
(Tamu tak diundang)
Selamat membaca ☺️
William menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang Laura dan keluarganya tentang kejadian tiga tahun silam. William menginginkan data dan bukti-bukti, mengapa Laura bisa meninggalkan Hans di hari pernikahan kala itu.
"Selidiki dengan baik, kirim informasi segera mungkin. aku akan membayar mahal jasa mu." ujar William.
Laki-laki misterius itu patuh, dia pun hanya menganggukan kepala dan pergi meninggalkan William.
William melangkahkan kakinya menuju mobil, hari ini dia sudah membuat janji untuk bertemu dengan Daniel karena Daniel yang memintanya.
William melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tidak berselang lama, William sudah sampai ditempat yang Daniel tunjukan. Sebuah restoran tempat dulu Hans dan Laura bertunangan.
Ck, kau pikir hal ini akan memengaruhi ku? batin William.
William melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran itu, dia langsung menuju tempat VIP yang sudah dipesan oleh Daniel.
Daniel tersenyum melihat kedatangan William, Daniel menghampiri dan hendak memeluknya namun William menolak.
"Duduklah, aku tidak suka hal seperti itu." ujar William.
"Baiklah, besan ku ini memang luar biasa."
"to the point, aku tidak suka basa basi." ucap William dingin.
"Aku ingin, pernikahan Hans dan juga putri ku segera dilaksanakan kembali."
William mengerenyitkan dahinya, dia pun tertawa.
"Haha, kau sungguh serius? Atau hanya bercanda. Setelah apa yang telah kau lakukan kepada keluarga ku, aku tidak akan menerima mu dengan mudah. Lagi pula putraku sudah memiliki istri yang sangat luar biasa istimewa." ucap William.
"Sebenarnya kau ingin mengatakan bahwa menantu mu itu jauh lebih baik dari putri ku?"
"Hei tenanglah, bukan aku yang mengatakan hal seperti itu, tapi kamu sendiri yang mengatakannya."
"Ingat ya Will, aku kasih kamu kesempatan empat bulan untuk memikirkan hal ini baik-baik. Jika kau tidak menikahkan putramu dengan putri ku, aku bersumpah akan melenyapkan menantu mu bersama anak yang ada di dalam kandungannya." ancam Daniel.
William bersikap biasa saja, meskipun ada kekhawatiran dihatinya tentang keselamatan Airen. William tersenyum, dan bangun dari duduknya. William menepuk bahu Daniel dan mengatakan.
"Jika sudah tidak ada yang dibicarakan, aku pergi." ujar William, dia pun pergi melangkahkan kakinya keluar dari sana.
Daniel menahan rasa kesalnya, sulit sekali membujuk William. Daniel tidak punya pilihan lain, dia harus mencari cara untuk menghilangkan Airen.
🌹
Airen tengkurap, sambil menatap wajah suaminya yang tertidur pulas.
Hehe ternyata suamiku tampan juga ya. batin Airen mengamati wajah Hans.
Hans terusik dari tidurnya saat merasakan ada tangan yang mengelus-elus pipinya. Mata nan indah itu perlahan terbuka, dan tatapan pertamanya tertuju pada wajah sang istri.
"Maaf mas, apa aku membangunkan mu?"
"Tidak sayang, kemarilah." ujar Hans sambil merentangkan kedua tangannya.
Airen menggelengkan kepalanya, wanita itu bangun dengan posisi duduk. Hans mengamati wajah ayu istrinya, dengan sedikit polesan make up yang tercetak di wajahnya.
"Kamu sudah mandi ya?" tanya Hans.
"Apa aku masih terlihat seperti seseorang yang belum mandi?"
Hans menggelengkan kepalanya, "Kamu cantik sayang, sini peluk dulu. Tidak usah keluar kamar."
"No, kamu mandi gih. Aku siapin sarapan untuk kamu."
Hans mengangguk, Airen turun dari kasur dengan hati-hati dia pun berlalu pergi menuju dapur. Dengan langkah yang berat, Hans memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
***
Grep
Airen sedikit terkejut saat melihat tangan kekar yang memeluk pinggangnya, Hans sudah rapih dengan setelan jasnya. Hans menaruh kepalanya di ceruk leher sang istri, Airen tetap melanjutkan aktivitas memasaknya meskipun dia sedikit terganggu oleh perbuatan suaminya.
