Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 69


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Drap drap drap


Langkah kaki seseorang terdengar ditelinga Airen, ada yang menuju masuk ke dalam kamar yang saat ini dia tempati. Degup jantung Airen kian berdetak kencang, rasa takut dan gelisah mengisi kering hatinya.


Krek


Sosok laki-laki yang tidak Airen kenal perlahan mendekat ke arahnya, Airen mundur perlahan karena rasa takut yang menyelimuti.


"Mau apa kamu hah!" teriak Airen.


Laki-laki itu tersenyum ke arah Airen.


"Tenang nona, saya bawahan Tuan William. Tadi teman saya yang membawa nona ke sini." ucapnya memberitahu.


P--papa Willi? batin Airen.


"Nona ini telepon dari Tuan William." ucap laki-laki itu dan menyerahkannya kepada Airen.


Airen mengambil ponsel itu dengan tangan yang gemetar, ternyata itu panggilan video.


πŸ“± "Airen maafkan Papih, kamu jangan takut ya. Untuk sementara waktu kamu diam disitu, Papih ingin memberikan pelajaran untuk Hans agar kedepannya dia tidak teledor untuk menjaga mu." ucap William di telepon.


πŸ“±"I--iya pah, tapi sampai kapan? A--aku takut." lirih Airen.


William nampak tertawa melihat raut wajah menantunya yang ketakutan.


πŸ“±"Tenanglah, bawahan Papih semuanya baik-baik. jika perlu sesuatu minta mereka untuk membelikannya. Papih yakin Hans pasti akan menemukan mu, bersabarlah. Sudah ya, kalau gitu Papih tutup teleponnya."


Tut.


"Apa nona sudah percaya? Tenang nona, kami bukan orang jahat. Yasudah kalau gitu saya permisi, jika nona membutuhkan hal apapun panggil saya." ucapnya, dan pergi dari sana.


***


Pletak


Hellena memukul William, bagaimana bisa suaminya membuat semua orang khawatir seperti ini. Sungguh keterlaluan sekali.


"Papih becandanya tidak lucu!"


"Siapa yang bercanda? Papih hanya ingin memberikan Hans pelajaran, bisa-bisanya dia membiarkan istrinya pergi ke luar sendirian. Asal Mamih tahu, Daniel mengancam Papih untuk melenyapkan Airen." ujar William memberitahu.


Hellena diam, yang suaminya katakan itu benar. Ini sebagai pelajaran untuk Hans, agar kedepannya dia mampu lebih ketat menjaga istrinya dan tidak sampai kecolongan.


Hellena tiba-tiba teringat Eza, anak itu belum keluar dari kamar. Hellena langsung buru-buru pergi meninggalkan William sendiri.


Tok tok tok


"Eza, ini Oma sayang. Keluar Za!" teriak Hellena di depan pintu kamar Eza.


dengan langkah kaki yang gontai, Eza menghampiri pintu dengan segenap kekuatan yang ada.


Cklek


Hellena melihat Eza yang terlihat murung, bahkan matanya sembap seperti habis menangis.


"Eza kamu kenapa sayang?"


Eza menatap Hellena dengan mata yang sendu, sekuat tenaga Eza berusaha untuk tidak menangis. Namun air matanya benar-benar tak dapat ditahan, Eza pun menangis.


Hellena memeluk Eza dan memberikan usapan dipunggungnya. "Eza, kamu kenapa?" tanya Hellena.


"hiks.. Oma, kakak kenapa bisa hilang?"


Deg


Astaga, aku sampai melupakan Eza. batin Hellena.


"Kakak mu tidak hilang sayang, di--."


"Oma bohong! Aku mendengarnya sendiri, jika Oma mengatakan bahwa kakak menghilang." ujar Eza melepaskan pelukan Hellena.


"Dengarkan Oma dulu oke? Tadi memang Oma berpikir seperti itu, tapi ternyata Opa mu yang menculik kakak mu untuk memberikan Om Hans pelajaran." ucap Hellena memberitahu.


"Aku tidak percaya, aku ingin melihat kakak sekarang!"


Hellena menghela nafasnya, dia pun membawa Eza pergi ke kamarnya untuk menemui suaminya.


"Papih!" teriak Hellena.


"Ada apa sih Mih?"

__ADS_1


Hellena menatap tajam ke arah William.


"Jelaskan tentang Airen kepada Eza!" ucap Hellena dingin.


William menatap ke arah Eza, astaga dia bahkan melupakan adiknya Airen. Eza terlihat seperti habis menangis, karena matanya yang terlihat sembap.


William menghela nafasnya, "Kakak mu aman Za, tenang oke. Nanti kita ke sana bareng-bareng." ucap William.


***


Malam ini Roni menelpon Hans yang masih mencari keberadaan Airen, Hans sedikit terkejut dengan ponselnya yang berdering.


Ddrrrddttt drddddttt


πŸ“ž"Tuan, saya sudah menemukan jejak Nona Airen. Kami hanya tinggal melacak mobil yang membawa Nona Airen pergi." ucap Roni memberitahu.


