Kamu & Senja

Kamu & Senja
Ketetapan Hati


__ADS_3

Sedang istirahat makan siang, Ivan yg baru saja menyelesaikan urusannya dengan Dosen Pembimbing berjalan munuju kantin untuk mengisi Perutnya yg sedari tadi telah memberi tanda untuk di isk makanan. “Assalamualaikum Ivan.” Kata Sabri menyapa Ivan yg di temuinya secara tidak sengaja.


“waalaikumsalam.” Balasnya.


“mau kemana?”


“mau ke kantin akhi.”


“oh iya sebentar sore jangan lupa yah di mesjid kampus.”


“insyaallah Akhi.”


“jangan lupa ajak Arman.” Kata Sabri.


“nanti aku kabari dia, bukannya kamu sejurusan sama dia.” Balas Ivan.


“iya tapi sudah sebulan ini aku tidak melihat dia.”


“oh iya akhi, entar aku coba kontak dia.”


“baiklah. Kalau begitu sampai ketemu, assalamualaikum.” Kata Sabri pergi menjauh.


“waalaikumsalam.” Balas Ivan.


Ivan lanjut berjalan menuju kantin, sampai di kantin seperti biasa dia memesan nasi kuning favoritnya. “hi Ivan.”


Ivan menoleh dan melihat Dian di belakangnya.


“hi..”

__ADS_1


“aku boleh duduk.” Kata Dian.


“silahkan.” Balas Ivan.


“Van.. Aku dengar dari anak-anak yg lain kamu sebentar lagi mau nikah?”


“insyaallah, doain aja.” Balas Ivan santai.


“kamu udah berubah yah Van.”


“alhamdulillah, ini berkat Hidayah dari Allah.”


“kamu tau gak, sejak putus dari kamu Van. Aku belajar satu hal, ternyata sulit menemukan cinta sebaik kamu. Aku begitu bodoh, aku...”


“Dian.. Kamu tidak bodoh, yg bodoh itu aku. Dulu aku begitu mencintai kamu hingga aku tidak bisa membedakan mana yg baik dan buruk. Tapi itu masa lalu buatku, sekarang berbeda dan ku harap kamu juga berubah.” Jelas Ivan.


“maaf.. Kita tidak seharusnya bersentuhan.” Balas Ivan melepas tangannya dari sentuhan Dian.


Ekspresi Dian mulai berubah, dia menutup matanya dengan kedua kelapa tangan dan terdengar isak tangis. “kalau pun kau menangis di sini dengan suara keras, itu tidak akan mengubah apa-apa.” Kata Ivan mempertegas pendiriannya.


“Maaf.. Aku tidak bermaksud seperti ini. Aku... Aku hanya tidak bisa melupakanmu.” Dian lalu beranjak dari kursi dan meninggalkan Ivan.


Sejak mereka putus, Ivan benar-benar terpukul bahkan dia sempat jatuh sakit. Imbasnya adalah nilai kuliah yg mengalami penurunan, bahkan dia sempat ingin cuti kuliah untuk mengatasi masalah hatinya itu. Berat perjuangannya agar bisa melupakan kekasih yg di cintainya dulu. Sampai pada saat dia memutuskan untuk menjadi mualaf, perlahan dirinya sudah bisa mengontrol emosi dan menghilangkan penyakit hati itu.


Terlebih sekarang Ivan memiliki pujaan hati baru, pujaan hati yg dianggapnya lebih baik karena pujaan hatinya ini lah yg kemudian membuat dia mengenal islam. Walaupun mereka jarang bertemu, walaupun mereka saat ini tidak menjalin hubungan apa-apa, tapi Ivan benar-benar menaruh hati kepadanya. Saat ini Ivan masih proses saling mengenal dengan gadis itu, mereka sedang menjalani ta’aruf.


Setelah menyelesaikan makanannya, Riyal memutuskan untuk menghubungi Arman.


“assalamualaikum.. Lagi dimana Man?”

__ADS_1


“waalaikumsalam, di kampus Van.”


“aku mau ngajakin kamu nih ke majelis ilmu di mesjid kampus. Bisa gak?”


“waduh gimana yah, kayaknya aku gak bisa Van. Lain kali deh.”


“oh gitu, ya udah.”


“iya Van. Assalamualaikum.”


“waalaikumsalam.”


Sejak Ivan jadi mualaf, aku memperkenalkan Ivan dengan Sabri salah satu temanku yg juga tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus. Sejak saat itu dia banyak belajar dengan Sabri dan sepertinya dia sudah mengalahkanku dalam ilmu agama.


Aku pun sebenarnya sejak saat itu mulai belajar agama, tapi entah kenapa akhir-akhir ini iman lagi down. Aku paham betul pentingnya belajar agama apa lagi sekarang banyak orang yg berkomentar terkait agama tapi jika di telusuri mereka hanya belajar agama di sekolah itupun belajar dengan tuntutan materi sekolah bukan belajar karena ingin tau kebenaran.


Parahnya tak sedikit juga yg berkomentar tentang agama tapi sama sekali tak pernah belajar tentang agama yg di komentarinya, hingga dia menganggap agama hanya mengekang dan berlawanan dengan hak manusia. Orang seperti inilah yg di sebut tong kosong nyaring bunyinya.


Yg aku salut dengan Ivan dan mereka yg mualaf adalah semangatnya, mereka belajar karena ingin mengetahui kebenaran dan tak jarang ilmu agama seorang mualaf lebih banyak di banding mereka yg beragama sejak lahir.


Orang yg beragama sejak lahir sepertiku kadang bersikap acuh atau malas untuk sekedae balajar tentang agama yg di anutnya.


Suara smartphone Ivan berbunyi, tanda notifikasi pesan WA. Dia pun membuka smartphone tersebut dan melihat ternyata itu adalah pesan dari orang tua gadis yg saat ini sedang ta’aruf dengannya.


Di pesan itu mengatakan bahwa minggu depan anaknya akan memberi jawaban terkait kelanjutan proses ta’aruf mereka berdua yg artinya minggu depan adalah penentu jadi atau tidaknya dia menikah dengan gadis itu.


Ivan tersenyum, dia bertawakkal kelada Tuhan dan berserah diri. Jika mereka berdua memang jodoh maka pasti akan bersama dalam ikatan halal.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2