"Mas jangan rusuh, aku lagi masak. Mending kamu duduk di kursi, nanti malu kalau sampai mbok Nin melihat."
"Tidak akan sayang, biarkan aku seperti ini. Hanya memeluk mu saja."
Airen pasrah membiarkan Hans memeluknya, Hans merasa sangat nyaman bermanja dengan istrinya meskipun saat ini pikirannya sedang kacau antara pekerjaan, masalah tentang Laura, dan juga keselamatan istri dan anaknya.
"Cahya, jangan keluar rumah dulu ya selama beberapa hari ini." pinta Hans dengan suara yang berat.
Airen menghentikan aktivitasnya, dia mengecilkan kompor dan langsung berbalik menghadap suaminya.
"memangnya kenapa mas?" tanya Airen.
Ada raut kekhawatiran yang tercetak di wajah Hans, Airen paham mungkin ini demi kebaikan dirinya.
"Aku takut kamu dan anak kita kenapa-kenapa, selama beberapa hari ini saja jangan keluar rumah ya sayang." pinta Hans dengan lembut.
__ADS_1
Airen tersenyum, "Iya mas, aku tetap di rumah asalkan kamu jangan pulang terlaru malam ya." pinta Airen.
"Iya sayang, aku usahain ya."
Hans menatap wajah Airen dengan dalam, pandangannya teralihkan kepada bibir istrinya, ingin sekali dia mencium bibir itu. Tanpa disadari Hans sudah mengikis jarak diantara keduanya. Hingga...
Ehem!!
Konsentrasi mereka buyar karena suara deheman seseorang, dan ternyata itu adalah suara Mamih Hellena. Hans menghela nafasnya kasar, kenapa Mamihnya rusuh sekali.
"Kalau mau mesra-mesraan di kamar dong! Disini area terlarang, banyak anak dibawah umur lho. Ada Eza, ada Eranson, dan ada Gibran." celetuk Hellena.
"Mamih sirik aja." ujar Hans.
Plak
Airen memukul lengan suaminya, sungguh dirinya menahan malu karena hampir berciuman namun tertangkap basah oleh mertuanya.
Ihhh malu bangat sumpah. batin Airen.
"Aduh sayang, sakit."
"Ck, lebay kamu Hans. Sepertinya sudah ketularan Abang kamu si Raja." celetuk Hellena.
"Wah ada apa nih, kok aku dibawa-bawa." ujar Raja yang baru saja tiba di dapur.
Tidak ada yang menjawab, Raja selalu ternistakan oleh keluarganya. Raja hanya mendengus kesal, dia pun langsung mengambil air putih dingin di dalam kulkas.
Tadi aja gue gak ada diomongin, pas ada aja didiemin. Dasar nenek lampir. batin Raja.
Hatcchii
Hellena bersin, dia langsung menatap Raja dengan penuh selidik. "Kamu ngumpat Mamih Ja?" tanya Hellena.
Busetdah, ini nenek lampir titisan cenayang kah? batin Raja.
"E--engga Mih, mana berani aku ngumpat ibuku yang paling cantik dan baik. Yakan Hans?" ujar Raja terbata.
"Keringat di dahi mu menunjukan bahwa kamu tengah berbohong." ujar Hans.
Dasar adek luknut, ngga bisa apa ngebantuin gue gitu. batin Raja.
"Ohh jadi kamu beneran ngumpat Mamih!? Sini kamu, dasar anak nakal!" teriak Hellena mengejar Raja.
mereka berdua main kejar-kejaran di dalam dapur, Hans menepuk jidatnya melihat tingkah Mamih dan kakaknya.
"Ada apa ini?" tanya William yang baru saja datang.
"Pih, anak kamu tuh berani sekali mengumpat ku!"
Hellena hanya pasrah tidak mengelak ucapan suaminya, dia pun akhirnya memilih duduk di kursi begitupun dengan William yang dengan sigap mengikuti istrinya.
