
Ivan terpana dan sesekali melirik perempuan yg saat ini sedang berada di depannya.
"oh iya, Ayah nitip salam." ucap perempuan itu.
"oh yah. Apa Beliau baik-baik saja?" balas Ivan.
"alhamdulillah baik-baik saja."
Sepertinya mereka berdua tidak sengaja bertemu di kantin Pusat Universitas dan terlibat sedikit pembicaraan. "aku tidak ada di masa lalumu, aku ada sekarang dan di masa depan insyaallah bersama denganmu." Kata Ivan kepada perempuan itu.
Mendengar hal manis yg keluar dari mulut Ivan, tentu perempuan mana yg tidak kagum dengan perkataan seperti itu.
Karena di rasa cukup dan tak ingin Berlama-lama bersama, Ivan dan perempuan itu yg adalah Yana calon istrinya pun mengakhiri pertemuan singkat mereka di kantin Pusat kampus.
Meski berat, keduanya memang harus mengontrol intensitas pertemuan mereka sebelum menikah. Tidak lain dan tidak bukan karena mereka belum terikat dalam ikatan halal. Ivan sangat paham akan hal itu, olehnya dia hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yg di ucapkan oleh Yana tanpa mau memicu perbincangan-perbincangan lain.
"terima kasih, kalau begitu saya pergi dulu. Assalamualaikum." Ujar Yana sambil berdiri meninggalkan Ivan.
"waalaikumsalam." balas Ivan.
Setelah Yana sedikit menjauh, Ivan di kagetkan oleh Ilham yg tiba-tiba memanggil namanya. "Ivankan?" Kata Ilham.
"waalaikumsalam.. Iya." balas Ivan.
"eh sorry sorry.. Lupa salam gua." lanjut Ilham tertawa malu.
"gap papa. Oh iya, mau makan?"
"udah.. udah. Bareng temen-temen tadi. Kebetulan mereka ada di sana." Kata Ilham sambil menunjuk ke arah rombongan teman-temannya.
"oh.. Ada Arman juga yah?" tanya Ivan.
"iya.. Man.. Arman.. Nih si Ivan." Teriak Ilham.
"eh gabung aja yuk bro, gua traktir deh." sambung Ilham kepada Ivan.
"alhamdulillah. Gak papa, aku dah kenyang." balas Ivan.
"oh iya bro, katanya lu dah mau nikah? Kata Arman sih gitu."
"insyaallah, nunggu selesai kuliah dulu dianya."
"ntaplah bro. Gua doain lancar. Trus gua lihat tadi lu sama cewek, jangan-jangan itu yah calonnya." Kata Ilham penasaran.
"insyaallah kalau Allah restui." balas Ivan.
"wih cantik juga bro. Selamat yah."
__ADS_1
"belum juga nikah bro."
"oh iyayah. Hahahah."
"Ivan.. Ngapain di sini?" tanyaku yg datang menghampiri setelah Ilham teriak-teriak gak jelas.
"Arman... Habis makan tadi." balas Ivan
"Man lu kalah dari Ivan. Tadi gua lihat dia sama cewek, calon istrinya itu." Kata Ilham nada ngeledek.
"yg bener ?"
"iya, kebetulan kami bertemu dan sedikit terlibat pembicaraan tadi tentang sesuatu." balas Ivan menjelaskan situasi.
"oh gitu, ya.. sayang banget aku gak lihat calon istri mu itu." ucapku penasaran.
"behh.. cantik Man.. Kalau lu lihat lu bakal ngiri sama Ivan." Kata Ilham.
"lebay kamu bro. Mana mungkin aku ngiri. Yg ada kamu tuh.. Matanya di jaga."
Aku memang cukup penasaran sama sosok Yana, dari awal malah. Bukan tanpa alasan sebab dia jadi pemicu bagi Ivan dalam perjalanan spiritualnya menemukan hidayah.
Terlebih lagi Yana ini mampu membuat mulut mesum Ilham memuji kecantikannya. Aku sempat ingin melihat foto Yana, tapi kata Ivan Yana tidak memamerkan Foto dirinya di sosial media. Ya, satu lagi perempuan sholehah, jika Ivan benar-benar jadi menikahinya maka dia akan jadi laki-laki beruntung.
Jika mengingat Ivan mengatakan hal itu, aku jadi teringat Alfy. Yg ku tau tidak satupun dari akun sosial media miliknya yg menampakkan wajah dirinya. Aku pernah bertanya hal itu padanya, dengan lugu dia menjawab bahwa wajahnya bukan konsumsi publik.
Dari semua hal yg di katakan Ivan tentang Yana, aku semakin yakin bahwa dia benar-benar perempuan sholehah. Dan aku sekarang bisa membayangkan betapa cocoknya mereka berdua di atas bangku pelaminan nantinya.
Tak lama kami berbincang, Ivan pamit karena masih ada urusan yg harus di selesaikan dengan Dosen pembimbingnya. Aku dan Ilham kembali ke rombongan teman-teman yg sedari tadi masih sibuk ngegibah teman angkatan sendiri.
Ketika berjalan ke arah teman-teman yg lain, aku melihatnya. Melihat dia berjalan menjauh keluar dari kantin ini. Aku bahkan bisa mengenali cara jalannya meskipun dia membelakangiku.
