Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Cahpter 71


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Airen sedang berada di balkon, dia duduk di kursi menatap pemandangan yang ada. Sudah tiga hari berlalu saat dia melakukan pemeriksaan rutin kandungan, Airen kepikiran tentang anak-anaknya yang masih di dalam perut. Apakah mereka benar-benar akan mendapatkan seluruh kasih sayang? Bagaimana jika ternyata kedua anak ini laki-laki?


"Hallo anak bunda, kalian apa kabar di dalam sana? tidak lama lagi kita akan bertemu. Kalian sehat-sehat ya, Bunda janji akan selalu memberikan yang terbaik untuk kalian. Bunda akan tetap memberikan seluruh kasih sayang bunda, baik kalian laki-laki ataupun perempuan bunda akan tetap mencintai kalian." gumam Airen sambil mengelus-elus perutnya.


Ddrrddttt drdddttt


Airen dikejutkan dengan dering ponselnya yang berbunyi, wanita hamil itu segera melihat siapa yang menelponnya siang-siang seperti ini?


Mas Hans? batin Airen.


πŸ“ž"Hallo, ada apa mas?" tanya Airen.


πŸ“ž"are you okay honey?"


πŸ“ž"Alhamdulillah, aku baik mas. kenapa memangnya?"


πŸ“ž"Perasaan ku tidak enak, jadi aku berfikir kamu sedang tidak baik-baik saja. Syukurlah kalau kamu baik, ingat ya jangan dipikirkan ucapan Mamih. dua puluh lima hari lagi persiapan untuk persalinan kamu. Jadi harus fit oke."


πŸ“ž"Iya mas, semangat kerjanya. Jangan balik terlalu larut ya, aku menunggu mu."


πŸ“ž"Iya sayang, dahh i love you."


Tut...


Airen tersenyum setelah mendapatkan telepon dari suaminya, Airen beruntung karena Hans selalu memastikan tentang kondisi dirinya.


Tok tok tok


Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar, Airen beranjak untuk membukanya.


Cklek


"M--mama?" gumam Airen pelan.


"Ayo ikut Mamih." ujar Hellena ketus.


Sudah tiga hari ini hubungan menantu dan mertua itu sedikit renggang, Airen memilih untuk berdiam diri di kamar. Dia menjadi sedikit takut dengan Mamih Hellena akhir-akhir ini.


"K--kemana?" tanya Airen gugup.


"Tidak usah banyak nanya, dan kamu tidak usah takut. Mamih mau ajak kamu belanja ke mall."


"B--baiklah, kalau gitu aku siap-siap sebentar." ujar Airen.


"Mamih tunggu di bawah." ujar Hellena dia pun pergi dari sana.


Airen masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya, ntah mengapa perasaannya sedikit gelisah. Airen takut jika mertuanya akan memaksanya untuk melihat jenis kelamin anak-anaknya. Setelah selesai berganti pakaian Airen segera menuju ke bawah, karena dia tak ingin membuat mamih Hellena menunggu.


***


Hellena dan Airen pergi berdua ke mall, diantarkan oleh pak supir. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, baik Hellena maupun Airen tidak berbicara. hingga mereka tiba di mall.


"Ayo kita ke toko pakaian anak." ajak Hellena.


Airen hanya mengangguk dan mengekori ibu mertuanya dari belakang, Hellena menghela nafasnya pelan.


"Bisa gak sih Ren, kamu biasa saja sama Mamih. Kalau kamu seperti ini, Hans akan mikir Mamih tidak memperlakukan kamu dengan baik. Atau memang kamu ingin hubungan Mamih dan Hans menjadi renggang?"


"T--tidak mah, maafkan aku." lirih Airen.


Hellena tidak menggubris ucapan menantunya, ntah mengapa dia menjadi lebih kesal dengan sikap Airen belakangan ini. Hellena masuk ke dalam toko pakaian bayi, dia membeli semua perlengkapan bayi perempuan.


"Mah, kenapa hanya baju perempuan? Kan kita belum tahu jenis kelaminnya, sebaiknya kita beli pakaian laki-laki juga ya?" ujar Airen pelan.


