
(Bagian Flashback)
Suara detik jarum jam terdengar jelas, keringat di wajah mengucur deras. Wajah-wajah panik di kelas mulai nampak, mengingat perkataan Ibu Gusti yg mengatakan bahwa waktu yg tersisa tinggal 5 menit lagi.
5 menit yg terasa cepat bagi mereka yg mengetahui jawaban dari soal-soal mid semester mata kuliah Administrasi Pembangunan yg saat ini ada di depan mata kami.
Sudah sejam berlalu sejak Ibu Gusti masuk dan membagikan soal mid semester dan dalam waktu sejam itu semua mahasiswa yg ada di kelas ini duduk, diam, tenang dan fokus pada soal.
Sedikit gerakan saja maka out dari ruangan, ya.. Kurang lebih seperti itulah jika Ibu Gusti yg mengajar maupun mengawas.
Setelah menunggu 5 menit itu, akhirnya Ibu Gusti menginstruksikan agar soal dan lembar jawaban di kumpul di atas mejanya.
Aku yg sedari tadi cukup percaya diri dengan hasil yg akan ku dapatkan berjalan ke arah meja Ibu Gusti dan mengumpulkan hasil ujianku. Sementara Ilham yg berada di sampingku terlihat ragu dan pusing karena masih ada beberapa soal yg belum dia jawab.
Setelah hasil di kumpul, Ibu Gustipun keluar ruangan. Kelas yg tadi kaku dan hening seketika berubah gaduh. Teman-teman mulai melakukan peregangan karena otot-otot yg tegang mengingat selama sejam tidak bergerak dari kursi tempat duduk mereka.
"aahh.. Ancur dah." gumam Ilham.
"Kenapa?" tanya Adi.
"biasalah. Hasil ujian gua."
"gak papalah, mengulang sekali-kali." kataku.
"iya kalau sekali-kali, lah gua berkali-kali." ujarnya.
Kami tertawa mendengar keluhannya. "makanya belajar." Kata Gina kepada Ilham.
"heran gua sama Ibu Gusti, perasaan kalau dosen yg lain ngasih ujian gampang-gampang, kok dia susah ya." gumam Ilham sekali lagi.
"gak usah nyari alasan. Makanya belajar." balas Gina sekali lagi.
Dan sekali lagi kami tertawa. "yaelah.." gumam Ilham.
"oh iya, gimana? Ada kabar baik gak?" tanya Adi.
"kabar baik?"
"itu anak dokter." sambungnya.
"oh, sore ini aku bakal nembak dia." kataku tegas.
"asyiap...." Kata Ilham.
"siap siap" balas Adi sambil menunduk-nunduk padaku.
"nembaknya dimana?" tanya Gina.
"aku bakal ketemuan sama dia di danau dekat gedung rektorat kampus". Balasku.
"mantap tuh. Suasana yg pas di tepi danau." Kata Wahid.
__ADS_1
"Man.. Akhirnya setelah sekian lama lu mengakhiri kejomblon." Kata Ilham memegang pundakku.
"lebay kamu." kataku sambil sedikit tertawa
"jangan lupa pegang tangannya Man. Terus tatap matanya, habis itu cium deh." kata Ilham memperagakan adegan mesumnya.
"otak mesum." Kata Gina menampar Ilham. Kami lagi-lagi tertawa dengan tingkah konyolnya.
Setelah membicarakan dan menerima masukan mereka tentang pernyataan cinta yg akan ku lakukan sore ini, aku bergegas menuju UKM karena kebetulan ada Rapat Anggota UKM Penalaran Ilmiah.
Sampai di sekretariat UKM, aku bertemu dengan Idan yg sedang santai dengan puntung rokok yg di hisapnya. "Dan.. Udah mulai belum?" tanyaku.
"udah, masuk aja."
"kamu gak masuk?"
"gue ngerokok dulu." balasnya.