Airen mencium bau gosong, dia pun berbalik melihat kompor.
"Aaa, mas hangus." teriak Airen panik, dia langsung mematikan kompornya.
"Tidak apa-apa sayang, sini biar aku yang makan."
"Jangan mas, ini tuh udah ngga layak makan."
"Hangus sedikit aja kok, yang penting ini buatan kamu aku pasti makan."
"Uhuyy kutub es nya sudah mencair kalau didekat matahari." ujar Raja menggoda Hans.
Hans menatap tajam kakaknya, Raja mendengus kesal kenapa sulit sekali mengajak bercanda si Hans. Dikit-dikit matanya melotot, dikit-dikit bilang Diam!
"Pffttt hahaha, takut sama adek sendiri." ujar William.
Raja tak menggubris ucapan ayahnya, dia memilih untuk sarapan saja. Tidak lama, Ratu, Bima, Gibran, Eranson dan Eza juga datang untuk sarapan.
🌹🌹
Di kantor.
Hans menatap meja kerjanya yang penuh dengan lembaran kertas, sungguh melelahkan harus mengerjakan ini semua.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Tuan, ini desain produk baju kita yang akan launching." ujar Roni memberitahu.
"Dengan desainer mana kita bekerja sama?" tanya Hans, karena proyek ini kemarin ayahnya yang memegang kendali.
"Tentu saja, Ibu Tuan. Yaitu, nyonya Hellena."
H--Hah!
Hans tak percaya, bisa-bisanya Papih nya memilih sang ibu untuk merancang kan produk baru ini. Namun Hans memang mengakui keahlian sang Ibu dalam mendesain baju, bahkan gaun yang Airen kenakan diwaktu pesta pernikahan pun adalah karya ibunya.
"Apa ada hal yang ingin di rubah dari gaun ini Tuan?" tanya Roni.
"Sini biar ku lihat."
__ADS_1
Roni segera memberikan desain itu kepada Hans, dengan teliti Hans mengamati desain gaun buatan sang ibu.
"Oke, aku setuju. Kita hanya perlu mencari model untuk mengenakan gaun ini." ujar Hans.
"Baik, tuan kalau begitu saya permisi." ucap Roni, mengundurkan diri dari ruangan Hans.
Hans kembali mengerjakan pekerjaannya, karena dia harus balik sebelum jam 9 malam. Hans mengerjakan pekerjaannya dengan penuh semangat.
***
Tok tok tok
"Masuk!"
"Tuan." panggil Roni.
"Kenapa?" tanya Hans menatap asisten pribadinya.
"Nona Laura ada di depan, dia ingin menemui Tuan." ujar Roni memberitahu.
Hans terdiam, untuk apa Laura ingin menemuinya. Hans menyuruh Roni, untuk mengusir Laura bahkan kalau bisa jangan sampai wanita itu masuk ke dalam perusahaannya.
"Suruh security usir dia, dan katakan pada semua orang jangan biarkan wanita itu masuk ke dalam perusahaan!"
"B--baik Tuan."
Belum sempat Roni keluar, pintu ruangan Hans terbuka dengan cukup keras oleh seseorang.
Brak.
"Baby, lihatlah mereka semua menghalangi ku untuk menemui mu." ujar Laura.
B--bagaimana bisa wanita gila ini masuk? batin Roni.
"Tuan maafkan kami." ujar salah satu security.
"Ron!"
Roni mengangguk paham, dia pun keluar dari ruangan dan menyuruh security juga keluar. Kini hanya ada Hans dan juga Laura di dalam ruang kerja.
Laura tersenyum, dia langsung menghampiri Hans dan hendak memeluknya namun dengan cepat Hans minggir. Hingga Laura terjembap ke tembok.
Arghh sial, bisa-bisanya dia menghindari ku. batin Laura.
"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Hans dingin.
"Aku ingin kita melanjutkan pernikahan, dan kamu ceraikan wanita itu!"
"Kamu masih sama egoisnya seperti dulu Laura, satu hal yang kamu harus pelajari. Ikhlas."
