
Malam ini begitu mencekam untuk Ica, setelah sebelumnya di seret ke dalam sebuah mobil dan sekarang dia berada di sebuah ruangan dengan pencahayaan yg kurang. Pandangannya kabur setelah sebelumnya di suntik dengan obat bius agar dia tak sadarkan diri.
Saat ini, hanya ada dirinya di sebuah ruangan tanpa ada orang lain yg terlihat. Sedikit demi sedikit kesadarannya kembali dan mulai merasa bahwa dia di ikat di sebuah kursi dengan mulut yg di tutupi plaster hitam.
Saat kesadarannya kembali dengan utuh. Dia mulai meronta mencoba melepaskan diri dari ikatan tersebut. Sekuat tenaga dia berusaha agar bisa lepas, sambil mencoba berteriak meminta pertolongan dengan mulut yg tak bisa bicara.
Keringatnya mengucur deras, jantungnya berpacu menandakan bahwa keadaannya saat ini sangat panik melihat bahwa dia di culik oleh orang asing. Saking paniknya dia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yg akan menimpanya saat ini.
"bagaimana jika mereka menjual orgam dalamku? Bagaimana jika mereka menjualku? Bagaimana jika.. Bagaimana jika..." benaknya saat ini.
Memikirkan hal itu membuat dia menangis, situasi saat ini benar-benar menakutkan untuknya. Dia tak bisa mengontrol emosinya dan terus menangis sambil meronta mencoba melepaskan diri dari ikatan tali di kursi kayu tersebut.
Jika melirik sedikit saat pertama kali dia di seret paksa ke dalam mobil. Ica dengan kekuatan yg di milikinya berusaha melepaskan diri tapi apa daya, dua pria berbadan kekar yg memegangnya sangat cukup membuat dia diam. Meski dia berteriak tapi tak ada satupun orang yg mendengar teriakan minta tolong di sepanjang jalan.
Saat itu, Ica melihat ada sebuah kesempatan. Terlihat orang yg memegangnya terlibat pembicaraan dengan seseorang yg mereka panggil dengan sebutan Bos yg duduk di kursi depan mobil. Ica mengambil kesempatan itu dengan meraih smartphone miliknya, karena tak punya waktu untuk menghubungi polisi. Dia hanya membuka aplikasi WA dan riwayat chat pertama yg terlihat dalam aplikasi tersebut adalah kontak dari Ilham.
Dengan sigap Ica mengetik "tolong" dan langsung mengirim pesan tersebut kepada Ilham. Sayang bagi Ica hal yg dia lakukan itu ternyata ketahuan oleh pria yg berada di sebelah kirinya dan membuat Bos yg berada di kursi depan untuk membius Ica agar tidak sadarkan diri.
Setelah kejadian itu, Ica tak tahu apa-apa dan apa yg terjadi setelah dia di bius. Memikirkannya saja sangat menakutkan dan hal itu semakin membuat dia gemetar sambil mengeluarkan air mata.
Di tengah ketakutannya, tiba-tiba pintu yg berada tepat di depannya terbuka dan terlihat beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu. Ica semakin gemetar melihat semua pria yg sekarang ada di depannya.
Pandangan Ica menjadi kabur karena tiba-tiba ruangan yg tadinya gelap menjadi terang. Sesaat kemudian dia bisa melihat keseluruhan ruangan. Ternyata Ica saat ini berada di dalam sebuah kamar tidur, terlihat di samping kanannya sebuah ranjang dan di sebelah kirinya seperti meja kerja dengan tumpukan plastik yg berisi bubuk warna putih.
Ica meronta.. Dia terus mencoba untuk teriak minta tolong dengan histeris tapi apa daya dia tak bisa melepaskan ikatan yg kuat itu darinya. Saat mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga, seorang pria gemuk berkumis tebal masuk dan duduk tepat di depan Ica.
"lu yakin cewek ini orangnya?" Pria itu terlihat berbisik dengan salah seorang dari mereka.
"iya Bos, cewek ini yg gue lihat satu tahun lalu."
Ica yg melihat hal itu tambah ketakutan di buatnya. Dia terus saja histeris dan minta tolong dengan sekuat tenaga sampai pergelangan tangan yg terikat menjadi merah karena dia mencoba untuk melepaskan ikatan kuat itu.
"buku penutup mulutnya." ucap pria yg duduk tepat di depan Ica.
Seorang pria lain lalu mendekat dan melepaskan belenggu yg membuat Ica tak dapat berbicara.
"tooloongg.. Siapa kalian? Toloong.. Lepaskan aku.." ucap Ica sangat panik sesaat setelah belenggu mulutnya di terbuka.
Ica terus berteriak, kali ini dia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk meminta tolong.
__ADS_1
"percuma saja, tidak akan ada yg menolong elu di tempat ini." ucap pria yg berada di depannya.
