
Selamat membaca ☺️
Bima terkejut karena Airen dan Ratu mendatanginya ke rumah sakit, bahkan Bima bingung bagaimana bisa Airen keluar dari mansion. Tidak mungkin Hans mengizinkan istrinya untuk mendatangi dirinya.
"Ada apa ini?" tanya Bima menatap kedua wanita itu.
Dengan nafas yang memburu, Ratu berusaha mengatur nafasnya untuk memberitahukan sesuatu hal yang penting kepada Bima.
"B--bela, dia dia dia--."
"Ck mbak Ratu lama nih, mbak Bela mau menikah dan tadi dia sudah berangkat pulang kampung." ujar Airen memberitahu.
Apa!
Bima terkejut dengan pernyataan Airen, antara percaya dan tidak. Ratu menepuk bahu Bima, "Cepat bertindak! Kamu akan kehilangan dia kedua kalinya kalau diam seperti ini." ujar Ratu menyadarkan Bima.
"Menikah dengan siapa?" Bima berusaha tidak cemas dan panik, karena dia yakin tidak mungkin Bella menikah dengan orang lain.
"Mana mbak tau, mungkin si Aryo. Soalnya waktu itu mbak pernah ketemu Bella di taman, terus Bella cerita ibunya meminta Bella untuk segera menikah. Dan kemungkinan laki-laki pilihan ibunya si Aryo." tutur Ratu.
Bel, kamu ngga akan pergi dari ku lagi bukan? batin Bima.
"Kak Bima bagaimana sih, jadi cowok ngga gentle sama sekali. Kalau cinta ya ungkapin dong, perempuan itu butuh kepastian." ujar Airen memarahi kakak iparnya.
Glek
Apa ini Airen yang ku kenal? Mengapa semenjak menjadi ibu, paras dia lebih sangar seperti Mamih. batin Bima.
"Bim! Cepet, kamu mau ada berita di koran. seorang Dokter duda tampan kaya raya, ditinggal nikah oleh seorang wanita. Karena dia tidak bisa memberikan kepastian."
"Diam! Terus aku harus cari Bella kemana?"
"Kampung! Bella balik kampung. Nggatau deh nama kampungnya apa, sudah sana kamu pergi kejar Bella. Biar Gibran sama mbak."
Bima nampak berpikir sejenak, dia memejamkan matanya lalu menarik nafas perlahan. Benar, aku harus mencari ibu untuk Gibran. batin Bima.
"Oke, aku titip Gibran sama kalian." ucap Bima lalu bergegas pergi.
Setelah kepergian Bima, Airen dan Bella saling pandang. Sedetik kemudian mereka tersenyum, lalu tertawa sambil bertos tangan.
__ADS_1
"Yess rencana kita berhasil mbak." ucap Airen tersenyum puas.
"Untung saja, ibunya Bella bisa di ajak sekongkol. Kalau ginikan jadi enak, makasih juga sama suami mu. Kalau bukan karena Hans, kita tidak tahu dimana rumah ibunya Bella di kampung." ucap Ratu bersemangat.
Astaga, Mas Hans! Aku melupakannya. Harus bagaimana ini? Bisa di hukum abis-abisan nanti malam. batin Airen tak enak.
***
Hans tiba-tiba bersin di dalam ruang meeting, semua karyawan diam tidak ada yang berani menatap bos nya itu. Sedangkan Roni menghampiri Hans, "Tuan, apa anda sedang demam?" bisik Roni di telinga Hans.
Hans menggelengkan kepalanya, dan menyuruh Roni untuk kembali ke tempatnya. "Maaf, mari kita lanjutkan meetingnya. Silahkan lanjutkan." ucap Hans kepada ketua manager marketing.
Apakah istriku sedang mengumpat ku? Awas kau Cahya, akan ku hukum sampai kau tidak bisa berjalan. batin Hans.
Sedangkan di perusahaan lain, Barra nampak jenuh dengan rutinitas sehari-hari yang dia jalani. Barra nampak merenung dengan segala kehidupannya saat ini. Barra memikirkan kata-kata Oma nya yang membuat dia sadar.
Flashback
"Barr, Oma sudah tua. Memang kamu tidak ada niat untuk menikah di waktu dekat ini? Oma tidak tahu sampai kapan Oma akan hidup di dunia ini, Oma tidak mau kamu kesepian karena sendiri. Kamu perlu keluarga bar, kamu perlu istri, perlu keturunan untuk mengembangkan usaha-usaha kamu. Memang kamu tidak pernah berpikir, jika saja kamu punya istri dan anak. Pasti rumah kamu akan lebih ramai, hidup kamu akan dihiasi warna. memang terkadang ikatan rumah tangga, tidak seperti yang kita bayangkan. Tidak mudah dijalankan, tapi Oma yakin kamu dapat memilih calon pasangan hidup kamu yang tepat. Yang bisa melengkapi segala kekurangan kamu, yang bisa menerima kamu apa adanya, yang bisa menjadi air dikala kamu terbakar, yang bisa menjadi selimut saat kamu kedinginan. Bar, Oma ingin melihat kamu menikah dan memiliki keluarga." tutur Oma.