"Wanita itu benar-benar licik, dia sudah mendoktrin pikiran mu agar melupakan ku. lihatlah, kau sangat berbeda sayang. Dimana Hans yang sangat mencintai ku?"
Hans sedikit kesal dengan ucapan Laura yang mengatakan Airen telah mendoktrin pikirannya, wanita dihadapannya ini sungguh luar biasa berbeda. Laura yang Hans kenal, adalah Laura yang ceria dan penuh wibawa.
"Aku bahkan tidak yakin, bahwa kamu adalah Laura."
"B--bagaimana bisa kamu tidak yakin? Ini aku, Laura Calista Haryadi. Wanita yang akan menjadi istrimu!"
Hans sudah tak tahan lagi dengan situasi ini, dia sungguh tidak nyaman dengan Laura. Apa mungkin cintanya sudah terkikis habis? Dan yang ada hanyalah rasa kasihan dengan wanita ini.
Ron cepatlah! batin Hans.
"Ada apa baby? Kenapa kamu terlihat takut dengan ku, apa aku semenakutkan ini?" ujar Laura menyeringai, dia maju selangkah demi selangkah mendekati Hans.
Hans menghembuskan nafasnya kasar, dia harus bagaimana apakah perlu bertindak kasar terhadap wanita seperti ini?
Saat Laura hendak memeluk Hans, pintu ruangan terbuka. Hellena menatap putranya tajam, dia langsung mendekat ke arah Laura dan menjambak rambut wanita itu.
"Hei kau! Tidak malu kah, hendak memeluk suami orang hah! dimana sopan santun mu, cepat pergi dari ruangan anak ku!" teriak Hellena.
Laura menatap tak percaya kepada Mamih Hellena, karena selama ini dia paling disayangi oleh wanita paruh baya itu
"Mamih, ini aku Laura. kenapa Mamih menjambak rambut ku?" ujar Laura dengan wajah sendunya.
"Cih, siapa suruh kau meninggalkan putra ku dihari pernikahan kalian? Dan sekarang seenak nya kamu ingin kembali ke dalam pelukannya, tidak akan bisa Laura! meskipun Hans mencintaimu, aku yang akan menentang hubungan kalian. Tapi aku bersyukur karena putraku telah menemukan pendamping hidupnya, dan satu hal lagi jangan panggil aku Mamih!" ujar Hellena memepringatkan Laura.
"Mih, kita masih saling mencintai tolong jangan pisahkan kami." ujar Laura memohon.
"Oh, apa benar begitu wahai putraku Hans Alister Mikhailov?" tanya Hellena tajam.
Hans tergagap, dia langsung sadar dengan situasi ini. Hans menggeleng dengan cepat.
"T--tidak, aku tidak mencintainya. aku hanya mencintai istriku, Airen Cahya Senjani." jawab Hans.
"Kau dengar Laura? Putraku hanya mencintai istrinya, sebaiknya kamu pergi dari sini. atau aku meminta polisi membawa mu pergi dari sini." ancam Hellena.
Laura bangun, menangis pun sepertinya percuma saja. Laura pergi meninggalkan ruangan Hans dengan segenap kebencian yang ada di dalam hatinya. Dia sungguh benci kepada Hellena, dan akan melenyapkan wnakta itu juga.
Setelah kepergian Laura, Hellena menatap tajam kepada putra bungsunya. Hans terdiam, tak berani untuk mengucapkan kata.
"Kamu harusnya bisa tegas terhadap wanita seperti itu! Kamu perlu membela diri untuk tidak disentuh olehnya. Mamih memang mengajarkan kamu untuk tidak kasar terhadap wanita, tapi tidak dengan wanita-wanita ular seperti itu. Apa kamu terima, jika istrimu dipeluk dicium laki-laki lain? Sedangkan istri mu hanya diam! Kamu bodoh bangat Hans, kalau sampai Airen melihat kamu yang seperti tadi mungkin dia langsung pergi dari sisi mu." ujar Hellena mengomeli anaknya.
Hans diam, kini dia tahu letak kesalahannya. Hans akan merasa sangat bersalah kepada istrinya jika tadi Laura berhasil untuk memeluknya.
__ADS_1
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.