Akupun masuk ke dalam dan hampir sejam akhirnya rapat di tunda karena masih ada hal yg harus di bahas, juga karena sebagian teman-teman yg hadir dalam rapat sedang ada jadwal kuliah.
Setelah rapat di bubarkan, aku pun memilih nongkrong sejenak di depan sekretariat bersama dengan Idan dan teman-teman yg lain.
Sebagian sedang membahas program kerja UKM, sebagiannya membahas isu-isu sosial dan sebagainya lagi membahas perempuan cantik. Laki-laki kalau lagi ngumpul, satu topik yg tak pernah tertinggal adalah perempuan cantik.
Di tengah pembicaraan Idan membisikkan sesuatu padaku. "gimana Man, lu masih suka kan sama Fina?" Bisiknya .
"hah.." aku hanya bisa merespon dengan pura-pura terkejut dengan pertanyaan.
"gimana yah." kataku tidak yakin.
"gantle lah jadi cowok. Tembak aja kalau lu suka, walaupun akhirnya di tolak tapi kan seenggaknya lu bisa lega." Aku bingung sebenarnya Idan sedang memotivasi atau menjatuhkan mentalku.
Aku mencoba diam tak bertindak apa-apa agar Idan menghentikan perkataan itu. Tapi saat Alfy berjalan mendekat Idan tiba-tiba berteriak kepada teman-teman yg ada di sekitar.
"hei.. Temen-temen.. Arman mau ngomong sesuatu nih." katanya dengan meninggikan nada bicara.
"Dan' paan sih, jangan bikin malu." kataku padanya.
Sementara itu teman-teman yg lain mulai memperhatikanku termasuk Alfy yg juga mulai melihatku. "ayolah Arman.. Berdiri dong." Ujar Idan menarik tanganku.
Aku masih saja berusaha menghentikan lelucon Idan tapi sepertinya dia tidak menggubris dan malah mengatakan hal yg seharusnya tidak dia katakan.
"baiklah temen-temen.. Karena Arman malu biar gue aja yg wakilin." ujarnya mengeraskan suara.
Teman-teman yg berada di sekitar semakin memerhatikan Idan. "Fina.." Kata Idan menunjuk Alfy.
Alfy yg di tunjuk terkejut karena tak menyangka akan jadi salah satu objek lelucon Idan. Anak yg satu ini memang terkenal jail dan suka mengganggu.
Melihat dia menunjuk Alfy aku lalu berdiri dari tempat dudukku dan ku pegang tangannya yg menunjuk Alfy lalu menutup mulutnya. Tapi dia berhasil lepas dan mengatakannya, mengatakan harapan yg ingin aku buang.
Idan menunjukku dan mulai berteriak ke hadapan Alfy.
__ADS_1
"Fina... Arman suka sama lu. Arman.. Arman ssuukkaa sama lu Fin."
Sontak saja teman-teman yg tadi diam memerhatikan tiba-tiba jadi ribut. Ada yg bersiul, tepuk tangan ada juga yg meneriaki. Suasana langsung gaduh sesaat Idan mengatakan hal yg tak sepantasnya dia katakan.
sorak soray teman-teman yg lain terdengar. "tembak.. Tembak.. Tembak." Teriak kebanyakan dari mereka.
Aku yg masih tidak percaya dengan situasi melirik ke arah Alfy, dia terlihat malu karena menjadi objek hiburan. Akupun berteriak kepada semua teman-teman untuk menyudahi lelucon Idan.
"Fin.. Gue gak lagi main-main. Arman emang suka sama lu. Dia pernah cerita sama gue." sekali lagi Idan memperjelas perkataannya.
Mendengar itu kembali teman-teman bersorak untukku. Memberi semangat agar aku menjadi laki-laki sejati dan menghampiri Alfy untuk menyatakan perasaan secara langsung.
