
Sudah tiga hari papi William meninggalkan keluarganya, suasana di dalam mansion terasa sangat berbeda, meski ramai dengan canda anak-anak namun ada yang kurang.
Amira menghampiri Oma nya dengan membawa sepotong biskuit, anak kecil berusia empat tahun itu melangkah kecil mendekati neneknya.
"Oma.."
Hellena tersenyum dengan matanya yang sayu dan sembap, dia mengelus lembut kepala cucunya dengan sayang.
"Oma janan ceudih ya, ini bicuit buat Oma. kata opa, alau agi ceudih mam yang anis-anis." tuturnya dengan suara khas anak-anak yang belum pandai berbicara.
(Oma jangan sedih ya, ini biskuit buat Oma. Kata opa, kalau lagi sedih makan yang manis-manis)
Hal itu semakin membuat Hellena rindu dengan sosok suaminya, jika waktu dapat diputar tentu ada banyak waktu yang ingin dia lakukan bersama suaminya.
"Makasih ya sayang." tutur Hellena sambil mengambil biskuit dari tangan mungil cucu nya.
Amira mengangguk dan tersenyum senang.
Raja jatuh sakit, kondisinya sangat memburuk setelah pemakaman papinya tiga hari yang lalu. Saat ini Raja sedang beristirahat di dalam kamarnya ditemani oleh istrinya.
Sedangkan Bima sudah kembali bekerja ke rumah sakit, begitupun dengan Hans yang langsung disibukkan dengan berkas-berkas perusahaan.
Masing-masing dari mereka memiliki caranya tersendiri untuk meluapkan kesedihannya, ada yang terang-terangan menunjukkan rasa kehilangan. Bahkan ada yang diam-diam memendam rasa sesak sendirian.
Hans adalah orang yang tidak menunjukkan kesedihannya di hadapan semua orang, dia hanya akan menangis dalam kesendirian dan hal itu tak luput dari penglihatan istrinya.
Di dalam ruang kerjanya, Hans menatap ke arah luar jendela. Dia menenangkan pikirannya sesaat, mengalihkan semua lembaran kertas yang menumpuk di atas mejanya.
Pih, sulit sekali memegang dua perusahaan sekaligus. Apa dulu papi juga merasakan hal yang sama? Di saat Raja dan Bima menolak untuk menjadi presdir. batin Hans.
Hans kini tahu rasanya, meskipun otaknya mempuni namun rasa lelah dan pusing tentu pasti ada. Untung saja, Hans dikelilingi oleh orang-orang yang mampu diandalkan. Seperti Barra, Roni, dan juga asisten pribadi papinya.
tok.. tok.. tok..
__ADS_1
"Masuk."
Airen langsung masuk setelah suaminya mempersilahkan dirinya, Airen tersenyum ceria menatap Hans.
Kedatangan istrinya justru menjadi penawar kesedihannya, senyuman Airen yang mampu meredamkan amarah dan juga kesedihannya sangat memesona.
"Sayang kamu datang?"
"Iya mas, ini aku bawain makan siang untuk kamu." ucapnya sambil menyiapkan makanan yang dia bawa.
Hans menghampiri istrinya dan langsung memeluk Airen. "Terimakasih sayang."
Cup. satu kecupan tanda terimakasih pun mendarat sempurna di kening Airen.
"Ayo, makan dulu oke."
"Oke sayang, suapin ya."
Airen mengangguk iya, mereka pun duduk di sofa. Airen menyuapi Hans dengan lembut dan penuh kehangatan, Hans terus menatap istrinya.
Hans menggeleng dengan tersenyum. "Kamu manis, aku cinta kamu. Terimakasih telah menjadi istri dan juga ibu untuk anak-anak ku, terimakasih karena telah menjadi penawar disetiap rasa sedih, marah, maupun kecewa yang aku alami. Terimakasih sayang."
Hans mengungkapkan isi hatinya, mendengar hal itu tentu membuat Airen terharu. Dia membelai wajah Hans, lalu mengecup singkat bibir suaminya.
"I love you more."
Hans bersyukur karena dirinya masih memiliki tempat bersandar, ntah bagaimana dengan mami nya. Hans tahu hal ini tidaklah mudah untuk semua yang ditinggalkan. Terlebih mami Hellena, dia berpikir bagaimana jika nanti dirinya ataupun Airen yang lebih dulu tiada? aaa tidak bisa dibayangkan.
🍁🍁🍁
Di lain sisi, Ratu sedang membujuk suaminya agar mau makan. Sangat sulit sekali membujuk Raja yang seperti ini, baru pertamakali Ratu melihat suaminya seperti ini.
"Mas makan dulu ya."
__ADS_1
Raja hanya diam sambil meringkuk ke bantalnya, rasa sedihnya sangat mendalam. Ditinggalkan begitu saja oleh ayahnya, bahkan dia tak menemani di saat-saat terakhir ayahnya. mungkin inilah penyesalan Raja.
cklek
Mami Hellena masuk ke dalam kamar Raja, Ratu menatap mama mertuanya itu. Hellena tersenyum lalu duduk di samping Ratu.
"Biar mami yang bujuk Raja, kamu ke bawah saja dulu temani anak-anak."
"Iya ma, kalau mama butuh sesuatu panggil aku." ucap Ratu menyerahkan makanan itu kepada Hellena, dan beranjak pergi dari kamar.
Hellena mengusap lembut kepala anak sulungnya itu, buliran airmata kembali berjatuhan saat kesadarannya mengingatkan tentang papi William.
"J--ja, maaf. maafkan mami dan papi ya?"
Raja menatap maminya dengan tatapan sendu, ada rasa kekecewaan di mata Raja. Kecewa karena semua orang lebih memilih diam tak memberitahukan dirinya tentang kondisi sang ayah.
"Kenapa mih? kenapa hanya aku yang tak diberitahu?" tanyanya sambil menangis.
Mami Hellena terisak lirih sambil menunduk, tak ingin melihat tatapan seperti itu dari anaknya.
"Maaf Ja, pasti ada alasan mengapa papi tidak ingin kamu datang saat itu. Barangkali kepergiannya akan sangat terasa berat, kalau melihat kamu menangis lebih dulu."
"Raja, kamu anak pertama kami. kalau kamu mengatakan mami dan papi tak menyayangi mu itu salah besar nak, kamu yang paling kami nantikan kehadirannya, papi kamu menjaga mami dengan sangat ketat saat tahu kehadiran kamu di dalam rahim mami."
"Maaf Ja, maaf kalau selama ini kamu merasa kurang akan kasih sayang yang mami ataupun papi berikan." ucap mami Hellena dengan terisak pilu.
Raja ikut menangis, dia menghapus air mata mami hellena dengan ibu jarinya. Hellena langsung memeluk anaknya dengan sayang dan penuh kehangatan.
"Maaf mih, tidak seharusnya aku menyalahkan mami, Hans ataupun Bima. Hanya saja aku merasa tidak berguna, karena di saat-saat terakhir papi aku tidak ada disampingnya."
"Jangan berkata seperti itu Ja, kamu sudah berguna hanya dengan menjadi anak kami. Kamu sangat berguna Ja, mami dan papi bangga sama pak pilot satu ini."
"Sekarang kamu harus makan, kamu harus kembali sehat. Pokoknya kamu harus kembali ceria, ayo Ja bangun. mami suapi ya?"
__ADS_1
Raja mengangguk bersemangat, dia langsung duduk menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang. Mami Hellena menyuapi Raja dengan pelan, rasanya seperti mengulang kejadian tiga puluh tiga tahun yang lalu.
bersambung...