πŸ“ž"Aku akan ke tempat mu sekarang, kirim alamatnya."


Tut.


Hans bergerak cepat melakukan mobilnya menuju tempat Roni berada, syukurlah ada titik terang tentang keberadaan istrinya.


Setelah sampai Hans langsung turun dari mobil, Hans segera masuk ke dalam tempat Roni. Disana bahkan sudah ada Bima dan juga Barra.


Bima menatap tajam ke arah adiknya, Hans sama sekali tidak gentar dengan tatapan tajam sang kakak. Hans melewati mereka berdua begitu saja, dia lebih memilih untuk langsung bertanya pada Roni.


"Sudah dilacak?" tanya Hans.


"Sudah, tapi kami masih harus menunggu kabar dari bawahan." ucap Roni.


"Apa tidak bisa dipercepat?!"


"Hei, tenanglah. kau hanya bisa menyuruh orang lain, bahkan dirimu tak pandai menjaga istri. padahal istri mu hanya satu, kenapa sulit sekali bagimu untuk menjaganya?" ujar Bima.


Hans tak menggubris ucapan Bima, dia menempatkan posisinya duduk di sofa. Tiba-tiba perut Hans terasa lapar, bahkan dia melupakan bahwa dirinya belum makan apapun.


"Bar belikan makanan untuk teman mu itu." ujar Bima menyuruh barra, Bima tahu pasti Hans belum makan apapun.


"Tidak usah!" jawab Hans cepat.


"Kalau kau sakit siapa yang akan mengurus mu hah? Istri mu tidak ad--."


"Diam kak! diamlah, kau hanya bisa mengomeli ku dan menyalahkan ku saja, Kau pikir aku ingin istriku menghilang hah!" ujar Hans pusing.


"Ron kenapa bawahan mu lamban sekali!" ucap Hans.


Drrddtt drdttt


Tuan William? gumam Roni


"Tuan besar menelpon saya tuan." ucap Roni memberitahu.


"Angkat saja!" jawab Bima.


Hans diam, pikirannya kalut memikirkan keberadaan istrinya saat ini. Roni pergi sedikit menjauh dari sana, dia pun mengangkat telepon dari William.


πŸ“ž"Hallo Tuan, ada apa?"


πŸ“ž"................."


πŸ“ž"Baik tuan."


Tut.


Roni menghampiri Hans, dan memberitahukan padanya bahwa Tuan besar menyuruh dia untuk mencari keberadaan istrinya sendiri tanpa bantuan siapapun.


Hans menggertakan giginya, kenapa Papihnya seperti itu. Bukannya membantu malah membuat dia kesulitan sendiri mencari Airen.


"beritahukan aku mobil yang membawa istriku, dan dimana dia membawa pergi istriku?" tanya Hans dingin.


"Saya sudah mengirim semua buktinya ke ponsel anda tuan." jawab Roni.


Hans mengangguk dia langsung pergi dari sana, dan segera melacak keberadaan istrinya. menggunakan kemampuannya sendiri. Hans melajukan mobilnya, mencari tempat yang lebih sepih untuk melihat bukti yang dikirimkan Roni kepadanya. Hans melihat bukti rekaman cctv itu, dia langsung bergegas melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Pertama Hans melewati taman yang menjadi tempat terakhir kali istrinya menampakan diri, Hans mengikuti jalan, yang dilewati mobil di dalam rekaman cctv itu. Hingga dipersimpangan jalan Hans turun, dia melihat ada rumah tepat disamping persimpangan jalan itu. Hans menghampiri rumah itu, dan meminta kepada pemilik rumah untuk melihat rekaman cctv di persimpangan jalan.


Dengan senang hati orang itu memperlihatkannya kepada Hans, Hans mengucapkan terimakasih. dia pun pergi sesuai dengan jalan yang dilalui mobil yang membawa istrinya pergi. Hans terus mengulang-ulang perbuatan itu, hingga dia tiba disebuah Villa.


"Bukankah ini Vila Papih?" gumam Hans.


tanpa banyak bicara, Hans masuk perlahan ke dalam Villa itu. Dia mengendap-endap, dan ternyata benar Hans melihat ada mobil yang membawa istrinya pergi.


Saat ini jam dua belas malam, Hans mengendap-endap untuk menyelinap masuk ke dalam Villa itu. Hans tersentak kaget saat mendengar suara langkah kaki seseorang. Hans segera bersembunyi, saat dirasa keadaan sudah aman. dia pun melanjutkan agar bisa masuk ke dalam Villa.

__ADS_1


Akhirnya Hans berhasil masuk ke dalam Villa, dia langsung mencari dimana istrinya berada. Hans mencoba untuk membuka setiap kamar yang ada, hingga akhirnya dia menemukan sosok istrinya yang tengah tertidur pulas.


Hans masuk ke dalam kamar itu, dan menguncinya dari dalam. Hans merasa heran dengan orang yang menculik istrinya, kenapa penjaganya tidak ketat? Bahkan pintu kamar istrinya pun tidak dikunci, dan disini fasilitas istrinya juga begitu lengkap.


