
(Lentera hidup)
Selamat membaca ☺️
Airen pergi ke kantor mengantarkan makan siang untuk suaminya, wajahnya yang begitu ceria sambil menenteng bekal makan siang.
Mas Hans pasti suka. batin Airen.
Airen berjalan di koridor, semua orang menyapanya sambil tersenyum. Airen berjalan pelan menuju ruangan suaminya. Tibalah dia di depan pintu, saat Airen hendak membuka hendel pintu. Suara yang begitu ia kenali tengah berbicara dengan seorang wanita.
"Sayang, asal kamu tahu aku meninggalkan pernikahan kita karena aku menderita penyakit. Itu sebabnya Daddy membawa ku pergi untuk berobat ke luar negeri. Dan teganya kamu, menikah dengan wanita lain. kamu jahat hikss " ujar Laura sambil memperlihatkan wajah sedihnya.
Deg
Laura. batin Airen.
"Sayang, ayolah kita bisa kembali bersama. Menata kembali semua rencana kita yang sempat tertunda." ujar Laura.
"Istriku tengah mengandung, bagaimana bisa aku meninggalkannya." ucap Hans.
Deg deg deg
Jantung Airen berdebar, mengapa suaminya hanya mengatakan hal itu? apa dia memiliki niat untuk kembali pada Laura.
"Bisa, berikan saja dia uang yang banyak untuk kebutuhan dia dan juga anaknya nanti. Dia pasti pergi dari sisi mu." saran Laura.
Hans nampak berpikir, dia pun tersenyum.
"Kau benar, aku akan melakukannya." ucap Hans.
Brak
Airen membuka pintu dengan kasar, matanya berkunang-kunang menahan agar air matanya tidak keluar. Semburat emosi tercetak jelas di wajah Airen.
"Oh jadi begini mas? K--kamu tega mas." lirih Airen, bahkan suaranya pun sangat berat dan lemah.
"S--sayang, ini tidak seperti yang kamu kira." ujar Hans terbata.
"Hikss.. kamu tega mas, bahkan kamu terbuai akan rayuan wanita penggoda ini. Kamu melupakan janji kamu mas, Kamu jahat mas, jahat!" teriak Airen.
Hans terbangun, melihat istrinya yang berteriak memanggil namanya bahkan Airen tertidur sambil menitikan air matanya. Sontak hal itu membuat Hans tekejut, dia langsung duduk dan membangunkan Airen.
"Sayang bangun, hei bangun. Cahya bangun sayang." ucap Hans lembut sambil menepuk-nepuk pipi Airen.
Airen langsung membuka matanya, nafasnya terengah-engah. Airen melihat Hans disampingnya, Airen langsung bangun dan memeluk erat suaminya.
"Hikss.. Kamu jahat mas." racau Airen yang sambil memeluk Hans.
Hans membiarkan istrinya menangis, jika sudah tenang baru dia akan bertanya. Hans mengelus lembut punggung istrinya, dia berusaha memberikan ketenangan.
"Sudah lebih baik?" tanya Hans, karena suara Isak tangis istrinya sudah tak terdengar.
Airen mengangguk, dia pun melepaskan pelukannya. Hans menghapus jejak air mata yang bersimbah di pipi istrinya.
"Kenapa hm?" tanya Hans lembut.
Airen menatap suaminya dengan wajah yang sendu, Hans menangkup wajah istrinya dan mendaratkan kecupan di seluruh wajah Airen.
"Mimpi buruk mas." ucap Airen dengan suara yang pelan.
Hans tidak langsung kembali bertanya, dia membantu istrinya untuk menyanggah kepalanya dengan bantal yang cukup tinggi. Hans turun dari kasur, dan mengambil air di atas meja samping tempat tidur.
"Minum dulu sayang." ucap Hans.
Airen meneguk air minum yang diberikan suaminya, Hans mengambil gelas air minum itu dan menaruhnya kembali.
"Kamu jahat bangat di dalam mimpi." ujar Airen mencoba untuk bercerita.
