
(Bagian Flashback)
Jika mengingat kejadian tadi sore, wajah Alfy tiba-tiba memerah dan terus saja dia menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil mengucap istigfar.
"Na'.." Kata Puput yg tiba-tiba masuk ke dalam kamar Alfy.
"iya.. Kak."
"loh.. Na', muka kamu kenapa?" tanya Puput.
"ngak kenapa napa kok."
"itu pipi kamu merah. Ayo.. Ngaku ada apa?"
"hm..."
"pasti Arman." ucap Puput.
"emang sejelas itu ya kak?" tanya Alfy.
"iyalah.. Aku tuh udah kenal kamu dari kecil." balas Puput sambil mendekat ke arah Alfy.
"aku malu kak. Duhh aku gak nyangka bakal lakuin hal kayak gitu."
"ada apa? Cerita pelan-pelan."
Alfy masih dengan wajah yg sama menceritakan hal yg terjadi sore tadi. Dengan polos dia mengatakan bahwa dia mengatakan persasaannya kepada Arman bahkan meminta agar Arman datang kepada Ayahnya untuk di lamar.
Puput yg mendengar cerita itu terus saja tersenyum bahkan tertawa ketika mendengar Alfy meminta agar Arman bertemu dengan Ayahnya.
"apa yg kamu lakukan itu tidak salah, kamu sudah benar karena menolak dia untuk mengajak kamu pacaran dan meminta dia melamar kamu. Artinya kamu sudah memegang teguh prinsip agama. Aku yakin jika Kak Imam masih hidup, dia pasti bangga sama adiknya sekarang."
Perkataan Puput menenangkan Alfy yg dari tadi terus terganggu dengan kejadian di sore hari. Sambil menghela nafas dia meyakinkan dirinya untuk melupakan hal itu.Sekarang dia hanya harus bersabar dengan perasaannya, jika memang Arman baik untuknya pasti akan berjodoh.
Di tempat Arman saat ini berada.
"sorry Van, aku ganggu kamu malam-malam." kataku yg baru saja tiba.
"ah kamu, gak papa lah. Orang aku tinggal sendiri juga di sini. Ya udah masuk." ucap Ivan.
Sebelum aku memutuskan ke rumah Ivan, aku menelpon dia terlebih dahulu untuk memastikan ada atau tidaknya dia di rumahnya. Ternyata setelah berbicara via telpon dia malah menyuruhku untuk menginap di rumahnya malam ini.
"lama amat Man di jalan."
"biasalah macet."
"langsung ke kamar aja, simpan tas sama ganti baju. Pakai aja kaos yg ada di lemari." ujarnya.
__ADS_1
Sepertinya Ivan sedang menyaksikan ceramah online di laptopnya. Bahkan setelah aku perhatikan dia mulai menumbuhkan jenggot. Aku tidak menyangka dia bisa seperti ini dalam waktu yg sangat singkat.
Setelah aku selesai membersihkan diri, akupun menghampiri Ivan yg masih asyik dengan laptopnya.
"nonton apa Van?" tanyaku basa basi.
"ini.. Lagi nonton kajiannya Uztads Firanda, beliau ini orang Indonesia yg punya kajian ilmu di Madinah." balas Ivan.
"oh gitu.. Lagi bahas apa itu yah?"
"lagi bahas Sihir Man."
"Sihir? Harry Potter dong sihir."ucapku dengan canda.
"ah, bisa aja kamu Man. Ya beda lah."
Aku bisa lihat sekarang, benar apa yg di katakan oleh Sabri. Yg awalnya ku kira Ivan hanya main-main tapi sekarang malah dia lebih tau islam dari pada aku yg sudah islam sejak lahir.
"tadi aku ketemu Sabri."
"oh yah. Dimana?"
"di mesjid dekat pantai itu.. Yg bangunannya warna hijau." ucapku.
"oh iya, Sabri memang tinggal dekat situ."
"Bro.. Aku gak nyangka loh kamu bisa seistiqomah ini. Padahal kamu mau masuk Islam kan karena perempuan waktu itu."
Mendengar hal itu Ivan tertawa.
"iya yah.. Aku sampai lupa kalau dulu aku pengen masuk Islam gara-gara kenal sama perempuan." ucapnya.
"jadi gimana hubungan kamu sama perempuan itu?"
"gak ada sih Man, soalnya aku udah gak pernah ketemu."
"terus niat kamu untuk deket sama dia gimana?"
"ya.. Gimana yah.. Sekarang sih bukan itu tujuanku. Walaupun karena perempuan itu aku mengenal islam tapi semenjak aku masuk dan belajar tentang islam ternyata aku damai Man. Aku udah gak mikir ke situ lagi, bener-bener hatiku tuh tentram damai." jelas Ivan.
"jadi kamu udah gak tertarik sama perempuan itu?" tanyaku.
"tertarik sih iya, tapi yah.. Kalau memang jodoh pasti bakal ketemu lagi kok. Untuk sekarang aku fokus memperdalam ilmu agama dulu saja."
