
(Bagian Flashback)
Malam ini seluruh panitia penerimaan mahasiswa baru tingkat Fakultas berkumpul di lapangan. Sementara di depan panggung terlihat Dzul selaku ketua panitia sedang berbicara, aku sudah menduga dia akan berbicara banyak karena itulah keahliannya.
Tepat sore tadi, penerimaan mahasiswa baru telah selesai. Agenda itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut, berbeda dengan agenda pada tingkat Universitas yg hanya berlangsung satu hari.
Dan malam ini kami semua berkumpul di lapangan Fakultas untuk merayakan kerja keras kami selaku panitia yg telah membuat sukses kegiatan Penyambutan MABA ini. Dzul yg berbicara di atas panggung terus saja mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yg lain.
Hingga akhirnya dia menutup dan membubarkan panitia penerimaan mahasiswa baru tingkat Fakultas malam ini. Semua orang bertepuk tangan dan terlihat senang karena kerja keras untuk mempersipkan kegiatan ini terbayar dengan sukses.
Setalah Dzul turun, terdengar petikan gitar dan seorang perempuan naik ke atas panggung untuk bernyanyi. Kami semua sedikit merayakan keberhasilan dengan pesta kecil-kecilan. Makan bersama hingga berbincang saling mengakrabkan diri sesama panitia yg notanenenya berasal dari jurusan yg berbeda-beda.
Meskipun pesta ini untuk merayakan keberhasilan panitia tapi yg hadir bukan hanya panitia yg terlibat dalam kegiatan ini, pesta ini terlihat ramai karena teman-teman yg lain juga turut hadir seperti teman seangkatan yg tidak ikut dalam kepanitiaan, Junior sampai senior juga hadir pada malam ini.
Mungkin aku tipe orang yg tidak terlalu suka keramaian, olehnya aku lebih memilih berada di pinggir lapangan sembari menikmati musik akustik yg sedang terdengar. Aku bersama Adi dan Gina yg juga berada di sampingnya.
Mereka berdua terlihat sedang membicarakan sesuatu dan sesekali tertawa. Di tengah lapangan, di keramaian orang aku melihat Wahid sedang berbicara dengan salah satu panitia yg tidak aku kenal."Arman, Ilham gak ke sini?" tanya Gina.
"tadi aku udah coba telfon tapi gak aktif. Aku WA juga gak terkirim." jawabku.
"Kamu udah baikan belum sih sama dia?" tanya Adi.
"aku belum bicara sama dia selama 5 hari ini." jawabku sambil melihat langit yg tak berbintang
"emang kenapa?" tanya Gina penasaran.
"gak papa, cuma salah paham. Biasalah anak cowok." jawab Adi.
Terakhir aku berbicara dengan Ilham pada saat aku mengatakan hal yg mungkin membuatnya marah, walaupun berniat baik kadang seseorang tidak bisa menilai niat orang lain jika sedang mengalami masalah cinta.
Dan sejak saat itu aku tidak pernah melihat Ilham di kampus, aku selalu menghubunginya tapi nomor telponnya selalu tidak aktif. Aku sempat datang ke rumahnya tapi dia tidak berada di rumah kata Ibunya.
Aku benar-benar tidak tau dia sekarang ada dimana. Bisa jadi saat ini dia membenciku karena perkataanku waktu itu. Aku sangat ingin meminta maaf padanya.
"hi semua." Ica terlihat keluar dari kerumunan orang yg berada di tengah lapangan dan menuju ke arah kami, di sampingnya tentu saja Immang.
"kenapa diam di sini?" tanya Ica.
"Kamu tau sendirikan Ca', aku gak terlalu suka keramaian." balasku.
"eh bro Ilham mana?" tanya Irwan tiba-tiba.
"lihat sendiri kan dia gak di sini, ngapain nanya?" jawab Adi judes.
"Adi.." Kata Ica melihat Adi, seakan menegur Adi agar tak melakukan itu lagi.
"gue jarang aja lihat dia kumpul bareng kalian lagi." Ujar Irwan
"iya sama kayak Ica." balas Gina.
"Gin...maaf..." respon Ica memegang tangan Gina.
