
Jika tidak sedang kuliah seperti sekarang, beginilah aktivitas mahasiswa semester akhir, di kantin kalau gak ngegosip ya bahas tugas akhir alias skripsi.
Sebenarnya sekalin Ica dan ilham, masih ada tiga orang lagi teman kampusku yg dekat denganku. Kami berenam sering sekali menghabiskan waktu bersama, tapi sekarang mereka bertigas sedang tidak di kampus.
Ica sedari tadi menatap layar laptop, katanya saat ini otaknya sedanh encer dan dia mulai mengerjakan Proposal skripsi miliknya. Sementara aku dan Ilham terus saja membicarakan hal kosong. Yg membuatku terkejut, Ilham belum melupakan soal kejadian kemarin. "oh iya Man, kemarin lu kenapa sih? Kayak bukan diri lu aja selama ini."
Jika sudah begini aku kembali memasang topeng 'senyum', senjata yg paling bisa aku andalkan saat tak ingin berbicara atau sekedar ingin menghindari pertanyaan seperti itu. "tidak papa, aku hanya ingin merasakan hujan. Rasanya sudah lama tidak mandi di bawah hujan." ucapku sambil tersenyum.
"ah, aneh lu Man. Lu mah kalau ada apa-apa gak mau cerita ke kita." ujar Ilham yg seolah tak terima dengan jawaban sederhanaku.
Ica yg tadi fokus di depan layar laptop juga mulai tertarik dengan apa yg di katakan Ilham. "ada apa nih? Arman kenapa Ham?"
"gak tau nih anak, kemarin aku ketemu dia di pantai lagi hujan-hujanan." terang Ilham pada Ica.
"ah.. Main air hujan. Kenapa kamu Man? Tumben." perkataan Ilham semakin membuat Ica penasaran, aku tak tau lagi mau mengelak seperti apa. Aku hanya merasa masalahku belum bisa aku bagi kepada mereka.
"Man cerita dong, Gue aka sering curhat ke sama lu." ucap Ilham yg terus mendesak.
"aku hanya rindu Bapakku Ham." meski tidak sepenuhnya benar, tapi mengatakan hal ini kepada Ilham dan ica membuat mereka akhirnya berhenti mengulik masalah yg membuat aku merenung kemarin.
Bukan tanpa alasan, karena Ilham dan Ica sudah mengatahui bahwa Ayahku telah meninggal dunia. "duhh sorry yah Man. Kita gak bermaksud untuk ngingetin kamu tentang Bapak kamu." kata Ica menyesal.
Ilham dan ica paham betul, jika sudah menyangkut tentang masalah Ayahku pasti mereka akan diam karena mereka tau betapa aku sangat kehilangan sosok Ayahku.
Sudah cukup lama kami berada di kantin kampus, karena suatu alasan Ilham meninggalkan kami berdua. Sedangkan Ica sudah menyelesaikan urusannya dengan laptop dan buku-buku yg sejak tadi menumpuk di samping laptopnya itu. "Man anterin pulang yah?" ujar Ica sembari membereskan buku dan mematikan laptop miliknya.
"ya elah tadi si Ilham nawarin kamu, tapi di tolak. Giliran Ilham dah pergi malah minta di anter, gimana sih." balasku judes.
"tadikan aku masih ngetik Proposal. Ya udah kalau kamu gak mau." ucapnya sambil manyun-manyun
"tuh kan.. Ngambek. Dasar cewek semua sama aja." tepuk jidat.
__ADS_1
"semua cowok sama aja."
"ya udahlah ayo.... Entar keburu hujan lagi. Gak sudah ngambek gitu. Jelek tau."
"ya udah.." ucap Ica sambil cengar cengir.
Tempat tinggal Ica kebetulan tidak searah dengan rumahku, alhasil aku harus mutar jauh supaya bisa sampai rumah. Mungkin banyak dari teman-teman yg bilang aku ini tidak peka, karena menurut mereka Ica menyukaiku.
Nyatanya aku sudah memastikan bahwa dia tak punya perasaan apa-apa terhadapku, ya.. Aku pernah iseng mengatakan bahwa aku menyukainya tapi dia hanya tertawa sambil memukul pundakku.. Dia tertawa sambil menolakku.
Hal itu ku lakukan untuk memastikan bahwa dia tidak punya perasaan apa-apa dan sejak dia menolakku, akupun jadi lega karena dia tidak baper seperti yg selama ini banyak teman-teman bilang.
