
Maaf aku baru sempet updet:)
Selamat membaca ☺️
Bima dan Gibran berkunjung ke rumah Bella, Gibran nampak antusias sekali karena dia tidak sabar memiliki mommy yang akan selalu menemaninya. Seperti Eranson yang selalu ditemani oleh Ratu.
Bima dan Gibran masuk ke halaman rumah Bella, namun siapa sangka justru mereka melihat sosok Aryo yang tengah berbincang dengan Bella di teras depan rumah.
Ck, duda itu lagi. batin Bima.
Siapa pria itu? Apakah saingan Daddy? batin Gibran menerka-nerka.
Dengan santainya Bima menghampiri mereka yang tengah asyik berbincang, "Wah ternyata ada pak Aryo." tutur Bima sambil menggandeng tangan Gibran.
"Lho Dokter?" Aryo langsung bangun saat melihat kedatangan Bima. Sedangkan Bella menatap tak suka dengan kehadiran Bima.
"Mommy!" ucap Gibran memeluk Bella, sontak hal itu membuat Aryo kaget.
"Siapa Bel?" tanya Aryo menatap Bella.
"Hai Om, aku Gibran anak Pak Dokter dan juga mommy Bella." ucap Gibran memperkenalkan diri, sambil terus memeluk Bella.
Kerja baguss Gib, Daddy bangga. batin Bima penuh kemenangan.
Astaga anak dan ayah sama saja, Gina lihatlah anak mu ini tengil sekali seperti kak Bima. batin Bella senang melihat tingkah Gibran.
"Gibran, Tante Bella bukan mommy kamu. Dia belum memiliki anak." ujar Aryo tidak terima.
Gibran menatap tajam Aryo, seakan tak suka dengan apa yang dibicarakan olehnya. Bima tidak tinggal diam, dia pun menjawab ucapan Aryo dengan santai. "Segera mungkin Bella akan menjadi mommy nya Gibran, dan dia juga akan memiliki anak dari saya. Apa pak Aryo keberatan dengan ini?" ucap Bima santai.
Apa dia laki-laki yang Bella cintai bertahun-tahun lamanya, sampai Bella belum menerima ajakan ku untuk menikah. batin Aryo menerka-nerka.
Saat gendrang permusuhan itu terjadi, untung saja Bu Ani keluar menghampiri mereka. "E--ehh ada nak Bima juga Gibran." ucapnya.
__ADS_1
"Nenek!" Gibran beralih memeluk Bu Ani dengan gembira.
Aduhh, gawat bagaimana dengan Aryo? batin Bu Ani.
"Eh Gibran, ayo sayang kita masuk ke dalam. Biarkan tante Bella juga ayah mu dan Om Aryo berbincang bersama." ucap Bu Ani, membawa masuk Gibran ke dalam.
Selepas kepergian Bu Ani, Aryo langsung bertanya kepada Bella. "Apa maksudnya ini Bel?" tanyanya.
Bella bingung menjawab apa, bibirnya seakan kelu tak dapat menjawabnya. Bima merangkul pinggang Bella, lalu tersenyum hangat kepada Aryo. "Maaf Pak Aryo, sepertinya anda cukup tahu mengenai hal ini. Saya dan Bella akan menikah segera mungkin, jadi tolong untuk tidak mengganggu calon istri saya." ucapnya tanpa ragu.
"Bell, tolong jelaskan. Apa ini benar? Apa dia laki-laki yang kamu cintai selama ini? Tidak adakah kesempatan untukku dan juga Putri untuk bisa bersama mu?" Aryo tak dapat menyembunyikan kekecewaan di wajahnya terhadap Bella.
Apa? Jadi Bella mencintai ku? batin Bima.
Bella hanya diam, tidak tahu harus bagaimana. Sejujurnya memang dia masih mencintai Bima, bahkan sangat ingin memiliki laki-laki itu. Namun, Bella merasa bersalah dengan Aryo karena kebaikannya selama ini.
"Bell jawab! Apa dia laki-laki yang kamu cintai bertahun-tahun lamanya, apa dia orangnya Bell? Apa dia, penyebab kamu tidak menerima ku selama ini? Dimana letak kurangnya aku Bel? Bahkan aku lebih mencintai kamu daripada dia, bahkan selama ini aku selalu ada untuk mu, selama ini aku selalu menolong, membantu dan---."
