
(Bagian Flashback)
Entah mengapa akhir-akhir ini aku sangat ingin meningkatkan massa otot dan terlihat kekar, mungkin efek waktu di Malaysia itu. Iyaa, gara-gara itu bukan cuma luka luar yg ku dapatkan tapi juga luka dalam. Di banding sakit karena luka tikam, masih lebih sakit ketika teman-teman membully ku sebagai pahlawan kesialan.
Setelah vakum latihan semester lalu, aku akhirnya memutuskan untuk kembali latihan di UKM Karate. Aku masih sabuk biru, tapi lumayanlah untuk mengasah teknik bela diri. Sebenarnya jika saja semester lalu aku tetap aktif latihan mungkin saat ini aku sudah sabuk coklat dan mungkin bisa saja tahun depan sudah sabuk hitam.
Setelah tadi selesai kuliah siang, karena obsesi untuk tampil bugar aku langsung ke sekretariat UKM karate. Di sana aku bertemu dengan Kak Taufik, ketua UKM karate yg menjabat pada periode saat ini.
Di dalam sekretariat aku juga bertemu kak Eva dan kak Simon. Mereka seniorku di UKM ini, ada juga Victoria, Linda dan Abel dimana Mereka bertiga seangkatan denganku. "ko orang dari mana?" tanya kak Simon dengan logat Papuanya.
"iya nih. Baru muncul." Sambung kak Eva.
"iya nih kak. Hehe. Sibuk banyak tugas." Balasku ngeles.
"tumben Man. Mau latihan ya?" kata Linda.
"iya Lin." Balasku.
"ya udah. Siap-siap sana. Anak-anak yg lain sudah ada di Gor." Kata Abel.
"Man.. Tolong sebentar habis angkat dogi (baju latihan karate) , bantu anak-anak yg lain angkat matras ke Gor yah!" kata kak Taufik.
"iya kak siap."
__ADS_1
Tempat latihan kami berada di Gor, tepat di sebelah kanan kompleks sekretariat UKM-UKM kampus. Gor kampus cukup besar dan setiap sore di penuhi oleh teman-teman mahasiswa dengan berbagai aktivitas yg berbeda. Tentu aktivitas yg di kerjakan sesuai dengan jenis UKM yg mereka ikuti, sebagai contoh UKM bola basket tentu mereka akan main bola basket begitu juga yg lain.
Sampai di Gor, aku pun di sambut teriakan anak-anak yg lain. Bukan tanpa alasan karena setelah satu semester menghilang akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini untuk latihan.
Aku tentu malu, tapi mau bagaimana lagi mungkin ini bisa jadi hukumanku karena baru sekarang aku bisa ikut lagi latihan bersama dengan mereka semua.
Kelompok latihan pun di bagi berdasarkan tingkatan warna sabuk. Selain mahasiswa di tempat latihan juga ada anak sekolahan bahkan yg sudah kerja. Itu karena UKM karate terbuka untuk umum, itu untuk latihannya tapi untuk menjadi pengurus UKM tentu harus terdaftar sebagai mahasiswa kampus.
Tingkatan terendah dari karate tentu saja sabuk putih, kemudian kuning, lanjut hijau, terus biru dan kemudian coklat. Dari coklat lanjut ke hitam, sabuk hitam pun punya tingkatan dan setiap tingkatan punya julukan berbeda. Tingkatan untuk sabuk hitam di sebut 'Dan'. 'Dan' 1 sampai 2 akan di sebut senpai, 'Dan' 3 akan di sebut sidoin, 'Dan' 4 sampai 5 di sebut sensei, 'Dan' 6 akan di sebut sihan, 'Dan' 7 sampai 8 akan di sebut kiyoshi terakhir 'Dan' 9 sampai 10 di sebut Grand Master.
Kelompok sabuk biru di mana aku berada saat ini di latih oleh Senpai Kandar. Latihan kali ini lebih banyak materi tentang gerakan jurus dalam karate. Sebenarnya aku lebih suka latihan bebas atau biasa di sebut TC. Karena latihan itu benar-benar menantang dan ampuh untuk membakar kalori.
Hampir 30 menit kami berlatih gerakan yg sama, akhirnya Senpai Kandar memberikan kami waktu untuk istirahat. Aku bersama teman-teman yg lain lalu berjalan ke kantin yg ada di sekitar kompleks UKM untuk membeli air mineral.
Sampai di kantin, aku melihat Dian dan dia sedang bersama siapa lagi kalau bukan Irwan. Tapi saat Dian melihatku dia berlalu pergi meninggalkan Irwan.
"hi Man. Wess.. Habis latihan ya." Katanya sok akrab.
"iya bro. Kamu ngapain di sini?" Balasku.
"nyantai aja." Jawabnya.
"itu tadi siapa?"
__ADS_1
"yg mana?"
"itu cewek yg tadi pergi?" Kataku.
"ohh temen UKM Fotografi bro." Jawabnya.
"oh temen yah.. Aku kira pacar." kataku untuk mendesak agar dia mengaku.
"pacar gue banyak bro." Katanya sedikit sombong.
"trus hubungan kamu sama Ica?" Kataku bertanya mulai jengkel.
"Ica.. Dia temen doang." Balasnya santai.
"kalau emang dia cuma kamu anggap teman, tolong jangan kasih dia harapan. Aku sebagai teman baiknya kasian lihat dia berharap sama kamu. Jadi tolong deh, jauhin dia." Kataku tersulut emosi.
"eh sini gue kasih tau.. Gue mau berteman sama siapa aja bebas dong. Kok lu ngatur-ngatur gue sih? Persoalan dia berharap atau baper atau apalah.. Itu urusan dia bukan urusan gue." Jawabnya nyolot.
"tapi sikap kamu bro.. Biasa aja dong. Namanya juga cewek, jangan manfaatin perasaan dia." Kataku dengan nada yg mulai meninggi.
"eh.. Santai aja dong, gak usah nyolot. Lu cemburu hah?" katanya dengan nada menantang.
Mendengar dia berkata seperti itu, spontan aku berdiri dari tempat duduk ku. Aku berfikir aku harus memukulnya sekali ini saja biar dia sadar atas apa yg telah dia lakukan, tapi belum ku angkat tanganku untuk memukul, tiba-tiba dogi (baju latihan karate) ku di tarik oleh kak Taufik.
__ADS_1
Kak Taufik menjauhkan ku dari Irwan dan kami kembali ke tempat latihan. Sepanjang jalan aku di nesehati oleh kak Taufik bahwa aku tidak boleh memulai perkelahian seperti tadi, itu adalah sifat kekanak-kanakan, sebagai anggota UKM Karate aku harus memegang teguh janji Karateka dan Perguruan. Kak Taufik berpesan bahwa seharusnya aku bisa bersikap tenang dan berpikir jernih karena musuh hari ini bisa saja jadi teman esok hari.
-Bersambung-