
(Bagian Flashback)
Sepuluh hari berlalu sejak Alfy memberikan pengakuan tentang perasannya. Sampai dengan hari ini aku masih kepikiran dan entah mengapa aku tidak siap jika saja aku bertemu dengannya di kampus.
Selain itu, nasehat Ivan juga masih terus terbayang. Aku sampai mulai mengikuti sedikit ceramah agama dan mulai memperbaiki diri sedikit demi sedikit.
Entah mengapa rasanya cukup nyaman dan bikin ketagihan. Setelah sedikit belajar dan hal itu membuatku haus akan ilmu hingga terus saja aku belajar dan belajar tentang agamaku.
Hari-hariku setelah itu di isi dengan kajian Ilmu, aku mulai ikut dengan Ivan dan Sabri mendengarkan ceramah rutin di mesjid kampus dan hal itu berlangsung selama sebulan.
Hingga aku mulai yakin dengan perasanku, akhirnya ku putuskan untuk bercerita dengan Ibuku. Aku tidak yakin akan seperti apa ekspresi dan reaksi Ibuku mendengar bahwa aku berniat melamar seseorang dan aku tak tau harus mulai dari mana menjelaskan padanya.
Pikirku mungkin Ibu akan tidak setuju, bagaimana mungkin aku yg masih duduk di bangku kuliah semester 5 ingin menikah. Ya, aku sudah membayangkan penolakan dari Ibuku.
Tapi di luar perkiraanku, tanpa ekspresi ketika aku berkata ingin melamar seseorang dia malah tersenyum dan bertanya siapa perempuan beruntung itu.
__ADS_1
Aku jelas terkejut, ku pikir Ibuku belum memahami situasi dan aku menjelaskan sekali lagi bahwa aku ingin minta Izin padanya untuk melamar seorang perempuan.
Dan lagi dia tersenyum dan berkata, siapa perempuan beruntung itu.
Aku melihat Ibuku, sepertinya dia tidak terganggu sama sekali tentang apa yg ku katakan saat ini. Akupun kembali menjelaskan kepadanya tentang alasan kenapa aku meminta izin seperti ini.
Ku jelaskan padanya tentang Alfy, tentu saja Ibu mengenalnya bahkan ketika pertama kali bertemu Ibuku langsung menyukai sikap sopan dan kepribadian Alfy.
Lebih lanjut aku menceritakan kepada Ibu bahwa aku menyukai Alfy dan begitupun sebaliknya. Tapi Alfy tak ingin pacaran karena dia adalah perempuan sholehah, bahkan aku mengatakan bahwa dia memintaku untuk datang bertemu dengan Ayahnya.
Mendengar hal itu Ibuku tertawa ringan dan lagi itu bukan ekspresi yg ku harapkan darinya. "Mama jadi yakin kalau Fina perempuan yg kamu suka itu pasti orang yg sangat baik. Mama jadi senang anak mama bisa mengenal perempuan itu." ucapnya.
"iya Ma', aku juga maunya seperti itu. Yg aku takutkan cuma perasaanku saat ini, entah kenapa perasaan ini tak bisa aku bendung." balasku dengan memegang dada.
"cinta itu kadang sifatnya memaksa, kamu tidak salah karena sedang jatuh cinta, yg salah itu kalau kamu mengartikan cinta ke hal negatif seperti pacaran misalnya. Benar yg di katakan Fina dan Ibu senang kamu tidak salah dalam mengekspresikan perasanmu." ujarnya.
__ADS_1
"Arman kamu tau, Mama sama Bapakmu tidak berpacaran. Kami sama-sama di jodohkan dengan keluarga." sambung Ibuku.
Lebih jauh Ibu menjelaskan bahwa awalnya dia tidak setuju tapi terpaksa harus menikahi Ayah karena desakan orang tua. Lama kelamaan perasaan mulai tumbuh pada pribadi Ayah yg penyayang.
Hingga lahirlah aku dan Raihan semakin menambah kebahagiaan mereka berdua. sepertinya Ibuku sedang bernostalgia tentang masa lalunya. Tak sadar dia meneteskan air mata dan aku pun memeluk Ibuku.
"Arman.. Yg ingin Mama katakan adalah lakukan apapun yg menurut kamu baik. Mama mendukung apapun yg kamu lakukan selama itu baik. Kalau menurut kamu Fina itu baik dan kamu ada niat baik ingin mencintai dia, maka temuilah ayahnya." ucapnya.
"tapi Ma', jika aku melamar Alfy sekarang. Apa Mama tidak malu dengan omongan tetangga?"
Ini adalah hal yg ku takutkan jika aku menikah di usia yg masih sangat muda. Obrolan tetangga itu ibarat racun yg sewaktu-waktu menyesakkan dada.
"Arman.. Perkataan orang hanya sepanjang lidahnya. Itu tidak merubah atau tidak memengaruhi apapun selama hal yg kamu lakukan baik di mata Allah." ucap Ibuku.
"lagian Mama teringat ucapan Bapak kamu. Dulu sebelum kamu lahir, Bapak kamu bilang kalau misalnya kamu perempuan, dia tidak akan mengizinkan anak perempuannya dekat dengan laki-laki manapun sampai anaknya dilamar. Dan sekarang apa yg kamu katakan ini mengingatkan Mama sama apa yg di ucapkan Bapakmu dulu. Mama yakin hal yg sama juga di rasakan oleh Bapaknya Fina. Maka dari itu, kalau memang kamu cinta.. Silahkan Nak. Kamu bertemu dengan Bapaknya perempuan yg kamu cintai itu dan utarakan niat baikmu." Sambung Ibuku.
__ADS_1
Kalimat ini akhirnya membulatkan tekadku melamar Alfy. Seperti inilah Ibuku, setiap aku bingung dan ada masalah dia selalu memberikan solusi terbaik yg bahkan tidak aku sangka-sangka.
-Bersambung-