Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 11


__ADS_3

(AWAL DARI KEHANCURAN)


Selamat membaca ☺️


Airen bekerja seperti biasanya, namun sikap Hans semakin berbeda dari pada biasanya. pria itu lebih banyak diam dan acuh terhadap Airen.


Kini jam makan siang, Airen dan Maya lebih memilih makan di kantin bersama teman-temannya yang lain. Mereka sangat menikmati kebersamaannya.


Waktu makan siang pun telah habis, mereka kembali bekerja masing-masing. Airen masuk ke dalam ruangan Hans dengan perlahan. Karena tadi dia belum sempat untuk membersihkan ruangan nya.


Cklek..


"Mommy!" teriak Gibran, dan langsung memeluk Airen.


'Astaga, anak ini lagi. Gibran, tolong jangan buat kakak menderita dengan ancaman Uncle mu.' batin Airen.


"Gibran, kakak harus bekerja. Kamu diam sebentar ya sama Tuan Hans." ucap Airen yang tak berani menatap wajah Hans.


"Ndak au cama Uncle, aku au nya cama Mommy. Gendong aku, Mommy." ucap Gibran sambil merentangkan kedua tangan nya.


Airen memberanikan diri untuk menatap Hans, dia menelan salivanya berkali-kali saat Hans menatap nya dengan tajam.


'Duh, gimana ini.' batin Airen.


"Gibran, sini sama Uncle!" kata Hans dengan datar dan dingin.


"Ndak au! aku au nya cama Mommy." Gibran masih merentangkan tangan nya, dia ingin digendong oleh Airen.


"Dia bukan Mommy mu! Mommy mu sudah tiada. Dan nama Mommy mu itu Gina!" bentak Hans pada Gibran.


Mata Gibran berkaca-kaca saat Hans membentak nya, ini kali pertama Hans membentak Gibran.


"Hikss.. Uncle jahat, Hikss... Mommy." tangis Gibran pecah.


Airen tak kuasa melihat jerit tangis Gibran, dia langsung membawa Gibran ke dalam pelukan dan gendongan nya.


"Cup cup cup, sayang nggak boleh nangis. Nanti ganteng hilang." bujuk Airen sambil membelai wajah Gibran.


'Dasar gadis bodoh! bagaimana bisa ketampanan nya hilang hanya karena menangis.' batin Hans.


"Hikss.. Mommy, Uncle jahat." adu Gibran.


"Gibran sudah ya jangan menangis, nanti kita beli es krim oke."


"Hiks.. Otey Mommy!" ucap Gibran di sela-sela tangis nya.


Gibran menaruh kepalanya di bagian dada Airen, Hans menatap tak percaya kepada keponakan nya.


'Dasar, anak mesum!' batin Hans.


Krek..


Bima masuk ke dalam ruangan menyusul Gibran, dia sangat terkejut karena mendapati Airen yang sedang menggendong putranya.


"Air?"


'Apa-apaan dia memanggil Cahya dengan sebutan Air!' batin Hans.


"E--ehh, Mas Bima." ucap Airen kikuk.


"Gibran kenapa?" tanya Bima.


"Apa kau buta? Dia sedang menangis!" jawab Hans dengan cepat.


"Tck, maksud Gue E--eh maksud kakak Gibran menangis karena apa?" tanya Bima.


"Daddy, Uncle jahat!" jawab Gibran yang masih memposisikan diri nya dengan menempelkan kepala nya di dada Airen.

__ADS_1


"Hans, kau apakan anak ku!?" bentak Bima yang hendak menuju ke arah Hans.


"Mas Bima, udah jangan marah-marah." ujar Airen menahan lengan Bima.


'Cahya! berani nya kau menyentuh dia.' batin Hans.


Airen langsung melepaskan tangan nya dari lengan Bima, karena dia melihat tatapan tajam dari Hans.


"Tck, yauda ayo kita pergi dari sini!" ujar Bima sambil menarik tangan Airen.


"Mas, saya masih harus bekerja."


"Nggak apa-apa, nanti saya yang gaji kamu. Nggak usah takut sama si Hans." ucap Bima yang langsung begitu saja membawa Airen pergi.


Sedari tadi Hans menahan gejolak amarah yang menggebu dalam diri nya, dia menggebrak meja dan juga melempar beberapa berkas yang ada.


"Aaargghhhhh, S*al !" umpat Hans.


🌹🌹🌹🌹


Drrrrddttt drddttt...


"Tumben Hans nelpon, ada apa ya?" gumam Barra yang mendapatkan panggilan dari Hans.


πŸ“ž"Hallo, Tuan Hans yang terhormat. ada apa ya?" tanya Barra.


πŸ“ž"Temani ku ke club nanti malam!"


πŸ“ž"Whatt!? Kau ingin pergi ke club? Wah sepertinya Tuan Hans sedang ada masalah hati. terakhir kali kau pergi ke club, saat Laura pergi meninggalkan mu. di hari pernikahan kalian." ujar Barra yang merasa terkejut dengan ajakan Hans.


πŸ“ž"Nggak usah banyak omong, nanti malam jam 9!"


πŸ“ž"Baiklah, sesuai keinginan Tuan Hans Mikhailov. Perlukah untuk menyewa wanita? Ayolah kau bahkan belum melepaskan keperjakaan mu!" ajakan sesat dari Barra.


πŸ“ž"Tidak ada wanita! aku hanya ingin minum. Awas saja jika kau berani menyewa wanita!" ancam Hans.


Tut..


Barra tersenyum smrik saat Hans mematikan panggilannya, tiba-tiba terbesit bagi Barra untuk mengerjai Hans.


