Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 12


__ADS_3

(KEHANCURAN)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Hans terus menc*mbu Airen dengan ganasnya tanpa sadar, dia benar-benar kehilangan akal sehatnya. bahkan rintihan dari tangisan Airen tak dihiraukan oleh Hans.


Dia membawa masuk Airen ke dalam ruangan yang tadi, Airen sudah berusaha memberontak dan memohon pada Hans. Namun pria itu tidak mendengarkan nya sama sekali. Tenaga Hans yang lebih kuat dari Airen, tentu membuat Airen tak bisa lepas dari kukungan Hans.


Barra langsung menghampiri ruangan itu, dia menguncinya dari luar. Barra tersenyum smrik.


"Tuan Hans, selamat menikmati hidangannya." ucap Barra.


Saat Barra hendak pergi dari sana, alangkah terkejutnya dia melihat wanita yang dia pesan baru sampai.


"Tuan Barra?"


"Hah, kau baru sampai?" kaget Barra.


"Iya Tuan maafkan saya." ujar wanita itu.


"Astaga, lalu yang di dalam siapa? Arghh biarkan saja lah, besok aku akan membayarnya. Kau pergilah." ucap Barra dengan santai.


Di dalam ruangan, Airen benar-benar menangis sejadi-jadinya. Dia memohon agar Hans tidak melakukan hal itu pada nya.


"Hikss.. Tuan Hans sadarlah, tolong lepaskan saya hikss.."


Hans tak menghiraukan tangisan Airen yang malang, dia terus mengikuti naluri hasratnya yang kian menggebu. dia benar-benar gila tak terkendali akibat pengaruh obat yang diberikan oleh Barra di dalam minuman Hans.


"Wahh ini luar biasa." ujar Hans yang sudah benar-benar kehilangan akal.


Hans tak tahan dengan penghalang di antara mereka, dia langsung merobek pakaian yang dikenakan Airen dan membuangnya ke sembarang arah.


Airen terus memberontak dengan memukul Hans. Namun tangannya ditahan oleh Hans.


Kegilaan Hans sudah tak tertahankan lagi, dia benar-benar kehilangan akalnya karena pengaruh obat.


"Hiks.. mmm.. Hikss Tuan." suara Airen begitu malang.


Hans mencoba untuk menerobos masuk dengan perlahan, namun sarangnya begitu sempit. Dia terus mencoba untuk menerobos masuk, akhirnya dengan beberapa kali hentakan dia berhasil melakukannya.


"Argh.. hikss.. sakit" jeritan Airen menggema di ruangan itu. dia benar-benar menahan rasa sakit di bagian sensitifnya.


"Aahh sempit sekali, ohh ini gila." racau Hans tak tertahankan, dia terus memompa dengan cepat.


"Aahhh.." ucap Hans dan juga Airen bersamaan, mereka telah melakukan pelepasan pertamanya.


Mereka melakukannya beberapa kali, hingga akhirnya Hans ambruk di samping Airen, bahkan Airen yang sudah kelelahan akibat menangis dan juga apa yang telah dia lakukan bersama Hans akhirnya dia pun tertidur pulas.


🌹🌹🌹


Mentari pun datang, menyinari pagi semua orang yang ada di bumi. Perlahan Airen membuka matanya, dia menatap langit-langit. Mengumpulkan kembali kesadaran, dan mencoba untuk mengingat kejadian yang dia alami.


"Hiks.. Hikss.. ke kenapa hikss.." tangis Airen pecah di dalam ruangan itu, dia tak kuasa mengingat kejadian yang menimpa diri nya.


Airen memejamkan matanya, buliran airmata membasahi seluruh wajah nya. penyesalan nya begitu dalam, suara Isak tangisnya tak begitu terdengar. Dada Airen terasa sesak. fisik nya benar-benar lelah, bahkan mental nya pun hancur seketika.


"Hikss... Aku kotor.. hikss.."


Isak tangis Airen membuat Hans perlahan bangun dari tidurnya. Kepala Hans terasa pusing.


"Ughh, siapa yang menangis pagi-pagi begini." gumam Hans sambil membuka matanya perlahan.


Airen terus menangis, dia tak menerima nasib yang menimpa diri nya. kenapa niat baiknya harus berakhir tragis seperti ini.


Hans melihat ke arah samping, alangkah terkejutnya dia melihat sosok wanita yang tengah menangis sambil meringkuk.


"Apa?!" Hans langsung duduk, mencoba untuk mengingat - ingat hal yang semalam dia lakukan.