Hellena menatap tajam menantunya, "Saya tidak peduli dengan anak laki-laki, saya mau kamu mengandung cucu perempuan untuk saya! Sudah ayo kita pulang, capek lama-lama disini sama kamu." ujar Hellena.


Kenapa mama mertua menjadi seperti ini? Aku mengerti dia menginginkan cucu perempuan, tapikan dari awal pernikahan juga kehamilan itu bukanlah perencanaan. batin Airen.

__ADS_1


Hellena terus berjalan hingga masuk ke dalam mobil, dia menyimpan semua belanjaannya di bagasi. Airen turut masuk ke dalam mobil.


"Pak, kita ke rumah sakit!" ujar Hellena.


"Baik, Nyah."


Pak supir segera melajukan mobilnya, dengan kecepatan sedang. Airen nampak berfikir kenapa ibu mertuanya mengajak dia ke rumah sakit?


"Mah, mau apa kita ke rumah sakit?"


"Cek kandungan mu, sekalian lihat jenis kelaminnya."


"Mah, aku ngga mau!" ucap Airen sedikit kencang.


Hellena menatap ke arah menantunya dengan tatapan tajam, "Kenapa? Apa kamu takut jika anak itu laki-laki. justru saya mau tau sekarang, jika kedua anak mu laki-laki maka saya akan berusaha menerima dari sekarang."


"Tapi aku tidak ingin mah, tolong hargai keputusan aku sama mas Hans." ujar Airen.


"Pak supir berhenti!"


Supir itu menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia hanya diam mengamati interaksi menantu dan mertua satu ini.


"Mamih kasih pilihan ke kamu, turun atau cek kandungan?"


Airen tak kuasa membendung isak tangisnya, dia menatap sendu ke arah Hellena. Dengan berat hati, Airen turun dari mobil. Hellena sama sekali tidak iba dengan airmata yang keluar dari sudut mata Airen, dia malah menyuruh supir untuk melakukan mobilnya setelah Airen turun.


"Pak ayo berangkat."


"Tapi Nyah, non ai--."


"Jalankan mobilnya!"


Supir itu mengangguk, mereka meninggalkan Airen di tepi jalan. Sedangkan Airen sudah menangis sesenggukan di tepi jalan.


"Hiks... mas Hans, aku takut." gumam Airen, berjongkok di tepi jalan.


Hellena berfikir jika Airen membawa ponsel dan akan menelpon Hans, namun ternyata Airen bahkan tidak membawa apapun. Airen hanya dapat berjalan menelusuri jalan ini.


Saat Airen tengah berjalan sambil menangis pilu, ada mobil yang berhenti tepat di depannya. perasaan Airen mulai tak enak, Airen berbalik badan dan berlari untuk menjauh dari mobil itu namun ada seseorang yang keluar dari mobil dan berlari mengejarnya.


Laki-laki itu berhasil menangkap Airen.


"Lepaskan! Siapa kamu hah." teriak Airen ketakutan.


Orang itu tidak menggubris ucapan Airen, dia membawanya masuk ke dalam mobil dan sudah ada temannya yang memegang kemudi.


"Ayo cepat! Kita bawa dia sesuai arahan bos." ujarnya.


"Siapa kalian, lepas--."


Airen pingsan setelah laki-laki itu membekap hidung Airen menggunakan kain yang sudah diberi obat bius.


***


Hellena telah sampai di rumah, dia langsung masuk ke dalam mansion. Ratu yang melihat kedatangan ibu mertuanya, lantas bertanya dimana Airen.


"Mah, Airen mana?" tanya Ratu


"Tidak tahu, ke perusahaan Hans kalih." jawab Hellena ketus.


Berbeda dengan Hans di perusahaan, laki-laki setengah bule itu nampak gelisah ntah mengapa pikiran buruk tentang istrinya terus berputar dikepalanya. Hans memutuskan untuk menelpon Airen.


Drrdddttt drdddttt


Namun bukannya dapat jawaban dari istrinya, Hans justru mendapatkan jawaban dari operator. Hans kesal dan gelisah, ingin rasanya segera pulang ke rumah.


Hans mencoba untuk menyelesaikan semua pekerjaannya lebih dulu, baru dia akan segera pulang.