"siapa kalian? Mau apa kalian?" ucap Ica panik minta ampun.
"sekarang.. Kalau nyawa lu pengen selamat. Sebaiknya lu jawab dengan jujur pertanyaan gue."
Ica melihat sekeliling mencoba mencari peluang tapi jalan satu-satunya adalah pintu yg berada di depannya. Terlebih lagi ada 3 orang pria yg berada di depannya saat ini. Dalam kepanikan, Pria itu lalu berkata. "dimana Irwan sekarang berada?"
Ica terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan isak dia menjawab. "aku tidak tahu."
Plakk
Pria itu menampar Ica dengan keras sampai dia terjatuh bersama dengan kuris kayu tersebut. Ica kesakitan dan meminta maaf, terus menangis sambil histeris, minta tolong dengan frustasi.
"kalau lu mau hidup, sebaiknya lu jujur. Dimana Irwan sekarang berada? Hah?" tanya pria itu dengan membentak dan menarik rambut Ica.
"ah.. Tolong, sakit. Aku tidak tahu. Sumpah aku.. Tidak tahu." ucapnya kesakitan.
"eh.. Cewek brengs**, asal lu tau. Irwan punya utang yg belum dia bayarkan. Sudah setahun gue cariin dia... Dan kata anak buah gue, elu adalah cewek yg datang ke pabrik satu tahum yg lalu bersama dengan Irwan. Jadi lu gak usah boong sama gue."
"aku tidak tahu.. Aku tidak."
Plakk
Tamparan kedua membuat hidungnya mengeluarkan darah. Sementara pria itu masih memegang rambut Ica dengan kasar.
"lu jangan boong yah."
"aku berkata jujur.. Ya Allah..." balas Ica terisak.
"ok.. Kalau lu ngak tau, sebaiknya lu yg bayarin utangnya."
Pria itu lalu menyuruh kedua anak buahnya melepaskan ikatan yg membelenggu Ica dari kursi kayu. Spontan Ica mencoba berlari keluar dengan mendorong pria yg berada di depannya tepat setelah ikatan pada kursi kayu terlepas. Dia berlari keluar kamar tersebut dan saat berlari keluar, dia terkejut karena sekarang dia seperti berada di pabrik yg sangat besar. Ada banyak orang yg terlihat bekerja sedang memproduksi sesuatu.
"tolooong.. Tolong.." ucapnya panik.
Seseorang lalu mendekapnya dari belakang dan kembali memaksanya masuk ke dalam kamar tersebut. Tubuh Ica di hempaskan ke lantai sampai dahinya sedikit lecet dan berdarah. Ica terus menangis minta tolong dan histeris dengan keadaan yg di alaminya saat ini.
"gue udah bilang, lu gak akan bisa keluar dari sini." ucap pria yg di sebut Bos oleh dua orang pria lainnya.
__ADS_1
"sekarang kita ada di dalam hutan. Hahahaha." sambung si Bos.
Ica tambah panik mendengar hal itu, dia terdiam. Air matanya semakin deras dan dia tak tahu harus berbuat apa.
"cantik juga lu yah."
Ica mengangkat wajahnya, dia histeris saat pria yg di sebut Bos tersebut mendekat dengan wajah penuh nafsu.
"mau apa kamu.. Mau apa.. Tidak.. Tiidakkk." teriaknya histeris.
"kalian berdua keluar."
Bos tersebut menyuruh kedua anak buahnya keluar dari kamar tersebut.
"Bos.." ucap salah satu anak buahnya.
"iya iya.. Habis ini giliran kalian." balas si Bos.
Ica semakin histeris, dia meronta, berteriak dan mencoba melawan sekuat tenaganya. Terlebih saat kedua anak buah itu keluar dan menutup pintu.
Ica berdiri dan mencoba mengambil barang apapun yg dapat dia gunakan untuk membela diri.
"sudahlah. Lu gak usah ngelawan, gak ada gunanya." ujar pria itu sambil membuka pakaiannya.
Ica gematar ketakutan, dia masih mencoba mencari alat yg ada di dalam kamar tersebut.
"kesalahan terbesar lu adalah mengenal Irwan. Sekarang lu yg harus tanggung jawab dengan utang-utangnya. Lu harus melayani gue malam ini. Hahahaha."
"tidak.. Tiidakkk.. Aku tidak ada hubungannya tentang Irwan." balas Ica gemetar.
"baiklah.. Sekarang.. Ayo mendekat, udahlah.. Lu gak usah ngelawan."
Ica tampak frustasi. Dia meminta tolong sekali lagi dengan sekuat tenaga.
Plakk
Si Bos menampar Ica dengan keras hingga membuat dia terpental ke arah kanan. Si Bos mendekat dan mulai memaksa Ica agar membuka pakaiannya. Tiba-tiba..
-Bersambung-
__ADS_1