
Selama masa kehamilan yang kedua ini, Airen dibuat pusing dengan tingkah laku suaminya yang semakin hari semakin menyebalkan menurutnya. Bahkan semua orang kewalahan di buatnya, termasuk Raja sang kakak yang saat ini bahkan turut serta membantu Hans dalam mengelola perusahaan.
Raja diminta oleh mami Hellena untuk membantu Hans, dan karena itu Raja tak dapat bekerja sebagai pilot untuk beberapa bulan ke depan. Namun masih untung, dia bekerja di salah satu maskapai yang dimiliki oleh sahabat papanya. Dan sebab itu, raja dikasih keringanan.
Siang ini, Hans sedikit beradu mulut dengan anaknya. Ntah mengapa Hans menginginkan mainan Amara, dan karena hal itu Airen semakin tidak karuan dengan tingkah laku suaminya ini.
"Papa ini mainan aku."
"Ara, papa pinjam sebentar. Papa menginginkannya."
Airen menghela nafas panjang, ntah harus membela siapa. Hellena yang hendak menuju dapur, namun segera mengurungkan niatnya saat melihat tingkah anaknya yang menginginkan mainan cucunya.
pih, lihatlah anak mu itu mengidam tak karuan. Sangat manja, sangat berbalik dengan sikapnya selama ini. batin Hellena.
"Ara." Hellena memanggil cucunya, berjalan maju menghampiri mereka.
Baik Amara maupun Hans langsung menoleh ke arah sumber suara. "Ara ikut oma ke butik yuk." tuturnya mengajak sang cucu.
Ara mengangguk bersemangat, dia berjalan kecil menuju neneknya. Ara merentangkan kedua tangannya meminta untuk di gendong, dengan senang hati Hellena menggendong Amara dan pergi dari ruang keluarga meninggalkan Hans dan Airen di sana.
Sebelum mami Hellena pergi, dia sempat mengatakan beberapa kata kepada menantunya. "Airen, biar oma yang mengurus Amara. Kamu fokus saja dengan bayi besar mu itu." setelah mengatakan itu mami Hellena berlalu pergi.
Hans dibuat kesal oleh mamanya, karena memanggil dirinya dengan sebutan bayi besar. Hans menghampiri istrinya, duduk di samping Airen dan memeluknya.
"Sayang, memangnya aku seperti bayi besar?" tanya Hans dengan terus memeluk Airen.
Tangan Airen terulur untuk membelai lembut kepala suaminya. "Memang seperti itu kenyataannya, akhir-akhir ini mas selalu merengek seperti Amira dan Amara."
__ADS_1
Hans menghela nafas pelan, kesadarannya kembali. Memang benar apa yang dikatakan ibu dan istrinya, Hans pun tidak tahu mengapa dia menjadi seperti ini. Akhir-akhir ini dirinya selalu banyak bicara.
"Kenapa aku menjadi seperti ini? Apa mungkin karena kecebong ini?" tanyanya sambil mengusap lembut perut Airen yang belum membuncit.
Plak
Airen memukul pelan lengan suaminya. "Sembarangan kamu, ngatain anak aku kecebong."
Hans terkekeh. "Anak kita sayang, lagi pula memang seperti itu kenyataannya."
Huek huek
Hans kembali merasakan mual, bibir Airen sedikit terangkat mengulas senyumannya karena melihat sang suami yang tiba-tiba mual setelah mengatakan anaknya kecebong.
Bunda sungguh bahagia melihat pemandangan ini sayang. batin Airen mengelus lembut perutnya.
🍁🍁🍁
Di kantor, Raja menaruh kepalanya di atas meja. Nafasnya memburu, karena pekerjaan yang sama sekali belum selesai. papih hikss...
Air matanya mengalir begitu saja, dia baru merasakan hal seperti ini. Apa mungkin dulu papinya juga merasakan hal melelahkan seperti ini? Sungguh ini sangat lebih melelahkan daripada jika dia melakukan penerbangan selama berjam-jam. Karena perkejaan menjadi seorang presdir tidaklah mudah, sangat menguras otak dan tenaga.
tok tok tok
"Masuk." jawab Raja pelan, masih dengan posisinya yang seperti tadi.
Ehem.
__ADS_1
Roni berdehem, sedikit terkejut melihat anak sulung dari keluarga Mikhailov yang tumbang hanya karena beberapa berkas.
"Tuan, ini--."
"Ron, jangan katakan jika itu masih menyangkut pekerjaan. Aku aku sangat lelah, suruh Bima gantikan aku. Rasanya aku ingin pingsan, tak kuat dengan berkas-berkas ini." ucapnya tanpa melihat Roni, karena wajah Raja menghadap ke arah sebelah kiri.
Roni ingin tertawa, namun ia urungkan. "Maaf tuan, tadi saya sudah menelpon tuan Bima namun beliau mengatakan bahwa ada jadwal operasi pasien dan tidak dapat membantu anda disini."
"Arghhhh!! Hans sialan, mengapa aku harus memiliki adik seperti itu Ron? Katakan mengapa?" Raja membenarkan kembali kepalanya, saat ini dia duduk dengan benar dengan tubuh tegap menghadap Roni.
"M--maaf tuan, saya tidak tahu. Mengapa tidak tuan tanyakan saja kepada tuan besar?"
Raja memicingkan matanya tajam ke arah Roni. "Hei kau bodoh atau lupa? Papa ku sudah beristirahat tenang di bawah tanah, menjelma seperti ubi kentang ataupun singkong." tuturnya.
Tuan besar, maafkan saya. Saya justru heran, mengapa anda memiliki anak seperti tuan Raja? bukankah itu sungguh lebih mengherankan. batin Roni.
"Tuan, sebaiknya tuan istirahat dulu. Saya akan membawakan makanan dan juga minuman untuk tuan, setelah itu baru tuan kembali kerjakan pekerjaannya."
Raja mengangguk setuju, "Yasudah sekarang kau bawakan aku makanan dan minuman ya. Aku juga sudah lapar, pokoknya bos mu itu harus membayar mahal aku." ujar Raja berceloteh.
Roni mengangguk, segera pergi dari ruang kerja itu dan membawakan Raja makanan juga minuman.
🍁🍁🍁
bersambung...
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.
__ADS_1