"sorry, gue ngambil Ica dari kalian." lanjut Irwan
Entah mengapa malam ini Irwan berbeda dari biasanya, malam ini dia sedikit ramah dari biasanya.
Ica dan Gina akhirnya menghabiskan waktu bersama, mereka berdua sudah lama tidak ngobrol santai seperti saat ini sedangkan Adi mendekat ke meja makan mengambil sedikit cemilan. Aku masih di tempat yg sama memandang keramaian dari jauh. "gue tau kalian semua gak suka sama gue." Kata Irwan.
"..." aku menatapnya.
"mungkin ini terdengar aneh, tapi sepertinya gue bener jatuh cinta dengannya." jelas Irwan
"cinta memang aneh." kataku datar.
__ADS_1
"gue merasa harus membahagiakan Ica."
"itu adalah kewajiban, karena kalau sampai tidak kamu akan berurusan denganku." balasku menatap tajam matanya.
Irwan tertawa mendengar perkataanku. "ternyata elu bisa sesangar itu, gue gak nyangka."
"denger bro, Ica adalah temanku. Kalau kau ingin membahagiakan dia itu bagus tapi kalau kau hanya main-main dengannya biar ku perjelas sekali lagi, kau akan berurusan denganku." kataku sambil mendekat dan memandang tajam matanya seolah menantang.
Irwan tersenyum. Dan berkata. "gue udah bilang, sekarang gue beneran sayang sama dia."
Baru kali ini aku melihat mata yg terlihat jujur dari Irwan, selama ini dia hanya bermain-main dan aku yakin itu tapi hari ini dia sedang serius. Aku duduk kembali setelah memastikan perkataan Irwab, aku kembali memandang langit tak berbintang.
"oi." Kata Wahid.
"yo." balasku sambil bersalaman, salaman pertemanan yg sering akmi lakukan berempat.
"hi bro." Kata Irwan menyapa Wahid.
"hi.., Adi mana?"
"tuh dia." kataku menunjuk Adi yg sedang menikmati cemilannya.
"btw thank u Man, udah bantuin aku selama kepanitiaan ini." Kata Wahid.
"santai aja bro. Ngomong-ngomong tadi aku lihat kamu sama cewek, siapa tuh?" kataku menggodanya.
"hah.. Oh itu, namanya Ike."
"Ike dari Jurusan Komunikasi." sambung Irwan.
"ya." balas Wahid sambil berbalik ke arah Immang.
"sudah ku duga kalau cowok populer kayak kamu bisa tau setiap cewek cantik di kampus ini." kataku kepada Irwan
"gue gak pernah berharap jadi cowok populer bro." balas Irwan.
"gak ada kabar."
"hi Wahid." Kata Ica yg terlihat mendekat setelah berbicara banyak dengan Gina.
"hi Kalian berdua." balas Wahid.
Kami pun kembali membicarakan sesuatu yg tidak penting, mulai dari hal kecil hingga hal yg besar. Bukan bobot pembicaraan yg jadi topik utama tapi kebersamaan yg kami lewatkan malam ini, itu yg labih penting.
Waktu memang tidak bisa di ajak kompromi, malam ini panitia resmi di bubarkan dan pesta kecil-kecilan telah berakhir. Meski suasana masih ramai tapi aku memilih untuk kembali karena pada dasarnya aku tidak terlalu menyukai keramaian.
Sudah jam 11 malam, bagiku sudah sangat malam tapi teman-teman yg lain masih menganggap jam 11 masih terlalu dini untuk menghentikan kebersamaan. Seperti itulah dunia kampus, waktu tidur malam akan berkurang. Jika tidak menghabiskan waktu malam dengan tugas kuliah, maka waktu malam akan habis karena kegiatan kampus atau hanya sekedar bersama dan berbincang.
Aku berjalan menuju parkiran kampus, sebelum aku putuskan untuk pulang aku terlebih dahulu pergi ke komplek UKM karena ada barang yg harus aku ambil di sekretariat UKM Karate.