"Maafkan aku Hans, tapi sepertinya aku akan menyewa wanita untuk mu. Aku jamin kau pasti akan ketagihan dengan rasanya nanti hahahaha." ucap Barra diiringi dengan tawanya.


🌹🌹🌹


Saat Maya dan Airen pulang dari kantor berbarengan, tiba-tiba ada temannya adik Maya yang berlari ke arah Maya dan memberitahukan nya sesuatu.


"Kak Mayaa!!" teriak anak itu.


"E--Ehh, ada apa Kayla?" tanya Maya kepada teman adik nya.


"Kak, tadi aku denger kalau Intan pergi ke club nanti malam. Dia di ajak oleh Amel untuk menjual tubuh nya, dan digiming-giming oleh uang yang banyak." ujar Kayla.


"Apa?!" kaget Airen dan juga Maya.


"Astaghfirullah, Intan kamu kenapa kayak gini." lirih Maya, lutut nya terasa lemas mendengar kabar seperti ini.


"Sabar May, nanti kita susul adik kamu." ucap Airen berusaha membantu menenangkan Maya.


"Aku takut, Intan kenapa-kenapa Ren. Kamu tahu sendiri, dia adik aku satu-satunya. Aku nggak mau kalau dia mengikuti jejak Ibu." lirih Maya.


"May, kamu yang sabar ya. Aku yakin kok adik kamu pasti bisa menjaga dirinya, nanti malam kita temui dia secara baik-baik ya." Airen berusaha menenangkan Maya, karena bagi Airen penderitaan Maya sama dengan nya. mereka hidup tanpa adanya kedua orang tua.


"Iya Iren, makasih banyak ya. kamu udah mau bantuin aku."


Maya memeluk Airen dengan erat, dia bersyukur memiliki teman seperti Airen. Meski terbilang belum lama mengenal nya, namun Airen memang benar-benar gadis yang baik.


...****************...

__ADS_1


Di club


"Hei Tuan Hans, ayo kita bersenang-senang." ujar Barra saat melihat kedatangan Hans.


"Hm."


Mereka memesan beberapa botol wine, Barra menuangkan untuk Hans, dan dia langsung meneguk minuman beralkohol itu.


Meskipun Hans adalah pria setengah bule, namun dia dan juga kedua orang tuanya menjaga pergaulan Hans begitu ketat. Bukan hanya Hans, namun Bima dan Raja juga tidak pernah melakukan hubungan terlarang sebelum mereka menikah.


Hellena mengawasi betul setiap pergaulan anak-anak nya. Dia tak ingin jika anak-anak nya terjerumus dalam dunia malam. Bahkan Hellena mewanti-wanti agar anak-anaknya tidak melakukan hubungan intim sebelum mereka menikah, karena Hellena tak ingin jika putra-putranya merusak kehormatan seorang perempuan.


Di lain sisi, kini Airen dan Maya sudah tiba di dalam club yang diberitahu oleh Kayla. Mereka berdua benar-benar risih di tempat seperti ini, banyak para wanita yang memakai pakaian minim.


"Astaghfirullah, Intan kenapa kamu memasuki tempat seperti ini." gumam Maya yang melihat wanita-wanita berjoget dengan riang.


"Ayo May, kita langsung mencari adik kamu." ucap Airen, dan mereka pun langsung mencari Intan dengan cara berpencar.


***


"Bar, tuangkan untuk ku sekali lagi!" ucap Hans yang sudah mabuk kepayang.


Barra tersenyum smrik, dia menuangkan minuman ke gelas Hans dan juga memasukan sesuatu ke dalam nya.


'Hans sorry, niat Gue cuma buat bantuin Lo. Gue jamin Lo pasti ketagihan jika sudah merasakannya.' batin Barra.


Barra menyerahkan gelas minuman itu kepada Hans, dan dia langsung meneguk sampai habis.


"Barr, antar aku ke apartemen!" ucap Hans.


"Baiklah, Lo tunggu disini sebentar. Gue mau angkat telepon dulu bentar." bohong Barra.


Barra pun segera beranjak keluar menjauh dari Hans, dia menelepon seseorang yang akan dia sewa.


πŸ“ž"Hallo, kau pergilah ke sana."


πŸ“ž"Baik, Tuan."


Tut...


"Arghh si*l, kenapa badan ku rasanya panas sekali!" umpat Hans.


Hans beranjak keluar dengan sedikit sempoyongan, dia berusaha berjalan dengan memegang tembok.


Bruk..


"Awwhhh, bok*ng Gue." ucap Airen sambil mengelus-elus bagian belakang nya yang sakit.


mereka langsung bangun secara bersamaan, Airen hendak memarahi orang itu. Namun dia langsung terkejut melihat Hans.


"Tuan Hans!" kaget Airen.


Hans menatap ke arah Airen, dilihatnya samar-samar. Hans tidak fokus, karena saat ini badannya terasa panas. ada sesuatu yang ingin dia tuntaskan. Hans begitu tersiksa.


"Arghh to--tolong aku!" pinta Hans.


"Tuan, anda kenapa?" tanya Airen yang melihat Hans merintih.


Hans langsung menarik Airen, dia menc*um bibir Airen dengan paksa dan ganas. Airen kaget dibuatnya. Hans terus mengecap setiap inci bibir manis itu.


Airen menitikan air matanya, saat lidah Hans dengan ganasnya menerobos masuk tanpa permisi ke dalam mulutnya, Airen erengah-engah dia memukul dada Hans berusaha untuk memberontak.


Bersambung..


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


tetap sehat dan bahagia semuanya ❀️.

__ADS_1


__ADS_2