Tapi aku masih saja mencoba agar mereka semua berhenti, sementara itu Alfy terus saja melihatku. Aku terlihat seperti orang bodoh, tepuk tangan teman-teman semakin membuatku malu.
Karena tak ingin suasana menjadi semakin riuh, akhirnya aku menghampiri Alfy untuk memberikan klarifikasi atas perkataan Idan.
Tentu aku akan menyangkal apa yg di katakan Idan. Teman-teman yg melihat aku mendekati Alfy semakin menjadi-jadi. Mereka semua ikut mendekat dan melingkari kami berdua.
Aku dan Alfy kini berada di pusaran lingkaran mereka, sambil terus bersorak agar aku menyatakan perasanku pada Alfy. "Fin maaf ya.. Idan cuma bercanda. Itu gak bener kok." kataku membesarkan suara.
Karena suara teman-teman sekitar yg begitu keras sepertinya Alfy tak dapat mendengar perkataanku. Yg ku lihat dia masih tertunduk malu dan dia terlihat cantik.. Iya dia terlihat cantik.
Sekali lagi aku mencoba menjelaskan bahwa itu tidak benar. Lagi-lagi karena gangguan suara teman-teman yg lain membuatku dan Alfy sulit mendengar perkataan masing-masing.
Mungkin karena saking semangatnya memberi dukungan padaku untuk menyatakan perasaan makanya mereka jadi heboh dan berteriak sedari tadi. Walaupun pada kenyataan bukan itu yg ingin ku sampaikan. Di tambah Idan yg masih memanas-manasi yg lain bahwa aku akan menembak Alfy.
Sekali lagi aku mencoba menjelaskan pada Alfy yg dari tadi hanya diam terlihat malu, bahwa itu bohong aku tidak menyukainya.. Iya aku tidak menyukainya. Aku menyukai perempuan lain.
Belum selesai berbicara, Alfy menoleh dan melihatku. Dia berkata sesuatu kemudian pergi menerobos lingkaran teman-teman yg sedari tadi terlihat mengerumuni kami berdua.
Melihat Alfy pergi meninggalkanku dan berjalan cepat sambil menggenggam buku di dadanya, gelagatnya dia sepertinya sedang marah. Salah seorang temanku yg bernama Cindy kemudian berteriak pada yg lain.
"Arman di tolak.." ujarnya.
Sontak mereka yg tadi semangat tiba-tiba berhenti dan mulai menghiburku. Aku yg mengetahui hal itu dari mulut Cindy tentu tak terlalu terkejut karena memang itu adalah jawaban dari semua harapan-harapan palsuku selama ini.
Teman-teman mulai menghiburku karena mereka mengetahui aku di tolak. Padahal aku sendiri tidak mengatakan apa-apa pada Alfy, aku juga tidak mendengar jelas perkataannya. Tapi untuk apa, dia sudah menolak.
Setidaknya aku tidak terluka, karena memang sekarang aku menyukai perempuan lain.. Aku tekankan pada diriku aku tidak terluka, iya aku.. Ti.. Dak..
"sorry Man. Sepertinya memang Fina gak suka sama lu." Kata Idan memegang pundakku.
"Kampret, ini semua gara-gara kau. Dasar.. Emangnya siapa yg mau nembak dia." kataku kesal sembari aku mendorongnya.
"santuy, santuy Man. Lu gak usah marah. Lihat sisi positifnya sekarang lu tau kalau Fina gak suka sama lu." jelasnya.
Karena masih kesal dengan tingkahnya aku pun pergi meninggalkan Idan tanpa sapatah Kata pun. Aku marah, aku kesal, aku malu dan aku kecewa.. Alfy menolakku.
Terus saja dalam benakku tersimpan sedikit rasa lega dan sedikit rasa kecewa mengetahui bahwa kekhawatiranku selama ini benar. Siapa aku? Menyukai perempuan sepertinya, benar aku tidak pantas.
-Bersambung-
__ADS_1