"Arghh si*l, Barra kau benar-benar keterlaluan!" Hans menggertakan giginya, kesal dengan temannya itu.

__ADS_1


Hans melirik ke arah wanita yang tengah menangis sesenggukan memunggungi diriinya, Hans memberanikan diri untuk membuka suara nya.


"Ehem, hei kau. Berhentilah menangis! Kau pasti dibayar oleh teman ku kan. Dasar ******, kenapa kau mau hah. Kau merenggut keperjakaanku!" ujar Hans prustasi.


'Astaga, aku bisa dipenggal oleh Papih dan Mamih jika sampai ketahuan seperti ini.' batin Hans.


Airen bangun perlahan, dia mengusap air matanya. Lalu berjalan perlahan keluar dari ranjang.


"Awhh, Ugh sakit." ringis Airen yang merasakan sakit dibagian sensitifnya.


Deg.


Hans mengenali suara itu, suara yang tidak asing sama sekali ditelinga nya. Hans melihat ke arah seprai, ternyata ada bercak noda darah di sana.


'Astaga, dia masih perawan?' batin Hans.


"Hei Kau tak tahu malu! pakailah baju mu." ucap Hans.


Airen membalikkan tubuhnya, menatap Hans dengan tatapan benci nya.


Deg.


"C--cahya." ucap Hans terbata.


Air mata Airen mencelos begitu saja, saat dia melihat laki-laki brengs*k di hadapannya.


"Kenapa Tuan? hikss.. kenapa? Kenapa anda melakukan ini pada ku.. kenapa hah!"


"Hikss.. aku benci padamu Tuan! sangat benci! Kau laki-laki brengs*k!" teriak Airen sambil menumpahkan segala amarah dan juga kesedihannya.


"Hikss.. kenapa harus aku hikss.." Airen merosot ke lantai, dia tak kuasa menahan tangisan nya.


Hans menelan salivanya kasar, bagaimana bisa wanita itu adalah Airen. Dia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian semalam.


'Astaga, kenapa bisa menjadi seperti ini. Arghhh si*l.' batin Hans.


Perlahan Hans bangkit dan mendekati ke arah Airen, namun belum sempat dia mendekat Airen sudah lebih dulu memperingatkan nya.


Deg.


Hati Hans terasa sesak dan sakit, saat mendengar perkataan Airen pada nya. Namun Hans mencoba untuk menerima, karena memang dia layak untuk disalahkan. Dia sudah merenggut kehormatan wanita.


Hans terus maju tanpa menghiraukan ucapan Airen, namun Airen langsung berlari ke arah kamar mandi yang ada di sana. dan menutup pintunya dengan kencang, Airen mengunci pintu kamar mandi itu. dan menangis di dalam sana.


"Hikss.. Ayah Ibu, maafkan aku hiks.. A--Aku aku wanita kotor hiks.. aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Hikss.. kenapa harus aku yang mengalami hal seperti ini.." tangis Airen pecah di dalam kamar mandi.


Sementara Hans sedang prustasi dibuatnya, dia bingung harus apa dan bagaimana. Hati kecilnya merasa sangat bersalah, buliran air mata pun mencelos turun dari pelupuk mata Hans.


"Hiks.. Ibu maafkan aku, aku gagal untuk menjadi anak mu.." tangis Hans pun pecah, dia merasa menyesal dengan semua kejadian ini.


Hans menghapus air matanya, dia tak seharusnya menangis. Dia harus memberikan pelajaran pada Barra, dan dia harus mendapatkan maaf dari Airen.


Hans mengambil baju nya yang sudah tergeletak, dia hendak keluar untuk membelikan sarapan dan juga baju untuk Airen. namun pintunya terkunci.


"Arghhh si*l, Barra kau benar-benar kurang ngajar! Aku sungguh membenci mu, kau tak layak menjadi teman ku!" teriak Hans.


Dia pun mencari teleponnya, dan sayangnya handphone Hans sudah kehabisan batrai.


45 Menit berlalu


Hans menatap ke arah pintu kamar mandi, sudah dari tadi Airen tak kunjung keluar. Hans mulai resah dan khawatir, dia takut jika Airen melakukan percobaan bunuh diri.


Hans langsung mendobrak pintu nya, alangkah terkejutnya Hans melihat Airen yang tergeletak di lantai.


