Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 88


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Hans pulang ke mansion sambil membawa sebuah buket bunga untuk istrinya, Hans sadar akan kesalahannya dia pun berniat untuk meminta maaf dengan tulus.


"Hans kesini dulu, mamih mau berbicara." perintah Hellena dari arah ruang keluarga.


Hans melangkahkan kakinya terlebih dahulu untuk menemui sang ibu, Hans duduk di samping ibunya.


"Ada apa mih?"


Hellena menatap buket bunga itu, "Bunga buat siapa? Airen?"


Hans mengangguk kecil, Hellena menghembuskan nafasnya pelan. "Belajarlah menjadi suami yang lebih baik lagi kedepannya." pinta Hellena.


Hans berpikir mungkin mamih nya mengatakan hal ini karena kesalahannya, setelah berbincang beberapa kata akhirnya Hans memutuskan untuk pamit.


Cklek


Hans membuka pintu kamar dengan perlahan, dia melihat istrinya yang tertidur sambil terduduk dilantai, dengan kepalanya di atas kasur. Hans merasa bersalah, dilihatnya sang istri yang terlihat kelelahan karena harus mengurus kedua buah hatinya.


Terdengar putri kecil mereka menangis, Airen langsung terbangun saat mendengar suara Isak tangis anaknya. Sedangkan Hans mengamati bagaimana istrinya dengan cekatan langsung bangun saat anaknya menangis.


Airen masih belum sadar akan kehadiran suaminya, wanita itu menggendong buah hatinya dengan mata yang masih mengantuk.


Perlahan Hans mendekati Airen, "Sayang." panggil Hans.


Airen terkejut, dia langsung menatap suaminya dengan mata yang sudah membulat sempurna. Hans tersenyum sambil menyerahkan buket bunga yang tadi ia beli untuk istrinya.


"Untuk kamu." ucap Hans sambil menyerahkan buket itu.


Airen menerimanya, dia berusaha menampilkan senyuman di wajahnya. "Terimakasih mas." ucap Airen.


Hans mengangguk, "Sini biarkan Ara bersama ku." pinta Hans yang hendak mengambil anaknya dari gendongan Airen.


Airen menggelengkan kepalanya, "Sebaiknya mas mandi dulu."


Hans pun patuh, dia memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sedangkan Airen sedikit heran dengan perlakuan suaminya, tumben sekali pulang membawakan buket bunga.


Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Hans pun mendekati Airen yang terduduk di sisi ranjang.


"Sini sayang, biar Ara sama aku."


"Ngga usah mas, anaknya udah tidur nih. Bentar aku mau pindahin dulu." Airen bangkit dan memindahkan Amara ke box bayi miliknya.


Hans menghampiri istrinya dan menarik pelan Airen menuju balkon, Airen terkejut akan sikap suaminya. Airen berpikir apakah Hans sudah menyadari kesalahannya?


Hans memeluk Airen dari belakang, "Mas disini dingin, ini sudah malam sebaiknya kita tidur."


"Aku ingin bicara padamu."


"Yasudah katakan saja sekarang."


Hans menghela nafasnya pelan, laki-laki itu memutar tubuh Airen agar menghadap ke arahnya. Hans menangkup wajah sang istri menatapnya lekat.


"Maafkan aku Cahya." ucap Hans lirih.


"Maaf untuk apa?" tanya Airen pura-pura tak tahu.


Hans tersenyum, "Kamu pasti tahu, maafkan aku sayang. Maaf karena telah membohongi mu." ujar Hans dengan suara yang berat.


"Baru mengatakan ini sekarang? Bagaimana jika aku bersikap biasa saja, apakah kamu akan terus-menerus membohongi ku mas?"


Hans menggeleng lemah, "Maaf, tadinya aku berpikir sebaiknya kamu tidak tahu masalah ini. Karena aku berpikir kamu akan marah."

__ADS_1


"Aku memang akan marah, tapi aku pasti memakluminya jika kamu jujur dan menjelaskan semuanya. Tidak bisakah kamu memercayai ku untuk tahu akan hal itu? Jika kamu tidak bersalah untuk apa aku marah mas?"


Hans langsung memeluk Airen dengan erat, hembusan angin malam menyelimuti mereka berdua yang sedang berada di atas balkon kamar. Bulan dan bintang menjadi saksi bisu akan pertengkaran kecil diantara kedua pasangan ini.


"Aku salah, tolong maafkan aku. Aku tidak bermak--."


"Stttss, sudah mas. Aku sudah memaafkan mu sebelum kamu meminta maaf, sekarang aku hanya butuh penjelasan mu saja." ucap Airen sambil membalas pelukan suaminya.


Hans melepaskan dekapannya, ayah dari dua anak itu menatap lekat mata istrinya. "Lihat aku, tolong percaya padaku. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Laura, kisah ku dengannya sudah berakhir. Dia datang ke perusahaan hanya untuk meminta agar kedua orangtuanya di bebaskan, kemudian dia pingsan di dalam ruangan ku. Tidak mungkin kan jika aku membiarkan dia mati di dalam ruang kerja ku? Aku hanya menolongnya dengan membawanya ke rumah sakit, itu pun bersama dengan Roni." ujar Hans menjelaskan sedetail mungkin.


Airen tersenyum dan mengangguk, "Aku percaya kamu mas, tapi aku mohon agar kedepannya tidak ada yang kamu sembunyikan dariku. Bisakah kita memulai terbuka satu sama lain? Percaya satu sama lain, dan berkata jujur apapun yang terjadi." ungkap Airen.


Hans mengecup singkat kening sang istri lalu memeluknya kembali, "Terimakasih karena sudah memaafkan ku, akan ku usahakan kedepannya untuk selalu terbuka dan berkata jujur kepada mu. I love you."


