Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 21


__ADS_3

(NGIDAM?)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹


Sudah sepuluh hari, kabar tentang keberadaan Airen tak kunjung Hans temukan. Roni, Barra bahkan Bima sudah ikut turun tangan dalam mencari keberadaan Airen.


Hans tidak tahu harus bagaimana, kenapa sulit sekali menemukan Airen. Hans pulang ke rumah dengan wajah yang murung.


"Hans, kamu kenapa Nak? Sakit?" tanya Hellena khawatir.


Hans hanya menggelengkan kepala nya, dia langsung pergi ke kamar nya. Hellena menatap kepergian anak nya, Hellena tau bahwa Hans sedang tidak baik-baik saja.


Sesampainya di kamar, Hans langsung merebahkan tubuhnya tanpa berganti pakaian. Dia masih tetap mengenakan kemeja dan juga jas nya.


"Cahya." gumam Hans.


Hellena ke dapur menyiapkan makanan untuk Hans, saat sedang di dapur Gibran menghampiri nenek nya.


"Oma, Uncle Hans udah pulang ya?" tanya Gibran.


"Iya sayang, Uncle Hans udah pulang." jawab Hellena.


"Kok cepet sih, biasanya Uncle pulangnya malem. Ini masih jam 9 pagi, kok Uncle udah pulang."


"Mungkin Uncle nya lelah."


"Ooo gitu ya Oma, yauda aku mau ke kamar nya uncle deh." ujar Gibran, dan langsung pergi.


"Gibran! Kamu udah bisa ngomong R?" Hellena kaget mendengar cucu nya yang sudah tidak cadel.


"Iya, Oma. Soalnya aku kangen sama Mommy Iren. Jadi aku bisa deh." ujar Gibran.


"Ya ampun, cucu Oma sudah besar." Hellena langsung memeluk Gibran dengan erat.


"Aduh Oma, sesak."


Hellena melepaskan pelukannya, dia menciumi seluruh wajah cucu nya. Tak pernah Hellena bayangkan Gibran akan tumbuh secepat ini.


Gina, lihat anak mu sudah besar. Dia sudah bisa berbicara menggunakan huruf R. batin Hellena.


Gibran langsung berlari menjauh dari Hellena, dia langsung pergi menuju kamar Hans. Gibran terkekeh melihat reaksi Oma nya, bagaimana dengan reaksi Uncle dan Daddy nya.


Tok..Tok..Tok..


"Uncle, aku masuk yaa." teriak Gibran di ambang pintu.


Tidak ada sahutan dari Hans, tapi Gibran langsung membuka pintu kamar Hans dengan perlahan.


Cklek..


"Wahhh, Uncle sedang tidur." gumam Gibran yang berjalan mendekati Hans.


Gibran naik ke atas ranjang, dia melihat wajah pucat Uncle nya. Gibran menempelkan tangan nya ke dahi Hans.


"Wahh panas, Uncle demam." ucap Gibran.


Hans perlahan membuka mata nya, melihat sudah ada sang keponakan yang tersenyum riang ke arah nya.


"Uncle demam." ujar Gibran.


Hans hanya menggelengkan kepalanya, dia kembali menutup mata nya. Rasa lelah, kantuk, dan pusing melanda Hans.


Cklek..


Hellena masuk dengan membawa sepiring makanan untuk Hans, dia menghampiri Gibran yang sudah terduduk di ranjang.


"Gibran." panggil Hellena.

__ADS_1


Sssuuuhhttttt.


Gibran memberi isyarat kepada Oma nya agar tidak berisik, Hellena pun paham.


"Oma, Uncle demam." ucap Gibran dengan suara pelan.


Hellena langsung meriksa nya sendiri, dan benar saja dahi Hans begitu panas.


"Ya ampun Hans, kamu demam!" Hellena mendadak khawatir, karena selama ini Hans jarang sakit.


"Hans, ayo bangun dulu Nak. Makan, habis itu minum obat." terlihat jelas kekhawatiran di mata Hellena.


"Oma, aku telepon Daddy ya." ujar Gibran.


"Iya Gibran, telepon Daddy mu. Suruh dia pulang." ucap Hellena.


Gibran langsung keluar dari kamar Hans untuk menghubungi Daddy-nya. Hans membuka matanya yang terlihat sayu, Hellena menatap iba kepada sang putra.


"Hans, ya ampun Nak. Kenapa kamu sampai sakit begini. Ayo bangun, kita makan dulu." ujar Hellena.


"Nggak, Mih. Aku kenyang." jawab Hans.


Hellena benar-benar kesal dengan sikap keras kepala anak nya yang satu ini, susah sekali untuk membujuknya.


"Kamu harus makan!"


Hans pun terpaksa menuruti permintaan Ibunya, dia makan disuapi oleh Hellena. Hans hanya memakan beberapa suap saja.


Brak..


William, Bima, Raja, membuka pintu kamar Hans dengan kencang. Mereka tergesa-gesa menghampiri Hans.


"Hah?" mereka bertiga saling pandang saat melihat Hans yang terduduk.


Sedangkan Hellena menatap heran kepada suami dan juga anak-anak nya, kenapa mereka bisa sampai tergesa-gesa seperti itu.


"Gibran!!" ujar mereka bertiga.


Pletak..


"Emang kamu pengen adik mu sakit apa hah!" omel Hellena.


"Aduh Mih, sakit kepala aku digetok terus. Mamih tega bangat, aku udah kayak anak tiri kesan nya." ucap Bima.


"Kamu bisa sakit juga Hans? Hebat." ucap Raja.


William hanya diam, dia tahu bahwa anak nya sakit karena terus-menerus memikirkan tentang Airen.


"Pasti karena belum menemukan Airen." ujar Bima.