Hans langsung memeluk erat istrinya yang tengah tertidur pulas.


"Sayang bangun." ucap Hans pelan sambil menepuk pipi istrinya.


"Eeughhh." Airen perlahan membuka kelopak matanya.


Aaaaaaaa. teriak Airen.


Hans segera membekap mulut istrinya dengan bibirnya, Airen kaget karena dia belum sepenuhnya sadar dan juga kondisi kamar yang sedikit gelap.


Bibir mereka masih bertaut, tangan Hans menyalakan lampu di atas meja samping mereka. Airen sungguh tenang, karena orang yang saat ini mencium dirinya adalah suaminya.


Hans melepaskan pangutan bibir mereka, Hans tersenyum dan memeluk erat istrinya. Kini rasa khawatirnya sudah menghilang, Airen bisa merasakan tubuh Hans yang gemetar, bahkan laki-laki dihadapannya ini terlihat sangat lelah.


"Sayang maafkan aku." lirih Hans yang masih memeluk erat Airen.


airen mengangguk, perlahan tangannya terulur untuk mengusap punggung Hans. Airen merasa kasihan dengan suaminya, karena terlihat jelas wajah capek dan khawatir.


"Mas, sebaiknya mas mandi dan beristirahat." ucap Airen.


"Tidak! kita harus pergi dari sini sayang, ini tidak aman. siapa yang menculik mu hah? Katakan padaku." ujar Hans.


Airen terkekeh pelan, "Jangan kahwatir mas, yang nyulik aku orangnya baik bangat."


Hans menyipitkan matanya, menatap sang istri.


"Papih kamu yang menculikku." ujar Airen memberitahu.


Apa!


Sialan, dasar orangtua. Bisa-bisanya dia mengerjai ku seperti ini. batin Hans.


Tring.


Satu pesan masuk ke dalam ponsel Hans.


πŸ“© : "Hai anak nakal, selamat kamu sudah menemukan istrimu. Maaf, Papih yang menculik istrimu. Anggap saja, Papih sedang memberikan mu pelajaran agar kedepannya tidak terjadi hal seperti ini. Kau tahu? Tadi istrimu sendirian di taman, apa kau tahu saat dia pergi? Tidakkan, makanya cari seseorang untuk terus mengawasi istrimu. Yasudah, kalau gitu istirahatlah. Selamat malam."


Begitulah bunyi pesan yang masuk ke dalam ponsel Hans, Airen terkekeh melihat raut wajah masam suaminya. Tapi Hans bersyukur karena yang menculik istrinya adalah Papihnya, tidak tahu kalau orang lain. mungkin saat ini istrinya tengah menangis.


Hans kembali memeluk Airen, menenggelamkan kepalanya diceruk leher sang istri. Airen terus memberikan kenyamanan untuk suaminya.


"Mas, sebaiknya mandi terus habis itu kita makan ya. Mas pasti belum makan." ujar Airen.


"Tidak, aku ingin seperti ini saja." lirih Hans.


"Ayo mandi mas, habis mandi terus makan. Terus kita main satu babak." ucap Airen pelan ditelinga suaminya.


Hans langsung menatap ke arah istrinya, "Benarkah?" tanya Hans dengan senyuman yang mengembang.


Airen mengangguk malu, Hans tersenyum lebar dan mencium kening istrinya. "Baiklah aku akan mandi, tolong siapkan makanan dan juga dirimu baby." ujar Hans.


Hans masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Airen tersenyum melihat punggung suaminya yang perlahan menghilang. Lantas Airen segera mengambilka. baju untuk suaminya, tadi laki-laki itu bilang disini sudah tersedia beberapa baju karena memang Tuan William sudah menyiapkannya.


Hans keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya menutupi bagian pinggang kebawah saja, Airen terpukau melihat roti sobek diperut suaminya. sudah lama rasanya dia tidak melihat pemandangan seperti ini.


Hans mendekat ke arah istrinya, Airen gugup dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"M--mas pakai baju dulu, habis itu baru makan."


Hans tersenyum melihat tingkah istrinya, dia pun mendekat dan memeluk Airen. Hans membisikan sesuatu ditelinga istrinya. Saat mendengar ucapan itu, terlihat jelas semburat kemerahan di pipi Airen.


"Ayo sayang cepat kita makan, aku tidak sabar untuk bermain bersama mu." ucap Hans.


Airen pasrah, Hans memakan makanan itu sampai habis karena dia harus mengisi tenaganya agar kembali penuh untuk pertempuran malam ini.


"Sudah habis, ayo baby. Are you ready?" ucap Hans dengan suara beratnya.


Deg deg deg


Aku menyesal mengatakan hal itu, lihatlah suami ku seperti hewan buas yang hendak memangsa. batin Airen.


Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, Hans langsung menerkam bibir ranum Airen. Hans memulai pemanasannya, Airen hanya pasrah saat suaminya sudah memulai.


Dan akhirnya mereka menikmati malam panjangnya dengan bergulat permainan bersama.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.

__ADS_1


__ADS_2