
(Bagian Flashback)
Hari-hariku setelah mengenal Alfy telah membawaku pada satu tujuan baru dalam hidup. Kini selain teman-teman yg mengisi kehidupan kampusku, juga Alfy sepertinya jadi salah satu tokoh penting di setiap cerita yg ku tulis dalam kisahku selama kuliah di kampus ini.
Setiap hari, pertemuanku dengan Alfy menjadi lebih bermakna dari hari biasanya. Aku jadi semakin yakin bahwa aku benar-benar menyukainya, aku telah jatuh cinta padanya. Meski demikian, aku tak pernah menyinggung Alfy di depan teman-temanku yg lain. Aku menganggap bahwa masalah perasaanku ini adalah privasi yg belum bisa ku bagi dengan mereka.
Walaupun pada akhirnya mungkin hanya aku yg menganggap dia spesial dan aku tak pernah mencari tau apakah dia punya rasa yg sama denganku. Aku terlalu pengecut untuk jujur, kegagalan menjalin hubungan sebelumnya mungkin jadi faktor besar yg memengaruhiku saat ini. Entah sampai kapan aku menyimpan rasa ini, adakah saat dimana aku mengatakan yg sebenarnya? Entahlah, aku juga ingin tau itu."oi.. oi Man.."
"iya iya kenapa Ham?" balasku.
"oi.. Yg panggil si Wahid, bukan gua." Balas Ilham.
"eh.. Sorry gak fokus."
Karena lamunanku, aku jadi mengira bahwa Ilham yg memanggilku. "lagi mikirin apa emang?" kata Wahid.
"ngak.. gak apa-apa."
"paling mikirin cewek." Ujar Adi seenaknya menyimpulkan walaupun benar.
"Arman.. Mikirin cewek.. Hahaha." Kata Ilham meledek.
Ilham meledekku karena yg dia tau selama ini aku tak punya pengalaman menjalin hubungan dengan perempuan. "emang kamu Ham, ngeremehin yah." Balasku.
"gua ngedukung elu Man asalkan ada yg mau, tapi kalau gak ada kan sama saja boong." Lanjutnya meledek.
__ADS_1
"kurang ajar.."
Kami pun tertawa.
Sama halnya jika para perempuan berkumpul, biasanya salah satu topik yg akan mereka bahas adalah lelaki. Begitu pun sebaliknya jika lelaki yg berkumpul, apa lagi lelaki bujang seperti kami ini. "ngeledekin aku kalian yah? Ingat kalian bertiga juga jomblo." Kataku kepada mereka bertiga.
"jiah... Enak aja." Balas Adi.
"lu kalau ngomong suka bener Man." Kata Ilham sambil tertawa.
Sementara Wahid hanya tertawa."tapi kalau Adi sih gak usah di ragukan. Gimana?" Kataku menggoda Adi.
"iya gak usah di ragukan kejombloanku." Jawabnya.
"udah jujur aja. Kamu kan udah punya Rini." Kataku sekali lagi menggodanya.
Ternyata hubungan Adi dan Rini tidak berjalan baik, tak sampai sebulan mereka berpisah. Aku tak tau apa alasannya, hanya saja bisa semudah itu berpisah menurutku itu aneh. Apakah perasaan yg timbul hanya seperti cahaya yg keluar dari korek api, yg cahayanya akan padam begitu sumbunya habis.
Kadang aku heran dengan mereka, orang-orang yg bersama dengan alasan karena saling mencintai, tapi kemudian berpisah. Apa lagi mereka yg berpisah tapi mengatakan "kami berpisah baik-baik". Lantas kalau baik-baik saja kenapa harus berpisah?
Sepertinya memang sudah kodratnya, di perbincangan kami berempat dari tadi berkutat hanya masalah cinta dan perempuan. Tapi aku tak sekalipun mengakui bahwa sekarang aku sedang menyukai seseorang, berbeda dengan Ilham yg masih saja bertahan dengan cinta masa kecilnya Ica. Sedangkan Wahid sekarang tertarik dengan perempuan yg dia temui bulan lalu di salah satu kegiatan sosialnya.
Cukup lama kami membahas hal itu, hingga Gina dan Ica datang menghampiri. "hei.." Kata Gina.
"Gina.. Ica.." Kata Wahid menyambut mereka berdua.
__ADS_1
Ica tertunduk, terlihat murung. "maaf.." Kata Ica kepada kami semua.
"maaf kenapa Ca'? ." Kataku merespon perkataannya.
"aku udah jarang ngumpul sama kalian. Aku.." ucapnya ragu.
"santai aja Ca', kamu tetap aku anggap teman kok." Balas Adi.
"cih.." Kata Ilham kesal.
Melihat sifat cuek Ilham, Ica merespon dengan ekspresi sedih. "nah loh.. Lihat mukanya Ica. Tanggung jawab kamu Ham." Kata Adi.
"iya nih Ilham, jangan gitu dong." Sambung Gina.
"paan sih.. Orang gua gak buat apa-apa." Kata Ilham masih kesal.
"Ilham gak bisa jujur aja tuh, akalu dia sayang sama Ica." Kataku menggoda Ilham.
Muka Ilham terlihat memerah dan mulai salah tingkah. "Arman.. paan sih lu?"
Ica terlihat tersenyum melihat tingkah Ilham. Singkatnya Ica kembali seperti Ica yg kami kenal. Pada akhirnya kami berenam bisa berkumpul bersama lagi, tertawa dan saling bercanda.
Walaupun sempat cuek tapi Ilham memang tak bisa menyembunyikan perasaannya di depan Ica. Dan seperti biasa respon Ica yg selalu menolak Ilham pun membuat kami semua tertawa.
Aku akhirnya bersyukur bahwa semua kembali dengan normal, bersyukur bahwa aku bisa melihat Ica sekali lagi tertawa bersama kami.
__ADS_1
-Bersambung-