
Airen merasa jenuh sendirian di mansion, karena Bella dan Ratu mengantarkan Gibran dan Eranson sekolah. Sedangkan Hans sudah pergi ke kantornya, Airen bingung sendiri hendak melakukan apa?
Amira tertidur pulas, sedangkan Amara sedang bermain bersama dengan Ica karena anak keduanya itu tidak ingin digendong olehnya, jadi Airen membiarkan Amara bermain dengan Ica. Mbok Ti membantu mbok Nin mengerjakan pekerjaan rumah, Airen mengutak-atik ponsel miliknya.
Kenapa mendadak bosen gini ya? batin Airen.
Di rumah sebesar ini, terkadang Airen merasa sendiri dan kesepian di saat semua orang sibuk dengan aktivitasnya.
Airen mondar mandir naik turun tangga, dia berusaha menghilangkan kejenuhannya dengan membantu mbok Nin mengurus pekerjaan rumah. Airen mengambil kemoceng hendak membersihkan jendela mansion.
"Ya ampun non, ngga usah biar mbok saja." ujar mbok Nin melihat Airen yang memegang kemonceng.
Airen menghela nafas pelan, "ngga apa-apa mbok, aku jenuh pengen ikut bantu-bantu."
"Ngga usah non, biar mbok saja. Sebaiknya non menonton televisi saja."
Airen sudah kehilangan mood nya, dia berusaha tersenyum dan mengangguk ke mbok Nin. Lalu beranjak kembali ke kamarnya.
Airen mengambil ponsel miliknya, lalu dia ke kontak telepon dan segera menghubungi suaminya.
Drrddtt.. drddttt...
📞"Hallo mas."
📞"Nanti aku telepon lagi, ini lagi meeting."
Tutt..
Airen kesal, dia langsung menonaktifkan handphonenya. Lalu menaruhnya di dalam laci. "Semua orang memiliki aktivitas mereka, kenapa aku malah berdiam diri seperti ini." gumam Airen.
Dia mulai merasa jenuh, bosan, mood Airen benar-benar sedang kacau hari ini. Airen sadar, sekarang juga Eza mulai sibuk dengan sekolahnya. Dulu, meski hanya tinggal berdua rasanya dia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Atau mungkin dulu dia sibuk mencari uang?
Tiga jam berlalu, Hans baru ingat tadi istrinya sempat menelpon dirinya. Hans mencoba menghubungi Airen kembali, namun sepertinya ponsel Airen tidak aktif?
Hari ini Hans sangat sibuk, karena Roni meminta cuti selama tiga hari. Hans menghela nafas pelan, dia tadi sempat meminta bantuan kepada Barra mencarikan asisten sementara untuk dirinya.
Krek.
Hans menghela nafas pelan, saat melihat Barra yang masuk tanpa mengetuk pintu. "Nih udah gue cariin."
"Mana?"
"Kayla masuk.'" titah Barra.
Kayla, seorang wanita berpakaian seksi masuk ke dalam ruangan Hans. "Gimana oke ga bro?"
Hans memijat pelipis kepalanya, jika saja Airen tahu pasti dia sudah disuruh tidur di luar. "Yasudah langsung bekerja saja, hanya tiga hari. Dan tolong ganti pakaian mu sedikit lebih sopan." ucap Hans kepada Kayla.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Kayla pamit undur diri pergi ke ruangannya yang tadi sudah diberitahu oleh Barra.
Barra mengamati wajah Hans yang terlihat lelah, "Tumben bangat itu muka begitu."
__ADS_1
"Diem Bar, mending lo keluar sana."
"Makasih dulu ge."
"Makasih."
"Aishh, gini amat punya temen."
Barra tidak ingin mengganggu Hans yang terlihat lelah dan capek, dia lantas pergi kembali ke perusahaannya. Barra juga menjamin bahwa wanita yang ia bawa adalah wanita baik-baik, ya meski pakaiannya sedikit kurang bahan. Tapi, Barra yakin wanita itu tidak akan berani menggoda Hans.
***
Malam hari, semua orang berkumpul untuk makan malam. Namun Airen belum terlihat ada, Bella beranjak ke atas untuk memanggil Airen.
"Ren, ayo makan malam bersama." ujar Bella saat masuk ke dalam kamar Airen.
"Duluan aja mbak, aku nanti nunggu mas Hans pulang."
Bella melihat jelas bahwa Airen tidak seperti biasanya, wanita itu nampak lesu dan bergairah. "Kamu kenapa Ren?"
"Aku ngga apa-apa mbak, kayaknya mau datang bulan. Lagi ngga mood aja."
"Oh yauda, kalau gitu mbak duluan ya Ren."
"Iya mbak."
Bella turun ke bawah, dan memberi tahu yang lain. Bahwa Airen belum mau untuk makan malam, Gibran yang biasanya cerewet kalau tidak ada Airen, kini sudah tidak lagi. karena ada Bella yang menggantikan posisi Airen, begitupun Eza karena dia sudah terbiasa dengan keluarga ini jadi jikalau kakaknya tidak ada Eza juga tidak apa.
Tidak lama Hans pulang, dan langsung masuk ke dalam kamar. "Sayang, aku pulang." tutur Hans saat memasuki kamar.
Airen yang masih sebal dengan suaminya itu, hanya tersenyum kecil menyambut suaminya. Hans memeluk sang istri dari belakang, "Tadi siang kenapa nelpon hemm?" tanya Hans sambil mengamati wajah anak keduanya yang berada di gendongan sang istri.
