Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 105


__ADS_3

Setelah mendengar kabar bahwa Bella menerima lamaran Bima, semua orang di dalam mansion begitu heboh dan antusias terlebih Gibran yang sangat gembira karena akan memiliki seorang mommy.


Hellena dan William pun segera menyiapkan acara pernikahan untuk anaknya, rasa bahagia itu menular kepada semua orang tanpa terkecuali.


"Wah selamat ya Bim, keluarga kita bakal lengkap semua." ujar Raja memberikan selamat kepada adiknya.


"Makasih bang." ucap Bima.


Sontak hal itu membuat Raja kaget, matanya bahkan sampai melotot. "Bilang apa Lo? coba ulang."


Plak


Raja justru dapet pukulan dari sang istri, "Mas raja mah kebiasaan ihh. Jangan panggil Lo gue depan anak-anak mas." ucap Ratu menasehati.


"Aduh sayang aku tuh excited bangat si Bima panggil aku Abang, berasa dapet gepokan emas."


"Lebay." ujar Hans.


"Utututu adik kesayangannya Abang iri yaa." Raja memeluk Hans dengan erat, sungguh hal yang memalukan bagi Hans di peluk sang kakak depan banyak orang. Jika saja ada Barra, pasti dia sudah habis-habisan di bully.


"Lepas!!" Raja bahkan tidak ingin melepaskannya, dia sengaja mengerjai Hans di depan Airen.


"Eranson! Kamu ngga dap--."


Tau apa yang Hans katakan, dengan segera Raja melepaskannya. Pasti Hans akan mengatakan bahwa anaknya tidak akan mendapatkan kompensasi darinya. Hampir saja Raja rugi.


"Ren, suami kamu tuh galak bangat." adu Raja kepada adik iparnya.


"Jangan deket-deket istri gue, jauhan Lo ah. Ntar ketularan bodoh. Mbak Ratu kok mau sih sama cowok modelan dia." tumben sekali Hans mengucapkan kata yang cukup panjang seperti itu.


Sedangkan Raja menahan rasa kesalnya, Airen dan Ratu justru asyik menertawakan. Hellena dan William malah geleng-geleng kepala melihat tingkat ketiga anaknya, apakah mereka berdua salah dalam proses pembuatannya? Kenapa tidak ada yang semenggah sama sekali.


"Bim, Papih sudah menentukan pernikahan kamu dan Bella. Lima hari lagi, ngga usah mikirin soal persiapan, Papih dan mamih sudah menyiapkannya." ujar William memberitahu Bima.


Bima tidak terkejut sama sekali, malah dia senang karena tidak perlu repot-repot ngurusin masalah pernikahan. Tinggal ijab qobul saja.


Bahkan undangan pun sudah tersebar luas dikalangan dokter maupun pebisnis. Bima hanya minta, dia tidak ingin mengundang banyak orang. hanya beberapa yang kenal baik dengannya juga dengan ayahnya.


***


Airen ikut Hans ke perusahaan, sekaligus membawa kedua anaknya. Hans menggendong Amara, sedangkan Airen menggendong Amira. Adil bukan?


Semua karyawan nampak memberikan ucapan selamat pagi kepada dua sejoli itu, Hans seperti biasanya hanya acuh. sedangkan Airen tersenyum ramah bahkan sesekali dia membalas ucapan selamat pagi itu.


Hans dan Airen masuk ke dalam ruang kerja Hans, ternyata disana sudah ada boks bayi untuk kedua anak-anaknya bermain. Hans menaruh Amara di dalamnya, kemudian beralih menatap Airen.


"Sayang, aku tinggal kerja sebentar ya."


Cup


Hans mengecup singkat kening sang istri, lalu pergi beranjak ke kursi kerjanya. Sudah ada beberapa lembar dokumen yang menanti untuk ditandatangani.


Airen pun bermain dengan kedua anaknya, tanpa mengganggu suaminya bekerja. Bahkan kebersamaan mereka, di awasi secara langsung oleh Hans. Dia bersyukur, karena masih bisa melihat tumbuh kembang sang anak. meski terkadang ntah berapa banyak momen yang ia lewatkan.

__ADS_1


tok tok tok


"Masuk."


Roni masuk ke dalam, "Eh ada nona muda ternyata, selamat pag--."


"Kesini, ngga usah basa basi dengan istri juga anakku."


Glek


Galak bangat sih bapak muda. batin Roni mengumpat.


"Ini tuan, ada masalah keuangan di cabang pemasaran produk x."


"Jelaskan!"


"Pimpinan di cabang pemasaran mengatakan bahwa ada kerugian yang ntah dari mana asalnya, dan---."


"Tidak tahu letak ruginya dimana? bawa dia menemui ku. Biarkan dia yang menjelaskan."


Tanpa ba bi bu, Roni bergegas keluar ruangan untuk membawa direktur cabang pemasaran menemui Hans.


Sedangkan Airen melihat raut wajah suaminya yang nampak tidak bersahabat, dia bingung apakah perlu ikut campur? atau sebaiknya diam saja.


Tidak butuh waktu lama akhirnya Roni kembali bersama direktur pemasaran, sedangkan Airen hanya diam sambil menemani anak-anak bermain.


