
Sesampainya di mansion mereka berdua masuk ke dalam dengan wajah yang tak bersahabat, tanpa banyak bicara Bima langsung menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dari bau kambing.
Berbeda dengan Bima, Raja justru mengomel sepanjang waktu mengumpat Hans dengan kata-kata yang seharusnya tak keluar dari mulutnya.
Sedangkan Hans masih tertidur tenang di sofa, mami Hellena yang mendengar putra sulungnya berbicara panjang lebar langsung menghampiri Raja.
"Ja, udah beli kambingnya?" tanyanya.
"Mami ga nyium nih aku bau kambing gini, nyebelin bangat tuh anak bontotnya."
Hellena tersenyum. "Sesekali Ja bantuin adik mu, kan dia juga menggantikan Airen yang sedang mengidam."
"Ngidam sih ngidam, tapi si Hans mah lebih ke menyusahkan." gerutu Raja sambil berjalan menuju kamarnya.
Setelah beberapa menit Hans pun terbang dan langsung menanyakan kakak-kakaknya, lebih tepatnya menanyakan sate kambing yang ia inginkan.
"Mih, satenya udah ada?"
Mami Hellena menggeleng, "Satenya belum ada, tapi bahan buat bikin satenya udah ada."
Hans mengangguk lalu berjalan pelan menuju ke depan mansion, Hans melihat ada dua pasang kambing yang terikat di dekat taman depan.
Dia menghampiri kambing itu dari jarak yang berjauhan, Hans tiba-tiba mual saat mencium bau kambing. Dia pun berlari masuk ke dalam menuju kamar mandi, dan menumpahkan semua isi perutnya dan sayangnya hanya air saja yang keluar.
Airen turun ke bawah, setelah mendengar suara mual suaminya. Dia segera menuju kamar mandi dapur.
"Mas masih mual? Kita ke dokter saja ya." tutur Airen memijat tengkuk leher suaminya.
Hans menggeleng lemah. "Aku pusing nyium bau kambing." lirihnya.
"Mas masih mau makan sate?"
Hans mengangguk. "Yasudah sebaiknya mas istirahat di kamar saja ya, nanti satenya kalau sudah jadi dibawain ke kamar."
__ADS_1
Hans menggeleng karena tiba-tiba dia ingin melihat proses pemotongan kambingnya, Airen hanya pasrah dengan kemauan suaminya.
Raja dan Bima turun ke bawah beserta istrinya, mereka juga ingin melihat proses pemotongan kambing.
Semuanya sudah berkumpul di halaman belakang rumah, lengkap dengan orang yang akan memotong kambing.
Saat kambing itu hendak dipotong, Hans memberhentikan aktivitas itu. Mendadak ada keinginan yang ingin dia lihat.
"Tunggu! Kak Bima kak Raja coba dong foto dengan kambingnya."
What!
Demi apa pun rasa kesal Bima langsung menyeruak kembali, bisa-bisanya si Hans meminta dia berfoto dengan kambing bahkan dirinya sudah mandi dan wangi.
"Ngga." ujar Bima dan Raja bersamaan.
"Mih." Hans mengadu ke mami Hellena.
"Turuti saja apa kata adik mu."
Mami Hellena menghela nafas pelan, pikirannya berjalan mencari cara bagaimana agar mereka dapat keadilan. Tiba-tiba sebuah ide pun muncul.
"Yasudah kalian foto bertiga saja."
Hans menggeleng. "Ngga bisa, aku mual Mih kalau deket kambingnya."
"Lo kira kita enggak hah? Udah deh Hans mending gausah makan sate, kalau mau nanti malam saja! Lagi juga lo ga kasihan sama tuh kambing, mereka berdua itu pasangan suami istri. Masa Lo tega ngebunuh mereka berdua." tutur Raja panjang lebar.
Suara tangis tiba-tiba terdengar, semuanya terkejut termasuk Airen.
Pandangan mereka tertuju kepada Hans yang sedang menangis sendu, hal itu bahkan langsung diabadikan oleh Raja dengan kamera ponselnya. Momen langka katanya.
"Hikss.. aku jahat bangat ya sayang?" tanya Hans kepada Airen dengan suara yang terbata-bata.
__ADS_1
Airen menggeleng, tangannya dengan sigap menepuk-nepuk bahu suaminya. Menenangkan Hans agar tak lagi menangis.
"Ngga kok mas, mas ngga jahat."
"Hikss.. tapi kata kak Raja aku jahat."
"Heh kapan gue bilang lo jahat?"
Mami Hellena menjewer telinga Raja dengan sangat kencang. "Awwhhh mih sakit sakit, lepas mih ampun "
Mami Hellena melepaskan jewerannya, dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Hans dan langsung memeluk putra bungsunya dengan sayang.
"Sudah jangan menangis, kakak mu sudah mami beri pelajaran. Kalau masih mau makan sate kamunya diam, biarkan si abang-abang itu memotong kambingnya dengan tenang."
Hans menggeleng, "Ngga jadi Mih, aku ngga mau makan kambing itu." Hans pergi dari sana dan langsung masuk ke dalam mansion.
Mas Hans ternyata lebih baik menjadi dingin. batin Airen yang langsung mengikuti langkah kaki suaminya.
"Adek lo kerasukan setan apa sih."
"Adek lo juga, mih mending kita bawa si Hans ke ustad biar dia diruqiyah."
plak plak
Mamih Hellena memukul lengan kedua anaknya, tidak habis pikir dengan tingkah ketiga anak-anaknya.
"Pak, mohon maaf ya tidak jadi dipotong kambingnya. Kalau begitu bapak bisa pulang." tutur Hellena sambil menyerahkan beberapa lembar uang.
"Yasudah nyonya, kalau begitu saya permisi."
"Mih enak bangat tuh orang dikasih uang dengan cuma-cuma, tau gitu mending aku aja yang motong kambingnya." celetuk Raja.
"Kamu yang akan jadi pengembala kambing ini." ucapnya lalu pergi meninggalkan kedua anak-anaknya.
__ADS_1
Bima menertawakan kakaknya karena disuruh menjaga kedua kambing itu, Raja tentu marah dan langsung mengejar Bima.
Bersambung...