Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 34


__ADS_3

(MEMINTA BANTUAN)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Hans dibuat prustasi karena istrinya belum kunjung keluar dari kamar, Hans meminta Eza untuk memanggil kakaknya. Hans sangat mengkhawatirkan Airen, karena dia belum sempat untuk makan.


"Za, panggilin kak Cahya untuk segera makan." ujar Hans sambil menata makanan di meja makan.


"Baik kak." Eza langsung pergi untuk memanggil kakaknya.


Tok.. tok.. tok..


"Kakak, ayo makan! Kak Hans sudah menyiapkan makan malam untuk kita." teriak Eza yang sambil mengetuk pintu.


Sedangkan di dalam kamar, Airen masih merasa sedih karena suaminya. Dia tak lagi mempercayai Hans, Airen terus memikirkan tentang anak-anaknya kelak jika sudah lahir. Apakah Hans akan benar-benar memisahkan mereka?


Airen mengusap pelan perutnya, buliran airmata kembali turun. Matanya sudah sembab akibat terus menangis, kepalanya pun sedikit pening karena kebanyakan menangis.


"Nak, meskipun pada awalnya Bunda tidak menginginkan kehadiran kalian. Namun sekarang, Bunda sangat menyayangi dan ingin terus bersama kalian. Bunda tidak ingin berpisah dengan kalian, kita harus tetap bersama-sama ya." ucap Airen kepada janin yang ada di dalam kandungannya. Ntah mengapa Airen menyukai jika anak-anaknya memanggil dirinya dengan sebutan Bunda.


"Kakak!" teriak Eza.


Airen tersadar akan teriakan adiknya, dia mengusap airmatanya. Airen berjalan mendekat ke arah pintu.


"Za, kamu makan duluan saja. kakak tidak ingin makan." ucap Airen dari balik pintu.


"Tapi, kak Hans sudah memasak makanan yang banyak. Kakak yakin tidak ingin mencoba masakan kak Hans?" tanya Eza yang masih tetap berdiri di depan pintu kamar kakaknya.


"Tidak Za, kakak ingin sendiri. Kamu makan duluan ya." ucap Airen.


Hans melangkahkan kakinya mendekat ke arah Eza, dia mengusap lembut kepala adik iparnya dan menyuruh Eza untuk makan lebih dulu.


"Kamu makan duluan saja, biar kakak yang membujuk kakak mu." ucap Hans dengan lembut.


Eza mengangguk patuh, dia pun langsung menuju dapur untuk makan lebih dulu. Hans menghembuskan nafasnya berat, dia pun mendekat ke arah pintu.


"Sayang, ayo makan. Jangan seperti ini." ujar Hans dengan lembut.


Tidak ada jawaban dari Airen.


Hufhh..


Hans tahu istrinya masih marah dengan dirinya, Hans pun merutuki kebodohannya. Dia tak salah mengartikan diamnya Airen, seharusnya Hans bisa untuk lebih memahaminya.


"Makanlah, setidaknya demi anak kita. Mereka pasti kelaparan." bujuk Hans dengan membawa anaknya yang bahkan belum terbentuk sempurna.


"Sa---."


Krek..


Belum sempat Hans kembali berteriak, namun pintu kamar itu telah terbuka. Hans tersenyum senang karena caranya berhasil, meskipun dia menatap sedih ke arah Airen karena melihat mata sang istri yang sembab akibat menangis.


Airen tak menghiraukan Hans, dia mencoba untuk bersikap tenang dan santai meskipun hatinya masih tak karuan.


Airen langsung pergi begitu saja ke meja makan. Dia mengambil piring dan menyendokan lauk serta nasinya, Airen pun langsung masuk kembali ke dalam kamar dengan membawa makanan yang sudah dia ambil.


Akan ku biarkan kamu sendiri dulu, tapi nanti kita perlu bicara. Aku harus menyelesaikan masalah ini, dan membawa mu pulang ke kota. Hans menatap punggung Airen yang memasuki kamar.


Tok..tok..tok..


"Airnya sayang, ini aku taruh di depan pintu ya. Sama vitaminnya diminum jangan lupa." ujar Hans, dia pun kembali ke dapur untuk makan bersama Eza.


🌹🌹

__ADS_1


Hellena mengajak cucu-cucunya pergi bermain ke mall bersama menantunya juga, dia ingin membuat Gibran sedikit lupa dengan masalah yang terjadi. Hellena pun ingin memanjakan dirinya, sudah lama dia tidak berbelanja.


"Ratu, ayo sayang. Kita shopping. Habisin duit si Raja." ucap Hellena dengan senang.


"Mih, jangan ajarin istri aku foya-foya dong. Udah tahu gaji pilot ngga seberapa." ucap Raja protes.


"Siapa suruh ngga mau nerusin perusahaan Papih kamu." ucap Hellena sambil memakai sepatu hak tinggi.


"Ya ampun sayang, jangan memakai sepatu itu. Kamu kan uda---."


"Tua? Hah! kamu mau bilang aku tua, iya?" Hellena memotong ucapan suaminya.


Astaga, salah lagi. batin William.


"Ngga sayang, aku hanya takut jika kamu terjatuh." ucap William.


"Bohong Mih, Papih pasti mau bilang kalau Mamih udah tua." Raja sengaja mengomporkan Papihnya.


"Hei, tutup mulut mu anak nakal!" William menatap tajam ke arah anak pertamanya.


"Kapan beulangkatnya kalau Oma Opa sama Uncle Raja terus berantem." ujar Gibran yang terkadang masih cadel mengucapkan beberapa kata.


"Ayo Gibran, sama Mamah dan kak Eran ke mobil duluan. Nanti Oma menyusul ya." ajak Ratu kepada keponakannya.


