yg punya pribadi dan iman yg sama.. Mereka adalah Ivan dan Alfy.. Mereka sangat cocok.
Iyaa.. Itu benar. Aku harus menerim.. Tapi.. Apakah aku juga tidak boleh bahagia?
-Bersambung-
__ADS_1