"Ngga apa-apa, kamu sebaiknya mandi dulu mas." tutur Airen, Hans mengecup singkat pipi Airen lalu bergegas menuju kamar mandi.
Butuh waktu selama dua puluh menit untuk Hans membersihkan diri, lalu dia keluar dari kamar mandi menggunakan handuk di pinggangnya. Hans mengambil kaos berwarna hitam dan celana kolor.
"Kamu kenapa?" tanya Hans duduk di sisi ranjang di sebelah Airen.
Airen menggeleng pelan, "Mas sudah makan?" tanya Airen.
"Sudah tadi, bareng Barra."
Airen tersenyum, "Yasudah, kamu pasti lelah lebih baik kamu istirahat duluan mas."
Hans merasa ada yang aneh dengan istrinya, Airen memang banyak bertanya kepadanya namun ekspresi wajahnya mengapa terlihat seperti itu.
"Kamu kenapa?"
"Aku ngga apa-apa."
"Aku ada salah? Ayo bilang aja jangan seperti ini sayang." Hans mendekatkan dirinya dengan Airen.
__ADS_1
Airen menghela nafas pelan, "Aku lagi ngga mood aja, aku merasa kesepian. Semua orang sibuk dengan aktivitasnya, aku jenuh mas di rumah sebesar ini sendirian. Tadi juga Ara ngga mau sama aku, terus aku berusaha mengerjakan pekerjaan rumah, tapi dilarang mbok Nin. Mas, aku nggamau pakai jasa baby sister lagi."
Hans paham, pantas saja tadi istrinya menelpon dirinya. "Maafin aku ya, bagaimana kalau kita liburan?"
Airen menggeleng, "Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan kamu, aku cuma mau mengurus anak-anak kita tanpa bantuan baby sister lagi. Kalau ada mbok Ti dan mbak Ica aku merasa ngga berguna jadi ibunya mereka." keluh Airen, dia merasa sekarang anaknya lebih dekat dengan baby sister nya.
Hans mengerti, dia mengusap lembut kepala Airen. "Terus bagaimana dengan mbok Ti dan Ica? kasihan mereka kalau dipecat padahal mereka tidak melakukan kesalahan."
Airen semakin kesal dibuatnya, "Mas suka sama Ica? Atau memang suka melihat anak-anak kita lebih dekat dengannya? Mas kan bisa memperkerjakan mereka jadi asisten rumah tangga aja, atau apa gitu?" ntah mengapa mood Airen semakin memburuk, emosinya semakin tak stabil.
"Say--."
"Udah mas, aku ngga mau bahas soal ini lagi. Udah malam, sebaiknya mas istirahat." Airen pergi meletakan Amara di dalam keranjang miliknya.
Hans menghela nafas pelan, ada apa dengan istrinya? Kenapa mendadak seperti ini. Hans menghampiri Airen dan memeluknya.
"Mas lep--."
"Biarkan seperti ini sebentar." pinta Hans, mau tau mau Airen pun membiarkan suaminya memeluk dirinya.
Airen juga tidak mengerti kenapa hari ini dia merasa sendiri dan kesepian, bahkan dia merasa salah satu anaknya lebih dekat dengan Ica.
"Sayang, kamu kenapa hem? kenapa tiba-tiba seperti ini."
"Ngga tahu." jawab Airen.
"Terus mau apa? Kita pindah rumah? Liburan? atau bagaimana? Aku ngga tau kal--."
"Kan tadi aku udah bilang, aku mau mengurus anak kita sendiri. Ngga perlu pecat mbok Ti dan mbak Ica, jadikan mereka apapun tapi tidak lagi mengurus Amira dan Amara. Aku merasa kesepian mas, tadi pagi mbak Ratu dan mbak Bella mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Amira suka tidur, terus Amara lebih memilih sama mbak Ica daripada aku. Ngebantuin mbok Nin juga ngga boleh, aku bosen ngga ngapa-ngapain." ujar Airen panjang lebar menjelaskan.
Hans mengeratkan pelukannya, menaruh wajahnya di bahu Airen. "Kalau bosen di mansion sebaiknya ke kantor aku saja."
"Tetep aja bosen, pasti aku cuma ngeliatin kamu. Tadi aja aku telepon kamu bilang nanti aku telepon lagi. Kamu sibuk."
Hans terkekeh, lalu membalikkan tubuh Airen agar menghadapnya. Hans menangkup pipi Airen, menatap matanya dalam. Hans mengecup singkat kening dan bibir istrinya, lalu memeluknya dengan erat.
"Maafin aku ya, kalau kamu mau mengurus anak kita tanpa bantuan baby sister juga oke tidak masalah. Jangan merasa sendiri, kalau bosan bilang sama aku. Kita bisa buat anak yang banyak biar kamu ngga kesepian."
Airen mencubit pinggang suaminya. "Ah, sakit sayang. kok kdrt sih." keluh Hans.
"Ck, kamu mesum pikirannya. Sudah ayo tidur aku ngantuk."
"Lho ngga jadi buat an--."
"Ngga, ayo tidur."
Bersambung...
Maaf ya, aku lagi ngga ada ide. Kemungkinan cerita selanjutnya akan lebih berkaitan dengan hubungan 2B. Oiya asisten Hans itu bukan pelakor, hanya sebatas bumbu saja karena Roni lagi ngga ada.
Oiya, aku mau kasih tahu nih. kemungkinan bulan depan aku buat cerita yang baru. Nanti aku kasih tau sedikit disini.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui Vote, komen like dan hadiah ya.