Terlebih lagi, teman dekatku yg lain. Ilham sudah mengatakan alasan mengapa dia menyukai Ica. Alasan sederhana yg aneh menurutku tapi perasannya sangat dalam.
"Man.. Kamu tadi kok aneh? " Tanya ica
"aneh kenapa?" kataku sambil fokus melihat ke depan karena sedang berkendara.
"di kantin tadi kamu kayak menghindari sesuatu.. tau gak sih? Kamu nunduk mulu."
"hah..perasaan kamu aja kali. Perasaan biasa aja." lagi-lagi aku mencoba mengelak.
Saat kendaraan berhenti di perempatan lampu merah. Perhatian Ica teralihkan oleh sesuatu "hmm.. Eh itu.. Lihat, bukannya dia Ivan yah?" Kata Ica sambil nunjuk jalan perempatan di sebelah kanan depan etalase toko perhiasan.
"oh iya.. Itu dia. Mungkin lagi cari cincin buat nikah." ucapku.
"kayaknya sih yah.. Sepertinya dia bareng sama mamanya yah?" kata Ica melihat Ivan sedang bersama seorang Ibu.
Karena jaraknya cukup jauh aku tidak yakin siapa Ibu-ibu yg bersama dengan Ivan tersebut. Tapi yg ku tau itu sudah pasti bukan Ibunya Ivan. "hm.. Bukan, Mamanya Ivan gak pake Jilbab."
"trus siapa dong?"
__ADS_1
Aku merasa bahwa aku mengenal Ibu itu, tapi aku tidak yakin "kayaknya aku kenal deh.. Siapa yah?"
Karena perhatianku teralihkan oleh Ivan, tak sadar kendaraan yg berada di belakangku sudah gaduh dengan suara klaksonnya. "Man.. Lampu hijau. Jalan.. jalan." kata Ica sambil menepuk pundak ku dari belakang.
Setelah mengantar Ica sampai dengan selamat, akupun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku bertemu dengan Ivan. Ternyata setelah dia dari toko perhiasan, dia mampir ke rumahku untuk bertemu dengan ibuku. Seperti kataku sebelumnya bahwa aku dan Ivan sudah berteman sejak kecil. Aku sering ke rumahnya begitupun dengan dia yg sering ke rumahku. Bagi ibuku, Ivan ini sudah di anggap sebagai anaknya sendiri terlebih lagi keluarga Ivan sering membantu keluargaku ketika ada masalah.
Ivan sepertinya benar-benar serius ingin menikah, makanya dia datang ke rumah untuk meminta doa kepada ibuku dan aku. Ya.. Sebagai teman dekatnya tentu aku mendoakan yg terbaik untuk dia.
"eh.. Van ngomong-ngomong tadi aku lihat kamu di toko perhiasan." ujarku padanya.
"oh yah... Itu tadi lagi nganterin mamanya Yana Man." ujarnya.
"Yana? Siapa? Calonmu?" tanyaku.
"insyaallah Man. Doain yah."
"masyaallah Van. Trus tadi lagi pesan cincin dong buat nikah." kataku mencoba menggoda.
"hahaha.. Belum Man. Orang masih taaruf kok. Belum jadi. Tadi itu kan aku lagi ke rumahnya Yana buat bincang-bincang sama Abinya. Terus ternyata uminya mau keluar tuh.. Ya udah aku nawarin diri buat nganterin sekalian ke rumah kamu." jelas Ivan
"ohh.. Masyaallah.. Menang satu kosong dong kamu. Haha." balasku sambil tertawa, pasalnya Ivan sudah bisa mengambil hati orang tua perempuan yg akan dia nikahi.
"bisa aja kamu Man. Haha."
"nanti jangan lupa kalau lamaran ajak aku yah." ucapku. Sebagai teman masa kecilnya. Aku tentu senang atas langkah yg di tempuh Ivan unthk menikah di usia yg sangat muda.
"itu pasti Man. Kamu harus datang, soalnya jika bukan karena kamu aku gak bisa mengenal islam." ujarnya.
"alhamdulillah.. Sukses taarufnya van." kataku mendoakan ivan
"aamiin.." balasanya.
__ADS_1
Tak pernah aku melihat Ivan seperti ini, semanjak dia memutuskan menjadi mualaf. Ivan terlihat lebih tenang di kesehariannya bahkan setelah dia menyatakan ingin menikah, wajahnya selalu berseri-seri dan tersenyum bahagia. Melihatnya seperti ini, rasanya aku harus jadi orang pertama yg mendukung dia.
-bersambung-