Kamu & Senja

Kamu & Senja
Hutang


__ADS_3

(Bagian Flashback)


pagi yg cerah seperti biasa, di sebuah kompleks perumahan terdengar lantunan suci Ayat Al Qur’an. "assalamualaikum."


"iya, waalaikumsalam." jawab wanita paruh baya yg menghentikan lantunan Qur’an dari mulutnya.


"permisi Umi, maaf pagi-pagi sudah bertamu."


"eh.. Iya nak gak papa. Ayo masuk."


"iya Umi."


"ada apa nak? Tumben datangnya pagi begini."


"iya Umi, ini saya mau nganter undangan."


Saat mereka berdua berbincang, Alfy yg tadi berada di dapur kemudian masuk ke kamar memakai hijabnya dan keluar ke ruang tamu karena mendengar suara laki-laki yg tidak asing di telinga. "loh kak. Kok baru datang." Kata Alfy melihat laki-laki itu.


Laki-laki itu menoleh dan melihat ke arah Alfy. "Masyaallah kamu udah gede. Sekarang cantik lagi."


"ini loh kakak kamu, bawa undangan nikah. Padahal Umi sih berharap kamu yg jadi istrinya." Kata Ibu kepada Alfy.


"ih Umi jangan gitu, maaf ya kak. Umi mah emang suka gitu."


"iya gak papa." laki-laki itu tersenyum.


"Umi cuma bercanda Nak, semoga pernikahan kamu di lancarkan yah."


"aamiin Umi, jangan lupa datang yah Umi sama Abi. Kamu juga." Kata Laki-laki itu.


"iya kak InsyaAllah."


"kalau begitu Umi saya pamit."


"cepat amat Nak. Bok yah minum dulu."


"Maaf Umi, buru-buru soalnya masih ada undangan yg mau saya antar.


"ya udah, hati-hati di jalan yah."


"iya Umi, assalamualaikum."


"waalaikumsalam."


Laki-laki itu keluar dari rumah Alfy dan pergi dengan sepeda motornya. "Umi tuh kalau lihat dia selalu ke ingat Imam Nak." Kata Ibu Alfy.


"iya Umi, saya Juga. Kangen banget sama Kak Imam."


"dulu mereka berdua sering banget main waktu kecil, sama-sama masuk pesantren, satu pondokan. Dulu kakak kamu Imam juga rencananya kan mau jodohin kamu sama dia." Ujar Ibu Alfy.


"terus kamunya juga mau kan." sambung Ibu Alfy.


"waktu itukan saya masih kecil Umi." jawab Alfy.


"ya walaupun begitu dulu Umi mah setuju-setuju bae lah. Tapi sekarang dia sudah mau nikah, andai Imam masih hidup mungkin Imam juga sudah nikah ya Nak."


"iya Umi. Kak Imam kan populer di kalangan akhwat-akhwat pengajian." Ujar Alfy tersenyum.


Alfy dan Ibunya terlibat pembicaraan tentang kakaknya yg telah meninggal, ternyata laki-laki itu adalah sahabat kakaknya sejak dari kecil. Laki-laki itu dan Imam sangat dekat bahkan Imam berencana menjodohkan Alfy dengan sahabatnya itu. Jika saja Imam masih hidup, mungkin perjodohan itu akan terealisasi.


*di rumah sakit, tempatku berada.


"Arman bangun, Man.."

__ADS_1


Aku membuka mata, pengelihatanku masih kabur terkena cahaya, meski tak jelas aku tau yg membangunkanku adalah Gina. "jam berapa sekarang?" tanyaku.


"jam 10." balas Gina.


"Ica mana?"


"tuh dia lagi ngobrol dengan Irwan."


Sepertinya aku tertidur pulas sampai-sampai tak menyadari kedatangan Adi dan Gina. Terlihat Irwan juga sudah sadar dan sedang berbicara dengan Ica.


"nih makan dulu bro, nasi kuning." Kata Adi yg memberikan sebuah kantor plastik hitam.


"iya thank u, aku ke kamar kecil dulu."


Sementara itu, Ica yg sedang berada di dekat Irwan. "tadi malam itu kamu kenapa?" tanya Ica.


"gak papa, kamu gak usah khawatir."


"bagaimana mungkin aku gak khawatir lihat kondisi kamu semalam. Kita harus lapor polisi." tegas Ica.


"jangan, itu urusan pribadiku."


"kamu.. Kamu jangan keras kepala dong sayang. Aku tuh khawatir." Kata Ica memegang erat tangan Irwan.


"sayang, aku jujur. Aku punya utang ke mereka dan aku gak mau milibatkan polisi di masalah utangku." jelas Irwan.


"utang? Berapa? Aku bantu ya?"


"jangan sayang. Aku gak mau ngerepotin kamu."


"tapi sayang kalau mereka ngeroyok kamu lagi. Gimana?"


"gak mungkin, bulan depan aku ada uang. Pasti bulan depan semuanya lunas. Jadi kamu gak usah khawatir." sekali lagi Irwan menenangkan Ica.


"iya bener sayang."


"oh iya, kita harus hubungi orang tua kamu. Kemarin aku gak tau nomornya yg mana jadi aku gak sempat kasih kabar ke mereka." jelas Ica.


"tadi pagi waktu kamu masih tidur, aku sudah sms mereka. Katanya lagi diuar kota ada urusan bisnis." jawab Irwan.