"Pfftt Hahaha, ternyata sakit karena Airen. Wah hebat bangat calon adik ipar Gue." ujar Raja sambil tertawa.


Pletak


"Mamih doyan bangat nabokin orang sih," protes Raja yang ikut kena semprot.


"Hans, mereka tidak usah dikasih kompensasi!" ujar Hellena.


"Jangan gitu dong, Mih. Tau sendiri gaji pilot gak gede-gede amat." protes Raja.


"Berisik!" ucap Hans.


"Bim, cepat periksa adik mu." ujar Hellena.


Bima pun dengan patuh memeriksa kondisi Hans, ternyata dia hanya demam biasa. Hans kurang asupan vitamin dan juga nutrisi. Mungkin karena belakang ini, dia benar-benar tidak mementingkan kondisi kesehatannya.


Mereka pun keluar dari kamar Hans, membiarkan dia beristirahat. Hellena menarik lengan suaminya, karena ada hal yang ingin Hellena bicarakan.


"Pih, bantuin si Hans cari Airen. Kasian dia sampai sakit seperti itu." ujar Hellena.

__ADS_1


"Biarkan saja dia cari sendiri, dia harus bertanggung jawab." ujar William.


"Oh Papih udah mulai perhitungan sama anak sendiri, yauda nanti malam nggak usah tidur sama Mamih." ucap Hellena merajuk.


T**ck, Hans. Kamu benar-benar menyebalkan! Karena hadirnya kamu, cinta Mamih kamu untuk Papih jadi terbagi. batin William.


"Mamih tenang aja, Papih udah tau keberadaan Airen. Papih juga udah suruh orang untuk mengawasi nya. Biarkan Hans menemukan Airen dengan sendirinya." ucap William yang langsung membujuk Hellena.


"Apa! Papih nyebelin ihhh. Kenapa nggak kasih tau ke si Hans aja sih!" ujar Hellena.


"Biar dia menemukan cinta nya sendiri Mih, udah nggak usah ikut campur urusan anak. Ayo ke kamar yuk Mih." goda William.


"Dasar kakek-kakek omes. Udah punya cucu dua juga, nggak malu apa sama umur." Hellena langsung pergi meninggalkan suaminya.


🌹🌹🌹


Airen sudah mulai bekerja di kampung, dia ikut dengan Endah. Menjaga toko kue, Mak Suma. Sudah hampir sebulan lebih sejak peristiwa malam kelam Airen bersama dengan Hans, kini Airen sedikit sudah mulai lupa.


Begitu pun dengan Eza, untuk sementara waktu dia harus bersekolah di kampung. Eza senang, karena dia bisa bermain bersama dengan teman-temannya yang dulu. Meskipun terkadang, dia merindukan Karun temannya di Kota.


"Ren, semenjak kamu kerja disini. Toko kue jadi rame." ucap Endah.


"Alhamdulillah, tapi memang ini sudah rejekinya Mak Suma. Bukan karena aku di sini." ujar Airen.


"Terserah kamu deh, tapi waktu dulu Kang Bahar nggak pernah ke toko kue ini lho. Sekarang jadi sering membeli kue di sini, mungkin itu karena kamu." ucap Endah.


"Terserah kamu deh, Ndah."


Saat mereka sedang terlibat obrolan ringan, ada Mak Suma yang datang membawa mangga muda. Ntah mengapa Airen tiba-tiba ingin dengan mangga muda itu.


"Ndah, mangga muda yang di bawa Mak Suma, keliatannya enak ya." ucap Airen.


"Ihh itu mah asem Ren, enak dari mana nya. Masih muda bangat itu mah." ujar Endah.


Mak Suma menghampiri Endah dan juga Airen, Mak Suma menunjukkan mangga muda yang baru saja di bagi oleh Ceu Edoh.


"Ren, Ndah. Lihat Mak bawa mangga muda, di kasih tadi sama Ceu Edoh." ujar Mak Suma, sambil menunjukan mangga muda nya kepada Airen dan juga Endah.


"Wih boleh tuh Mak." celetuk Airen.


"Kamu mau Ren? Ini ambil aja, Mak mah belum butuh. Tadi niatnya mau disekep aja, atau dibuat manisan mangga. Soalnya kalau di rujak masam bangat." ucap Mak Suma.


"Bener ini Mak, buat aku?" tanya Airen.


"Iya Ren, ambil aja kalau emang mau di rujak. Cobek, gula dan cabai nya ada di dapur." ujar Mak Suma.


"Wah makasih banyak ya Mak." ucap Airen bersemangat.


Airen pun mengambil cobek, dan mulai membuat sambal rujak nya. sementara Endah mencuci dan mengupas mangga nya. Endah penasaran dengan rasa mangga itu, dia pun mencoba nya. Ternyata rasanya sangat masam, ini sih lebih cocok untuk orang yang sedang ngidam.


Airen memakan mangga muda itu dengan lahap, rasanya benar-benar nikmat sekali. Endah hanya mengelap air liurnya, karena tadi dia sudah mencoba mangga itu. Ternyata sangat masam rasanya.


"Ndah, kamu beneran nggak mau? Ini enak bangat tau." ujar Airen yang masih mengunyah mangga itu.


"Nggak Ren, itu masam bangat. Lagian kamu udah kayak orang ngidam aja." ujar Endah.


Uhuk..Uhuk..


Airen terbatuk mendengar ucapan Endah, dan Endah dengan sigap memberikan air putih kepada Airen.


"Pelan-pelan Ren, nggak ada yang mau ngambil kok." ucap Endah.


Airen hanya tersenyum tipis, dia memikirkan perkataan Endah.


orang ngidam? nggak mungkin aku hamil. batin Airen, dia berusaha untuk berfikir positif.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.

__ADS_1


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2