Aku diam berdiri, terus saja ku pandang punggungnya yg semakin menjauh dari jangkauan mataku. Hingga hatiku mengambil alih logika dan mulai menggerakkan kaki untuk berlari mendekatinya.
Aku berlari dengan fikiran kosong, aku berlari tanpa memikirkan hal apa yg harus aku katakan setelah berada di depannya. Aku keluar dari kantin dan mulai mendekat, semakin dekat hingga aku menyebut namanya..
"Fy.. Fina. Tunggu." Ujarku tergesa-gesa.
Tapi dia tidak berbalik, hingga perempuan yg berada di sampingnya mengatakan padanya jika ada yg sedang memanggil dan dia pun berhenti dan berbalik ke arahku.
Untuk pertama kali setelah 5 bulan yg lalu, aku kembali melihat tatapannya. Hanya saja, tatapan kali ini berbeda. Tatapan ini,. Adalah tatapan orang asing.
"Fin.. Sorry aku mau ngomong sesuatu." kataku ketika aku berada tepat di depannya.
"hei Arman.." sapa Citra perempuan yang bersama Alfy.
"hei Citra." balasku.
__ADS_1
Sementara Alfy masih menerka dengan ekspresi sedang berpikir sambil terus melihat ke arahku. "Maaf.. Apakah aku mengenalmu? Sepertinya aku.. Pernah melihatmu." Ujarnya.
Mendengar hal itu sontak perasaanku mulai menggebu, apakah artinya dia sudah mulai mengingatku? Setidaknya itu yg ku fikiran sekarang.
"Benarkah?" ucapku penuh harap.
"iya, kamu.. Laki-laki yg waktu itu, yg di rumah sakit itu kan?" ujarnya tidak yakin.
sayangnya, sepertinya dia mengingatku sebagai seorang laki-laki asing yg pernah membuat kegaduhan di kamar perawatan dirinya kala itu. Kala aku terus saja memaksa dia untuk mengingat siapa diriku dan untuk apa aku berada di dekatnya.
Dia mengingatku, sebagai laki-laki asing yg membuat kepalanya sempat pusing bahkan sampai pingsan karena terus saja aku memaksakan agar dia mengingatku kembali di saat kondisinya belum stabil kala itu.
Dia akhirnya mengingatku, tapi dia tidak mengingat diriku sebagaimana mestinya. Dia mengingatku sebagai diriku yg menyakiti dirinya. "aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak mengenalmu selain kerjadian waktu di rumah sakit." ucapnya mencoba menghibur diriku yg tampak kecewa dengan sikapnya.
"namanya Arman.., dia juga anak UKM Karya Tulis Ilmiah sama kayak kamu." Ujar Citra.
"oh.. Jadi kita satu UKM yah. Maaf ya Arman, soalnya aku lagi sakit.."
Belum selesai Alfy menyebutkan penyakitnya, aku memotong dan mencoba mencari alasan.
"iya aku tau, anak-anak di UKM juga udah pada tau tentang penyakitmu." kataku.
"oh iya, katanya tadi mau ngomong sesuatu?" tanya Alfy.
"engga aku.. Aku.. Cuma mau bilang kalau.. Ka.. Fy.. Ini aku Arman. Aku suka sama kamu, aku juga udah tau perasan kamu. Makanya aku ngelamar kamu waktu itu, walaupun kamu gak ingat apa-apa. Alfy.. Aku serius, tolong maafkan kesalahanku. Seharus aku tidak mengucapkan kata-kata kasar itu, aku minta maaf. " gumamku dalam Hati.
"Maaf Arman.. Kamu mau ngomong apa yah?" tanyanya mulai bingung.
"eh anu. Reuni.. Iya reuni. Riyal udah bilang sama kamu kan?" balasku mengubah topik.
"Riyal.. Oh iya iya. Astagfirullah. Sekali lagi maaf ya Arman. Aku benar-benar tidak ingat kalau ternyata kamu juga salah satu mahasiswa yg berangkat ke Malaysia. Iya. Bener kan?"
"hehe, iya Fin."
"waduh ternyata kita kenal baik yah. Maaf yah aku benar-benar lupa." ujarnya.
Aku hanya terus mengucapkan "tidak papa" maskipun sebenarnya ada apa-apa. Meskipun sebenarnya tidak terima dengan sikap canggungnya itu.
Rasanya ingin teriak saja, rasanya ingin mengulang waktu saja. Masih dengan sikapnya yg rada kaku karena menganggap aku orang baru, bahkan lebih kaku dari pertama aku mengenalnya dahulu.
Alfy pamit dengan mengucapkan salam dia mulai menjauh. Sementara aku lagi-lagi tak bisa berkata apapun selain melakukan obrolan biasa tak berguna.
Mungkin aku takut, jika mengingat kembali saat dia kesakitan karena memaksakan pikiran untuk mengingat kembali siapa diriku.
Setidaknya dia mengenalku kembali, setidaknya untuk yg kedua kali aku bukan lagi orang asing di hadapannya. Setidaknya aku akan mulai lagi dari awal dan kali ini aku tidak akan melepaskannya, karena aku sekarang baru sadar jika perasaan ingin memiliki dan mencintainya lebih besar dari pada rasa benciku dengan masa lalunya.
-Bersambung-
__ADS_1