
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Bima nampak kacau, saat Ayahnya memberitahu dia bahwa Hans dan juga Airen telah menikah. Bima menyibukkan dirinya di rumah sakit selama seharian penuh, bahkan dia tidak memikirkan tentang Gibran anaknya.
"Aarggghh, kenapa secapat itu. Mengapa hatiku terasa sangat ngilu." gumam Bima prustasi.
Airen, mengapa perasaan ku terhadap mu tak kunjung hilang. Sulit bagiku, untuk menerima mu sebagai adik ipar ku. Aarrgghhh, sakit sekali. batin Bima, karena ini pertama kalinya cintanya tak sempurna.
Kenapa Hans yang menang. Harusnya aku, bukan? Si@l, biasanya Hans yang harus merana akibat cinta. Mengapa sekarang aku, aarrgghhh. batin Bima.
Cklek
Pintu ruangan Bima terbuka, menampakkan sosok suster perempuan yang memang sangat mencintai Bima.
"Dokter, belum pulang?" tanya Rani menatap Bima dengan tatapan mennggoda.
Bima hanya melirik sekilas, dia menarik nafasnya karena jengah melihat suster genit yang satu ini.
"keluar, saya tidak ingin diganggu." ucap Bima dingin.
Rani bukannya keluar, dia malah berjalan mendekati Bima.
"Dokter, jangan usir saya seperti itu. Saya sangat mencintai Dokter." ucap Rani yang langsung duduk dipangkuan Bima.
Bima membelalakkan matanya, reflek dia berdiri hingga Rani jatuh tersungkur ke bawah.
"Awwhh." ringis Rani dengan sengaja.
"Cepat pergi dari sini, atau saya pecat kamu." ucap Bima menakuti.
Rani hanya mendengus kesal, susah sekali mendekati dokter yang satu ini. Padahal dia sudah berusaha menarik perhatian Bima, bahkan dia selalu memakai seragam yang ketat agar lekuk tubuhnya terlihat oleh Bima.
Rani pun bangun, dan berjalan keluar dari ruangan Bima. Dia menutup pintu dengan kencang.
"Huuffhhh, sepertinya aku harus segera mencari pasangan." gumam Bima.
Belum sempat Bima duduk, dia dikejutkan oleh sahabatnya yang langsung masuk begitu saja.
Brak
Rio masuk ke dalam ruangan Bima dengan wajah yang sedikit muram, dia mendudukan bokongnya di sofa yang ada di ruangan.
Hufhhh..
"Kenapa Lo?" tanya Bima melihat kekacauan yang tampak di wajah Rio.
Rio mengusap wajahnya kasar, "Kayaknya Gue beneran jatuh cinta sama Dokter Novi." ucap Rio dengan gamblang.
"Terus kenapa? Tinggal perjuangin aja." ujar Bima.
__ADS_1
"Masalahnya, Lo tau sendiri dia susah dideketin. Udah gitu soleha pula, apa daya Gue yang seorang player ranjang." ujar Rio prustasi.
"Ya ubah dong, ngga selamanya Lo terus-terusan menjadi seorang player kan? Saran Gue si, Lo perbaiki diri Lo. Udahlah tinggalin masalah peranjangan." ujar Bima.
"Udah Gue tinggalin, tapi masalahnya. Wanita yang pernah bermain ranjang sama Gue, dia pasien Dokter Novi. Bagaimana kalau sampai Dokter Novi tahu tentang masalalu Gue yang suram." ungkap Rio.
"Yauda terimain aja, biar Gue aja deh yang berjuang. Lumayan dapat ibu sambung yang soleha buat Gibran dan anak-anak Gue yang lain nantinya." ucap Bima bercanda.
"Tck, Lo mah gitu Bim. Bukannya bantuin, aarrgghh kayaknya Gue harus buka buku panduan solat dan tata caranya."
"Udah ah, Sono Lo. Dilarang galau dalam ruangan Gue."
"Tck, Lo tuh udah tua galau gara-gara anak remaja. Aneh beut." ujar Rio.
Bima menatap tajam ke arah Rio, seperti tatapan seseorang yang hendak memasang. Dengan badan yang sedikit gemetar, akhirnya Rio pun keluar dari ruangan Bima.
"Dasar sebelas duabelas sama kak Raja." gumam Bima.
🌹
Airen terlihat masih kesal dengan suaminya, karena kemarin dia memergoki Hans yang sudah dikerubungi oleh para wanita.
"Sayang, sinian dong. Sumpah deh, kemarin aku ngga tau kalau ada banyak wanita di sana. Kamu cemburu ya?" tanya Hans pada istrinya.
"Apaansih, jangan dekat-dekat. Aku nggak suka." ujar Airen.
Hans semakin merapatkan tubuhnya di samping Airen, deru nafas Hans terdengar keras oleh Airen. Karena mereka benar-benar mengikis jarak hanya beberap senti saja.
Astagaa, singa buas kini menjadi kucing yang amat menggemaskan. Aaaaa aku menyesal karena pernah mengumpat dia agar mencintai istrinya sampai kehilangan wibawa seperti ini. batin Airen.