"Love you more."


Hans terus mengecup pucuk kepala sang istri, dia sangat bahagia karena masalah ini dapat terselesaikan dengan baik.


"Ayo mas sebaiknya kita istirahat, ini sudah hampir larut malam. Anginnya juga tidak baik."


"Iya sayang ayo."


Hans dan Airen berjalan beriringan menuju ranjang mereka, Hans terus saja memeluk istrinya karena sudah tiga hari Airen mendiamkannya tanpa mau disentuh olehnya. Hans benar-benar bahagia, karena kini dia kembali bebas untuk memeluk istrinya. Mereka berbaring sambil memeluk satu sama lain, memberikan kehangatan.


"Sayang." panggil Hans.


"Iya mas?"


"Apakah sekarang aku sudah boleh melakukannya?" tanya Hans dengan antusias.


"Melakukan apa?"


"Itu lhoo.. Usia Amira dan Amara kan sudah hampir dua bulan, jadi bukankah--."


Hans menghela nafas berat, kenapa lama sekali rasanya. "Baiklah ayo kita tidur." ucap Hans berat.


Airen terkekeh, "Selamat malam mas Hans."


Belum waktunya, sabar Hans sabar. batin Hans.


***


Seminggu kemudian..


"Ughh, bangun mas kamu tega bangat." protes Airen.


"Hehe maaf ya sayang, aku terlalu bersemangat tadi malam." Hans terkekeh pelan, karena semalam dia benar-benar tidak membiarkan Airen tidur.


"Minggir aku mau mandi."


Bukannya minggir Hans justru malah ikut bangun, lalu menggendong Airen ke dalam kamar mandi dan meletakkan istrinya di bathtub.


"Mandi bareng ya."


Airen menatap tajam ke arah suaminya, Hans tertawa melihat istrinya yang seperti itu.


Cup


"Iya ngga, kamu duluan aja mandinya." ucap Hans lalu beranjak pergi keluar dari kamar mandi.


Tok tok tok


Bima mengetuk pintu kamar Hans dengan begitu kencang.

__ADS_1


Krek


"Ada ap---."


"Kau lihat anak mu terus saja menangis, apa kau tega menghukum ibunya sampai siang hari seperti ini!" omel Bima kepada adiknya.


Tadi malam Hans sengaja mempengaruhi Gibran agar anaknya dapat tidur di kamar Bima, sedangkan salah satu anaknya Hans titipkan kepada Mamih nya agar kedua anak itu tidak menganggu aktivitas nya bersama dengan Airen.


"Sebentar lagi, istri ku sedang mandi. Tolong jaga anak ku sebentar lagi."


"Ck kau itu benar-benar binatang buas yang kelaparan, sebagai gantinya aku ingin anak-anak mu memanggilku Daddy. Karena aku juga ikut menjaga nya, kalau kau tidak mau jangan harap menitipkan anak mu kepada ku." ucap Bima lalu pergi sambil membawa Amira.


"Hei mana bisa seperti itu, aku yang membuatnya!" teriak Hans.


Airen sudah keluar dari kamar mandi, lalu menghampiri suaminya yang sedang berada di depan pintu. "Ada apa mas?" tanya Airen.


Hans kaget, lalu reflek menutup pintunya. "T--tidak ada apa-apa, sudah sebaiknya kamu ganti baju. dan aku akan mandi."


Airen mengangguk lalu pergi menuju ruang ganti, sedangkan Hans membersihkan dirinya.


***


"Pih lihatlah kelakuan CEO muda LovMart, sudah siang baru muncul." adu Raja kepada Papihnya.


William menatap wajah Hans yang begitu bahagia meskipun kakanya berkata seperti itu.


"Hei ada apa dengan wajah mu?" tanya Raja penasaran karena Hans terlihat sangat bahagia.


"Apa? Aku memang tampan dari dulu." jawab Hans.


Sejak kapan dia menjadi narsis seperti ku. batin Raja.


Hellena dan Bima menghampiri Hans yang sedang duduk bersama Raja dan juga Papihnya.


"Hans, dimana Airen?" tanya Hellena.


"Sedang sarapan di dapur mih." jawab Hans.


"Apa Amara merepotkan mamih?" tanya Hans kepada sang ibu, karena dia menitipkan anaknya yang lebih cerewet kepada ibunya. Karena Hans takut jika menitipkan Amara kepada Bima, jika saja anak itu bawel tentu Bima akan menggedor-gedor pintunya semalam.


"Tidak kok, dia gadis kecil yang baik dan menyenangkan. Iyakan Ara?"


Hellena tertawa karena cucunya merespon ucapannya dengan berceloteh sambil memainkan tangannya.


"Amira sama papa mu dulu ya, Daddy pegel." ucap Bima menyerahkan Amira kepada Hans.


"Sini Bim berikan kepada ku." ujar Raja, dia juga ingin menggendong keponakannya.


Bima pun menyerahkan Amira kepada Raja setelah melihat persetujuan Hans, "Jangan kau cium putriku, nanti bisa-bisa anakku ketularan virus c2 mu itu." ujar Hans memeringatkan.


"H--Hah C2?" tanya Bima.


"Ceplas ceplos." jawab Hans.


William dan Hellena tertawa terbahak-bahak, sedangkan Raja menatap kesal ke arah adiknya itu.


Seharusnya aku terlahir belakangan, apa-apaan keturunan Papih ini. Seharusnya aku yang anak pertama, yang mendapatkan seluruh ketampanan yang ada. Mengapa anak terakhir, yang mendapatkan nya.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita KISAH TUAN HANS.


Mohon dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya (*´ω`*)

__ADS_1


__ADS_2