Kamu & Senja

Kamu & Senja
Traktiran


__ADS_3

Aku masih ingat waktu pertama bertemu, dia terlihat sangat cantik dengan pakaian tertutupnya. Aku menyesal pernah berpikir untuk menjauh darinya. Bahkan saat ini pun aku sangat ingin seperti dulu lagi, bertegur sapa, berbalas pesan meski singkat, atau setidaknya melihat dia dari dekat.


Pada akhirnya, takdir benar-benar tidak berpihak padaku saat ini. Marah bercampur sedih mengawali perpisahanku dengannya. Kehilangan kendali waktu itu, membuat aku yg sekarang menyesal. Terlebih saat melihat kejadian yg membuat dia jatuh sakit.


Selain menyakiti hatinya, aku juga menyakiti raganya. Sungguh kejam, masih Pantaskah aku berharap agar kembali seperti saat itu, saat dimana aku dan dia tidak terpisah oleh takdir yg kejam.


"Man.. Arman.."


"eh. Iya Ma."


"kamu kenapa Nak? Di depan makanan kok ngelamun."


"gak papa Ma."


Entah mengapa belakangan ini aku sering melamun. Mengingat hal yg seharusnya tidak aku ingat.


"Kamu gak ke kampus?" tanya Ibuku.


"enggak Ma. Gak ada kegiatan."


"loh bukannya hari ini Ilham ada ujian ya." Kata Ibuku.


"oh iya.. Arman lupa."


Bagus, karena lamunan yg tidak perlu aku jadi lupa kalau salah satu teman baikku hari ini sedang ujian proposal. Semalam Gina sudah mengingatkan ku tentang hari ini. Di lihat dari jam yg sudah menunjukan angka 9 normalnya ujiannya telah selesai. Tapi aku tetap harus pergi, bagaimanapun Ilham adalah teman baikku.


Setelah menyantap sarapanku, akupun bergegas ke kampus.


Di tempat lain, di ruang dosen Fakultas Ekonomi, terlihat Ivan sedang berdiskusi dengan salah satu Dosen pembimbingnya mengenai hasil penelitian yg telah dia rampungkan.


Iya, sepertinya Ivan juga tidak berencana untuk Berlama-lama di kampus. Terlebih dia sudah punya planning jelas ketika meninggalkan kampus ini.


Seperti Ayahnya, dia akan melanjutkan studinya sambil berbisnis setelah lulus nanti dan berencana melanjutkan pendidikannya luar negeri tentu dengan mengajak calon istrinya ketika dia sudah menikah. Rencananya, dia akan menikah setelah wisuda dan langsung terbang ke Amerika untuk mengambil kuliah pasca sarjana sambil menjalankan bisnis anak perusahaan Ayahnya.


Banyak hal yg membuat hidup Ivan penuh warna dan yg paling berpengaruh mungkin adalah perempuan yg sebentar lagi akan menikah dengannya. Pepatah yg mengatakan bahwa "dibalik pria sukses terdapat wanita kuat" itu terbukti di hidup Ivan.


"ya sudah, sepertinya hasil penelitian ini sudah benar. Tinggal di perbaiki saja penulisannya. Nanti setelah Prof Anggun ttd kamu langsung maju saja untuk ujian meja." Ujar Dosen pembimbing ke dua Ivan.


"alhamdulillah. Kalau begitu setelah Prof Anggun ttd, nanti Bapak Juga ikut ttd?" tanya Ivan.


"iya, tentu saja."


"baik Pak. Kalau begitu saya permisi." assalamualaikum." Kata Ivan sambil keluar dari ruangan tersebut.


Ivan berjalan keluar ruangan dengan wajah girang, tentu saja karena tidak ada hal yg paling membahagiakan untuk mahasiswa semester akhir selain acc ujian meja/tutup.


Ketika hendak memasukkan berkas skripsinya ke dalam tas, Smartphone Ivan berdering karena ada pesan WA dari perempuan yg sebentar lagi akan jadi istrinya.

__ADS_1


"assalamualaikum.. Maaf mengganggu waktu kamu. Bisa gak kita bertemu. " Kata Ivan membaca pesan WA tersebut.


Masih dengan waktu yg sama, di tempat berbeda.


"cie cie.. Yg udah proposal.." Kata Gina yg menggoda Ilham.


"pucat banget tadi di dalam ruangan. Hahaha." ledek Adi.


"ampun.., Ibu Gusti sangar juga. Untuknya ada Ibu Ariana yg backup gua." ucap Ilham.


"ya udah, jangan lupa. Sekarang saatnya penelitian. Awas jangan malas-malas." Kata Gina.


"iya iya Gin. Udah kayak emak gua aja lu." balas Ilham.