"Cahya!" Hans panik, dia terus menepuk-nepuk pipi Airen. Dilihatnya, mata Airen yang sembab akibat menangis, dan juga beberapa tanda kepemilikan nya pada leher Airen. Dan itu membuat Hans semakin dihantui rasa bersalah.


"Cahya, tolong maafkan aku." gumam Hans, dia langsung menggendong tubuh Airen. membawanya keluar dari kamar mandi, dan meletakkan nya di atas kasur serta menutupi tubuh Airen dengan selimut.


Hans hendak mendobrak pintu depan, agar dia dapat membawa Airen ke rumah sakit. Namun belum sempat Hans mendobrak pintu itu, tiba-tiba Barra membuka pintu itu.


"Haii Tuan Hans, bagaima---."

__ADS_1


Bugh! Bugh! Bugh!


Hans langsung menyerang Barra, dan memukuli nya bertubi-tubi tanpa ampun.


"Dasar anj***, b*ngs** Lo. Gue benci sama Lo brengs*k!". ujar Hans.


Bugh! Bugh! Bugh!


Hans terus memukuli Barra tanpa ampun, kabut kemarahan terpampang jelas di wajah Hans.


Roni datang, dan langsung menarik Hans menjauh dari Barra.


"Tuan hentikan! dia bisa mati." ucap Roni.


"Biarin aja! Orang kayak dia nggak pantes buat hidup! Dasar baj***an. Lepasin Gue!"


Roni langsung melepaskan Hans, nafas Hans terengah-engah dia menatap penuh kebencian pada Barra.


Barra bangun, dan mengelap darah yang mengalir dari sudut bibir nya.


"Sorry Hans, kenapa Lo semarah ini sama Gue. Lo tenang aja, Gue yang bayar tuh perempuan!"


Bugh!


Satu pukulan dari Hans mendarat di perut Barra, dia benar-benar geram dengan teman nya itu.


"Lo pikir kehormatan nya dapat dikembalikan hah? Lo pikir dengan uang bisa mengembalikan kesucian nya yang udah Gue renggut secara paksa Hah!? Gue laki-laki brengs*k yang udah mengambil kehormatan wanita. Lo anj*** Bar, pasti Lo yang masukin sesuatu ke dalam minuman Gue semalem kan!" teriak Hans pada Barra.


"Apa?! jadi perempuan itu masih perawan. Lo tenang aja Hans, dia pasti cuma ngejual diri nya disini. Oke Gue akuin, Gue emang masukin sesuatu ke dalam minuman Lo." ujar Barra.


Bugh! Bugh! Bugh!


"M*ti Lo anj***!" umpat Hans.


Roni kewalahan untuk memisahkan Hans dari Barra, tapi untung saja dia berhasil menahan tangan Hans.


"Tuan sadarlah! kekerasan tidak akan menyelesaikan apa pun!" teriak Roni.


"Lepasin Gue!"


Hans langsung masuk ke dalam, dan membelit tubuh Airen dengan selimut. kemudian membawanya untuk segera dilarikan ke rumah sakit, Hans melewati Barra dan juga Roni tanpa sepatah kata apapun.


Barra dan Roni terkejut, melihat Airen yang pingsan dalam gendongan Hans. Mereka berdua mencoba berfikir.


"Rondol, apa kau lihat wanita itu? Bukankah itu Airen?" tanya Barra pada Hans.


"I--iya Tuan, itu si Airen."


Mereka saling pandang, dan kemudian sama-sama melotot kaget. Barra menelan salivanya kasar, sepertinya dia melakukan kesalahan terbesar.


"Ron, kau tahu kan apa yang harus kita lakukan?" tanya Barra.


"Maaf Tuan, sepertinya bukan kita. Tapi Tuan sendirilah yang harus melakukannya." ucap Roni.


"Ron bantulah aku, ku mohon." Barra memohon dengan sangat.


"Baiklah, tapi tidak gratis." ucap Roni.


"Tck, kau ini tega sekali. Padahal kau tahu, pasti sebentar lagi perusahaan ku akan bangkrut oleh Hans." ucap Barra.


"Ayo Tuan, kita harus segera bergerak cepat. Jangan membuat Tuan Hans marah!" ucap Roni.


"Ron, bagaimana dengan wajah ku? ini sakit sekali." ringis Barra, memegangi wajahnya.


"Tuan, wajah mu tidak penting. bahkan itu tidak setimpal dengan kesalahan yang telah Tuan lakukan." ucap Roni.


"Iya iya, ayo cepat!" ucap Hans.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.

__ADS_1


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2