Jam 19.45


Hans kembali ke mansion, dia langsung pergi ke kamarnya karena tak sabar untuk melihat Airen.

__ADS_1


Cklek


"Sayang, aku pulang."


Hans melirik ke kamarnya tidak ada istrinya, Hans beralih ke kamar mandi namun tetap tidak ada, Hans beralih ke ruang ganti pakaian hasilnya tetap tidak ada.


Hati Hans mulai cemas tak karuan, dia turun dengan tergesa-gesa ke bawah. Hans meneriaki nama Airen, dia berlari ke arah dapur hanya ada mbok Nin yang tengah menyiapkan makanan.


"Mbok, dimana istri ku?"


"Mbok ngga lihat non Airen, Tuan."


Hans ke ruang keluarga dan ke ruang tamu sambil terus berteriak, semua orang keluar dari kamarnya menghampiri kebisingan yang ada.


"Ada apa Hans?" tanya William.


"Dimana istriku?" tanya Hans dingin, sambil menatap ke semua orang.


Hellena terkejut, membelalakan matanya. Perasaan bersalah kini muncul dalam hatinya, Hellena menghampiri Hans, dan bersimpuh di hadapan putranya.


"H--Hans, maafkan Mamih." lirih Hellena.


Hans menatap ibunya, dan menyurunya untuk bangun. "Katakan dimana istriku Mih?"


"M--mamih meninggalkannya di jalan, tadi siang Mamih k--kesal dengan istrimu. Mamih pikir dia akan menelpon mu untuk me jemputnya." lirih Hellena.


Apa!


Semua orang terkejut, dari siang Airen belum kembali? Karena Hellena meninggalkannya di pinggir jalan. Hans tak dapat berkata apapun, dia benar-benar kecewa dengan ibunya.


"Kenapa Mih? kenapa?! kenapa Mamih meninggalkan istriku!" teriak Hans.


Hellena menangis pilu, karena merasa bersalah dan juga bentakan dari anaknya. William membawa Hellena ke dalam dekapannya.


"Hans tenanglah, jangan marah-marah seperti itu dengan Mamih mu." ujar William.


"Tenang? Papih nyuruh aku tenang? Dari siang istriku tidak kembali, bagaimana jika hal itu terjadi kepada Mamih, apa Papih akan tenang?" ujar Hans.


Hans langsung pergi dari sana, untuk mencari keberadaan istrinya. Hans menghubungi semua orang yang dia percaya untuk membantunya menemukan Airen.


Dimana kamu Cahya, aarghhh kenapa hal seperti ini harus terjadi. batin Hans.


***


Dilain sisi, kini Airen sudah sadar dan tengah berada di ruangan yang kotor dengan tangan yang terikat. Suara langkah kaki terdengar menuju ke ruangan Airen.


Krek


"Wow, haii kita bertemu kembali." ujar Laura.


Airen membelalakan matanya menatap wanita dihadapannya ini, ada perasaan kesal dan tidak suka terhadap wanita ini.


"Mau apa kamu hah!?"


Laura tersenyum smrik, perlahan dia mendekat ke arah Airen. Laura menangkup dagu Airen, dan menatapnya tajam. Lalu menghempaskan wajah itu dengan kasar.


"Aku hanya menepati janji ku untuk melenyapkan mu." ucap Laura.


Airen tersenyum sama sekali tidak merasa gentar dengan apa yang Laura katakan.


"Oh ya? seyakin itukah kamu untuk melenyapkan ku, percayalah suamiku akan datang untuk menyelamatkan ku." ujar Airen penuh percaya diri.


Plak


Laura menampar Airen dengan sangat kencang, Airen menahan rasa sakit itu. Laura menatap tajam ke arah Airen.


"Aku akan melenyapkan mu, sebelum Hans datang menyelamatkan mu." ucap Laura dingin.


Wanita itu langsung pergi dari sana, Airen menangis sendu setelah kepergian Laura. Jika saja ibu mertuanya tidak meninggalkan dirinya di tepi jalan, mungkin dia tidak akan mendapatkan perlakuan seperti ini.


Kenapa Mamih meninggalkan ku, hikss.. mas aku tidak sanggup, tolong bantu aku. batin Airen.

__ADS_1


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


__ADS_2