"Kamu tenang ya, itu hanya mimpi." ucap Hans, meskipun dia tidak tahu mimpi istrinya bagaimana.
"Kamu selingkuhin aku mas, kamu sam--."
__ADS_1
"Stttsss, sudah jangan diteruskan." ujar Hans menempelkan jarinya di bibir sang istri.
"Mas aku takut, sedih, kecewa, marah, meskipun itu cuma mimpi." ucap Airen dengan mata yang berkaca-kaca.
Grep
Hans memeluk istrinya, Airen menumpahkan kembali air matanya. meskipun hanya sekedar mimpi rasanya begitu nyata.
"Itu hanya mimpi sayang, jangan menganggap itu hal yang serius ya. Mungkin kamu kesemsem, sampai-sampai kebawa ke dalam mimpi."
"Iya kali ya mas, tapi aku beneran takut kehilangan kamu mas." ucap Airen sendu.
Hans tersenyum, dan tak henti-hentinya mengecup lembut kening Airen.
"Utututu tayang, heii Cahya kamu tenang saja ya. Aku tidak akan meninggalkan kamu dan anak kita, kecuali maut yang memisahkan. Aku sangat mencintai mu, Airen Cahya Senjani. Kamu adalah cahaya dalam kisah ku, kalau aku pergi dari mu tentu aku kehilangan cahaya yang menjadi pelengkap rasa dalam kisah ku." ujar Hans.
"Gombal bangat sih mas." senyuman mulai merekah di sudut bibir Airen.
"Siapa yang gombal, ini tuh dari lubuk hati yang terdalam." Hans mengeratkan pelukannya.
"Ihhh sesak mas, jangan erat-erat peluknya. Nanti meletus."
"Oiya aku lupa, nanti balon kamu meletus." Hans terkekeh.
Airen mencubit pinggang suaminya, "Ihhh kamu mesum bangat sih." protes Airen.
"Ya ampun sayang, emang aku bilang apa? Perasaan cuma bilang nanti balon kamu meletus, kan tadi kamu bilang jangan erat-erat mas, nanti meletus. Kamu kalih yang mesum."
Airen menahan malu, niat hati ingin bercanda namun malah salah sangka dengan jawaban suaminya. Airen menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah akibat malu, Hans tertawa melihat tingkah Istrinya.
"Sudah tidak usah ditutupi gitu dong wajahnya."
"Mas, jangan godain aku terus ihhh." protes Airen.
"Iya sayang engga, ayo tidur lagi. Ini masih jam setengah 3 pagi." ucap Hans.
Airen melirik jam di dinding, tiba-tiba dia ingin melakukan sesuatu bersama suaminya.
"Kenapa sayang?"
"Malu bilangnya." ujar Airen.
Tiba-tiba pikiran Hans bertraveling, apakah mungkin istrinya menginginkan hal itu?
"Kamu ingin kita melakukan itu?" tanya Hans ambigu.
Airen menyipitkan matanya, dia menyimpulkan pasti suaminya berpikiran yang tidak-tidak.
"Bukan! aku mau kita solat tahajud, kamu yang jadi imam nya. Mau yaaa." pinta Airen.
Ya ampun, istriku ini benar-benar penuh dengan misteri. Kenapa tidak bilang dari awal saja, kenapa harus pake kode itu lah, malu bilangnya lah. batin Hans.
"Iya sayang ayo, sudah lama aku juga tidak melakukannya. kita minta agar rumah tangga kita sakinah mawadah dan warahmah ya." ucap Hans.
Mereka pun pergi satu-satu untuk berwudhu, Airen sangat bahagia karena ini pertama kalinya mereka akan melakukan solat tahajud bersama. meskipun masih ada banyak kekurangan diantara mereka berdua, namun mereka mencoba untuk memperbaikinya.
Hans memimpin solat, ada perasaan luar biasa ketika mereka melakukannya dengan penuh keikhlasan. Mulai saat ini, baik Hans maupun Airen ingin mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Setiap orang memiliki masalalu, saat ini Hans dan Airen mencoba untuk menjadi lebih baik di masa sekarang dan masa depan.