Flashback Off
Nyari istri kemana ya? batin Barra.
"Ada apa?"
"Saya ingin mengingatkan tuan, Lusa kita akan berangkat ke Amerika untuk bertemu dengan orang yang akan menjadi penanam modal di proyek kita yang bekerjasama dengan perusahaan LovMart." tuturnya.
"Oke, siapkan semuanya dengan baik."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi undur diri."
Barra mengangguk, Barra menghela nafasnya perlahan. Biasanya dia menjadi orang yang sangat aktif ketika bersama dengan Hans, bahkan dia terlihat laki-laki yang tidak berwiba sama seperti Raja. Namun jika sudah di ruang kerjanya, barra bersikap acuh namun sesekali dia akan bersenda gurau bersama dengan asisten pribadinya saja.
Nyari istri bule mantap kali ya, biar bisa memperbaiki keturunan juga. Bisa pamer ke si Hans juga kalau gitu. batin Barra.
***
Malam ini di kediaman Mikhailov, semua orang nampak sibuk dengan aktivitas masing-masing nya. Berbeda dengan Airen, yang sudah siap untuk tidur karena anak-anaknya pun sudah tertidur pulas. Airen sengaja ingin tidur lebih dulu, sebelum suaminya pulang. Karena bisa gawat jika Hans kembali saat Airen masih terjaga.
__ADS_1
Aku harus buru-buru tidur, harus bebas dari mas Hans malam ini. batin Airen.
Airen merebahkan tubuhnya di kasur, dia langsung memejamkan matanya berharap langsung tertidur pulas. Namun matanya tak kunjung mengantuk, justru Airen semakin terjaga karena rasa takutnya dengan kepulangan sang suami.
Airen memejamkan matanya kembali saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang akan memasuki kamarnya, dengan perasaan yang sedikit gelisah Airen berusaha mengontrol deru nafasnya.
Cklek
Benar saja Hans baru pulang dari kantor, laki-laki itu tak langsung menghampiri istrinya melainkan memilih untuk membersihkan badannya lebih dulu.
Aduh bagaimana ini, mas Hans sudah pulang. batin Airen tak menentu.
Cukup lama Hans mandi, dia langsung menghampiri ranjang yang sudah ada Airen tengah berbaring di sana. Airen dapat mencium aroma khas tubuh suaminya. Hans sedikit kesal karena istrinya terlihat sudah tertidur pulas, namun dia ingin memastikan lebih dulu apakah Airen pura-pura atau tidak.
"Sayang sekali, istriku sudah tidur." gumam Hans yang sengaja dibuat sekeras mungkin agar Airen mendengarnya dengan jelas.
Hans memilih untuk memakai baju lebih dulu, dia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Hans mengangkat kepala Airen agar tertidur di lengannya, Hans membelai rambut Airen dengan sayang. Kemudian mengecup singkat kening Airen.
"Ck sayang sekali, malam ini kamu lolos dari hukuman. Yasudah lebih baik aku pun tidur, selamat malam sayang." ucap Hans dan mencium kening Airen.
Hans mematikan lampu di samping tempat tidur, sedangkan Airen masih memejamkan matanya dia ingin sekali membuka matanya untuk memastikan apakah benar suaminya sudah tertidur atau belum.
Huh untung saja, aman. Mas Hans sudah tidur belum ya? batin Airen.
Hingga lima belas menit kemudian Airen baru berani membuka matanya dengan perlahan, Airen bernafas lega saat melihat mata suaminya yang terpejam.
"Aman, aku beb--."
Hhmmpphh!!
Airen langsung terdiam saat bibirnya di sambar oleh sang suami, cukup lama bibir mereka bertaut. Hingga Hans melepaskan pangutannya. "Pura-pura tidur, heemm? Kamu pikir bisa bebas dari hukuman ku malam ini?" ujar Hans dengan suara beratnya.
"M---mas sudah pulang?" tanya Airen mengalihkan pembicaraan.
"Tidak usah banyak basa-basi, let's play baby."
Dan akhirnya malam itu menjadi hukuman paling menakutkan yang Airen alami, sungguh dia tidak ingin meminta bantuan apapun kepada suaminya. Karena imbalannya bisa-bisa dia tidak dapat berjalan.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf baru up, terimakasih untuk kalian yang setia sama cerita KISAH TUAN HANS.
Mohon dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.