"keren kamu Van."
Aku hanya bisa mengatakan hal itu, sebab aku malu dengan diriku sendiri. Melihat progress Ivan yg sangat jauh, apakah aku juga bisa seperti dia.
__ADS_1
"misal nih Van kamu ketemu sama perempuan itu lagi, terus apa yg bakal kamu lakuin?"
"mungkin nanyain alamat rumahnya terus ketemu sama Bapaknya." ucap Ivan yakin.
"ketemu Bapaknya?"
"iya.. Ngelamar dia maksudnya Man."
"hah? Lamar? Serius. Mau langsung nikah gitu." ucapku terkejut.
"iya.."
"gak ta'aruf dulu aja Van, biar bisa saling kenal."
"ta'aruf? Aku sih belum ngerti itu Man mending langsung aja ketemu Bapaknya terus bilang kalau mau Ngelamar anaknya. Haha." jelas Ivan sambil tertawa.
"kalau aku sih bingung juga pacaran sama Ta'aruf bedanya apa?"
"kebetulan nih.. Ada ceramah tentang ta'aruf, denger yuk."
Ivan lalu memutar video yg berdurasi 10 menit tersebut. Uztads itu menjelaskan satu hal tentang ta'aruf, bahwa banyak orang di luar sana yg salah paham tentang Ta'aruf begitupun mungkin aku pribadi.
Banyak orang mengatakan sedang berta'aruf tapi malah jalan berdua, kontak-kontakan via sosialmedia, saling gombal satu sama lain, sering ketemu dan lain sebagainya. Padahal itu sudah salah dalam agama ini, sebagaimana di jelaskan dalam, ayat Qur 'an yg artinya.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)
Ayat ini sudah sangat jelas bagaimana Islam melarang adanya khalwat antara laki-laki dan perempuan. Yg di maksud khalwat adalah berdua-duaan dengan yg bukan mahramnya atau perempuan dan laki-laki yg tidak memiliki ikatan sah pernikahan.
Lebih jauh lagi Uztads itu menjelaskan bahwa inti Ta'aruf adalah saling mengenal dan hanya itu. Caranya tentu tidak boleh melanggar aturan agama. Misal jika ingin bertemu cukup sekali atau dua kali sebelum menikah itu pun tidak boleh berdua saja. Si perempuan harus bersama dengan mahramnya entah itu Ayah, saudara atau mungkin teman wanitanya.
Langkah selanjutnya adalah lebih banyak menggali informasi tentang calon pasangan kepada keluarga atau teman dekatnya agar kita bisa tau karakter calon pasangan kita dari orang-orang yg memang sudah mengenal baik dirinya.
Nah. Langkah-langkah seperti ini dapat mencegah dari hal yg di larang oleh agama.
Seperti itulah Uztads di dalam video itu menjelaskannya. Sekarang aku dan Ivan mengerti dua hal, pertama pacaran memang bukan dari Islam kedua penaham agamaku masih sangat kurang.
"bagaimana yah dengan orang yg pacaran tapi gak pernah ketemu? Misalnya LDR gitu?" karena masih penasaran aku kembali bertanya.
Ivan lalu kembali menemukan Video yg menyinggung tentang pertanyaanku.
"Abu Hurairah radiallahu anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina-zina. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram), zinanya lisan dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan ******** yang membenarkan semua itu atau mendustakannya. (HR Al-Bukhori no 6243 dan Muslim no. 2657)., nah hadist ini kemudian menjelaskan tentang hal yg kusinggung dan ku tanyakan tadi. Uztads dalam video mengumpamakan bahwa anggap saja kita punya pacar terus dia jauh, otomatis kita akan membayangkan pacar kita itu, semakin kita menghayal maka semakin kita terjerumus jadi ujungnya ya sama aja. Intinya apapun bentuknya dalam Islam pacaran tidak di benarkan. " jelas Uztad dalam video itu.
Entah mengapa aku selalu mencari celah dan terus mempertanyakan hal ini hingga Ivan yg juga masih belum terlalu mengerti mengatakan bahwa pacaran haram. Tapi aku masih saja mencari alasan agar pacaran itu boleh yg penting bla bla bla.. Tapi semakin aku mencari-cari alasan dan terus bertanya, jawaban yg ku dapatkan dari setiap video ceramah yg ku dengar bersama Ivan tidak berubah dan lagi setiap jawaban yg di berikan di serta dengan dalil kuat dari Qur'an dan Hadist.
Hati terdalamku sangat mengetahui bahwa apa yg ku tonton itu adalah kebenaran tapi mengapa sulit sekali untuk menerimanya. Mungkin karena perasaanku terhadap Alfy, apa aku sedang mencoba mencari alasan agar bisa kencan dengan dia. Yg ku terima bukan alasan tapi jawaban atas keraguan dan nafsuku.
-Bersambung-
__ADS_1