"jadi boleh pesen makan dong.. Traktir lah." Kata Adi.


"iyalah.. Laper." lanjut Wahid.


"iyaiya ***, makan aja. Eh ngomong-ngomong si kampret Arman mana yah?"


"tau.. Udah aku chat tapi tidak terkirim." Kata Gina.


"noh dia.." tunjuk Adi.


"wah.. Sorry-sorry ma bro. Aku telat." ucapku.


"sorry lah.. Yah.. Selamat bdw udah selesai proposal." kataku sambil menjabat tangan Ilham.


"telat lu. Lu gak lihat tadi mukanya si Ilham pas Ibu Gusti yg nanya." Kata Aan salah satu teman angkatanku.


"hahahaha. Asli pucet tadi." Kata Adi.


"oh iya, Ica mana Gin?" tanyaku.


"dia lagi ke luar kota, ada acara keluarga katanya."


"kasian dong Ilham gak sempet di semangatin sama Ica." Kata Adi.


"paan sih." balas Arman.


"eh Ica jadi gak sih ujian hasil minggu depan?" tanya Wahid kepada Gina.


"yaelah baru juga gua udah selesai proposal, Ica udah mau selesai aja." gumam Ilham.


"kayaknya gak jadi deh, mungkin dia maju ujain awal semester nanti di bulan depan." balas Gina.


Seperti yg sudah ku katakan sebelumnya, bahwa Ica adalah mahasiswa cerdas. Jika benar nanti dia ujian hasil di awal semester, maka dia jadi mahasiswa pertama yg yudisium/selesai di angkatan Jurusanku atau bahkan Fakultasku.

__ADS_1


"ya udah Man, pesen makan gih. Tenang gua yg bayar." lugas Ilham.


Entah dari mana mulanya tapi mungkin perilaku ini sudah jadi kultur untuk mahasiswa yg selesai ujian proposal ataupun ujian akhir/meja.


Mahasiswa yg sudah ujian akan neraktir teman-temannya. Enak sih, tapi menurutku malah memberatkan. Kalau punya banyak uang ya gak apa tapi kalau pas-pasan apa lagi akhir bulan kan bisa apes juga.


"gak papa Ham, aku udah makan di rumah tadi." balasku.


"Man gak baik nolak rejeki." balas Adi yg sedang mengunyah makanannya.


"ya udah aku minum aja lah."


"ya udah pesan sendiri sana." Kata Ilham.


Aku pun berdiri dari bangku dan berjalan menuju salah satu stand minuman yg ada di kantin kampus.


Entah mengapa hari ini Ilham mengajak yg lain untuk makan di kantin kampus pusat, meski biasanya nongkrong di kantin Fakultas.


Jika ditanya perbedaan antara kantin yg ada di Fakultas dengan Kantin Pusat, mungkin jawabannya adalah harga dan varian makanan.


Jika di kantin Fakultas bisa di temukan makanan-makanan rumah dan jajanan murah terlebih juga bisa ngutang jika belum dapat kiriman uang dari orang tua, maka di kantin pusat makan yg tersedia lebih banyak makanan restoran serta harga yg sedikit agak mahal dan tentu saja gak bisa ngutang.


Jadi intinya makan di kantin pusat bisa meningkatkan kelas sosial di kampus. Tidak heran yg makan di kantin pusat kebanyakan mereka adalah mahasiswa dari Jurusan atau Fakultas bergengsi seperti Kedokteran, Ekonomi, Hukum, dll.


"mba, Jus Semangkanya satu gak pake air gula." kataku kepada penjaga salah satu stand minuman.


Saat menunggu minumanku, seseorang memanggil dari belakang. "Arman."


"Riyal." kataku saat berbalik.


"apa kabar?"


"alhamdulillah baik, kamu Yal?"


"baik."


Karena lama tidak bertemu dengan Riyal, akhirnya kami berduapunĀ  sedikit berbincang satu sama lain.


Seperti yg ku duga, Riyalpun sekarang sedang sibuk dengan skripsinya. Dan setelah wisuda, sebagai calon Dokter maka dia harus koas di rumah sakit untuk mendapatkan lisensi Dokter.


Selain itu, Riyal juga mengatakan bahwa Ana salah seorang teman kelompokku saat pertukaran pelajar di Malaysia juga sedang sibuk dengan skripsi.


Dan yg lebih mengejutkan adalah Nursahidah, seorang mahasiswi asal Malaysia yg banyak membantu kami berempat ketika studi banding di kampusnya.


Kata Riyal, Sahidah akan ke Indonesia minggu depan untuk berlibur dan dia berharap agar kami bisa berkumpul.


"hah? Sahidah mau ke Indonesia."

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2