🌹
Luis menikmati paginya bersama putri kecilnya, mereka menyantap sarapan dengan lahap. Luis sudah memutuskan untuk menetap di Indonesia, karena melihat pertumbuhan dan perkembangan Leana yang begitu baik disini.
"Lea, bagaimana sekolah mu?"
"Semuanya oke Daddy, stay cool." ujar Leana.
"Syukurlah, Daddy senang kalau kamu senang."
"Dan aku senang kalau Daddy senang karena aku senang."
Luis tertawa, mereka melanjutkan sarapannya dengan hening. Hingga Leana memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu hal kepada ayahnya.
__ADS_1
"Dad, bolehkah aku meminta satu hal?"
"Apa sayang?"
"Who is my mother?"
(Siapa Ibuku?)
Deg
Hati Luis berdebar tak karuan, bahkan mood makan nya pun sudah hilang. ada perasaan sakit jika Luis harus mengingat Ibu dari Leana.
"Sorry, Daddy can't tell you this right now."
(Maaf, ayah tidak dapat memberitahukan mu hal ini sekarang)
Meskipun ada kekecewaan di hati Leana, karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari ayahnya. Namun Leana mencoba untuk memahami perasaan sayang ayah.
"It's okay Daddy, sudah tidak usah dipikirkan aku hanya bertanya. Lagi pula aku punya Daddy, yang selalu memberikan aku kasih sayang. I Love you Daddy."
"Love you more, my dear child."
***
Pagi ini
Airen dan Hans keluar dari kamar bersamaan, keduanya nampak tersenyum bahagia. Bima mengerenyitkan dahinya, dia berusaha untuk berinteraksi dengan adiknya.
"Wih yang dapet asupan vitamin." celetuk Bima.
"Ciee ada duda yang iri." celetuk Raja.
"Mih Raja tuh ngeselin." adu Bima kepada ibunya.
"Raja! Jangan menggoda adik-adik mu." ujar Hellena.
Berasa anak pungut dah gue. batin Raja.
"Aduh kalian ini, malu sama umur. Sudah kepala tiga juga, masih aja pada berantem." ujar William.
"Dari pada Papih, sudah kepala enam masih saja bucin kayak anak baru gede alias ABG." ujar Raja.
Pletak
"Kamu nih Ja, suka bangat bikin orang emosi. Papih ragu kamu anak Papih." ujar William.
"Oh jadi kamu meragukan kalau aku bukan mengandung anak mu hah!" ucap Hellena dengan tatapan tajamnya.
Wihh baru ini dibelain Mamih, gila nih nenek lampir the best bangat dah. batin Raja tersenyum senang.
"B--bukan gitu sayang." ucap William panik.
"Aduhh Oma, Opa, dan Om Raja diam! Beurisik tau ndak." ujar Gibran.
"Salahin opa kamu Gib, masa Oma dituduh gitu."
"Tau nih Papih tega bangat sama anak sendiri." ujar Raja.
"Diam kalian!" ucap Hans dingin.
Dan semua orang pun terdiam tidak berani untuk menyanggah atau menimpali ucapan Hans. Semua orang menikmati sarapan pagi dengan hening dan hikmat.
Airen melirik Eza yang tengah menikmati sarapannya, Airen tersenyum melihat adiknya makan dengan lahap. Bahkan dia melupakan mimpi semalam yang sangat membuat hatinya terluka.
Hans menatap istrinya, ada senyuman yang terukir disudut bibir Airen. Hans bersyukur, karena saat ini Airen tidak begitu terbebani dengan kejadian kemarin.
Aku ingin selalu memastikan kebahagiaan untuk mu sayang, tetaplah tersenyum bahagia meskipun bukan aku yang menjadi alasannya. Tapi, asal jangan bahagia karena laki-laki lain. Aku tidak akan terima, dan akan membuat laki-laki itu terkapar di rumah sakit. batin Hans.
Ratu melihat adik iparnya, ratu pun bahagia karena sepertinya Airen dan Hans sudah memiliki titik damai untuk permasalahan kemarin yang menimpa rumah tangga mereka.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.