"Jelaskan semuanya kepada tuan Hans." ujar Roni kepada direktur tersebut.


"Harusnya kamu tahu, dimana letak kerugiannya. Kamu punya tugas untuk mengawasi, bagaimana bisa kecolongan seperti itu?"


"Maaf tuan."


"Saya tidak butuh maaf kamu, saya butuh tanggung jawab kamu sebagai seorang yang saya percaya."


"Tapi saya tidak tahu--."


"Berapa kerugiannya?" tanya Hans masih dengan nada dingin.


"12% T--Tuan."


Hans cukup terkejut, kerugian sebesar itu bahkan tidak tahu sumbernya penyebabnya darimana?


"Ron, selidik sampe ke akar-akarnya."


"T--tuan mungkin karena ada beberapa barang yang--."


"Cukup! Akui saja, saya tidak ingin kamu berbelit-belit." Hans tahu pasti ada yang salah dengan direktur ini.


"Maaf tuan, saya akui saya yang menggunakan uang--."


"Ron bawa dia keluar, pecat atau laporkan ke polisi."


"Tuan saya mohon, jangan laporkan saya ke polisi tuan. Saya mengaku salah tuan, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tuan tolong maafkan saya, jangan laporkan saya ke polisi." laki-laki itu memohon ampun kepada Hans.

__ADS_1


"Ron seret dia keluar!"


"Mas kamu dengarkan dulu penjelasannya, barangkali dia --."


"Diam kamu!" Tanpa sengaja Hans membentak Airen, karena emosi yang meluap terhadap direktur pemasaran itu.


Karena Hans tahu, ini bukan kali pertama laki-laki itu mencuri uang perusahaan. Tentu saja Hans sudah menyelidiki hal ini sebelumnya, maka dari itu dia sangat marah dengan direktur pemasaran.


Roni yang melihat situasi ini semakin memanas, akhirnya menyeret orang itu keluar dari ruangan. Astaga, tuan Hans membentak istrinya. Perang dunia ketiga dah. batin Roni saat keluar dari ruangan.


Hati Airen cukup merasa nyeri saat dibentak oleh suaminya, dia tahu Hans tidak sengaja dan tidak bermaksud membentaknya. Bahkan saat ini Amira menangis pilu, seakan tahu apa yang dirasakan sang ibu.


"A--aku pulang saja." ucap Airen hendak pulang sambil membawa kedua anaknya, namun Hans dengan segera menahan sang istri.


Hans mengambil Amira lalu meletakkan nya kembali ke dalam boks, sedangkan Amara memang ada di boks bayi karena Airen belum sempat mengendong anaknya itu.


Hans menarik Airen ke dalam pelukannya, "Maaf sayang."


suara Isak tangis Airen tak tertahankan, sejujurnya dia tidak marah dengan Hans. hanya saja dia merasa sedih, karena tidak dapat menenangkan suaminya di saat marah.


Hans mengusap punggung Airen, hatinya berdenyut nyeri saat mendengar suara tangis istri juga anaknya. "Maaf, aku tidak bermaksud membentak mu."


Airen melepaskan pelukannya, menghapus air matanya. Menatap Hans, lalu tersenyum hangat. "Ngga apa-apa mas."


Hans menangkup wajah Airen, menatap matanya lekat. Masih terpancar raut kesedihan disana, Cup. Hans mengecup singkat bibir sang istri.


"Maaf sayang, tolong maafkan aku."


Airen tahu bahwa suaminya meminta maaf dengan tulus, Airen tersenyum dan mengangguk. "Ngga apa-apa mas, udah jangan minta maaf. kamu ngga salah, lagi juga cuma dibentak gitu doang kan. Hati akunya aja yang lemah."


"Nggak! Aku yang salah, pokoknya ngga boleh ada yang bentak kamu, termasuk aku. Kamu boleh pukul aku sebagai gantinya."


Airen terkekeh pelan, "Kalau kejahatan di balas kejahatan ngga akan ada udahnya." ujar Airen.


Terlihat jelas bahwa Hans tidak nyaman saat Airen mengatakan kejahatan, apakah tadi dia sudah berbuat jahat dengan istrinya?


"Maaf aku ngga bermaksud jahat ke kamu, tadi ku aku kebangetan emosi karena sebenernya aku sudah tahu bahwa dia bohong."


Airen mengerti, dia tersenyum tulus kepada Hans. Lalu menarik suaminya mendekat, dan mengecup pipi kanan kiri Hans.


"Udah ini hukumannya, jangan sedih gitu dong mukanya. Malu sama anak-anak mas."


"Biarin aja, mau tambah hukumannya!" rengek Hans seperti anak kecil.


"Ihhh nggak ada! Udah sana kamu lanjut kerja aja."


Bukan menurut, Hans justru menangkup wajah Airen dan mengecup bibir sang istri. Tidak berhenti disitu, dia justru m***m@tnya.


Bersambung...


Maaf baru sempet updet, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.


Oiya sebentar lagi Abang Bima menghapus gelar dudanya🤭

__ADS_1


__ADS_2