"kok gitu?"


iya mereka berdua memang orang yg sibuk."


"ya udah biar aku yg nemenin kamu di sini."


"hei Ca, inget besok kamu ada janji sama Prof Armin pagi-pagi loh. Bukannya kamu mau bantu dia meneliti di daerah. Sebaiknya kamu pulang buat siap-siap untuk besok." Kata Gina memotong pembicaraan Ica dengan Irwan.


"jadi kamu ada janji sama Dosen sayang? Kamu pulang gih." ucap Irwan sambil memgusap kepala Ica.


"tapi gak ada yg nemenin kamu di sini."


"kan ada dokter, ada perawat. Kamu pulang yah. Kalau urusan kamu udah selesai, baru kamu ke sini lagi."


"iya deh."


"eh Ica manja banget yah." Adi berisik kepada Gina.


"gitu kalau orang lagi kasmaran." jawab Gina berbisik.


"loh kok kamu gak kayak gitu ke aku"


Mendengar itu, Gina mencubit pinggang Adi membuat Adi berteriak. "Adi kenapa?" tanya Ica.

__ADS_1


"gak papa Ca' biasa penyakit lamanya kambuh." balas Gina.


"apa sih ribut-ribut? Mana tadi nasi kuningnya." kataku memotong pembicaraan mereka. "tuh di meja." jawab Adi.


"eh air putihnya mana?"


"ya ampun sorry bro, tadi air putihnya si habisin sama kita-kita."  Jawab Adi.


"aduh. Ya udah aku keluar dulu."


Akupun keluar dari ruangan tersebut bermaksud untuk membeli air putih di supermarket depan rumah sakit. Ketika masuk ke pintu supermarket, aku langsung mengambil beberapa botol air dan beberapa biskuit sebagai cemilan untuk mereka di dalam.


Saat aku berjalan ke kasir untuk membayar, di depan kasir aku melihat seorang pria paruh baya sedang merogoh kantong celana depan dan belakang. Saku depan bajunyapun dia rogoh tapi tak mendapatkan apa-apa.


Dari gelagatnya dia seperti kehilangan uang atau uangnya ketinggalan. Akhirnya dia berkata kepada kasir bahwa tidak jadi membeli karena dia tidak punya uang.


Aku yg mendengar itu spontan menawarkan diri untuk membayar belanjaanya. Bukan karena dermawan hanya saja berbagi itu indah. Terlebih dia hanya membeli beberapa sachet kopi hitam cap kapal air.


Aku mengeluarkan uang lebih gara-gara itu, setelah membayar aku keluar dari supermarket tersebut."makasih bro sudah traktir." Kata Pria paruh bayah yg terlihat gaul ini.


"iya pak gak papa."


"loh kayaknya saya kenal sama kamu."


"maaf? Kenal pak?"


"oh.. Saya inget. Itu loh yg motor. Motor saya yg bannya kempes itu toh. Yg kamu dorong sampai mandi keringat." jelas Bapak itu.


"oh.. Iya aku ingat. Pak Uztad ya."


"nah itu.. Masyaallah, kita ketemu di sini lagi ya bro."


"iya Pak Uztad, ngomong-ngomong Pak Uztad di sini mau ngapain?" tanyaku.


"ini, saya tadi habis jenguk temen di rumah sakit depan itu. Sekarang mau pulang, tapi singgah dulu beli kopi nih. Eh ternyata lupa bawa uang. Untung ada kamu bro."


"oh gitu pak Uztad."


"kamu itu bro anak muda yg baik, panutan bagi anak muda yg lain. Sudah dua kali kamu bantu orang tua seperti saya ini."


"gak papalah Pak Uztad, saya juga seneng kok bantu orang lain.


"masyaAllah.. Anak muda kamu keren juga toh.. Anak perempuan saya pastu suka sama kamu kalau sikap kamu kayak gini."


"ah.. Pak Uztad bisa aja." Aku tertawa mendengar logat kentalnya itu, setelah berbincang singkat aku pamit dan kembali masuk ke dalam rumah sakit.


Di ruangan tempat Irwan di rawat, terlihat Adi dan Irwan terlibat pembicaraan berdua. "bro, kamu emang ngutang berapa sampai di buat bonyok kayak gini sama mereka?" tanya Adi.


"adalah bro." ucap Irwan


"bro... Lu gak lagi bohong kan?" tanya Adi sekali lagi curiga.


"ngapain gue boong." jawab Irwan.


Mendengar itu tidak mengurangi kecurigaan Adi. temanku yg satu ini memang memiliki keahlian untuk melihat kebohongan. Dia terobsesi untuk jadi detektif hebat seperti tokoh dari bacaan komik yg biasa dia baca.


Kadang intuisinya tepat, tapi tak jarang juga meleset hanya saja presentasi tentang ketajaman instingnya lebih besar dari pada kegagalannya menganalisa situasi.


Setelah aku menyantap nasi kuning pemberian Adi, aku lalu pamit pulang kepada mereka. Karena tidak membawa baju ganti tentu aku harus pulang sekalian untuk mandi dan kembali tidur tentunya.


Setelah aku keluar, Adi dan Gina juga pamit karena Adi harus melakukan tugasnya sebagai tukang ojek untuk mengantar Gina ke rumah sepupunya yg berada jauh dari rumah sakit ini.


Sepertinya Adi semakin menegaskan perasaannya pada Gina walaupun Gina belum membalas apa yg Adi rasakan saat ini.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2