Setelah sampai, tak sengaja aku melihat Ilham sedang duduk sendiri di taman yg gelap. Dia sedang di temani secangkir kopi hitam kesukaannya. Tanpa fikir panjang aku menghampiri nya untuk menyapa. "Ham.."
Ilham menoleh kepadaku, dia menatapku sesaat dan kembali menyeruput kopi hitamnya.
"huff, ada apa bro?" katanya.
"boleh gak aku gabung."
"tentu aja, santai bro."
Aku mendekat dan duduk di sampingnya, dia menyodorkan kopi hitam miliknya kepadaku, dengan sungkan aku mengambil dan meneguk kopi hitam itu. "dari mana?" tanya Ilham.
"dari Fakultas." jawabku.
__ADS_1
"oh."
"iya."
Pembicaraan yg cukup canggung ini menggangguku, akhirnya aku berterus terang kepadanya. "Ham. Aku minta maaf."
Ilham melihatku, dia terlihat bingung dengan apa yg ku katakan. "Maaf? Kenapa lu Man? Sakit?" balas Ilham.
Aku sedikit terkejut dengan respon Ilham yg seperti itu, aku bingung dan tak tau harus mulai dari mana mengatakan hal itu padanya.
"Ham. Anu, ingatkan waktu itu aku sempat benak kamu."
"bentak? Yg mana?"
"itu yg bertiga, bertiga dengan Adi. Aku nyuruh kamu buat lupain Ica."
"oh itu, iya iya."
"maafin aku Ham, aku gak bermaksud buat ngomong kayak gitu ke kamu."
"ya ampun Man. Gue gak tersinggung sama sekali karena apa yg lu bilang itu bener." jelas Ilham.
"jadi kamu gak marah?"
"gue bukan anak kecil, yg marah cuma gara-gara perkataan kayak gitu."
"tapi selama seminggu ini kamu jarang di kampus. Ada apa?" tanyaku.
"oh. Itu gue hanya butuh waktu buat mikirin perasaan gue. Gue butuh waktu buat berfikir jernih."
Ilham mengatakan bahwa dia memikirkan apa yg ku katakan, dia benar-benar memikirkannya. Selama dia menghilang dia mencoba meyakinkan perasaannya hingga dia menyadari bahwa perasaannya benar, dia mencintai Ica tapi sekarang waktunya untuk menyerah, menyerah dari harapan-harapan palsu yg coba di bangun oleh Ilham sendiri.
"jadi Ham, kamu nyerah?" pertanyaan yg seharusnya tidak aku tanyakan.
"iya Man. Saatnya menyerah, bukan karena gue gak cinta tapi tau diri itu perlu dalam mencintai."
"tau diri yah." balasku sambil merenungi perkataan Ilham.
"iya, tau diri Man. Jika tidak begitu gue pasti bakal melangkah lebih jauh dan akhirnya tersesat bayang-bayang yg gue buat sendiri." jelas Ilham.
"Kamu benar Ham."
Sepertinya perkataan Ilham membuatku memikirkan perasaan yg juga ku miliki, perasanku terhadap Alfy. "oh iya, gue dengar di Fakultas lagi rame?"
"iya, pembubaran panitia."
"apa lu lihat Ica?"
"iya, dia bareng terus sama Irwan."
"oh, apa dia bahagia?"
"sepertinya dia sangat bahagia?" Jawabku
"apa menurut lu Irwan bakal nyakitin dia?" tanya Ilham menoleh kepadaku.
Aku sampai berfikir ingin mengatakan iya, tapi setelah aku bertemu Irwan malam ini di Fakultas dan mendengar bahwa dia mencintai Ica akhirnya aku berkata yg sebaliknya. "tidak Ham." tegasku.
"yakin lu Man?"
"aku gak yakin, tapi.. Menurutku Irwan benar mencintai Ica."
"gue ngerti. Makasih Man."
__ADS_1
Aku melihat Ilham mengeluarkan gelang manik-manik warna hitam miliknya dan dia menggenggam gelang itu seakan tak ingin berpisah dari cinta masa kecilnya. Berat bagi seorang Ilham harus melepaskan janji yg sudah di ucapkannya dahulu kepada gadis cilik pemilik gelang hitam itu.
-Bersambung-