"I--iya, tapi jauhan dong. Aku gerah." Airen mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
Hans hanya pasrah, daripada istrinya kembali marah lebih baik dia mengalah saja.
"Tatap mata aku." pinta Hans.
Airen pun menurut saja, dia menatap mata suaminya yang terbilang teduh. Cukup lama mereka bersitatap.
"Apa kau baru menyadari bahwa suami mu ini, sangat tampan." ujar Hans dengan penuh percaya diri.
"Ihhh dasar narsis." Airen memukul lengan Hans.
Hans hanya terkekeh pelan melihat istrinya yang terbilang luc, jika dia kesal seperti ini.
"Maafin aku, maaf untuk setiap kata yang menyakiti hati. Maaf karena tidak pernah mengutarakan isi hatiku, dan Maaf untuk perbuatan ku, yang sampai detik ini masih menghantui mu. Jujur, aku memang dalam pengaruh obat. Malam itu aku meminta Baara menemani ku untuk pergi ke bar, karena aku cemburu dengan kak Bima yang selalu bisa mendapatkan wanita yang aku cintai." ungkap Hans dengan lembut dan tulus.
Airen langsung meneteskan airmatanya mendengar penuturan Hans, dengan sigap Hans menghapus jejak air mata yang menggenang di pipi sang istri.
"Meskipun seperti itu, aku bahagia. Karena dengan cara itu, aku bisa memiliki mu sepenuhnya. Cahya, aku mencintaimu. Sangat mencintai mu. Tanggungjawab ku kepada mu bukan hanya semata karena rasa bersalah, melainkan memang karena aku mencintaimu. Mulai hari ini, maukah kamu menjalin rumah tangga yang sesungguhnya bersama ku? Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama. Kita tidak akan berpisah, kamu hanya perlu mempercayai ku." ujar Hans.
Airen hanya sesenggukan menangis pilu, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia sangat bahagia, setelah mengetahui semuanya dari Hans. karena selama ini pikiran negatif yang menghantuinya terus memporak-porandakan hatinya.
__ADS_1
"Bantu aku menghilangkan rasa trauma itu." lirih Airen.
Hans tersenyum dengan senang, dia pun mengangguk lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Terimakasih, sayang." ucap Hans sambil memberikan beberapa kecupan di pucuk kepala sang istri.
Airen pun membalas pelukan Hans dengan senang hati. Meskipun saat ini dia belum tahu tentang perasaannya ke Hans. Namun Airen berusaha mencoba untuk mencintai suaminya.
Hans melepaskan pelukannya, di tatapnya mata nan indah milik Airen. Hans tersenyum.
"Boleh aku mencium mu? Disini (menunjuk kening) Disini (menunjuk kedua pipi Airen) dan disini (menunjuk ke arah bibir Airen)." tanya Hans penuh harap.
Airen memalingkan wajahnya malu, kenapa dia bisa bertanya seperti itu. Hans terkekeh pelan melihat semburat merah yang menghiasi pipi istrinya.
"Yauda kalau itu masih belum boleh, tapi sekarang elus dan cium anak kita boleh?" tanya Hans penuh harap.
Airen hanya mengangguk tanpa melihat ke arah suaminya. Hans sangat bahagia karena Airen sudah menyetujui nya, dia tak ingin membuang kesempatan ini. Hans pun langsung mengelus perut Airen yang masih rata.
"Baik-baik ya Nak, anak-anak Papa." ujar Hans dengan semangat, sambil mengelus lembut perut istrinya.
"Ayah." ucap Airen datar.
Hans mengernyitkan alisnya, kumudian dia paham jika Airen ingin anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan Ayah.
"Mama kalian protes, ingin kalian memanggil papa dengan sebutan ayah." ucap Hans sambil tertawa.
Ihh nyebelin bangat sih. Aduhh, mana geli lagi. Kenapa ngusapnya gitu sih. batin Airen.
"Sehat-sehat ya sayang, kalian harus berbagi ruang dan juga makanan. Ayah janji akan selalu membuatkan makanan yang enak untuk kalian. Kami menantikan kehadiran kalian ke dunia ini."
Cup.
Hans mengecup perut Airen, desiran aneh pun muncul di dalam tubuh Airen. Sungguh dia tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
"Sudah lepasin, ngga boleh berlebihan. Seminggu sekali aja nyapanya." ucap Airen dia pun langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan Hans yang masih berdiam duduk disofa.
"Astaga, istriku perhitungan sekali." gumam Hans.
Aku sangat bahagia, akhirnya kesalahpahaman ini telah berakhir. Aku akan membawa mu kembali ke kota, dan akan aku adakan pesta pernikahan yang mewah untuk mu. Cahya ku. batin Hans.
Bersambung...
...**Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️....
Btw, ini visualnya ya. hanya sebagai pemanis saja hehe**.
AIREN CAHYA SENJANI
__ADS_1
HANS ALISTER MIKHAILOV