"Oh jadi ini balasan kamu ke aku Bel? Mentang-mentang sekarang dia sudah mencintai kamu, seenaknya kamu ninggalin aku?" ucap Aryo dengan sedikit nada tinggi.
"Gausah bentak-bentak istri gue, mending lo pergi sekarang!" Bima yang sedari tadi hanya diam, kini ikut andil karena tidak tega melihat Bella dibentak oleh laki-laki lain.
Aryo tersenyum sinis, "Istri Lo bilang? Dia belum jadi istri lo, ngapain ngaku-ngaku! Bel, kamu tahukan aku pengusaha, uang ku pasti lebih banyak daripada dia yang hanya seorang Dokter. Kita bisa bulan madu kemana pun kamu mau." ucap Aryo masih tak mau kalah.
Cih, lagi-lagi duit. Untung saja gue terlahir kaya raya. Bima bersyukur, karena dia terlahir di keluarga Mikhailov.
"Memang benar, yang dikatakan pak Aryo. Saya hanyalah seorang dokter. Seorang dokter yang memiliki rumah sakit sendiri, seorang dokter yang memiliki bisnis, dan---."
Bella memukul perut Bima, karena dia tidak suka jika Bima berlaku sombong seperti itu. Bima pun memilih diam saja, "Maaf mas Aryo, sebaiknya mas pulang." tutur Bella.
"Kamu ngusir aku Bel?"
"Aduh pak Aryo nih bodoh ya, sudah tahu kenapa bertanya." jawab Bima yang membuat Aryo kesal dan langsung meninggalkan halaman rumah Bella.
__ADS_1
Selepas kepergian Aryo, Bella hendak masuk ke dalam rumah namun tangannya dicekal oleh Bima. "Mau kemana hem?"
"Aduhh Kak Bima nih bodoh ya, sudah tahu kenapa bertanya? Aku mau masuk ke dalam rumah!" ucap Bella kesal.
Bima sedikit kesal, karena ucapannya dikembalikan. Namun dia gemas sendiri dengan Bella, karena melihat Bella yang menggemaskan ketika kesal.
"Kamu belum menjelaskan ucapan si Aryo, apa benar selama ini kamu mencintai ku? Bertahun-tahun lamanya?" tanya Bima antusias karena merasa bahagia.
Bella menatap Bima sebentar, "Tidak ada yang perlu dijelaskan, karena semuanya sudah jelas. Yang kak Bima dengar tadi, itu benar." jawab Bella tanpa ragu dan malu.
Hati Bima berdetak kencang, karena mendapatkan pengakuan dari Bella. Bima langsung menarik Bella ke dalam pelukannya. "Terimakasih, karena masih menjaga cinta itu." ucap Bima lembut. Jujur saja, Bella merasa nyaman seperti ini.
"Besok kita nikah ya." ajak Bima.
Bella langsung melepaskan pelukannya, "Aku belum setuju untuk menikah." ucapnya.
Bima menatap mata Bella, menangkup wajah Bella agar menghadap kepadanya. "Bel, aku tahu kamu masih ragu dengan ungkapan cinta yang aku katakan. Tapi, bisakah kamu percaya? Pegang dada ku, terasa tidak detak jantung ku?" Bima menaruh tangan Bella di dadanya.
Deg deg deg
Memang benar, Bella merasakannya. "Semua orang juga berdetak, kalau ga berdetak ya mati." jawabnya ketus.
Iya bener sih. batin Bima.
"Bel, ayo menikah. apakah kata itu tidak cukup untuk membuktikan cinta ku pada mu?"
"Nanti bahasnya, aku lapar. Gibran sama Ibu pasti sudah menunggu." Bella masuk meninggalkan Bima sendirian di luar.
Apa begini ya perjuangan Hans dulu? Kenapa susah bangat sih. padahal, cewek-cewek lain ngejar-ngejar gue, demi bisa nikah sama gue batin Bima prustasi.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita KISAH TUAN HANS. Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.
__ADS_1