"Oke Mamah, let's go." Gibran sangat bersemangat.


Gibran memang memanggil Ratu dengan sebutan Mamah, mereka pun tidak mempermasalahkan hal itu.


Hellena masih diam di tempat, mengamati wajah suami dan juga anak pertamanya. Mereka yang ditatap tajam oleh Hellena menelan salivanya kasar.


Astaga, Mamih nyeremin bangat sih. batin Raja.


"Kalian berdua, tidak usah berangkat kerja! Bersihkan rumah ini sampai mengkilap. Tidak ada yang boleh meminta bantuan dari asisten rumah tangga." ucap Hellena penuh penekanan.


"Tap---."


Hellena langsung pergi, sedangkan William dan Raja saling pandang. Kenapa bisa mereka mendapatkan hukuman seperti ini.


"Ini semua salah Papih!" protes Raja.


"Enak saja, kau malah menyalahkan ku."


"Tck, sudah seperti ini apa boleh buat?" Raja pasrah dengan keadaan.


"Kau bodoh, ingin membersihkan rumah sebesar ini?"


"Tidak, tapi harus bagaimana lagi? Perintah Mamih adalah suatu keharusan. Bukankah seperti itu?"


"Tck, kalau begitu kau saja yang membersihkannya, Papih sudah tua. Tulang-tulang Papih sudah rentan."


"Eitsss, tidak bisa begitu Ferguso."


Pletak..


"Dari semua anak-anak ku, hanya kau saja yang paling keterlaluan. Sudahlah, sebaiknya meminta bantuan asisten saja. Untuk apa memperkerjakan mereka kalau semua tugasnya kita yang kerjakan." William pun bangun dari kursinya, dia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja.


Hufhh..


Gini amat, jadi anak pertama. batin Raja yang merasa paling tidak disayang.


🌹🌹🌹


Hans hendak keluar rumah, dia ingin menemui Endah sahabat dari istrinya. Hans ingin meminta tolong kepada Endah, agar Airen mau berbicara dengannya.


"Sayang, aku keluar sebentar ya." ucap Hans di depan pintu kamar, meskipun tidak ada sahutan Hans yakin Airen pasti mendengarnya.

__ADS_1


Mau kemana dia? ah sudahlah, bukan urusan ku. batin Airen.


Hans mengunjungi toko roti Mak Suma, karena waktu dia bertemu dengan Airen dan juga Endah di depan toko roti ini. Hans yakin, jika sahabat istrinya itu bekerja disini.


Cklek


Hans melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko, dia pun mengambil beberapa roti untuk dibelinya. Hans menuju kasir, dan benar saja disana ada Endah sahabat baik istrinya.


Ehem. Hans berdehem.


Endah menatap laki-laki bule tersebut yang tak lain adalah suami dari shaabatnya, dia sedikit terkejut.


"T--Tuan, Dimana Airen?" tanya Endah, matanya mengedar mencari sahabatnya.


"Ada di rumah." jawab Hans datar.


"Ooh."


"Begini, mm.. aku. Aku ingin meminta bantuan mu." ungkap maksud dan tujuan Hans.


"H--Hah? bantuan, apa?" tanya Endah.


"Bisakah kita berbicara sebentar di luar?"


"Baik."


Endah mengikuti langkah kaki Hans dari belakang, mereka berbicara di depan toko karena tak ingin menjadi bulan-bulanan warga tentang kesalahpahaman di dalam toko.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Endah menatap Hans.


"Istriku, dia salah paham. bisakah kau membujuknya?" tanya Hans dengan wajah datarnya.


Pffttt Hahaha, ingin rasanya ku tertawa puas. Tak disangka suaminya Airen begitu kaku dibandingkan dengan asistennya. batin Endah.


"Bagaimana?" tanya Hans.


"Begini, bisakah Tuan menjelaskan permasalahannya lebih dulu?"


Hans pun menarik nafasnya dalam-dalam, dia mulai menceritakan semuanya yang terjadi antara dirinya dan juga Airen. Hans hanya menceritakan poin pentingnya saja, bagaimana istrinya itu salah paham.


Endah hanya manggut-manggut, biar bagaimanapun juga permasalahan ini tidak boleh dianggap sepele. Karena akan berakibat fatal, dia tidak bisa menyalahkan Airen dan juga Hans. Karena kesalahpahaman memang sulit untuk menentukan siapa yang salah.


"Baiklah, saya akan mencoba untuk berbicara dengan Airen. Nanti sore saya akan menemuinya, setelah pulang bekerja." ucap Endah.


"Baik, ini uangnya." ujar Hans sambil menyerahkan beberapa lembar uang.


H--Hah?


Endah mengerenyitkan dahinya, lalu tersenyum sinis ke arah Hans.


"Saya lebih menyukai orang yang mengucapkan terimakasih dengan tulus, dibandingkan dengan orang yang memberikan uang sebagai imbalan." ujar Endah sinis.


Hans menatap heran ke arah Endah, kini dia paham jika sahabat istrinya itu sudah salah mengartikan tentang uang yang Hans berikan.


"Ternyata benar ya, wanita memang suka menyalah artikan. Ambilah uang ini, aku tidak membayar mu untuk membantu ku. Melainkan membayar roti-roti yang telah ku beli. Terimakasih." ucap Hans sambil menyerahkan uang itu kepada Endah, dia pun segera beranjak pergi dari sana.


Apa!


Astaga, malu sekali rasanya. Arghhhh!! batin Endah.


Bersambung...


...Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya....


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.

__ADS_1


Aku updet sehari satu bab 🙏.


__ADS_2